로그인Tala pikir ia sudah selesai dengan masa lalu itu. Ternyata tidak.Pemecatan dari firma dulu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu adalah masa ketika Tala benar-benar kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Berbulan-bulan ia meyakini bahwa dirinya memang tidak cukup baik dan layak.Namun satu yang paling ia sesali—keberaniannya waktu itu.Ia terus menyalahkan diri karena pernah mempertahankan desainnya, karena berani menyanggah keputusan seniornya, dan karena memilih mengungkap kejanggalan di proyek Bhuwana. Berkali-kali ia berpikir, seandainya dulu ia tidak seidealis itu. Tidak seimpulsif itu saat membela apa yang menurutnya benar. Mungkin ia tidak akan kehilangan pekerjaannya.Dan sekarang, setelah sekian lama...Ia baru tahu ada nama lain di balik keputusan itu.Geza.Tala masih diam menatap keluar jendela. Hanum yang duduk di sebelahnya akhirnya membuka suara."Tan..."Tala menoleh pelan."Tante gak apa-apa?"Pertanyaan sederhana itu justru membuat Tala terdiam.Hanum bukan
Tenant kopi di area festival semakin ramai menjelang jeda makan siang. Peserta yang baru keluar dari berbagai sesi diskusi memenuhi antrean kasir, sementara obrolan tentang desain, material, dan proyek terdengar bersahutan dari hampir setiap meja."Tala?"Tala refleks menoleh.Seorang perempuan berusia awal empat puluhan berdiri tak jauh dari meja mereka sambil tersenyum hangat."Mbak Mega?""Lama nggak ketemu. Boleh gabung? Mejanya pada penuh semua nih.""Oh, tentu, Mbak." jawab Tala.Mega pun menarik kursi kosong di sisi meja mereka."Udah pindah firma mbak?" tanya Tala ketika melihat nama firma di lanyard Mega berbeda dari tempat mereka dulu.Mega mengangguk sambil tersenyum. "Hampir setahun."Tala pun memperkenalkan teman-temannya."Ini Amika, teman kuliah aku."Amika mengangguk sopan."Dan ini Hanum." Tala mengusap pelan bahu gadis di sampingnya. "Keponakan aku.""Senang kenal kalian." Mega tersenyum ramah.Tak lama kemudian, barista mengantarkan pesanan mereka. Di tengah aroma k
Dua hari setelah perdebatan malam itu, pembicaraan mereka benar-benar berhenti di sana. Geza menepati ucapannya. Ia tak lagi mengungkit keputusan Tala, tak lagi memaksa penjelasan, seolah memilih memberi jarak yang diminta perempuan itu. Sikapnya kembali formal seperti sediakala—tenang, sopan, dan menjaga batas. Seakan pertengkaran di dalam mobil malam itu tak pernah benar-benar terjadi, meski keduanya sama-sama tahu belum ada satu pun yang selesai.Pagi ini mereka kembali duduk di meja makan.Tala sedang menuang susu ke gelas Sansa ketika suara bocah itu memecah keheningan."Om Eja..." panggilnya sambil mengunyah pelan. "Yaya bentar lagi ulang tahun."Tangan Tala terhenti sesaat.Benar juga.Tak terasa tinggal satu setengah bulan lagi Sansa genap berusia empat tahun. Itu berarti... kontrak pernikahannya dengan Geza pun tinggal menyisakan satu tahun."Oh ya?" Geza tersenyum. "Yaya maunya ulang tahun kayak gimana?"Mata Sansa langsung berbinar."Mau tiup lilin!""Terus?""Pakai baju pr
Sepanjang perjalanan pulang, hanya suara hujan yang sesekali menghantam kaca depan menemani mereka. Tak ada percakapan. Tak ada musik. Hanya keheningan yang terasa semakin berat setiap menitnya.Tala masih mengenakan windbreaker hitam itu. Geza sudah beberapa kali minta maaf atas sikapnya di Janitra tadi, tetapi perempuan di sampingnya hanya merespon seperlunya.Geza akhirnya menyerah pada sunyi. "Ta..."Tala tidak menoleh."Mau makan apa?""Apa aja." Jawabannya datar. Pandangannya tak pernah lepas dari deretan lampu jalan di balik jendela.Geza melirik sekilas. "Mau mampir ke tendaan Jepang di Jalan Kusuma?""Boleh."Jawaban singkat lagi.Dari sudut matanya, Tala sempat melihat Geza mengembuskan napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pria itu kembali membuka suara."Tala..."Tak ada respons."Belakangan kamu lagi menghindari saya?"Tala tetap memandang keluar. Jalanan malam yang padat dan gerimis tipis yang masih turun teras
Hujan yang mengguyur deras sejak mereka meninggalkan site membuat perjalanan kembali ke Janitra molor hampir dua jam. Genangan di beberapa ruas jalan, ditambah padatnya arus kendaraan saat jam pulang kantor, membuat mobil nyaris lebih banyak berhenti daripada bergerak.Tala bahkan tak sadar kapan ia tertidur."Ta..." Suara Adrian membangunkannya pelan."Udah sampe."Tala mengerjap beberapa kali sebelum menyadari mobil sudah terparkir di lobi Janitra.”Oh iya, sorry kak ketiduran.” kata Tala.Adrian melirik hujan yang masih turun. "Mau aku anter sekalian ke rumah? Kamu keliatan capek."Tala buru-buru menggeleng. "Nggak usah. Nanti ada yang jemput kok."Adrian mengangguk kecil. "Oke deh." Setelahnya ia turun membantu menurunkan beberapa dokumen proyek.Tala tak berniat meminta Geza menjemputnya. Perhatian pria itu sudah terlalu sering membuatnya lupa diri. Sementara setiap kali nama Kinan kembali muncul, Tala dipaksa mengingat bahwa ia tak seharusnya berharap lebih.Jadi, lebih baik ia
Sejak tahu Kinan pernah menelepon Geza menjelang subuh, Tala tak lagi bisa benar-benar tenang.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah urusan pekerjaan. Toh, Kinan dan Geza memang berada di industri yang sama. Sangat mungkin mereka hanya membahas proyek atau bisnis.Namun semakin ia berusaha menepis pikiran itu, semakin sulit pula ia mengabaikannya. Lucunya, ia bahkan tidak punya keberanian untuk bertanya langsung.Pertama, ia merasa tak punya hak.Kedua, itu jelas ranah pribadi Geza.Dan ketiga—yang paling menyebalkan—setiap kali nama Kinan muncul, jawaban Geza selalu menggantung. Tidak pernah berbohong, tapi juga tidak pernah cukup jelas untuk membuat Tala berhenti bertanya-tanya.Akhirnya Tala memilih diam. Diam yang berubah menjadi rasa penasaran. Tanpa sadar ia mulai mencuri dengar setiap Geza menerima panggilan. Hampir semuanya memang soal pekerjaan, sampai suatu hari ia menangkap satu potong kalimat yang terdengar terlalu personal."Kalau kamu udah balik, kab
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







