Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 134- Mau Pamer

Share

134- Mau Pamer

Author: Sora Carita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-08 22:56:55

Acara sore tadi cukup menguras energi sosial Tala. Kini ia sudah berganti gaun yang lebih sederhana, tetapi tetap elegan. Gaun hitam panjang dengan potongan bersih dan detail satin di bagian pinggang membuatnya terlihat anggun tanpa terasa semeriah kostum Queen sebelumnya. Pilihan siapa lagi kalau bukan Geza.

Pria itu sendiri sudah berganti tuxedo hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu. Potongannya pas di tubuh, membuat sosoknya terlihat semakin rapi dan menawan.

Ini memang hanya ulang ta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Tiga Tahun   208- CEO yang Menyamar

    “Istirahat duluan, nanti saya nyusul,” ujar Geza dengan tatap yang masih terpekur pada layar laptopnya. “Nanti dulu, masih tanggung,” jawab Tala sambil—lagi-lagi—melirik suaminya itu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, namun belum ada tanda pekerjaan Geza akan segera usai. Tekun sekali lemburnya. Mana pria yang katanya sudah tidak suka kerja itu? Rasa kantuk yang Tala tahan sejak tadi makin merayap perlahan. Kelopak matanya semakin berat, sampai akhirnya ia tak lagi sadar kapan tepatnya tertidur. Yang jelas, begitu membuka mata, Tala sudah berada di kamar. Jam di nakas menunjukkan pukul satu pagi. Sementara itu, belum ada tanda-tanda kehadiran Geza di kamar. Mungkin pekerjaannya memang belum selesai. Sekilas tadi Tala sempat melihat apa yang sedang dikerjakan Geza. Pekerjaan dari perusahaan baru yang kini dimilikinya—perusahaan yang dulu milik Nadira. Jendela besar apartemen Geza terbuka, tirainya tersibak, menampilkan kerlip lampu kota di kejauhan. Tala memiringkan tubuh, lalu

  • Sebelum Tiga Tahun   207- Apa Goda Aja?

    Kalau sudah begini—dipeluk, dikecup—mungkin memang sudah waktunya Tala mengatakan alasan sebenarnya dia datang, lalu berbaikan dan kemudian bercinta. Begitu bukan alur seharusnya?Ck, opsi terakhir ralat. Mesum sekali Tala!Tapi wajah suaminya itu belum terlihat berbinar—belum terlihat bucin, tepatnya. Geza yang ada di sebelahnya ini justru lebih menunjukkan sisi Geza saat menjadi suami kontrak. Belum Tala lihat sorot mata memuja sekaligus rakus yang biasanya muncul dari tatapan suaminya itu setiap kali berada dekat dengannya.Tala mengembuskan napas frustrasi.Sungguh, ia tidak punya pengalaman menghadapi pria yang bisa tantrum hanya karena cemburu. Mungkin karena mantan-mantannya memang bukan tipe pencemburu. Atau mungkin karena cinta mereka pada Tala memang tidak pernah sebesar itu.Entahlah.Perdebatan batinnya selesai, pada akhirnya ia menurunkan ego. “Aku ke sini tuh mau minta maaf.”Geza langsung menggeser duduknya, menghadap Tala.“No, no, no. Saya yang mestinya minta maaf soal

  • Sebelum Tiga Tahun   206- Kunjungan ke Apartemen

    Hanya satu hari Geza mengambil cuti dan hari itu dihabiskannya untuk mengurus Tala sambil tetap memasang muka garang—tentu saja. Jelas ia masih menyimpan kesal soal kejadian nomor darurat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur terjadi dan sungguh Tala melakukannya bukan dengan maksud lain. Geza sudah mengabari bahwa malam ini ia tidak akan pulang. Ada urusan pekerjaan yang ingin diselesaikan di apartemen katanya. Mungkin, ia juga butuh sedikit ruang untuk menenangkan kepala yang masih dipenuhi kekesalan. Hari keempat pascapenjambretan, Tala sendiri masih belum melakukan aktivitas berarti. Semua urusan proyek Serpong sudah aman ditangani Suwandi. Seharian ini ia hanya mengantar Sansa sekolah, lalu menghabiskan waktu di rumah dengan menemani Sansa bermain, menonton, dan melakukan aktivitas ringan lainnya. Sungguh, ia mulai bosan. Jadi sore ini, Tala memutuskan mengantarkan makan malam untuk suaminya yang sedang marah itu. Membujuk, mungkin? Kini ia sudah berdiri d

  • Sebelum Tiga Tahun   205- Klarifikasi Geza

    Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala. “Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.” “Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.” Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup. “Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.” “Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.” Bi Yuni malah terkekeh. “Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?” Wajah Tala langsung memerah. “Bi Yuni, apaan, sih?” Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada. Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala. “Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau bu

  • Sebelum Tiga Tahun   204- Pria Telaten Ini Lagi

    Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere

  • Sebelum Tiga Tahun   203- Mantan Crush Istri

    Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status