LOGIN"Bukan cuma tertarik, Bu! Katanya kalau Sasa mau dinikahi jadi istri keempatnya, Juragan Burhan enggak tanggung-tanggung kasih mahar yang mewah!"
Nabila merapatkan duduknya di sofa usang itu. Ia membisikkan kalimat selanjutnya dengan penuh semangat membara. "Maharnya uang tunai puluhan juta, ditambah satu petak tanah ruko di pasar, dan jaminan fasilitas hidup buat keluarga kita!" imbuhnya penuh ambisi. Suasana di ruang tengah mendadak senyap. Angka puluhan juta dan tanah ruko di pasar adalah impian liar yang selama ini tidak berani mereka bayangkan dalam mimpi paling basah sekalipun. Gaji Nabila sebagai bidan honorer dan hasil ladang peninggalan almarhum ayahnya, juga gaji pansiun tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan yang ditawarkan oleh Juragan Burhan. Raka yang tadinya bersandar malas, kini ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya berbinar-binar penuh keserakahan yang nyata. "Wah... kalau Sasa jadi istrinya Juragan Burhan, kita enggak perlu pusing lagi mikirin cicilan motor atau uang SPP-ku dong, Bu? Kita bisa hidup senang!" seru Raka girang. "Tentu saja!" Nabila tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya. "Kita bisa minta uang bulanan yang banyak ke Sasa lewat Juragan Burhan. Hidup kita bakal dijamin makmur!" Ratih menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan desir ambisi yang membakar dadanya dengan cepat. Masalah finansial yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menemukan jalan keluar yang sangat instan. Namun, wanita itu tahu betul watak anak tirinya. "Tapi kalian tahu sendiri kan watak Sasa?" suara Ratih berubah datar. "Anak itu keras kepala. Dia pasti memilih lebih baik mati kelaparan di gudang belakang daripada nikah sama Juragan Burhan yang sudah tua dan punya banyak istri." Nabila mendengus sinis, melipat tangan di dada. "Dulu mungkin iya, dia bisa sok jual mahal, Bu. Pas ayahnya masih hidup. sekarang kan tidak lagi dan dia lagi dikurung di gudang. Dia tidak punya pilihan lain!" Raka menyeringai lebar, lalu melirik sekilas ke arah lorong belakang. Tanpa perlu perdebatan panjang atau rencana lisan yang bertele-tele, Ratih memberikan instruksi mutlak lewat tatapan dinginnya. Jauh sebelum matahari pagi menyinari halaman depan, perjuangan hidup dan mati tengah berlangsung di dalam gelapnya gudang. Sasa memejamkan mata, menepis rasa takut, ia meraba lantai semen yang kasar dalam gelap hingga menemukan tumpukan kotak kayu bekas di sudut ruangan. Dengan sisa tenaga yang ada, Sasa menyeret kotak-kotak berat itu dan menumpuknya tepat di bawah ventilasi berjeruji kayu. Ia memanjat tumpukan kotak. Lalu mencengkeram kuat teralis kayu yang sudah sedikit lapuk di dinding. Sasa mengerahkan seluruh kekuatan lengannya, mendorong tubuhnya ke atas sambil menahan perih. Kriet... Kayu itu berderit, Sasa menggoyang-goyangkan satu sisi kayu dengan sisa tenaganya yang terakhir. Brak! Satu sisi kayu akhirnya lepas dari dinding yang rapuh. Tanpa membuang waktu, Sasa mendesakkan bahunya menerobos celah sempit dan berdebu itu. Kulit lengannya tergores tembok tajam hingga berdarah, namun ia tak peduli. Ia menjatuhkan diri ke tanah kebun belakang yang lembap oleh embun pagi, lalu bangkit dan berlari sekencang-kencangnya menembus remang-remang subuh. *** Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil hitam mengkilap tampak berhenti di depan rumah sesuai undangan Ibu Ratih. Dari dalam mobil, turunlah Juragan Burhan dengan penuh wibawa palsu. Lelaki berbadan gempal itu mengenakan cincin emas bermata batu akik di setiap jemarinya, didampingi dua orang pengikut setianya yang membawa parsel besar dan amplop tebal yang bisa dipastikan berisi uang. "Selamat pagi, Bu Ratih! Raka! Nabila!" sapa Juragan Burhan dengan suara yang menggelegar ke seluruh ruangan begitu dia masuk. Lelaki itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang sebagian berlapis emas. "Pagi juga, Juragan! Silakan masuk, silakan masuk!" sambut Ratih dengan senyum paling ramah yang bisa ia tampilkan, menyalami lelaki itu. Nabila langsung menyuguhkan secangkir teh manis hangat ke atas meja tamu. "Silakan diminum, Juragan. Duh, senangnya kedatangan tamu terhormat seperti Juragan ke rumah kami." Juragan Burhan tertawa renyah, menerima cangkir teh tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Bagaimana, Bu Ratih? Apakah anak tirimu itu sudah diberi pengertian? Saya sudah tidak sabar ingin meminangnya resmi hari ini juga. Mahar dan sertifikat ruko yang saya janjikan sudah siapkan," pamer Juragan Burhan penuh percaya diri. Ratih senyum. "Tenang saja, Juragan. Sasa itu anak yang penurut, meski kadang suka jual mahal. Sebentar ya, Juragan, saya panggilkan dia dari kamar belakang." Ratih berjalan tergesa-gesa menuju lorong belakang bersama Raka yang mengekor dengan wajah sumringah. Setibanya di depan pintu gudang, Ratih memutar anak kunci dengan semangat. Klek. Pintu dibuka lebar-lebar oleh Ratih. Namun, senyum di wajah Ratih lenyap menjadi pekikan. Tidak ada Sasa di sana. Yang tersisa hanyalah tumpukan kotak kayu yang berserakan, sebuah ventilasi di dinding atas yang jeruji kayunya sudah tanggal sebelah, menganga lebar menghadap ke luar kebun. "Ya Tuhan, Sasa kabur!" teriak Ratih. Raka membelalakkan mata tak percaya, lalu langsung berlari memeriksa sekeliling ruangan sempit itu dengan panik. "Sialan! Dia kabur lewat ventilasi!" maki Raka penuh amarah. Mendengar keributan itu, Juragan Burhan melangkah mendekati pintu belakang dengan wajah heran. "Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak?" Ratih menelan ludah, keringat dingin mendadak membasahi pelipisnya. "Anu... Juragan... Sasa ternyata sudah tidak ada di dalam. Dia kabur," timpal Raka dengan suara gemetar ketakutan. Wajah Juragan Burhan seketika berubah merah padam karena merasa dipermainkan. "Kalian pikir saya ini bodoh, hah? Beraninya kalian mempermainkan saya!" bentak lelaki itu murka. "Cari dia sampai dapat! Kalau sampai perempuan itu tidak ketemu, urusan kita belum selesai!" ancam Juragan Burhan sebelum berbalik pergi dengan penuh kemarahan.“Apa Anda sudah gila?!” suara Sasa menggema di ruangan kerja ber-AC dingin itu. “Saya ini karyawan baru, Pak! Kita baru kenal kemarin malam, dan sekarang Bapak menyuruh saya jadi pengantin pengganti? Ini gila. Saya menolak mentah-mentah!”Ryan tidak terkejut. Pria itu justru melangkah santai kembali ke balik mejanya, menyandarkan punggung dengan raut wajah setenang telaga.“Penolakan ditolak, Sasa,” ujar Ryan datar. “Kau pikir kau punya posisi untuk menolak?”“Tentu saja punya! Ini soal hidup saya!” tegas Sasa, dadanya naik turun menahan amarah. “Bapak tidak bisa menyalahgunakan wewenang hanya karena Bapak bos di sini!”Ryan menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik sebuah dokumen tebal dari laci dan membukanya santai.“Mari kita bicara realita, Sasa Kirana,” potong Ryan tenang. “Kau karyawan kontrak dengan masa percobaan tiga bulan. Dalam klausul kontrak kerjamu, perusahaan berhak memutus hubungan kerja sewaktu-waktu jika karyawan dianggap tidak bisa bekerja sama."Sasa membela
Mobil Ryan berhenti di halaman rumahnya. Pria itu melangkah masuk dan merasa aneh tadi memeriksa CCTV melalui tabnya. Ia melihat Sasa masih berada di area dapur, berjalan canggung mengenakan jubah mandi tebal sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamar lantai dua.Namun pagi ini, saat Ryan menginjakkan kaki di ruang utama, suasana rumah itu hening mencekam. Tidak ada aroma masakan, tidak ada denting cangkir, dan yang paling mencurigakan, tidak ada sosok wanita keras kepala itu.“Sasa?” panggil Ryan, suaranya memantul di dinding marmer yang dingin.Hening. Ryan melangkah cepat menaiki tangga jati menuju lantai dua. Pintu kamar ujung—tempat Sasa menginap—terbuka sedikit. Ia mendorong pintu tersebut dan mendapati ruangan sudah tertata rapi. Ranjang king size yang semalam berantakan kini kembali mulus tanpa kerutan, seolah tak pernah ditiduri. Di atas meja nakas, tergeletak sebuah kertas catatan kecil bergaris yang diindih oleh kunci rumah.Ryan memungut kertas itu dan membaca tulisan
Paginya atmosfer di ruang tamu keluarga Ryan mendadak mencekam. Tasya duduk tegak di sofa kulit, menatap Pak Bagas dan Bu Rina—orang tua Ryan—dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia memikirkan apakah Ryan sudah cerita kejadian di apartemen. Tapi melihat ekspresi mereka sepertinya tidak. Mereka masih tetap ramah padanya. Di atas meja, beberapa brosur katering dan contoh undangan sudah tersebar rapi.“Ma, Pa, menurut Tasya lebih baik tanggal pernikahannya di percepat minggu depan,” ujar Tasya tanpa ragu. Tangannya menggenggam jemari Bu Rina erat. “Persiapan kita sudah delapan puluh persen. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda.”Bu Rina saling pandang dengan suaminya, menyiratkan keraguan. “Tapi Tasya, bukankah kesepakatan awal kita adalah akhir bulan? Ryan juga sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru di kantor.”“Ryan bisa membagi waktu, Ma,” potong Tasya cepat, nadanya mulai terdengar menuntut. “Tasya hanya tidak ingin ada spekulasi liar di luar sana. Lagipula, semakin cepa
Ryan terkejut dengan ucapan Sasa, wajahnya menegang. “Aku enggak mikir gitu,” ucapnya membela diri. Sasa hanya senyum tipis, lalu kembali melanjutkan suapan mienya. Merasa tidak enak hati, Ryan mencoba menjelaskan lagi. “Aku serius, Sasa. Aku menawarkan bantuan murni karena ingin menolong.” “Terima kasih, tapi tidak perlu sih,” jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya. Ego Ryan mendadak tersentil. Kesal karena niat baiknya ditolak, ia memilih menyudahi makannya. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga Sasa selesai dan bersiap untuk pergi. Meski gengsinya tersisa sedikit, Ryan tetap bersuara saat melihat Sasa beranjak. “Kau yakin benar-benar tidak butuh bantuan?” Sasa menatap Ryan tajam, menyunggingkan senyum sinis yang tidak menyiratkan kebencian. “Sorry, aku tidak membisakan menerima bantuan dari pria asing.” Sasa melambaikan tangan. “Bye!” Ryan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Sasa yang perlahan menjauh keluar dari resto
Mesin sedan mewah itu sudah mati. Ryan masih mencengkeram erat setirnya, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kemudi dengan irama. Ia parkir depan supermarket 24 jam. Suasana sudah sunyi. "Argh... sial!" gerutu Ryan, rahangnya mengeras hingga otot-otot wajahnya menonjol. "Persiapan pernikahan sudah hampir rampung, tapi wanita sialan itu beraninya berkhianat. Bodohnya aku." Kenangan tiga tahun bersama Tasya berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ryan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Tasya, Banyu, lihat saja! Akan aku pastikan kalian mendapatkan balasan setimpal!" desis Ryan penuh dendam. Ryan keluar dari mobilnya dan gerakannya terhenti saat pintu geser supermarket terbuka. Seorang wanita keluar menenteng bungkusan plastik bening berisi dua cup mie instan dan sebotol air mineral. Langkahnya terlihat lelah, namun tegar. Wanita itu Sasa. Sasa melirik sekilas menatap tepat ke manik mata Ryan. "Kalau Anda berniat berdiri di situ terus samb
Laju kereta api ekonomi pelan, membelah hamparan sawah dan perkebunan hijau di balik jendela kaca. Sasa duduk di kursi kelas dekat jendela dengan gerbong yang cukup padat. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding kelegaan di dadanya. Ingatannya berputar pada kejadian ketika ia melarikan diri. Sasa berlari tanpa arah hingga hampir terjatuh di jalan setapak. Di sanalah ia diselamatkan oleh Bi Hanum, kerabat ayahnya. Melihat siku Sasa yang berdarah, wanita paruh baya itu langsung menariknya bersembunyi. "Masuk ke gerobak belakang, Sasa," bisik Bi Hanum dengan tangan gemetar. "Bibi tahu keluarga tiri kamu mau itu gila semua." "Ini, pakai!" Bi Hanum memberikan ponsel usang pada Sasa. "Enggak usah Bi," tolak Sasa. "Ambil! kabarin Bibi ya!" Mata Sasa berembun. Bi Hanum tidak hanya memberinya ponsel, uang simpanan dan jaket tebal, tetapi juga mengantar Sasa lewat jalan tikus persawahan menuju stasiun. "Pergi ke kota, Nak. Jangan pernah kembali lagi. Cari kehidupanmu se







