LOGIN"Papa aku minta kita putus!"
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri. Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9. Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya. "Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa. Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis. "Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan." Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja. Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi. Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar. Ini kesempatanku yang terakhir, batinnya. Kalau aku bisa dapat di atas 9, aku masih punya peluang ke kampus itu. Bareng Ayu. "Aku nggak boleh gagal lagi," gumam Fikri pelan tapi tegas. "Aku harus kejar Ayu. Aku nggak akan biarin cowok itu terus-terusan ada di dekat dia." Setiap soal dikerjakannya dengan baik. Terlebih ia sudah belajar dengan sempurna di hari sebelum ujian berlangsung. Dengan niat baik, dan usaha yang nyata. Fikri tidak terlalu kesulitan menjawab setiap soal yang ada. Ini bahkan mudah baginya. "Jika dulu aku mau belajar. Mungkin setiap ujian, nilaiku akan jadi yang terbaik. Sayang aku tidak menyadari itu," ucap Fikri dengan perasaan bahagia. Raka dan Gio sudah pasrah untuk dapat kampus impian mereka. Untuk bersaing dengan siswa lain, rasanya berat. Mereka sadar diri, jika impian mereka hampir tertutup. "Mudah-mudahan kita tetap bersama. Walaupun tidak di kampus favorit," Raka memulai dengan wajah kecewa. "Iya lagi. Aku juga merasa nilaiku untuk ke kampus yang kita idam-idamkan sudah tertutup," balas Gio. "Tapi maaf saja. Kalau nanti aku lolos. Kalian berdua jangan iri," ucap Fikri dengan wajah yakin. Gio dan Raka menatap Fikri dengan wajah ragu. Lalu tertawa bersamaan. "Iris kupingku jika kamu bisa lolos Kri. Nilai kita saja tidak pernah diatas KKM. Masa kamu bisa lolos," Raka meremehkan Fikri. "Kalau sampai aku lolos. Aku iris telinga kamu. Mau yang mana?" ucap Fikri yakin. "Biar adil nih. Kuping Raka yang kanan. Kuping aku yang kiri," potong Gio dengan penuh keyakinan. Fikri langsung menyalami tangan Gio. "Deal ya. Kalau nilaiku bisa buat kampus impian. Kalian berdua potong kuping masing-masing." Keduanya serempak, "Siapa takut!" Keraguan masih dirasakan oleh Ayu. Khawatir sang pujaan hati gagal di ujian ini. Ia datang ke kelas. Kembali mengajak Fikri untuk belajar. "Bagian mana yang belum kamu pahami?" tanya Ayu sembari membuka buku pelajaran milik Fikri. "Bagian... Kenapa Tuhan ciptakan perempuan secantik kamu hahah," jawab Fikri sembari tersenyum. Wajah Ayu langsung salah tingkah dengan gombalan dari Fikri. Ia meminta Fikri serius dengan pelajaran ini. Ayu tidak ingin Fikri gagal. "Aku serius Sayang. Bagian mana yang belum kamu pahami. Biar aku bantu," Ayu menawarkan. Fikri menarik mendorong kursinya mendekat Ayu. Lalu ia mengusap lembut rambut Ayu. "Tenang saja Sayang. Aku sudah pelajari semuanya. Dan, ya aku paham semua. Jadi tidak ada yang harus kamu takutkan," Fikri meyakinkan Ayu. Wajah Ayu tidak benar-benar yakin. Ada keraguan yang dirasakan oleh Fikri. "Kamu masih belum yakin?" tanya Fikri. "Bukan begitu Sayang. Aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi pada kita. Aku tidak ingin semuanya tidak sesuai apa yang kita harapkan," jawab Ayu masih setengah panik. "Tenang saja. Aku akan berusaha untuk kamu. Dan pastinya cinta kita. Aku janji," Fikri memberikan jari kelingking untuk Ayu. Ayu masih sedikit ragu. Namun akhirnya ia memberikan jari kelingkingnya untuk Fikri. Janji yang tidak boleh dilanggar oleh Fikri. Ia harus berada di kampus yang sama dengan Ayu."Eh, Kak Fikri! Kak Fikri yang tadi pinter jawab kakak panitia itu, kan?"Suara cewek itu melengking, manis, dan sengaja dibuat manja.Ayu yang tadinya masih menyandarkan kepala di bahu Fikri di bawah pohon ketapang, langsung tegak. Jepit kupu-kupunya kembali miring.Fikri menoleh. Di depannya berdiri seorang cewek. Rambutnya dicat cokelat agak pirang, gaya yang mahal dan berani di tahun 2010. Poninya tipis ala-ala SNSD yang baru debut. Kaos MOS-nya yang harusnya kebesaran dan jelek, ia modifikasi. Lengannya digulung sampai siku, bawahnya diikat ke samping, jadi nge-press di pinggang. Tasnya bukan tas kain karung goni kayak maba lain, tapi tas tote bag bermerek dari 3Second yang lagi hits. Rok abu-abunya agak lebih pendek dari standar.Cantik. Terlalu cantik untuk ukuran MOS yang bau keringat dan debu lapangan."Oh, iya. Fikri," jawab Fikri sopan, mengangguk sedikit."Kenalin, Kak. Aku Dinda. Dinda Kirana, dari Jurusan Ilmu Komunikasi juga. Satu jurusan sama pacarnya Kakak ya?" kata
"Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali
"Kamu ngapain di sini?" Suara itu ketus, tajam, langsung menusuk gendang telinga. Pagar besi hijau rumah Ayu berderit saat didorong dari dalam. Dan di baliknya, dia berdiri. Ayu. Fikri menahan napasnya sejenak. Bukan karena kaget dimarahi, tapi karena pemandangan di depannya. Gadis itu tampil dengan gaya kasual paling ikonik tahun 2010 yang ia ingat betul. Kaos grafis ketat warna abu-abu dengan sablon besar logo band The Beatles, celana skinny jeans warna biru dongker yang begitu ketat membungkus kaki jenjangnya, dan sepatu kanvas kotak-kotak hitam-putih. Rambutnya yang lurus sebahu dijepit ke samping dengan jepit rambut kupu-kupu warna pink. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik untuk disia-siakan karena game online di warnet. Wajah cantik itu sekarang cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, sisa amarah dari pertengkaran mereka semalam di telepon masih menggantung jelas di sana. "Semalam katanya siapa yang bilang 'malas ah, mau push rank di warnet sama anak-anak'?" lanj
Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas."Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu."Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu."Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus.""Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil."Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebel
"Kita lolos!!!"Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat.Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya."Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan.Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu.Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhas
"Papa aku minta kita putus!"Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri.Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9.Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya."Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa.Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis."Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan."Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja.Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi.Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Ini kesempatanku







