Home / Rumah Tangga / Sebelum Kita Bercerai / Bab 70. Rasa yang Tertinggal

Share

Bab 70. Rasa yang Tertinggal

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2025-07-28 17:14:41
Maura mengerutkan alisnya saat rasa perih dan sakit di intinya mengusik tidur lelapnya.

Wanita yang hampir tak bisa menggerakkan ujung jarinya itu membuka matanya perlahan.

Pandangan pertamanya tertuju pada langit-langit kamar yang remang, disusul rasa sakit yang kian mengganggu, lalu rasa dingin di permukaan kulitnya yang terbuka.

Ada yang tak beres.

Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa sangat sulit digerakkan? Dan mengapa dia tidur tanpa pakaian? Rasanya ….

Maura membeku saat dia menoleh ke s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 117. Makan Siang

    “Lalu … yang waktu itu selalu mengirimkan hadiah ke rumah sebelum Anda menikah dengan nyonya Maura, sebenarnya adalah Alena. Nyonya Maura saat itu nggak mungkin bisa beli hadiah-hadiah mahal karena uang jajannya sangat terbatas,” kata Zefan sambil memberikan bukti salinan invoice dari pembelian jam tangan mahal, beberapa pakaian, sepatu, hingga makanan. “Ini invoice yang kudapatkan dengan susah payah. Pembayarannya semuanya atas nama Alena.” Dewangga memeriksa sekilas salinan invoice itu. Barang-barang yang didapatnya benar-benar sama dengan yang tertera di invoice.“Bu Silvia selaku ibu tirinya, nggak begitu baik sama nyonya Maura. Ayahnya juga diam aja karena menyangka kalau nyonya Maura itu bukan anaknya jadi mereka kurang baik memperlakukan nyonya. Tapi belakangan … apa Anda sudah dengar? Pak Ruslan dan bu Silvia cerai karena bu Silvia telah membohongi pak Ruslan selama bertahun-tahun. Katanya Alena bukan anak kandung pak Ruslan. Dan katanya lagi, pe

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 116. Kebenaran Terungkap

    Hampir pukul lima sore, namun langit masih cerah kebiruan.Di sebuah mobil, Dewangga duduk diam menatap rumah Maura dari balik kemudinya.Jari-jari rampingnya mengetuk-ngetuk stir, sementara matanya berpindah dari jendela kaca yang satu, hingga jendela kaca lantai dua, ke arah jendela kamar Maura di lantai atas tapi keberadaan wanita itu tak terlihat sedikitpun.“Apa dia lagi keluar, ya?” gumamnya perlahan sambil melihat arlojinya sejenak, kemudian dia menunggu lagi, memikirkan beberapa alasan tepat bertemu dengannya sementara sekotak kue tergeletak di sisi jok penumpang.Tiba-tiba saja, kaca pintu depan bagian kiri diketuk, membuat pria itu teralihkan.Tampak bu Dina berdiri di luar sambil berusaha memandangnya lewat kaca riben.Dewangga segera menurunkan kaca mobilnya.“Nyariin neng Maura, ya?” tanya bu Dina ramah.“Iya, Bu,” jawab Dewangga sambil mengangguk. “Dia lagi pergi?”“Iya, neng Maura udah pergi, udah berangkat tadi pagi sama bapaknya,” jawab wanita paruh baya itu. “Memangn

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 115. Berpamitan

    Jam menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Di restoran milik Andreas, Maura berkumpul dengan beberapa karyawan restoran bersama Andreas dan Marina. Kebetulan, restoran tak terlalu ramai.Wanita itu mendapatkan undangan untuk makan bersama, sebelum pertunangan Andreas dan Marina diadakan seminggu lagi.“Kamu mau pergi?!” Nada protes Marina keluar begitu saja. “Aku sama mas Andreas mau tunangan, lho. Itu artinya kamu nggak bisa datang, dong?”“Iya. Maaf, ya, Marina. Aku cuma bisa ngasih selamat dan doa aja,” kata Maura tak enak hati. “Kalau kalian menikah nanti, aku akan usahakan untuk datang.”“Meski kak Maura nggak bisa hadir, yang penting kan bos sama calonnya bos hadir,” kata Andy.“Iya, tuh. Kalau salah satu diantara kalian nggak hadir, bisa-bisa nggak jadi tunangannya,” celetuk Ricko, membuat Marina kesal.“Enak aja. Amit-amit, ya. Mas Andreas harus hadir, lho, nanti,” kata Marina sambil menatap Andreas dengan permohonan. “Awas aja kalau nggak.”“Ricko cuma asal ngomong, Ma

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 114. Hasil yang Tak Diinginkan

    Beberapa hari berlalu.Maura menatap foto janinnya sambil tersenyum sendu dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Kalau anak itu masih ada, mungkin perutnya akan semakin buncit sekarang. Dan mungkin dia akan mulai membeli barang-barang keperluan bayinya.Maura segera menggeleng menepis perasaan buruknya.Di luar, langit sangat cerah dan hampir tengah hari. Dengan cepat, dia memasukkan foto janinnya ke dalam dompet kecil, lalu menyelipkan dompet itu ke dalam koper yang sudah penuh dengan pakaiannya.Baru saja dia selesai menutup resleting kopernya, ponselnya yang ada di meja berdering.Wanita itu mengerutkan alis. Jam segitu, tak mungkin ayahnya yang menelepon karena sebelum selesai mengepak barang-barangnya, dia sudah berbicara dengannya.“Siapa, sih, yang nelpon?” gumamnya perlahan sambil berjalan ke arah meja dan melihat layar ponselnya menampilkan nomor yang familiar.“Dewangga? Ngapain dia nelpon?”Meski ragu untuk menjawabnya, akhirnya Maura mengangkat panggilan itu. Mungkin pria i

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 113. Rencana Maura

    Hari masih cukup pagi.Di meja makan, Alena tengah mengoles selembar roti tawar dengan selai cokelat, dengan setelan kerja yang rapi namun wajah yang muram.Beberapa kali dia melirik ponsel yang layarnya hitam di meja, berharap mendapat sebuah kabar baik segera, namun ponsel itu masih enggan bergetar sama sekali. Apa mungkin orang itu masih tidur? Entahlah.Di sisinya, Silvia berdiri mengisi sebuah cangkir keramik putih motif bunga lembut dengan teh hangat, untuk putri harapan satu-satunya.“Mama udah menghubungi pak Brian. Beliau bersedia membantu kesulitan perusahaan asalkan ….” Silvia menjeda kalimatnya seolah tengah mencari kata yang pas untuk diucapkan, sambil menggeser cangkir teh itu ke hadapan Alena dan meletakkan kembali poci teh di tempat semula. “Asalkan kamu bersedia menjadi istri ketiganya.”Gerakan tangan Alena di atas roti tawarnya terhenti. Wanita itu segera menoleh menatap tajam ibunya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 112. Alena Tahu

    “Kamu pikirin lagi tawaran papa, Maura. Meski papa pengen tinggal sama kamu, tapi papa nggak bisa maksa kamu ikut papa,” ujar Ruslan sambil fokus menatap ke depan.“Aku pengen, sih, Pa. Tapi aku takut jadi beban Papa,” jawab Maura gamang.“Kamu bukan beban, Nak. Kamu satu-satunya penyemangat papa saat ini,” jawab Ruslan. “Biaya hidup kamu selama ikut papa, akan papa tanggung sepenuhnya.”“Bukan masalah uang, Pa. Aku juga punya tabunganku sendiri meski nggak banyak.”“Ya, itu bagus. Kamu pikirin aja dulu permintaan papa, oke?”“Oke. Tanggal berapa Papa mau berangkat?” tanya Maura.“Akhir bulan nanti, sekitar tanggal 22 atau 23.”“Kurang dari tiga minggu lagi,” gumam Maura perlahan.“Ya, kurang dari tiga minggu lagi.”“Papa nggak melaporkan tante Silvia?” tanya Maura penasaran. “Mungkin … perusahaan Papa akan kembali.”“Buat apa? Hanya akan buang-buang waktu. Harta yang hilang pasti akan ada gantinya. Silvia sudah melobi lebih dari setengah petinggi perusahaan buat menetapkan Alena seba

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 72. Wanita Pengacau Pikiran

    Maura terburu-buru menuruni tangga dan berdiri di depan pintu.Di luar sana, Dewangga masih mengetuk, menunggu Maura membukakan pintunya.“Maura, buka pintunya!”“Nggak, Dewangga. Aku bilang, aku nggak leluasa ketemu siapapun,” ujar wanita itu, yang berdiri dengan gugup

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 71. Pilih Mana?

    [Dewangga: Aku bersyukur kamu datang di saat yang tepat.] [Dewangga: Aku harus pergi.] [Dewangga: Ada urusan penting yang harus dilakukan.] Narendra membaca tiga baris pesan dari Dewangga yang baru masuk beberapa menit lalu, saat dia dan rombongan tur

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 69. Malam itu ....

    “Aku mau lagi lemon drop-nya, Riaa ….” Maura tertawa-tawa kecil sambil memeluk sebuah gelas bir yang isinya hampir habis, sementara Ria dan Devina sedikit kewalahan membujuk Maura di lorong hotel untuk segera membawanya beristirahat.“Udah, Bu … udah …,” bujuk Ria untuk yang kesekian kalinya. “Ini

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 67. Liburan

    “Menikahlah dengan Dewangga.”Satu kalimat yang dilontarkan oma Ambar itu meruntuhkan sunyi, namun membangun keraguan di hati Maura.Maura mendongak, menatap wanita baya yang masih cantik dan anggun itu, yang duduk di sofa tepat di depannya sambil tersenyum menikmati secangkir teh hangat yang terhi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status