LOGIN"Kita lolos!!!"
Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat. Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya. "Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan. Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu. Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhasil menjadi lulusan terbaik. Lamunannya buyar ketika sebuah suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dari belakang. "Fikri, Ayu, selamat ya!" Keduanya serempak menoleh. Bu Melisa, wali kelas mereka, berjalan mendekat dengan senyum yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. "Selamat, kalian berdua berhasil menjadi dua lulusan terbaik tahun ini. Ibu bangga sekali. Sekali lagi, selamat," ucap Bu Melisa tulus. Selama ini, Fikri selalu merasa takut setiap kali berhadapan dengan Bu Melisa. Tatapannya yang tajam dan gahar seperti hendak memangsa orang selalu membuatnya ingin menghindar. Bu Melisa adalah guru yang paling tidak pernah tersenyum di sekolah ini. Namun hari ini berbeda. Senyum Bu Melisa merekah lebar, matanya berbinar bangga saat menatap Fikri. "Ibu tidak pernah menyangka kamu bisa mendapat nilai sebagus ini, Fikri. Jujur saja, ini sesuatu yang bahkan tidak pernah Ibu bayangkan sebelumnya. Kamu luar biasa," ujar Bu Melisa sambil mengulurkan tangan dan menjabat tangan Fikri dengan erat. Selama 12 tahun sekolah, Fikri belum pernah sekalipun melihat Bu Melisa tersenyum bangga padanya. Yang ia ingat hanyalah omelan, kemarahan, dan emosi level dewa setiap kali nilai ulangannya jelek. Maka dari itu, momen ini terasa sangat spesial. Fikri membalas jabat tangan itu dengan percaya diri. Di dalam hatinya ia bersorak. Jadi seperti ini rasanya disenyumi Bu Melisa? Kukira selama ini Ibu sakit gigi karena tidak pernah tertawa sama sekali, batin Fikri sambil menahan tawa. Setelah berbincang sebentar dengan Bu Melisa dan Ayu, ingatan Fikri kembali ke dua orang yang belum ia selesaikan urusannya. Gio dan Raka. Ia menoleh ke belakang. Dua orang itu ternyata sedang berusaha kabur pelan-pelan dari kerumunan. Fikri dengan cepat melangkah dan menarik kerah baju mereka berdua. "Mau pergi ke mana kalian?" tanya Fikri dengan suara rendah dan wajah mengintimidasi. Raka dan Gio langsung membeku. Wajah ketakutan mereka tidak bisa disembunyikan lagi. Keringat dingin mulai muncul di dahi mereka. Terutama Gio, tubuhnya gemetar hebat. Saking takutnya dengan gertakan Fikri, tiba-tiba ada cairan hangat yang mengalir di celananya. Ia mengompol di tempat. Bau pesing langsung menyebar di sekitar mereka. Bu Melisa yang masih berdiri tidak jauh dari situ mengernyitkan hidungnya. "Hmm, bau apa ini? Ada bau pesing," gumam Bu Melisa sambil mengendus dan mencari sumber bau. Pandangannya akhirnya tertuju pada celana Gio yang sudah basah di bagian depan. "Gio? Jadi kamu yang mengompol?" tanya Bu Melisa dengan wajah bingung setengah kaget. Gio menunduk dalam-dalam, wajahnya merah padam menahan malu. "Maafkan saya, Bu... saya tidak sengaja, Bu," jawabnya lirih. Melihat kejadian itu, Fikri bukannya kasihan, ia justru semakin gencar mengintimidasi mereka. "Gimana? Taruhan kemarin masih berlaku, kan? Jadi kalian mau pilih yang kanan atau yang kiri?" tanya Fikri sambil menyilangkan tangan di dada. Mendengar pertanyaan itu, Gio dan Raka langsung panik dan berlutut di hadapan Fikri. Beberapa siswa lain yang melihat mulai berbisik-bisik. "Jangan gitu dong, Kri. Ampun, Kri. Kita berdua cuma bercanda waktu itu. Sumpah, cuma bercanda," ucap Raka dengan suara memelas. "I-iya, Kri. Maafin kita berdua. Kita janji tidak akan mengulanginya lagi. Kita salah sudah meremehkan kamu. Kamu memang benar-benar cerdas, Kri. Kami yang bodoh," tambah Gio terbata-bata sambil masih menunduk. Fikri menatap mereka berdua yang berlutut di bawahnya. Rasa kesal yang selama ini ia pendam perlahan mencair melihat tingkah konyol mereka. Akhirnya ia tertawa lepas. "Hahaha, ya sudah, bangun kalian berdua. Malu dilihat orang," kata Fikri sambil membantu mereka berdiri. Gio dan Raka saling pandang dengan wajah lega. "Tapi ingat ya," lanjut Fikri dengan nada yang lebih serius dan tegas. "Untuk ke depannya, kalian tidak boleh seperti ini lagi. Jangan pernah meremehkan kemampuan orang lain. Kalian tidak pernah tahu seberapa keras orang itu berjuang dan berproses. Bisa jadi orang yang kalian remehkan hari ini, sudah jauh lebih baik dari kalian besok." Raka dan Gio mengangguk cepat, seperti anak kecil yang dinasihati. "Iya, Kri. Kami janji tidak akan begitu lagi," jawab mereka kompak. Merasa lega karena tidak jadi dihukum, Gio dan Raka spontan hendak memeluk Fikri sebagai tanda damai. Gio dengan celana basahnya maju lebih dulu. Namun, Fikri langsung melompat mundur sambil menutup hidungnya. "Weh, jangan! Jangan peluk! Bau pesing kamu, Gio! Minggir dulu sana, ganti celana dulu!" tolak Fikri mentah-mentah. Sontak Ayu dan beberapa siswa di sekitar mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan Bu Melisa yang biasanya garang pun tidak bisa menahan tawanya melihat kejadian itu."Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali
"Kamu ngapain di sini?" Suara itu ketus, tajam, langsung menusuk gendang telinga. Pagar besi hijau rumah Ayu berderit saat didorong dari dalam. Dan di baliknya, dia berdiri. Ayu. Fikri menahan napasnya sejenak. Bukan karena kaget dimarahi, tapi karena pemandangan di depannya. Gadis itu tampil dengan gaya kasual paling ikonik tahun 2010 yang ia ingat betul. Kaos grafis ketat warna abu-abu dengan sablon besar logo band The Beatles, celana skinny jeans warna biru dongker yang begitu ketat membungkus kaki jenjangnya, dan sepatu kanvas kotak-kotak hitam-putih. Rambutnya yang lurus sebahu dijepit ke samping dengan jepit rambut kupu-kupu warna pink. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik untuk disia-siakan karena game online di warnet. Wajah cantik itu sekarang cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, sisa amarah dari pertengkaran mereka semalam di telepon masih menggantung jelas di sana. "Semalam katanya siapa yang bilang 'malas ah, mau push rank di warnet sama anak-anak'?" lanj
Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas."Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu."Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu."Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus.""Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil."Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebel
"Kita lolos!!!"Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat.Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya."Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan.Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu.Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhas
"Papa aku minta kita putus!"Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri.Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9.Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya."Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa.Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis."Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan."Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja.Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi.Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Ini kesempatanku
Dengan telaten, Fikri memasang helm di kepala Ayu. Tangannya hati-hati. Dagu Ayu diangkat pelan biar talinya pas."Sakit gak?" tanya Fikri pelan.Ayu menggeleng. Dia senyum. Lebar.Senyum yang udah lama banget gak muncul di wajahnya. Senyum yang selama lima tahun pernikahan sama Ibrahim terkubur di balik marah, dingin, dan pintu yang dibanting."Udah siap?" tanya Fikri lagi."Siap," jawab Ayu. Matanya berbinar. "Makasih ya, Fik."Fikri cuma senyum. Dia naik ke motor. Ayu langsung naik di belakang. Tangannya melingkar di pinggang Fikri.Untuk pertama kali dalam waktu lama, Ayu ngerasa aman.Fikri nyalain mesin. Vroom.Tapi belum juga jalan 3 meter.BRAAAK.Suara mesin meraung dari belakang.Sebuah mobil sport hitam melesat. Kencang. Sengaja.Ibrahim.Kaca jendelanya turun setengah. Wajahnya dingin. Matanya ngeledek.Ban mobilnya langsung menghantam genangan air di samping motor Fikri.SPLASH.Air kotor setinggi lutut nyiprat semua. Basah kuyup. Ke muka Ayu, ke baju Fikri, ke motor mere







