LOGINIris POVPandangan matanya beralih ke wajahku, menatapku sambil duduk santai dengan bersandar di kursinya, dengan kedua siku bertumpu pada sandaran tangan dan jari tangan saling terkait.Aku berjalan pelan, mendekati meja kerjanya. “Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku? Dan mengapa kamu membawaku ke pabrik itu?” tanyaku sambil menatapnya.Entah mengapa, seringaian di bibir dan matanya membuat degub jantungku berdetak lebih cepat. Namun, aku berusaha mempertahankan sikap dan nada suaraku senormal mungkin.“Mr. Sinclair, kenapa tidak kamu terima saja pengunduran diriku? Keberadaanku di sini mungkin hanya menyusahkan saja,” tambahku dengan sedikit nada sarkas—untuk membalas seringaiannya. “Dan memberimu kepuasan?” ledeknya dengan tersenyum miring.Dia jelas tidak akan menerima pengunduran diriku. Aku berdecak pelan. Namun sebelum aku sempat memprotesnya, Easton menyorongkan tubuhnya ke depan, meraih sebuah map dan menghempaskannya persis di meja di depanku.Tatapan matanya mengarah
Iris POVAku memang memanggilnya Mr. Easton dalam mimpiku. Apa aku mengucapkannya dengan keras?Mr. Easton adalah nama yang Emberly berikan padaku saat dia menyuruhku menjemput Easton di bandara malam itu. Aku tidak tahu mengapa malam itu Emberly menutupi identitas asli Easton sebagai Mr. Sinclair—CEO perusahaan dariku. Emberly justru mengatakan bahwa orang yang kujemput adalah tamu perusahaan bernama Mr. Easton.Namun apapun yang terjadi, Easton tidak boleh tahu kalau kami berdua pernah tidur bersama.Lagipula, bukankah dia tadi mengatakan kalau dia tidak akan pernah mau menyentuhku, apalagi sampai tidur denganku! Hah, apa yang terjadi kalau sampai dia mengetahui bahwa kita berdua pernah tidur bersama?!“Aku…” otakku berusaha mencari alasan. “Aku tidak tahu apa yang kamu katakan…” ujarku, berpura-pura tidak mengerti untuk menutupi kegugupan.Easton menyorongkan tubuhnya mendekat. Matanya memicing tajam. “Kamu tadi memanggilku—Mr. Easton. Kamu tidak pernah memanggilku seperti itu se
Iris POVAku sadar apa yang Easton katakan adalah benar.Kami adalah step sibling by law, sehingga hubungan romance diantara kami tidak boleh terjadi.Selain itu, dengan kebencian Easton terhadap aku, ibu, dan Harlan, seharusnya aku tahu bahwa Easton tidak mungkin menyentuhku, paling tidak ketika dia dalam keadaan sadar.Tapi, penjelasan apa yang masuk akal dengan apa yang terjadi saat ini?Dan mimpi yang baru saja ku alami?Ya Tuhan, kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Aku melirik wajah tegas di sampingku. Dia tidak tahu kalau aku baru saja memimpikannya—memimpikan kejadian saat kami tidur bersama di hotel beberapa waktu yang lalu.Aku mencoba mengontrol emosiku, bagaimana pun Easton tidak tahu dan tidak perlu tahu kalau aku baru saja memimpikannya.Sambil menarik erat jas yang aku kenakan untuk menutupi tubuhku, aku kembali meliriknya. “Di sana!” Easton menunjuk dengan tatapan matanya.Aku mengikuti arah pandangan matanya dan melihat setelan rok dan blazer serta tank top putih
Iris POVTulisan 301 di depan sebuah pintu menarik perhatianku. Pintu itu tidak tertutup rapat. Ada celah yang terbuka, yang membuatku secara insting meraih gagang pintu dan mendorongnya perlahan.“Mr. Easton?” panggilku dengan ragu.Aku melangkah masuk. Ruangan yang temaram, bahkan nyaris gelap membuatku mengerutkan kening. Keycard sudah terpasang di tempatnya, tetapi kenapa lampu tidak dinyalakan?Instingku mengatakan dia ada di kamar ini, dan aku perlu memastikan dia baik-baik saja.“Mr. Easton? Anda ada di sini?” Samar aku mendengar suara, dan sepertinya melihat sesuatu bergerak beberapa meter di depanku. “Mr. Easton? Saya dari SDP Corp. Saya minta maaf karena terlambat menjemput Anda. Ada kecelakaan lalu lintas, jadi—Ah!” Tiba-Tiba seseorang mendorongku ke atas ranjang. Dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi, Easton telah menekanku, menghimpitku di atas ranjang kamar itu.sepasang tangan mendekapku dengan cepat.“Kenapa… kamu… masuk… ke… kamar… ini?” Setiap kata diucapkan E
Iris Villar POV Mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang halaman sebuah pabrik yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dari wilayah pemukiman, sekitar hampir satu jam perjalanan dari kantor. Terlihat papan nama di gerbang yang kami lewati. EcoCharge Ltd. Nama tempat itu mengingatkanku pada pertemuan beberapa hari yang lalu bersama Robert Jenkins—direktur EcoCharge. Dan melihat tempat yang kami tuju, sepertinya tempat ini adalah pabrik solar panel yang mereka bicarakan. Walau begitu, aku masih tidak mengerti mengapa Easton mengajakku ke sini. Apa dia ingin aku menggantikan Emberly seperti waktu itu? “Perhatikan baik-baik apa yang akan kamu temui. Kamu bisa membuat catatan atau mengambil foto… whatever suit you…” ujar Easton sambil bersiap-siap untuk turun. “Apa sebenarnya yang—” ucapanku terhenti. Easton mengenakan kacamata hitamnya, lalu keluar begitu saja tanpa mendengarkan pertanyaanku. Tidak ada penjelasan, untuk apa aku ada di sini atau apa sebenarnya yang harus
Hari berikutnya Iris terpaksa datang ke gedung SDP Corp. Keluar dari taksi, Iris mendongak, menatap lantai paling atas di mana kantor Easton berada.Tujuannya datang hari itu adalah untuk menemui Easton, menanyakan mengapa dia menolak pengunduran dirinya dan kalau memungkinkan memaksanya menerima pengunduran itu.Ia sengaja tidak memberitahukan kedua orang tuanya, berharap kali ini permasalahannya dan Easton bisa diselesaikan.Iris masuk ke dalam gedung tanpa kendala. Bahkan ID card magang miliknya masih berfungsi dengan baik.Di depan kantor Easton, ia melihat Emberly duduk di meja kerjanya, sedang berbicara melalui telepon.“Don’t!” Iris memberi Emberly peringatan saat sekertaris Easton itu beranjak dari duduknya, hendak menghentikannya.Iris tidak ingin siapa pun menghalanginya, apalagi Emberly.Ia membuka pintu kantor Easton dan langsung menerobos masuk.“Easton, aku ingin bicara!”Langkah kaki Iris terhenti. Ia diam membeku saat melihat ke dalam ruangan itu.Di dalam ruangan ker







