Home / Fantasi / Satu klik naik seribu tingkat / bab 5. Tatapan dari atas

Share

bab 5. Tatapan dari atas

Author: Blackmoon
last update Last Updated: 2026-01-15 13:50:32

Malam hari turun perlahan di Sekte Awan Biru.

Lampu-lampu batu roh menyala satu per satu, menerangi jalur-jalur batu yang berkelok di antara paviliun dan aula. Di permukaan, sekte terlihat tenang seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, arus bawah mulai bergerak.

Di Aula Tetua.

Tiga sosok duduk melingkar di atas bantalan giok. Api roh biru menyala di tengah ruangan, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu.

Tetua Aula Bela Diri membuka mata lebih dulu.

“Fluktuasi hukum siang tadi,” katanya pelan, “bukan berasal dari formasi sekte.”

Tetua beralis putih mengangguk. “Aku merasakannya juga. Sangat singkat, tapi jelas… hukum lokal sempat tertekan.”

Tetua ketiga—seorang wanita tua berjubah hitam—mengetukkan tongkatnya ke lantai.

“Di wilayah sekte kecil seperti ini,” katanya dingin, “hanya ada dua kemungkinan.”

Ia mengangkat dua jari.

“Artefak tingkat tinggi… atau seseorang yang melampaui batas dunia.”

Ruangan menjadi sunyi.

Tetua Aula Bela Diri menghela napas pelan. “Artefak akan meninggalkan jejak energi. Tapi ini—bersih. Seolah hukum dunia sendiri yang menyesuaikan.”

“Dan itu sangat berbahaya,” kata tetua wanita itu. “Dunia tidak suka anomali.”

Mereka semua memikirkan satu nama yang sama.

“Lin Yuan,” ucap tetua beralis putih akhirnya.

Sementara itu, Lin Yuan berada di kediamannya.

Ia duduk bersila, tidak berlatih,dan tidak mengaktifkan sistem. Sejak klik kedua, ia bisa merasakan perubahan halus di sekelilingnya. Qi dunia di malam hari terasa… lebih sensitif.

Seolah setiap tarikan napasnya sedikit mengganggu keseimbangan.

Tekanan dunia sedang mengamatiku, pikirnya.

Ia membuka mata.

Layar sistem muncul tanpa diminta.

【Analisis Pasif】

Lingkungan: Stabil

Namun: Hukum dunia meningkatkan sensitivitas terhadap pengguna

Saran: Kurangi fluktuasi kekuatan berlebihan

Lin Yuan tersenyum tipis.

“Jadi bahkan bernapas pun bisa jadi masalah,” gumamnya.

Ia berdiri dan melangkah keluar dari paviliun.

Di kejauhan, suara langkah kaki mendekat.

“Lin Yuan.”

Suara itu tenang, berwibawa.

Tetua Aula Bela Diri berdiri di bawah lampu batu roh, jubahnya berkibar ringan tertiup angin malam.

Lin Yuan membungkuk hormat. “Tetua.”

Tetua itu menatapnya lama, tajam namun tidak bermusuhan.

“Berjalanlah denganku.”

Mereka menyusuri jalur batu menuju taman batu belakang sekte. Di sana, formasi peredam suara aktif secara otomatis, menutup percakapan mereka dari dunia luar.

Tetua berhenti.

“Jawab dengan jujur,” katanya. “Apa yang kau lakukan siang tadi?”

Lin Yuan tidak langsung menjawab.

Ia tahu, kebohongan akan sia-sia.

“Aku menembus batas kekuatanku,” katanya akhirnya. “Dengan cara… yang tidak biasa.”

Tetua itu mengangguk perlahan. “Aku tidak menanyakan caranya.”

Ia menatap langit gelap.

“Aku ingin tahu—apakah kau sadar apa artinya melampaui batas dunia rendah?”

Lin Yuan terdiam.

Tetua melanjutkan, “Setiap dunia memiliki ambang. Ambang energi, ambang hukum, ambang eksistensi. Jika seseorang melampaui ambang itu sebelum waktunya…”

Ia menoleh.

“Dunia akan bereaksi.”

“Dengan apa?” tanya Lin Yuan.

“Tekanan. Pembatasan. Atau…” mata tetua itu menyempit, “perhatian dari atas.”

Lin Yuan mengepalkan tangan perlahan.

“Dunia atas,” katanya pelan.

Tetua tersenyum pahit. “Jadi kau memang sudah tahu.”

“Aku merasakannya,” jawab Lin Yuan jujur. “Seperti… tatapan.”

Tetua itu tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya.

“Bagus. Karena itu berarti kau belum bodoh.”

Ia menepuk bahu Lin Yuan ringan.

“Mulai sekarang, kekuatanmu akan diawasi. Bukan hanya oleh sekte.”

Lin Yuan mengangkat kepala. “Apakah aku melanggar aturan?”

“Belum,” jawab tetua itu. “Karena dunia belum menghukummu.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi Lin Yuan… jangan gunakan kekuatanmu sembarangan. Terutama di dalam sekte.”

Lin Yuan mengangguk. “Aku mengerti.”

Namun di dalam hatinya, ia tahu—jalan mundur sudah tertutup.

Keesokan harinya, berita menyebar.

Bukan secara resmi, tapi cukup jelas.

“Para tetua memanggil Lin Yuan.”

“Katanya ada fluktuasi hukum.”

“Dia mungkin membawa artefak terlarang?”

Bisikan-bisikan itu beredar di kalangan murid inti.

Beberapa menjauh.

Beberapa makin tertarik.

Dan beberapa… mulai merasa terancam.

Di paviliun lain, Wu Shan duduk dengan mata terpejam. Lengannya masih terasa nyeri samar sejak kemarin.

“Bukan hanya kuat,” gumamnya. “Tapi sangat kuat … seperti dunia berdiri di belakangnya.”

Ia membuka matanya.

“Jika dia terus naik… peringkat pasti akan berubah.”

Di siang hari, pengumuman resmi akhirnya keluar.

Arena Peringkat Murid Inti akan dibuka.

Tantangan bebas.

Satu minggu.

Tujuan: Penyesuaian internal kekuatan.

Lin Yuan membaca papan pengumuman dengan tenang.

“Jadi ini cara sekte mengujiku,” katanya dalam hati.

Arena adalah tempat paling aman untuk melepaskan tekanan—dan paling terbuka untuk dilihat.

Sistem muncul.

【Peringatan Strategis】

Arena Peringkat = Zona Pengamatan Tinggi

Disarankan: Batasi penggunaan kekuatan abnormal

Lin Yuan tersenyum tipis.

“Aku tidak berniat pamer,” katanya pelan. “Aku hanya ingin mengukur.”

Namun jauh di luar Sekte Awan Biru…

Di sebuah tempat yang tertutup oleh awan hitam, seorang pria berjubah emas membuka matanya.

“Fluktuasi hukum dunia rendah?” katanya ringan.

Seorang pelayan berlutut. “Ya, Tuan. Sangat singkat.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Menarik. Dunia rendah sangat jarang melahirkan sesuatu yang seperti itu.”

Ia berdiri, dan memandang kehampaan.

“Kirim pengamat.”

“Apakah perlu intervensi?”

“Belum,” jawabnya. “Biarkan dia tumbuh.”

Matanya berkilat dingin.

“Anomali yang tumbuh… selalu membawa hiburan.”

Di Sekte Awan Biru, Lin Yuan sedang duduk bersila, dan memejamkan matanya.

Ia tidak tahu siapa yang menatapnya dari atas.

Namun ia tahu satu hal—

Setiap langkahnya ke depan kini tidak lagi hanya miliknya sendiri.

Sistem muncul terakhir kali sejak hari itu.

【Status Terkini】

Tekanan Dunia: Sedang

Pengamatan Eksternal: Tingkat Rendah

Catatan: Klik Ketiga akan memicu perubahan besar

Lin Yuan membuka matanya.

“Kalau begitu…” katanya pelan, “aku harus siap sebelum dia menekanku.”

Di kejauhan, arena batu menjulang, menunggu darah, keringat, dan pembuktian.

Dan di atas segalanya—

dunia sedang menahan napasnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu klik naik seribu tingkat    Bab 7. Tekanan yang tak terlihat

    Langit Sekte Awan Biru tetap sama—bintang- bintang bertaburan, angin gunung bertiup pelan—namun Lin Yuan bisa merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang berubah. Bukan di sekelilingnya, melainkan cara dunia merespons keberadaannya. Ia berjalan perlahan menuju kediamannya. Setiap langkah terasa sedikit… berat. Bukan karena kelelahan, melainkan karena resistensi halus. Seolah tanah, udara, dan qi di sekitarnya tidak lagi sepenuhnya menyambutnya. 【Analisis Pasif】 Tekanan Dunia: Sedang → Mendekati Tinggi (Fluktuatif) Kondisi: Dunia mulai melakukan penyesuaian pasif Lin Yuan berhenti. “Jadi ini rasanya,” gumamnya pelan. “Ditolak tanpa diserang.” Ia menarik napas dalam-dalam dan menahan seluruh auranya ke dalam tubuh. Tekanan itu sedikit berkurang, namun tidak menghilang sepenuhnya. Arena mempercepat segalanya, pikirnya. Ia baru saja mencapai peringkat dua belas murid inti—sesuatu yang seharusnya mustahil dalam waktu sesingkat itu. Dunia mungkin belum “mengerti” apa

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 6 Arena yang menguji dunia

    Arena Peringkat Murid Inti terletak di sisi timur Sekte Awan Biru. Arena itu bukan arena biasa. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang diperkuat dengan formasi penahan. Tanahnya menyerap benturan. Udara di atasnya dilapisi lapisan hukum yang menekan kekuatan berlebihan. Arena ini tidak dibuat untuk tontonan—melainkan untuk menguji batas sejati para murid inti. Sejak pagi, ratusan murid telah berkumpul di sekelilingnya. Bisik-bisik menyebar seperti angin. “Lin Yuan benar-benar akan turun ke arena.” “Katanya tetua sendiri yang mengizinkan.” “Apa dia akan langsung naik peringkat?” Di tribun khusus, beberapa tetua duduk diam, mata mereka sesekali melihat arena. “Dia datang,” kata salah satu tetua pelan. Lin Yuan melangkah masuk ke arena dengan langkah tenang. Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada tekanan yang sengaja ia lepaskan. Namun setiap langkahnya terasa padat, seolah tanah di bawah kakinya menyesuaikan diri. Ia berdiri di tengah arena. Nama Lin Yuan munc

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 5. Tatapan dari atas

    Malam hari turun perlahan di Sekte Awan Biru. Lampu-lampu batu roh menyala satu per satu, menerangi jalur-jalur batu yang berkelok di antara paviliun dan aula. Di permukaan, sekte terlihat tenang seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, arus bawah mulai bergerak. Di Aula Tetua. Tiga sosok duduk melingkar di atas bantalan giok. Api roh biru menyala di tengah ruangan, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu. Tetua Aula Bela Diri membuka mata lebih dulu. “Fluktuasi hukum siang tadi,” katanya pelan, “bukan berasal dari formasi sekte.” Tetua beralis putih mengangguk. “Aku merasakannya juga.

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 4. Klik kedua

    Langit di atas Sekte Awan Biru cerah tanpa awan. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dan qi alami yang tipis namun murni. Lin Yuan berdiri di tepi tebing belakang sekte—tempat yang jarang didatangi murid. Dari sini, ia bisa melihat lautan awan di bawah, seolah dunia berada beberapa lapis lebih rendah darinya. Tempat ini sunyi. Dan kesunyian adalah yang ia butuhkan. Ujian formasi kemarin telah mengukuhkan satu hal: fondasinya kini stabil. Tubuh, energi, dan kehendaknya telah mencapai keseimbangan yang jarang dimiliki kultivator seusianya. Namun sistem tidak diam. Sejak fajar, perasaan aneh terus menggelayuti dirinya—seperti dunia yang sedang mengamati. Lin Yuan duduk bersila di atas batu datar. Ia menenangkan napasnya, menutup mata, dan memanggil sistem. Layar biru pucat muncul dengan tenang. 【Status Pengguna: Lin Yuan】 Fondasi: Mantap Tahap Efektif: Pembentukan Dasar Awal (Stabil) Tekanan Dunia: Rendah–Sedang Klik Tersedia: 1 Rekomendasi

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 3. ujian fondasi

    Fajar baru saja menyingsing ketika lonceng sekte berbunyi tiga kali. Suara itu menggema ke seluruh Sekte Awan Biru—bukan sebagai panggilan rutin, melainkan penanda ujian internal. Para murid berhenti berlatih. Para tetua membuka mata dari meditasi. Semua tahu, hari ini bukan hari biasa. Di pelataran Formasi Penguji, ratusan murid telah berkumpul. Formasi itu terletak di jantung sekte—sebuah lingkaran batu raksasa yang dipenuhi pola rune kuno. Setiap guratan mengandung hukum penilaian, tekanan energi, dan ilusi batin. Ia tidak mengukur seberapa besar ledakan qi seseorang, melainkan seberapa kuat fondasi sejatinya. Dan itulah yang paling ditakuti oleh para kultivator. Lin Yuan berdiri di barisan paling depan. Statusnya kini berbeda. Jubah murid luar telah diganti dengan jubah abu-abu gelap—tanda murid inti percobaan. Banyak tatapan yang tertuju padanya. Ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang menyembunyikan niat buruk. “Dia benar-benar naik status…” “Apakah kemarin hany

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 2. Status di tinjau ulang

    Keheningan di arena bertahan jauh lebih lama dari yang seharusnya. Bau darah, debu batu, dan sisa aura benturan masih menggantung di udara. Murid inti yang sebelumnya begitu angkuh kini tergeletak tak bergerak di kaki dinding arena, dadanya naik turun dengan susah payah. Pedang patahnya berserakan seperti simbol kehancuran harga diri. Tak satu pun murid berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu orang. Lin Yuan. Pemuda yang selama ini mereka ejek sebagai murid sampah kini berdiri di tengah arena dengan ekspresi tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kepuasan berlebihan. Seolah apa yang baru saja terjadi…

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status