LOGINSindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si
Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa
Elizabeth tersentak mendengar pertanyaan tajam dan aura membunuh yang mendadak mengarah padanya. Tangannya yang terbalut sarung tangan sutra mencengkeram erat kotak mahoni yang ia pegang."Saya... Lady Elizabeth Mountford, dayang Yang Mulia Permaisuri." jawabnya, menelan ludah dan berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Yang Mulia Permaisuri meminta saya untuk mengantarkan kotak ini langsung kepada Anda, Yang Mulia."Lucian menyipitkan mata merahnya. Tatapannya menajam seperti belati, seolah menguliti gadis di hadapannya itu hidup-hidup. Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata biru yang sangat menyerupai milik istrinya, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan atau ambisi tersembunyi, mencari bukti bahwa putri Duke ini bekerja sama secara sadar dengan rencana gila Sienna.Tapi, raut wajah pucat dan kebingungan di mata Elizabeth mengatakan hal lain. Wanita ini memancarkan ketegangan yang nyata. Ia rupanya benar-benar tidak menyangka bahwa Sienna memiliki maksud te
Mendengar pertanyaan bernada dingin itu, kepanikan yang baru saja reda kembali mencekik leher Lesley. Gadis kikuk itu seketika salah tingkah, wajahnya memucat pasi seolah baru saja menyadari bahwa ia telah menggali kuburannya sendiri. Di sudut ruangan, Lady Alice ikut menahan napas, meremas ujung gaunnya dengan tangan gemetar, terlalu takut untuk campur tangan.Hanya Lady Elizabeth yang tetap mempertahankan ketenangannya.Putri Duke itu meletakkan sisir perak di tangannya ke atas meja rias dan menatap Lesley, sorot matanya menajam memberikan peringatan."Berdirilah, Lady Lesley. Rapikan perhiasan itu dan jangan mengatakan hal yang tidak penting di hadapan Yang Mulia permaisuri." tegur Elizabeth.Namun, Sienna tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Sang Permaisuri mengangkat tangannya, menghentikan usaha Elizabeth untuk mengalihkan topik. "Aku sedang bertanya." ucap Sienna pelan. "Rumor apa yang beredar tentangku di luar sana?"Ruangan itu seketika hening. Udara terasa begitu bera
"Semuanya sangat sempurna, Yang Mulia Permaisuri." jawab Elizabeth, menundukkan kepalanya sedikit tanpa menghentikan gerakan tangannya. Suaranya lembut dan terukur, ia benar-benar terlihat seperti wanita bangsawan yang tak bercela. "Kebaikan dan kemurahan hati Anda dalam menyambut kami adalah sebuah kehormatan besar. Saya tidak memiliki keluhan apa pun."Sienna mengangguk pelan. Sopan, sempurna, namun sangat berhati-hati, batin sang Permaisuri. Elizabeth menyembunyikan setiap emosinya di balik topeng kesempurnaan seorang putri Duke dengan baik.Sementara itu, di sisi lain ruangan, Lady Lesley dan Lady Alice tengah sibuk memilah gaun dan kotak-kotak perhiasan berat yang akan dikenakan Sienna hari ini.Berbeda dengan Elizabeth yang tenang, Lesley tampak sangat tegang. Gadis dari keluarga Count wilayah selatan itu memiliki wajah yang pucat sejak melangkahkan kaki ke dalam kamar. Berada di ruangan yang sama dengan Permaisuri yang kemarin membungkam seluruh gadis bangsawan hanya dengan
Keesokan paginya, Sienna duduk dengan sehelai jubah tebal menutupi tubuhnya yang lelah. Sisi ranjang di sebelahnya telah kosong dan dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih dulu, dan melangkah pergi untuk melaksanakan tugas kenegaraannya, meninggalkan Sienna di kamarnya.Suara ketukan halus terdengar di pintu, sebelum perlahan terbuka setelah Sienna mengizinkan.Marta memimpin rombongan untuk masuk ke dalam kamar utama kekaisaran. Di belakang pelayan muda itu, berbaris tiga gadis muda yang baru saja diangkat menjadi dayang resmi Permaisuri, Lady Elizabeth, Lady Alice, dan Lady Lesley. Diikuti oleh beberapa pelayan istana tingkat rendah di barisan paling belakang.Sienna bangkit dari ranjang dengan langkah pelan yang sengaja menyembunyikan rasa pegal di sekujur tubuhnya, lalu berjalan menuju meja rias. Tanpa perlu diberi perintah dua kali, tugas segera dibagi dengan rapi. Para pelayan tingkat rendah langsung bergerak cepat melakukan pekerjaan berat, mengganti seprai yang kusut, membe
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah saat kereta kuda meninggalkan gerbang Kastil Lorraine.Sesuai permintaan Sienna, kereta yang digunakannya adalah kereta kayu biasa tanpa lambang kebesaran keluarga Duke agar tidak mencolok. Ia bahkan mengganti gaun sutranya dengan gaun katun sederhana.
Mendengar permintaan Sienna, senyum hangat Marta semakin mengembang. Melihat Nonanya yang selama ini selalu terlihat murung kini tampak begitu bersemangat, membuat hati pelayan itu ikut merasa lega."Tentu saja, Nona. Dengan senang hati saya akan menemani Anda," jawab Marta lembut. Ia melirik sekil
"KYAAA!" Jeritan histeris salah seorang wanita bangsawan yang hadir di sana memecahkan keheningan yang sempat menggantung selama beberapa detik.Kepanikan meledak seketika. Kursi-kursi berdecit keras dan berjatuhan saat para wanita bangsawan itu melompat berdiri, menjauh dari meja seolah-olah penya
Alexandria tidak mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu oleh amarah. Namun, tangannya yang mencengkeram pagar pembatas batu itu bergetar hebat. Ia menekan jemarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit telapak tangannya terasa perih tergores permukaan batu yang kasar.Matanya y







