LOGINKeheningan di arena bertahan jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Bau darah, debu batu, dan sisa aura benturan masih menggantung di udara. Murid inti yang sebelumnya begitu angkuh kini tergeletak tak bergerak di kaki dinding arena, dadanya naik turun dengan susah payah. Pedang patahnya berserakan seperti simbol kehancuran harga diri. Tak satu pun murid berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu orang. Lin Yuan. Pemuda yang selama ini mereka ejek sebagai murid sampah kini berdiri di tengah arena dengan ekspresi tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kepuasan berlebihan. Seolah apa yang baru saja terjadi… wajar. Dan justru itu yang paling menakutkan. Tetua Aula Bela Diri akhirnya melangkah maju. Setiap langkahnya berat, seolah ia sedang menapaki ulang pemahamannya tentang dunia kultivasi. “Pertarungan dihentikan,” katanya lantang. “Murid inti, Zhao Feng, kalah.” Satu kalimat sederhana itu membuat kerumunan murid menjadi gempar. “Kalah…?” “Dia kalah hanya dengan satu pukulan?” “Bukankah Lin Yuan bahkan tidak menggunakan teknik?” Bisikan-bisikan menyebar seperti api. Beberapa murid menatap Lin Yuan dengan ketakutan. Yang lain dengan iri. Ada pula yang menyesal—menyesal pernah mengejeknya secara terang-terangan. Tetua itu berbalik menatap Lin Yuan. “Ikut aku.” Tidak ada perintah tambahan. Tidak ada penjelasan. Lin Yuan mengangguk pelan dan melangkah keluar arena. Setiap langkahnya terasa berbeda dari sebelumnya. Tanah di bawah kakinya seolah lebih jelas. Angin yang menyentuh kulitnya membawa aliran energi halus yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Inikah dunia kultivator sejati? Ia tidak tahu berapa tingkat kekuatannya saat ini. Namun satu hal jelas—ia telah melompati jurang yang selama ini tak mampu ia dekati. Aula Tetua Sekte Awan Biru. Tiga tetua duduk berjajar di kursi batu. Aura mereka tenang, dalam, dan berat—jauh melampaui murid mana pun. Lin Yuan berdiri di tengah aula, punggungnya tegak, tatapannya tajam dan lurus. “Lin Yuan,” Tetua Aula Bela Diri membuka percakapan. “Sudah sepuluh tahun kau berada di sekte ini. Kami semua tahu latar belakangmu.” Lin Yuan tidak menjawab. “Tanpa akar spiritual,” lanjut tetua itu. “Tanpa bakat. Tanpa masa depan.” Kata-kata itu tidak lagi melukai. “Namun hari ini,” suara tetua itu berubah serius, “kau menunjukkan fondasi tubuh yang… tidak masuk akal.” Tetua kedua—seorang pria tua beralis putih—mencondongkan tubuhnya. “Aku telah memeriksa aura sisa di arena. Itu bukan qi tingkat Penyempurnaan Qi. Bahkan bukan tahap awal Pembentukan Dasar.” Ia menghela napas. “Itu sesuatu yang belum pernah kulihat.” Tetua ketiga akhirnya bicara. Suaranya paling pelan, namun paling berat. “Katakan yang sebenarnya, Lin Yuan. Apa yang terjadi padamu?” Ruangan itu menjadi hening. Lin Yuan mempertimbangkan jawabannya. Ia tahu, mengungkap sistem berarti membuka pintu pada bahaya yang belum ia pahami. Namun berbohong terang-terangan pada tetua sekte juga berisiko. “Aku… mendapatkan sebuah kesempatan,” jawabnya akhirnya. “Kesempatan untuk memperbaiki fondasi tubuhku.” “Kesempatan?” Tetua beralis putih menyipitkan mata. “Artefak? Teknik kuno? Warisan?” Lin Yuan menggeleng. “Aku tidak tahu asalnya.” Itu juga bukan kebohongan sepenuhnya. Ketiga tetua saling pandang. “Kau sadar,” kata Tetua Aula Bela Diri perlahan, “bahwa kekuatan seperti ini akan menarik perhatian?” “Aku tahu,” jawab Lin Yuan jujur. Perhatian sekte. Perhatian kekaisaran. Dan mungkin… perhatian dunia yang lebih tinggi. Tetua Aula Bela Diri mengetuk sandaran kursinya. “Mulai hari ini, statusmu sebagai murid luar… dicabut.” Lin Yuan mengangkat kepalanya. “Kau akan langsung dipromosikan menjadi murid inti percobaan,” lanjutnya. “Namun ini bukan hadiah. Ini pengawasan.” Lin Yuan memahami maksudnya. Ia tidak lagi sampah yang bisa diabaikan. Ia juga belum cukup kuat untuk dilindungi sepenuhnya. “Apakah kau menerima?” tanya tetua itu. “Aku menerima,” jawab Lin Yuan tanpa ragu. “Baik.” Tetua itu mengangguk. “Mulai besok, kau akan diuji ulang—bukan oleh murid, melainkan oleh formasi sekte.” Mata Lin Yuan sedikit menyipit. Formasi sekte bukanlah ujian biasa. Itu adalah alat untuk mengukur fondasi sejati, bukan sekadar kekuatan permukaan. Bagus, pikirnya. Aku juga ingin tahu sejauh mana klik itu mengubahku. Malam itu, Lin Yuan kembali ke pondok kayunya yang sederhana. Namun sekarang, pondok itu tidak lagi terasa sempit. Ia duduk bersila, memejamkan matanya, dan memusatkan perhatian ke dalam tubuhnya. Begitu ia melakukannya, layar sistem muncul secara alami. 【Status Pengguna: Lin Yuan】 Fondasi Tubuh: Mortal Disempurnakan Tahap Efektif: Setara Pembentukan Dasar Awal (Tidak Stabil) Cadangan Energi: Tinggi Tekanan Dunia: Rendah Klik Tersedia: 1 Peringatan: Penggunaan berulang meningkatkan resistensi dunia. Lin Yuan membuka matanya. “Setara Pembentukan Dasar…” gumamnya. “Padahal aku belum membentuk dasar secara formal.” Itu berarti sistem tidak sekadar menaikkan level—ia memaksa fondasi tubuh melampaui tahapan alami, lalu menyesuaikannya dengan hukum dunia. Berbahaya. Namun juga… efisien. Ia menutup matanya kembali dan mencoba menyerap qi alami. Untuk pertama kalinya, qi tidak menolak. Tidak bocor. Tidak terasa menyakitkan. Energi itu mengalir masuk dengan patuh, berputar di meridian, lalu menetap dengan stabil. Jika aku berkultivasi secara normal sekarang… kecepatanku akan jauh melampaui siapa pun. Sistem kembali menampilkan teks baru. 【Rekomendasi】 Stabilkan fondasi sebelum klik berikutnya Klik kedua tanpa stabilisasi: Risiko cedera permanen Lin Yuan menarik napas panjang. Jadi sistem tidak mendorongku untuk asal klik. Itu kabar yang baik. Ia membuka mataya dan menatap langit malam di luar jendela pondok. Bintang-bintang tampak lebih dekat dari sebelumnya. “Dunia ini…” bisiknya. “Ternyata jauh lebih besar dari yang kupikir.” Namun satu hal sudah pasti. Ia tidak lagi berada di dasar. Dan mulai hari ini, setiap langkah yang ia ambil akan mengguncang keseimbangan yang telah mapan selama ratusan tahun. Lin Yuan mengepalkan tangannya. Ini baru awal.Langit Sekte Awan Biru tetap sama—bintang- bintang bertaburan, angin gunung bertiup pelan—namun Lin Yuan bisa merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang berubah. Bukan di sekelilingnya, melainkan cara dunia merespons keberadaannya. Ia berjalan perlahan menuju kediamannya. Setiap langkah terasa sedikit… berat. Bukan karena kelelahan, melainkan karena resistensi halus. Seolah tanah, udara, dan qi di sekitarnya tidak lagi sepenuhnya menyambutnya. 【Analisis Pasif】 Tekanan Dunia: Sedang → Mendekati Tinggi (Fluktuatif) Kondisi: Dunia mulai melakukan penyesuaian pasif Lin Yuan berhenti. “Jadi ini rasanya,” gumamnya pelan. “Ditolak tanpa diserang.” Ia menarik napas dalam-dalam dan menahan seluruh auranya ke dalam tubuh. Tekanan itu sedikit berkurang, namun tidak menghilang sepenuhnya. Arena mempercepat segalanya, pikirnya. Ia baru saja mencapai peringkat dua belas murid inti—sesuatu yang seharusnya mustahil dalam waktu sesingkat itu. Dunia mungkin belum “mengerti” apa
Arena Peringkat Murid Inti terletak di sisi timur Sekte Awan Biru. Arena itu bukan arena biasa. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang diperkuat dengan formasi penahan. Tanahnya menyerap benturan. Udara di atasnya dilapisi lapisan hukum yang menekan kekuatan berlebihan. Arena ini tidak dibuat untuk tontonan—melainkan untuk menguji batas sejati para murid inti. Sejak pagi, ratusan murid telah berkumpul di sekelilingnya. Bisik-bisik menyebar seperti angin. “Lin Yuan benar-benar akan turun ke arena.” “Katanya tetua sendiri yang mengizinkan.” “Apa dia akan langsung naik peringkat?” Di tribun khusus, beberapa tetua duduk diam, mata mereka sesekali melihat arena. “Dia datang,” kata salah satu tetua pelan. Lin Yuan melangkah masuk ke arena dengan langkah tenang. Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada tekanan yang sengaja ia lepaskan. Namun setiap langkahnya terasa padat, seolah tanah di bawah kakinya menyesuaikan diri. Ia berdiri di tengah arena. Nama Lin Yuan munc
Malam hari turun perlahan di Sekte Awan Biru. Lampu-lampu batu roh menyala satu per satu, menerangi jalur-jalur batu yang berkelok di antara paviliun dan aula. Di permukaan, sekte terlihat tenang seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, arus bawah mulai bergerak. Di Aula Tetua. Tiga sosok duduk melingkar di atas bantalan giok. Api roh biru menyala di tengah ruangan, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu. Tetua Aula Bela Diri membuka mata lebih dulu. “Fluktuasi hukum siang tadi,” katanya pelan, “bukan berasal dari formasi sekte.” Tetua beralis putih mengangguk. “Aku merasakannya juga.
Langit di atas Sekte Awan Biru cerah tanpa awan. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dan qi alami yang tipis namun murni. Lin Yuan berdiri di tepi tebing belakang sekte—tempat yang jarang didatangi murid. Dari sini, ia bisa melihat lautan awan di bawah, seolah dunia berada beberapa lapis lebih rendah darinya. Tempat ini sunyi. Dan kesunyian adalah yang ia butuhkan. Ujian formasi kemarin telah mengukuhkan satu hal: fondasinya kini stabil. Tubuh, energi, dan kehendaknya telah mencapai keseimbangan yang jarang dimiliki kultivator seusianya. Namun sistem tidak diam. Sejak fajar, perasaan aneh terus menggelayuti dirinya—seperti dunia yang sedang mengamati. Lin Yuan duduk bersila di atas batu datar. Ia menenangkan napasnya, menutup mata, dan memanggil sistem. Layar biru pucat muncul dengan tenang. 【Status Pengguna: Lin Yuan】 Fondasi: Mantap Tahap Efektif: Pembentukan Dasar Awal (Stabil) Tekanan Dunia: Rendah–Sedang Klik Tersedia: 1 Rekomendasi
Fajar baru saja menyingsing ketika lonceng sekte berbunyi tiga kali. Suara itu menggema ke seluruh Sekte Awan Biru—bukan sebagai panggilan rutin, melainkan penanda ujian internal. Para murid berhenti berlatih. Para tetua membuka mata dari meditasi. Semua tahu, hari ini bukan hari biasa. Di pelataran Formasi Penguji, ratusan murid telah berkumpul. Formasi itu terletak di jantung sekte—sebuah lingkaran batu raksasa yang dipenuhi pola rune kuno. Setiap guratan mengandung hukum penilaian, tekanan energi, dan ilusi batin. Ia tidak mengukur seberapa besar ledakan qi seseorang, melainkan seberapa kuat fondasi sejatinya. Dan itulah yang paling ditakuti oleh para kultivator. Lin Yuan berdiri di barisan paling depan. Statusnya kini berbeda. Jubah murid luar telah diganti dengan jubah abu-abu gelap—tanda murid inti percobaan. Banyak tatapan yang tertuju padanya. Ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang menyembunyikan niat buruk. “Dia benar-benar naik status…” “Apakah kemarin hany
Keheningan di arena bertahan jauh lebih lama dari yang seharusnya. Bau darah, debu batu, dan sisa aura benturan masih menggantung di udara. Murid inti yang sebelumnya begitu angkuh kini tergeletak tak bergerak di kaki dinding arena, dadanya naik turun dengan susah payah. Pedang patahnya berserakan seperti simbol kehancuran harga diri. Tak satu pun murid berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu orang. Lin Yuan. Pemuda yang selama ini mereka ejek sebagai murid sampah kini berdiri di tengah arena dengan ekspresi tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kepuasan berlebihan. Seolah apa yang baru saja terjadi…







