Home / Romansa / Satu Malam, Mengikat Selamanya. / Bab 2: Ide Busuk Keluarga Sasa

Share

Bab 2: Ide Busuk Keluarga Sasa

Author: Juliee
last update publish date: 2026-07-13 21:56:46

Tamparan tidak sempat mendarat di pipi Sasa. Tangan Ratih di tahan oleh Raka.

"Jangan dipukul lagi, Bu," cegah Raka.

"Kalau ditampar, dia enggak akan jera. Nanti dia malah kabur balik ke kota dan benaran lepas tangan. Kita kurung saja dia di gudang belakang sampai dia sadar diri dan mau nurut sama kita."

"Lepaskan aku!" teriak Sasa saat Nabila langsung berdiri di sampingnya, mencengkeram kuat kedua lengan Sasa dengan kasar.

"Diam, Mbak!" desis Nabila penuh kebencian. "Jangan sok berani lagi! Rasakan akibatnya kalau melawan Ibu!"

Tanpa memedulikan jeritan Sasa, Ratih langsung menyambar kunci gantung dari atas meja bufet. Bersama Raka dan Nabila yang menarik paksa tubuh Sasa dengan kasar, mereka menyeret gadis itu melewati lorong sempit menuju bagian belakang rumah.

"Kalian benar-benar sudah gila!" geram Sasa sambil terus meronta sekuat tenaga di antara lorong yang gelap.

"Biar kamu tahu rasa, Mbak!" bentak Raka tanpa ampun.

Mereka menyeret Sasa menuju sebuah gudang kecil pengap yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas dan jemuran kotor. Sebelum tubuhnya dilempar, Raka merampas paksa ponsel dari saku Sasa.

Brak! Tubuh Sasa dihempaskan begitu saja ke lantai semen yang dingin dan berdebu. Belum ia sempat merangkak bangkit untuk menggapai pintu, Ratih sudah menutup daun pintu berbahan kayu lapuk itu rapat-rapat.

Kesadaran pahit menghantam batinnya: ia disekap di rumahnya sendiri oleh keluarga yang seharusnya masih berduka atas kepergian sang ayah.

"Buka pintunya!" Sasa memukul-mukul pintu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Suaranya berubah parau, beradu dengan isak tangis.

"Ibu! Raka! Nabila! Kalian sudah gila! Lepasin aku!"

"Rasakan itu, sampai kamu mau tanda tangan surat kuasa penyerahan ladang dan rumah ini juga setuju gajimu di transfe buat kami!" teriak Ratih dari balik pintu, suaranya terdengar menggema samar di antara pengapnya ruangan. "Jangan harap bisa keluar sebelum otak egoismu itu waras!"

Langkah kaki mereka berangsur-angsur menjauh, meninggalkan Sasa dalam kedinginan.

Ia memeluk lututnya erat-erat dengan tubuh yang mulai menggigil. Punggungnya bersandar pada dinding bata yang dingin tanpa selimut untuk menghangatkan dirinya.

"Ayah..." bisik Sasa parau di tengah isak tangisnya yang tertahan. "Kenapa kamu cepat banget pergi? Kenapa mereka tega buat aku seperti ini...? Orang yang ayah bilang baik dan keluarga itu omong kosong ayah, mereka hanya mau uang aja."

"Kalau bukan kamu yang tanggung jawab untuk kami, siapa lagi yang bisa diandalkan...? Gantikan posisi ayahmu jadi tulang punggung keluarga ini!"

Kata-kata Ratih terus berputar-putar di benaknya, memicu rasa jijik sekaligus amarah yang membara. Jadi, selama ini keberadaan ayahnya dan dirinya di mata mereka bukan sebagai keluarga, melainkan sekadar mesin ATM berjalan.

***

Malam semakin larut, Ratih duduk di sofa usang sambil menyeruput teh hangat, sementara Raka sibuk memainkan game dengan kaki diselonjorkan ke atas meja.

Pintu depan terbuka, menampilkan Nabila yang baru saja pulang dari tempat praktiknya. Wajah gadis itu tampak lelah, tetapi ada binar antusias yang aneh di matanya.

"Kamu baru pulang, Nab?" sapa Ratih tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas teh.

Nabila melempar tas kerjanya ke atas sofa, lalu duduk tergesa di samping ibunya.

"Bu, Ibu enggak bakal percaya ama apa yang aku dengar dari pasien di klinik tadi. Ini kabar besar banget buat kita!"

Mendengar nada bicara Nabila yang antusias, Raka langsung menegakkan badannya. "Berita apaan? Jangan buat penasaran deh."

Ratih ikut menoleh. "Berita apa sih? Jangan bilang tempatmu kerja mau bagi-bagi bonus."

"Bukan, Bu! Ini soal Juragan Burhan!" seru Nabila dengan suara tertahan namun sarat akan ambisi.

Nama itu membuat Ratih dan Raka tertegun sejenak. Lelaki paruh baya tersebut dikenal sebagai pemilik puluhan hektar perkebunan sawit, toko emas terbesar di pasar kecamatan, sekaligus punya istri tiga.

"Emangnya kenapa dengan Juragan Burhan?" tanya Ratih.

"Tadi pasienku bilang, waktu suaminya ngopi di pasar, Juragan Burhan bilang mau cari istri keempat!" ungkap Nabila dengan mata berbinar-binar. "Dan tahu enggak, Bu? Juragan Burhan itu sebenarnya sudah memperhatikan Sasa sejak hari pemakaman Ayah minggu lalu!"

Raka mendengus pelan, sedikit kecewa karena mengira berita itu menyangkut dirinya. "Hah? Sasa? Masa laki-laki tua bangka kaya gitu mau sama Sasa yang keras kepala kayak singa betina?"

"Serius, Raka!" Nabila menimpali dengan nada geram. "Orang-orang di pasar pada ngomongin itu. Waktu kita semua sibuk tangisin Ayah di makam, Juragan Burhan sempat datang melayat sebentar. Waktu itu dia lihat Sasa yang nangis. kata dia Sasa cantik dan masih muda. Juragan Burhan langsung kepincut!"

Ratih terdiam, ia berpikir keras. Sebuah seringai tipis perlahan-lahan terbit di bibir wanita paruh baya itu.

"Jadi... Juragan Burhan naksir sama Sasa ya?" tanya Ratih memastikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab. 9. 1 Miliar

    “Apa Anda sudah gila?!” suara Sasa menggema di ruangan kerja ber-AC dingin itu. “Saya ini karyawan baru, Pak! Kita baru kenal kemarin malam, dan sekarang Bapak menyuruh saya jadi pengantin pengganti? Ini gila. Saya menolak mentah-mentah!”​Ryan tidak terkejut. Pria itu justru melangkah santai kembali ke balik mejanya, menyandarkan punggung dengan raut wajah setenang telaga.​“Penolakan ditolak, Sasa,” ujar Ryan datar. “Kau pikir kau punya posisi untuk menolak?”​“Tentu saja punya! Ini soal hidup saya!” tegas Sasa, dadanya naik turun menahan amarah. “Bapak tidak bisa menyalahgunakan wewenang hanya karena Bapak bos di sini!”​Ryan menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik sebuah dokumen tebal dari laci dan membukanya santai.​“Mari kita bicara realita, Sasa Kirana,” potong Ryan tenang. “Kau karyawan kontrak dengan masa percobaan tiga bulan. Dalam klausul kontrak kerjamu, perusahaan berhak memutus hubungan kerja sewaktu-waktu jika karyawan dianggap tidak bisa bekerja sama."​Sasa membela

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab. 8 Pengantin Dadakan

    Mobil Ryan berhenti di halaman rumahnya. Pria itu melangkah masuk dan merasa aneh tadi memeriksa CCTV melalui tabnya. Ia melihat Sasa masih berada di area dapur, berjalan canggung mengenakan jubah mandi tebal sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamar lantai dua.​Namun pagi ini, saat Ryan menginjakkan kaki di ruang utama, suasana rumah itu hening mencekam. Tidak ada aroma masakan, tidak ada denting cangkir, dan yang paling mencurigakan, tidak ada sosok wanita keras kepala itu.​“Sasa?” panggil Ryan, suaranya memantul di dinding marmer yang dingin.​Hening. Ryan melangkah cepat menaiki tangga jati menuju lantai dua. Pintu kamar ujung—tempat Sasa menginap—terbuka sedikit. Ia mendorong pintu tersebut dan mendapati ruangan sudah tertata rapi. Ranjang king size yang semalam berantakan kini kembali mulus tanpa kerutan, seolah tak pernah ditiduri. Di atas meja nakas, tergeletak sebuah kertas catatan kecil bergaris yang diindih oleh kunci rumah.​Ryan memungut kertas itu dan membaca tulisan

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab. 7 Batal

    Paginya atmosfer di ruang tamu keluarga Ryan mendadak mencekam. Tasya duduk tegak di sofa kulit, menatap Pak Bagas dan Bu Rina—orang tua Ryan—dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia memikirkan apakah Ryan sudah cerita kejadian di apartemen. Tapi melihat ekspresi mereka sepertinya tidak. Mereka masih tetap ramah padanya. Di atas meja, beberapa brosur katering dan contoh undangan sudah tersebar rapi.​“Ma, Pa, menurut Tasya lebih baik tanggal pernikahannya di percepat minggu depan,” ujar Tasya tanpa ragu. Tangannya menggenggam jemari Bu Rina erat. “Persiapan kita sudah delapan puluh persen. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda.”​Bu Rina saling pandang dengan suaminya, menyiratkan keraguan. “Tapi Tasya, bukankah kesepakatan awal kita adalah akhir bulan? Ryan juga sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru di kantor.”​“Ryan bisa membagi waktu, Ma,” potong Tasya cepat, nadanya mulai terdengar menuntut. “Tasya hanya tidak ingin ada spekulasi liar di luar sana. Lagipula, semakin cepa

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab. 6 Sasa Menumpang.

    ​Ryan terkejut dengan ucapan Sasa, wajahnya menegang. “Aku enggak mikir gitu,” ucapnya membela diri. ​Sasa hanya senyum tipis, lalu kembali melanjutkan suapan mienya. ​Merasa tidak enak hati, Ryan mencoba menjelaskan lagi. “Aku serius, Sasa. Aku menawarkan bantuan murni karena ingin menolong.” ​“Terima kasih, tapi tidak perlu sih,” jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya. ​Ego Ryan mendadak tersentil. Kesal karena niat baiknya ditolak, ia memilih menyudahi makannya. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga Sasa selesai dan bersiap untuk pergi. ​Meski gengsinya tersisa sedikit, Ryan tetap bersuara saat melihat Sasa beranjak. “Kau yakin benar-benar tidak butuh bantuan?” ​Sasa menatap Ryan tajam, menyunggingkan senyum sinis yang tidak menyiratkan kebencian. “Sorry, aku tidak membisakan menerima bantuan dari pria asing.” Sasa melambaikan tangan. “Bye!” ​Ryan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Sasa yang perlahan menjauh keluar dari resto

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab 5: Dua Orang Kalah Bertemu

    Mesin sedan mewah itu sudah mati. Ryan masih mencengkeram erat setirnya, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kemudi dengan irama. Ia parkir depan supermarket 24 jam. Suasana sudah sunyi. "Argh... sial!" gerutu Ryan, rahangnya mengeras hingga otot-otot wajahnya menonjol. "Persiapan pernikahan sudah hampir rampung, tapi wanita sialan itu beraninya berkhianat. Bodohnya aku." Kenangan tiga tahun bersama Tasya berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ryan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Tasya, Banyu, lihat saja! Akan aku pastikan kalian mendapatkan balasan setimpal!" desis Ryan penuh dendam. Ryan keluar dari mobilnya dan gerakannya terhenti saat pintu geser supermarket terbuka. Seorang wanita keluar menenteng bungkusan plastik bening berisi dua cup mie instan dan sebotol air mineral. Langkahnya terlihat lelah, namun tegar. Wanita itu Sasa. Sasa melirik sekilas menatap tepat ke manik mata Ryan. "Kalau Anda berniat berdiri di situ terus samb

  • Satu Malam, Mengikat Selamanya.   Bab 4: Dingin dan Panas

    Laju kereta api ekonomi pelan, membelah hamparan sawah dan perkebunan hijau di balik jendela kaca. Sasa duduk di kursi kelas dekat jendela dengan gerbong yang cukup padat. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding kelegaan di dadanya. Ingatannya berputar pada kejadian ketika ia melarikan diri. Sasa berlari tanpa arah hingga hampir terjatuh di jalan setapak. Di sanalah ia diselamatkan oleh Bi Hanum, kerabat ayahnya. Melihat siku Sasa yang berdarah, wanita paruh baya itu langsung menariknya bersembunyi. "Masuk ke gerobak belakang, Sasa," bisik Bi Hanum dengan tangan gemetar. "Bibi tahu keluarga tiri kamu mau itu gila semua." "Ini, pakai!" Bi Hanum memberikan ponsel usang pada Sasa. "Enggak usah Bi," tolak Sasa. "Ambil! kabarin Bibi ya!" Mata Sasa berembun. Bi Hanum tidak hanya memberinya ponsel, uang simpanan dan jaket tebal, tetapi juga mengantar Sasa lewat jalan tikus persawahan menuju stasiun. "Pergi ke kota, Nak. Jangan pernah kembali lagi. Cari kehidupanmu se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status