LOGIN“Lalu … yang waktu itu selalu mengirimkan hadiah ke rumah sebelum Anda menikah dengan nyonya Maura, sebenarnya adalah Alena. Nyonya Maura saat itu nggak mungkin bisa beli hadiah-hadiah mahal karena uang jajannya sangat terbatas,” kata Zefan sambil memberikan bukti salinan invoice dari pembelian jam tangan mahal, beberapa pakaian, sepatu, hingga makanan. “Ini invoice yang kudapatkan dengan susah payah. Pembayarannya semuanya atas nama Alena.” Dewangga memeriksa sekilas salinan invoice itu. Barang-barang yang didapatnya benar-benar sama dengan yang tertera di invoice.“Bu Silvia selaku ibu tirinya, nggak begitu baik sama nyonya Maura. Ayahnya juga diam aja karena menyangka kalau nyonya Maura itu bukan anaknya jadi mereka kurang baik memperlakukan nyonya. Tapi belakangan … apa Anda sudah dengar? Pak Ruslan dan bu Silvia cerai karena bu Silvia telah membohongi pak Ruslan selama bertahun-tahun. Katanya Alena bukan anak kandung pak Ruslan. Dan katanya lagi, pe
Hampir pukul lima sore, namun langit masih cerah kebiruan.Di sebuah mobil, Dewangga duduk diam menatap rumah Maura dari balik kemudinya.Jari-jari rampingnya mengetuk-ngetuk stir, sementara matanya berpindah dari jendela kaca yang satu, hingga jendela kaca lantai dua, ke arah jendela kamar Maura di lantai atas tapi keberadaan wanita itu tak terlihat sedikitpun.“Apa dia lagi keluar, ya?” gumamnya perlahan sambil melihat arlojinya sejenak, kemudian dia menunggu lagi, memikirkan beberapa alasan tepat bertemu dengannya sementara sekotak kue tergeletak di sisi jok penumpang.Tiba-tiba saja, kaca pintu depan bagian kiri diketuk, membuat pria itu teralihkan.Tampak bu Dina berdiri di luar sambil berusaha memandangnya lewat kaca riben.Dewangga segera menurunkan kaca mobilnya.“Nyariin neng Maura, ya?” tanya bu Dina ramah.“Iya, Bu,” jawab Dewangga sambil mengangguk. “Dia lagi pergi?”“Iya, neng Maura udah pergi, udah berangkat tadi pagi sama bapaknya,” jawab wanita paruh baya itu. “Memangn
Jam menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Di restoran milik Andreas, Maura berkumpul dengan beberapa karyawan restoran bersama Andreas dan Marina. Kebetulan, restoran tak terlalu ramai.Wanita itu mendapatkan undangan untuk makan bersama, sebelum pertunangan Andreas dan Marina diadakan seminggu lagi.“Kamu mau pergi?!” Nada protes Marina keluar begitu saja. “Aku sama mas Andreas mau tunangan, lho. Itu artinya kamu nggak bisa datang, dong?”“Iya. Maaf, ya, Marina. Aku cuma bisa ngasih selamat dan doa aja,” kata Maura tak enak hati. “Kalau kalian menikah nanti, aku akan usahakan untuk datang.”“Meski kak Maura nggak bisa hadir, yang penting kan bos sama calonnya bos hadir,” kata Andy.“Iya, tuh. Kalau salah satu diantara kalian nggak hadir, bisa-bisa nggak jadi tunangannya,” celetuk Ricko, membuat Marina kesal.“Enak aja. Amit-amit, ya. Mas Andreas harus hadir, lho, nanti,” kata Marina sambil menatap Andreas dengan permohonan. “Awas aja kalau nggak.”“Ricko cuma asal ngomong, Ma
Beberapa hari berlalu.Maura menatap foto janinnya sambil tersenyum sendu dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Kalau anak itu masih ada, mungkin perutnya akan semakin buncit sekarang. Dan mungkin dia akan mulai membeli barang-barang keperluan bayinya.Maura segera menggeleng menepis perasaan buruknya.Di luar, langit sangat cerah dan hampir tengah hari. Dengan cepat, dia memasukkan foto janinnya ke dalam dompet kecil, lalu menyelipkan dompet itu ke dalam koper yang sudah penuh dengan pakaiannya.Baru saja dia selesai menutup resleting kopernya, ponselnya yang ada di meja berdering.Wanita itu mengerutkan alis. Jam segitu, tak mungkin ayahnya yang menelepon karena sebelum selesai mengepak barang-barangnya, dia sudah berbicara dengannya.“Siapa, sih, yang nelpon?” gumamnya perlahan sambil berjalan ke arah meja dan melihat layar ponselnya menampilkan nomor yang familiar.“Dewangga? Ngapain dia nelpon?”Meski ragu untuk menjawabnya, akhirnya Maura mengangkat panggilan itu. Mungkin pria i
Hari masih cukup pagi.Di meja makan, Alena tengah mengoles selembar roti tawar dengan selai cokelat, dengan setelan kerja yang rapi namun wajah yang muram.Beberapa kali dia melirik ponsel yang layarnya hitam di meja, berharap mendapat sebuah kabar baik segera, namun ponsel itu masih enggan bergetar sama sekali. Apa mungkin orang itu masih tidur? Entahlah.Di sisinya, Silvia berdiri mengisi sebuah cangkir keramik putih motif bunga lembut dengan teh hangat, untuk putri harapan satu-satunya.“Mama udah menghubungi pak Brian. Beliau bersedia membantu kesulitan perusahaan asalkan ….” Silvia menjeda kalimatnya seolah tengah mencari kata yang pas untuk diucapkan, sambil menggeser cangkir teh itu ke hadapan Alena dan meletakkan kembali poci teh di tempat semula. “Asalkan kamu bersedia menjadi istri ketiganya.”Gerakan tangan Alena di atas roti tawarnya terhenti. Wanita itu segera menoleh menatap tajam ibunya.
“Kamu pikirin lagi tawaran papa, Maura. Meski papa pengen tinggal sama kamu, tapi papa nggak bisa maksa kamu ikut papa,” ujar Ruslan sambil fokus menatap ke depan.“Aku pengen, sih, Pa. Tapi aku takut jadi beban Papa,” jawab Maura gamang.“Kamu bukan beban, Nak. Kamu satu-satunya penyemangat papa saat ini,” jawab Ruslan. “Biaya hidup kamu selama ikut papa, akan papa tanggung sepenuhnya.”“Bukan masalah uang, Pa. Aku juga punya tabunganku sendiri meski nggak banyak.”“Ya, itu bagus. Kamu pikirin aja dulu permintaan papa, oke?”“Oke. Tanggal berapa Papa mau berangkat?” tanya Maura.“Akhir bulan nanti, sekitar tanggal 22 atau 23.”“Kurang dari tiga minggu lagi,” gumam Maura perlahan.“Ya, kurang dari tiga minggu lagi.”“Papa nggak melaporkan tante Silvia?” tanya Maura penasaran. “Mungkin … perusahaan Papa akan kembali.”“Buat apa? Hanya akan buang-buang waktu. Harta yang hilang pasti akan ada gantinya. Silvia sudah melobi lebih dari setengah petinggi perusahaan buat menetapkan Alena seba
Dewangga mengerutkan alisnya di balik topeng. Tapi tatapannya yang terhunus tajam dirasakan dengan jelas oleh Maura yang berpura-pura tak mendengar atau melihat apapun.Maura memilih menatap ke tempat lain sambil menopang dagunya, daripada menatap pria itu yang kembali dirangkul Alena sambil berjal
Musik indah mengalun lembut saat Maura dan Narendra masuk ke ballroom hotel, tempat diadakannya acara resepsi pernikahan itu.Keduanya telah mengenakan topeng yang dibagikan di pintu masuk saat memperlihatkan undangan yang dibawa pria itu pada staff yang berjaga di depan karena tamu yang menghadiri
Di kantor sore itu, Zefan yang tengah membantu merapikan beberapa berkas kontrak, menatap bosnya setelah membaca sebuah pesan yang masuk. Keduanya sama-sama duduk di sofa setelah selesai berdiskusi singkat.“Malam ini ada acara, kan? Pernikahan anaknya pak Bobby,” katanya membuka suara sekaligus me
Maura tercekat menatap Dewangga. Tatapannya beralih pada mbok Narti yang masih menangis dengan tubuh gemetar.Kapan dia berkata ingin memecat wanita paruh baya itu?“Dewangga, aku … aku nggak bermaksud mecat mbok Narti,” ujarnya perlahan sambil menunduk.Mengingat bahwa







