Home / Fantasi / Satu klik naik seribu tingkat / bab 6 Arena yang menguji dunia

Share

bab 6 Arena yang menguji dunia

Author: Blackmoon
last update Last Updated: 2026-01-16 09:10:05

Arena Peringkat Murid Inti terletak di sisi timur Sekte Awan Biru.

Arena itu bukan arena biasa.

Dindingnya terbuat dari batu hitam yang diperkuat dengan formasi penahan. Tanahnya menyerap benturan. Udara di atasnya dilapisi lapisan hukum yang menekan kekuatan berlebihan. Arena ini tidak dibuat untuk tontonan—melainkan untuk menguji batas sejati para murid inti.

Sejak pagi, ratusan murid telah berkumpul di sekelilingnya.

Bisik-bisik menyebar seperti angin.

“Lin Yuan benar-benar akan turun ke arena.”

“Katanya tetua sendiri yang mengizinkan.”

“Apa dia akan langsung naik peringkat?”

Di tribun khusus, beberapa tetua duduk diam, mata mereka sesekali melihat arena.

“Dia datang,” kata salah satu tetua pelan.

Lin Yuan melangkah masuk ke arena dengan langkah tenang.

Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada tekanan yang sengaja ia lepaskan. Namun setiap langkahnya terasa padat, seolah tanah di bawah kakinya menyesuaikan diri.

Ia berdiri di tengah arena.

Nama Lin Yuan muncul di batu peringkat.

Peringkat Awal: Tidak Terdaftar

Artinya sederhana—siapa pun boleh menantangnya.

“Pertarungan pertama,” suara pengawas arena menggema, “tanpa senjata. Tanpa teknik mematikan. Sampai salah satu menyerah atau tak mampu berdiri.”

Suasana sesaat menjadi sunyi.

Lalu seseorang melompat turun ke arena.

Tubuhnya ramping, sorot matanya tajam. Jubah murid inti berkibar ringan.

“Zhao Feng,” katanya. “Peringkat dua puluh tiga.”

Ia menatap Lin Yuan tanpa meremehkan. “Aku tidak peduli rumor. Aku hanya percaya arena.”

Lin Yuan mengangguk ringan. “Silakan.”

Formasi arena aktif.

Wuuung—

Tekanan ringan menyelimuti mereka berdua.

“Mulai!”

Zhao Feng bergerak lebih dulu.

Langkah kakinya cepat dan ringan, teknik pergerakan tingkat tinggi. Ia muncul di sisi kiri Lin Yuan dalam sekejap, telapak tangannya menyapu dengan qi yang terkondensasi.

Lin Yuan tidak mundur.

Ia memutar bahunya sedikit.

Bang!

Benturan terdengar tumpul. Zhao Feng merasa telapak tangannya seperti menghantam dinding baja tersembunyi. Ia terlempar mundur tiga langkah.

“Apa—?” matanya menyipit.

Bukan teknik pertahanan, ia sadar Itu murni tubuh.

Zhao Feng mengubah strateginya. Ia mengitari Lin Yuan, serangan datang bertubi-tubi—telapak, siku, lutut—setiap gerakan presisi dan efisien.

Lin Yuan menangkis semuanya.

Tidak dengan gerakan besar.

Tidak dengan ledakan qi.

Ia hanya selangkah lebih kokoh.

Setiap serangan Zhao Feng kehilangan momentum sebelum mencapai tujuan.

Beberapa murid di tribun mulai menyadari sesuatu.

“Lin Yuan tidak menyerang balik…”

“Dia hanya menahan?”

“Tidak—dia mengendalikan jarak.”

Tetua Aula Bela Diri mengangguk pelan. “Kontrol kekuatan sempurna.”

Zhao Feng mulai berkeringat.

Ia meningkatkan aliran qi-nya, memadatkannya di kedua lengannya. Serangan berikutnya lebih berat, lebih cepat.

Lin Yuan akhirnya bergerak maju.

Ia meninju.

Tidak cepat.

Tidak lambat,dan tepat.

BOOM!

Udara di arena bergetar. Zhao Feng terhantam di dada, tubuhnya terlempar dan terguling sebelum berhenti di tepi arena.

Ia terbatuk keras.

Namun tulangnya tidak patah dan organ dalamnya tidak rusak.

Lin Yuan telah menahan kekuatannya dengan ekstrem.

Zhao Feng berusaha bangkit, namun kakinya goyah.

Ia tertawa pahit. “Aku kalah.”

Pengawas arena mengangkat tangan. “Pemenang: Lin Yuan.”

Batu peringkat bersinar.

Peringkat Baru: 48

Sorakan tidak meledak.

Namun keheningan yang muncul justru lebih berat.

“Dia mengalahkan peringkat dua puluh tiga… tanpa teknik.”

“Dan Zhao Feng tidak terluka parah.”

“Kontrol seperti ini… berapa lama dia berlatih?”

Lin Yuan menarik napas pelan.

Sistem muncul sebentar.

【Evaluasi Arena】

Penggunaan Kekuatan: Optimal

Tekanan Dunia: Stabil

Catatan: Tanpa klik – aman

Ia menatap batu peringkat.

“Masih rendah,” gumamnya.

Tidak lama kemudian—

“Aku berikutnya.”

Seorang pria tinggi besar melompat turun.

Wu Shan.

Peringkat tujuh.

Sorot matanya serius, tanpa permusuhan.

“Lin Yuan,” katanya. “Kali ini resmi.”

Lin Yuan mengangguk. “Aku siap.”

Formasi arena bergetar lebih kuat.

Tekanan meningkat satu tingkat.

Beberapa murid mundur refleks.

“Pertarungan dimulai!”

Wu Shan tidak menahan diri.

Qi mengalir deras di tubuhnya, memperkuat otot dan tulang. Setiap langkahnya membuat tanah arena bergetar.

Ia menyerang dengan tinju lurus—teknik sederhana, tapi berat seperti palu gunung.

Lin Yuan mengangkat tangan.

CRACK!

Tanah di bawah kaki Lin Yuan retak.

Beberapa murid terkejut. “Dia terdorong!”

Namun Lin Yuan tidak mundur.

Ia memutar tubuhnya, mengalihkan sebagian gaya, lalu melangkah masuk ke jarak dekat.

Wu Shan terkejut.

Dia masuk ke jangkauanku?!

Namun sebelum ia bisa bereaksi—

Lin Yuan menghantamkan bahunya ke dada Wu Shan.

BOOM!

Bukan ledakan.

Melainkan tekanan mendalam.

Wu Shan terhuyung, napasnya terhenti sesaat. Ia mencoba menyerang balik, namun lengannya terasa berat.

Setiap gerakan Lin Yuan seperti menekan gravitasi ekstra ke tubuhnya.

“Ini…” Wu Shan menggertakkan gigi. “Bukan kekuatan biasa.”

Mereka bertukar serangan.

Wu Shan mengandalkan kekuatan mentah dan pengalaman.

Lin Yuan mengandalkan fondasi, kontrol, dan kualitas qi.

Pertarungan berlangsung lama.

Terlalu lama untuk standar arena.

Beberapa murid mulai menyadari—Lin Yuan tidak bisa ditekan, tapi juga tidak terburu-buru menang.

Ia sedang menyesuaikan diri.

Akhirnya, Wu Shan berhenti menyerang.

Napasnya berat. Bahunya turun.

Ia menatap Lin Yuan lurus.

“Aku menyerah.”

Arena menjadi hening.

Batu peringkat kembali bersinar.

Peringkat Baru: 12

Desah napas terdengar di seluruh tribun.

“Langsung ke dua belas?”

“Tanpa teknik tingkat tinggi?”

“Dia menahan Wu Shan sampai kehabisan tenaga…”

Tetua beralis putih tersenyum tipis. “Dia memahami arena.”

Tetua wanita berjubah hitam menatap Lin Yuan lama. “Dan dunia.”

Lin Yuan berdiri di tengah arena, sedikit berkeringat.

Tidak ada luka.

Tidak ada fluktuasi berlebihan.

Namun di dalam dirinya—

ia merasakan sesuatu.

Tekanan dunia… meningkat sedikit.

Sistem muncul.

【Peringatan Halus】

Pengamatan Eksternal meningkat (rendah → sedang)

Sumber: Tidak teridentifikasi

Catatan: Arena mempercepat eksposur

Lin Yuan menutup matanya sejenak.

Ia tahu.

Setiap langkah ke atas bukan hanya menaikkan peringkat—

tapi juga menarik tatapan yang lebih tinggi.

Ketika ia melangkah keluar arena, para murid otomatis memberi jalan.

Bukan karena takut.

Melainkan karena pengakuan.

Di kejauhan, salah satu tetua berdiri.

“Lin Yuan,” katanya. “Cukup untuk hari ini.”

Lin Yuan membungkuk. “Baik, Tetua.”

Saat ia pergi, langit di atas arena tampak sedikit lebih gelap dari sebelumnya.

Jauh di luar sekte—

Sosok berjubah emas menatap layar cahaya.

“Menarik,” gumamnya. “Dia tidak menggunakan apa pun.”

Ia tersenyum.

“Semakin layak untuk diamati.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu klik naik seribu tingkat    Bab 7. Tekanan yang tak terlihat

    Langit Sekte Awan Biru tetap sama—bintang- bintang bertaburan, angin gunung bertiup pelan—namun Lin Yuan bisa merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang berubah. Bukan di sekelilingnya, melainkan cara dunia merespons keberadaannya. Ia berjalan perlahan menuju kediamannya. Setiap langkah terasa sedikit… berat. Bukan karena kelelahan, melainkan karena resistensi halus. Seolah tanah, udara, dan qi di sekitarnya tidak lagi sepenuhnya menyambutnya. 【Analisis Pasif】 Tekanan Dunia: Sedang → Mendekati Tinggi (Fluktuatif) Kondisi: Dunia mulai melakukan penyesuaian pasif Lin Yuan berhenti. “Jadi ini rasanya,” gumamnya pelan. “Ditolak tanpa diserang.” Ia menarik napas dalam-dalam dan menahan seluruh auranya ke dalam tubuh. Tekanan itu sedikit berkurang, namun tidak menghilang sepenuhnya. Arena mempercepat segalanya, pikirnya. Ia baru saja mencapai peringkat dua belas murid inti—sesuatu yang seharusnya mustahil dalam waktu sesingkat itu. Dunia mungkin belum “mengerti” apa

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 6 Arena yang menguji dunia

    Arena Peringkat Murid Inti terletak di sisi timur Sekte Awan Biru. Arena itu bukan arena biasa. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang diperkuat dengan formasi penahan. Tanahnya menyerap benturan. Udara di atasnya dilapisi lapisan hukum yang menekan kekuatan berlebihan. Arena ini tidak dibuat untuk tontonan—melainkan untuk menguji batas sejati para murid inti. Sejak pagi, ratusan murid telah berkumpul di sekelilingnya. Bisik-bisik menyebar seperti angin. “Lin Yuan benar-benar akan turun ke arena.” “Katanya tetua sendiri yang mengizinkan.” “Apa dia akan langsung naik peringkat?” Di tribun khusus, beberapa tetua duduk diam, mata mereka sesekali melihat arena. “Dia datang,” kata salah satu tetua pelan. Lin Yuan melangkah masuk ke arena dengan langkah tenang. Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada tekanan yang sengaja ia lepaskan. Namun setiap langkahnya terasa padat, seolah tanah di bawah kakinya menyesuaikan diri. Ia berdiri di tengah arena. Nama Lin Yuan munc

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 5. Tatapan dari atas

    Malam hari turun perlahan di Sekte Awan Biru. Lampu-lampu batu roh menyala satu per satu, menerangi jalur-jalur batu yang berkelok di antara paviliun dan aula. Di permukaan, sekte terlihat tenang seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, arus bawah mulai bergerak. Di Aula Tetua. Tiga sosok duduk melingkar di atas bantalan giok. Api roh biru menyala di tengah ruangan, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu. Tetua Aula Bela Diri membuka mata lebih dulu. “Fluktuasi hukum siang tadi,” katanya pelan, “bukan berasal dari formasi sekte.” Tetua beralis putih mengangguk. “Aku merasakannya juga.

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 4. Klik kedua

    Langit di atas Sekte Awan Biru cerah tanpa awan. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dan qi alami yang tipis namun murni. Lin Yuan berdiri di tepi tebing belakang sekte—tempat yang jarang didatangi murid. Dari sini, ia bisa melihat lautan awan di bawah, seolah dunia berada beberapa lapis lebih rendah darinya. Tempat ini sunyi. Dan kesunyian adalah yang ia butuhkan. Ujian formasi kemarin telah mengukuhkan satu hal: fondasinya kini stabil. Tubuh, energi, dan kehendaknya telah mencapai keseimbangan yang jarang dimiliki kultivator seusianya. Namun sistem tidak diam. Sejak fajar, perasaan aneh terus menggelayuti dirinya—seperti dunia yang sedang mengamati. Lin Yuan duduk bersila di atas batu datar. Ia menenangkan napasnya, menutup mata, dan memanggil sistem. Layar biru pucat muncul dengan tenang. 【Status Pengguna: Lin Yuan】 Fondasi: Mantap Tahap Efektif: Pembentukan Dasar Awal (Stabil) Tekanan Dunia: Rendah–Sedang Klik Tersedia: 1 Rekomendasi

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 3. ujian fondasi

    Fajar baru saja menyingsing ketika lonceng sekte berbunyi tiga kali. Suara itu menggema ke seluruh Sekte Awan Biru—bukan sebagai panggilan rutin, melainkan penanda ujian internal. Para murid berhenti berlatih. Para tetua membuka mata dari meditasi. Semua tahu, hari ini bukan hari biasa. Di pelataran Formasi Penguji, ratusan murid telah berkumpul. Formasi itu terletak di jantung sekte—sebuah lingkaran batu raksasa yang dipenuhi pola rune kuno. Setiap guratan mengandung hukum penilaian, tekanan energi, dan ilusi batin. Ia tidak mengukur seberapa besar ledakan qi seseorang, melainkan seberapa kuat fondasi sejatinya. Dan itulah yang paling ditakuti oleh para kultivator. Lin Yuan berdiri di barisan paling depan. Statusnya kini berbeda. Jubah murid luar telah diganti dengan jubah abu-abu gelap—tanda murid inti percobaan. Banyak tatapan yang tertuju padanya. Ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang menyembunyikan niat buruk. “Dia benar-benar naik status…” “Apakah kemarin hany

  • Satu klik naik seribu tingkat    bab 2. Status di tinjau ulang

    Keheningan di arena bertahan jauh lebih lama dari yang seharusnya. Bau darah, debu batu, dan sisa aura benturan masih menggantung di udara. Murid inti yang sebelumnya begitu angkuh kini tergeletak tak bergerak di kaki dinding arena, dadanya naik turun dengan susah payah. Pedang patahnya berserakan seperti simbol kehancuran harga diri. Tak satu pun murid berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu orang. Lin Yuan. Pemuda yang selama ini mereka ejek sebagai murid sampah kini berdiri di tengah arena dengan ekspresi tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kepuasan berlebihan. Seolah apa yang baru saja terjadi…

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status