Share

Hari Kelulusan

Author: Erdin Xes
last update publish date: 2026-06-25 11:49:37

Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas.

"Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"

Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu.

"Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"

Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu.

"Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.

Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus."

"Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil.

"Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebelas. Kalau kamu keterima di Teknik, aku juga harus keterima di Teknik. Gak boleh kamu sendirian di sana."

Di bawah panggung, suasana berbeda. Baim duduk di barisan ketiga. Wajahnya tegang. Tangannya meremas program acara kelulusan yang sudah lecek. Sejak tadi ia tidak bertepuk tangan sama sekali.

Temannya di sebelah menyikut lengannya, "Baim, temen lo itu keren banget ya. Dulu bukannya nilai dia biasa aja? Kok bisa nyalip kamu sih?"

Baim mendengus, "Entahlah. Tiba-tiba pintar aja."

"Ya ampun, tapi salut sih. Dia sama Ayu serasi banget loh di atas. Kayak jodoh beneran."

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api. Baim langsung berdiri.

"Mau kemana?" tanya temannya.

"Keluar. Pengap."

Padahal di dalam aula ber-AC. Baim tahu peluangnya mendapatkan Ayu semakin tipis. Dulu, saat Fikri masih dianggap anak biasa yang sering bolos dan nilainya pas-pasan, Baim merasa di atas angin. Dia yang selalu mengantar Ayu pulang, dia yang selalu membelikan Ayu catatan. Sekarang semua berubah. Fikri yang dulu ia remehkan, mendadak menjadi bintang.

"Gak bisa gini terus," gumam Baim di lorong luar aula. "Harus ada cara lain."

Di atas panggung, sesi foto bersama dimulai. Fotografer meminta semua peraih penghargaan merapat. Saat semua orang tersenyum ke arah kamera, Fikri melihat ke bawah dan menangkap sosok Baim yang sedang berjalan menjauh di pintu keluar aula. Fikri tahu Baim melihatnya.

Tanpa ragu, Fikri meraih tangan Ayu dengan lembut.

Ayu sedikit kaget, "Fik, apa-apaan?"

"Sebentar aja," bisik Fikri. "Ikutin aja."

Fikri lalu membetulkan toga Ayu yang memang agak miring ke kiri. Gerakannya pelan dan hati-hati. Semua orang di bawah panggung melihatnya. Ibu-ibu wali murid langsung berbisik-bisik sambil senyum.

"Aww, sweet banget sih Fikri," kata salah satu guru.

"Udah kayak drama Korea ya," sahut guru lainnya.

Ayu yang awalnya kaget, akhirnya malah tertawa malu. Pipinya memerah.

"Kamu sengaja ya?" kata Ayu pelan sambil menunduk.

Fikri mengangguk kecil, "Sedikit. Biar semua orang tahu, yang nemenin kamu sampai kampus nanti itu aku. Bukan orang lain."

"Kamu tuh jahilnya gak hilang-hilang. Dari dulu sampai jadi juara umum tetap jahil."

"Jahil khusus buat kamu aja."

Setelah foto selesai, mereka turun dari panggung. Ayu langsung didekati teman-temannya.

"Yu, selamat ya! Kalian berdua keterima di kampus impian. Gila sih, couple goals banget."

"Apaan sih, bukan couple," jawab Ayu sambil melirik Fikri.

Fikri hanya nyengir, "Belum. Doain aja."

Sementara itu, Baim sudah sampai di parkiran. Ia menendang kerikil kecil dengan sepatunya. Dari kejauhan ia masih bisa melihat Fikri dan Ayu dikerumuni banyak orang, tertawa bersama. Pemandangan itu membuat dadanya sesak.

"Selamat ya, Baim," sapa seorang teman dari kelas lain yang kebetulan lewat.

Baim hanya mengangguk singkat, "Thanks."

Ia kemudian naik ke motornya dan pergi tanpa menunggu acara selesai. Di hari kelulusan Ayu, hari yang seharusnya ia rayakan juga, ia memilih pergi karena tidak sanggup melihat kemenangan Fikri. Kemenangan yang bukan hanya soal nilai, tapi juga soal hati Ayu yang kini semakin jauh dari jangkauannya.

Di dalam aula, Fikri mencari sosok Baim yang sudah tidak ada.

"Nyari siapa?" tanya Ayu.

"Gak, gak nyari siapa-siapa. Eh, nanti sore jadi kan kita ke kampus buat lihat-lihat?"

"Jadi dong. Katanya mau survei kos juga kan?"

"Iya. Berdua. Sesuai harapan kita."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei 2

    "Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei Kampus

    "Kamu ngapain di sini?" Suara itu ketus, tajam, langsung menusuk gendang telinga. Pagar besi hijau rumah Ayu berderit saat didorong dari dalam. Dan di baliknya, dia berdiri. Ayu. Fikri menahan napasnya sejenak. Bukan karena kaget dimarahi, tapi karena pemandangan di depannya. Gadis itu tampil dengan gaya kasual paling ikonik tahun 2010 yang ia ingat betul. Kaos grafis ketat warna abu-abu dengan sablon besar logo band The Beatles, celana skinny jeans warna biru dongker yang begitu ketat membungkus kaki jenjangnya, dan sepatu kanvas kotak-kotak hitam-putih. Rambutnya yang lurus sebahu dijepit ke samping dengan jepit rambut kupu-kupu warna pink. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik untuk disia-siakan karena game online di warnet. Wajah cantik itu sekarang cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, sisa amarah dari pertengkaran mereka semalam di telepon masih menggantung jelas di sana. "Semalam katanya siapa yang bilang 'malas ah, mau push rank di warnet sama anak-anak'?" lanj

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Hari Kelulusan

    Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas."Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu."Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu."Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus.""Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil."Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebel

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Lolos

    "Kita lolos!!!"Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat.Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya."Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan.Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu.Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhas

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Komitmen Fikri

    "Papa aku minta kita putus!"Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri.Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9.Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya."Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa.Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis."Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan."Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja.Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi.Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Ini kesempatanku

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Dihadang Baim

    Dengan telaten, Fikri memasang helm di kepala Ayu. Tangannya hati-hati. Dagu Ayu diangkat pelan biar talinya pas."Sakit gak?" tanya Fikri pelan.Ayu menggeleng. Dia senyum. Lebar.Senyum yang udah lama banget gak muncul di wajahnya. Senyum yang selama lima tahun pernikahan sama Ibrahim terkubur di balik marah, dingin, dan pintu yang dibanting."Udah siap?" tanya Fikri lagi."Siap," jawab Ayu. Matanya berbinar. "Makasih ya, Fik."Fikri cuma senyum. Dia naik ke motor. Ayu langsung naik di belakang. Tangannya melingkar di pinggang Fikri.Untuk pertama kali dalam waktu lama, Ayu ngerasa aman.Fikri nyalain mesin. Vroom.Tapi belum juga jalan 3 meter.BRAAAK.Suara mesin meraung dari belakang.Sebuah mobil sport hitam melesat. Kencang. Sengaja.Ibrahim.Kaca jendelanya turun setengah. Wajahnya dingin. Matanya ngeledek.Ban mobilnya langsung menghantam genangan air di samping motor Fikri.SPLASH.Air kotor setinggi lutut nyiprat semua. Basah kuyup. Ke muka Ayu, ke baju Fikri, ke motor mere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status