/ Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 151- Singa Demam

공유

151- Singa Demam

작가: Sora Carita
last update 게시일: 2026-08-19 10:18:28

Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.

Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.

“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.

Hening.

Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Elnathan
Tala bukalah mata hatimu...🫰🏻
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
geza gak ngigau kinan..bisa jadi emang kinan udah gak ada di hati geza lo ta
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sebelum Tiga Tahun   151- Singa Demam

    Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.Hening.Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada sahutan. Akhirnya ia membuka pintu sendiri. Terserah kalau nanti Geza marah.Di atas ranjang, Geza meringkuk di balik selimut, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.“Za?” panggil Tala pelan.Tak ada respons. Tala melangkah mendekat, lalu menarik sedikit ujung selimut.Tubuh pria itu menggigil. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan dahinya terasa panas saat punggung tangan Tala menyentuhnya.“Ya ampun, Geza...” Tala spontan menarik tangannya. “Kamu sakit?”Bibir pria itu bergerak lemah.“Ta... hau

  • Sebelum Tiga Tahun   150- Galaunya Jelek

    Malam itu, Geza masih duduk di kursi makan ketika Tala selesai mencuci piring sisa makan malam. Sudah dua bulan mereka berada dalam dinamika seperti ini—tetap bisa berbicara jika ada yang perlu dibicarakan, tetapi selebihnya hanya hening dan jarak canggung.Tala mengeringkan tangannya, lalu duduk di seberang pria itu. Geza masih sibuk dengan ponselnya, wajahnya tenang dan sikapnya formal seperti biasa.Ada sesuatu yang memang harus mereka bicarakan. Soal Janitra. Jadi mau tak mau Tala membuka percakapan.“Soal Janitra... kamu yakin bisa beresin semuanya dalam sepuluh bulan ini?”Geza mengangkat pandangan dari ponselnya. “Kenapa nanya gitu?”Tala mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di meja sebelum akhirnya melanjutkan maksudnya.“Kemarin Raga datang ke ruangan aku. Dia minta dikasih kesempatan dan mau berdiri di pihak kita.”Geza mengangguk pelan, seolah kedatangan Raga memang sudah masuk dalam perhitungannya.“Perusahaan Mbak Nadira makin goyah. Jelas dia mulai bergerak sendiri di luar k

  • Sebelum Tiga Tahun   149- Mudah Harusnya

    “Bunda Yaya cantik banget, Tata. Ayah Yaya juga ganteng… kayak Om Eja.”Sansa menunjuk foto di layar tablet Tala. Di sana terpampang foto pernikahan Jani dan Arka.Tala tersenyum kecil.Di usianya yang baru empat tahun, Sansa mulai mengerti bahwa Ayah dan Bundanya sudah tidak ada. Kata Tala, mereka sekarang berada di tempat yang tenang.“Yayanya mana, Tata? Kok nggak ada?”“Yaya masih jauh,” jawab Tala lembut. “Ayah sama Bunda Yaya kan baru menikah.”Sansa mengangguk-angguk, lalu menatap foto itu lagi.“Tata…”“Iya?”“Kalau Yaya peluk fotonya… Bunda tahu nggak?”Tala tersenyum tipis. “Tahu.”“Kalau Yaya bilang ‘Yaya kangen’?”“Bunda juga tahu.”Sansa mengangguk puas.“Berarti Yaya nggak sendirian, ya, Tata?”Seketika mata Tala memanas, ia langsung menarik Sansa ke dalam pelukannya.“Nggak. Yaya nggak pernah sendirian.”Sansa hari ini begitu cerewet sekaligus pengertian. Geza tidak menyukai sesuatu yang kotor atau berantakan, dan ajaibnya, Sansa tumbuh menjadi anak yang sangat tertib. T

  • Sebelum Tiga Tahun   148- Alasan Mempertahankan

    Geza terdiam beberapa detik mendengar jawaban Tala. Tatapannya tak beranjak dari wajah perempuan itu.“Why?” tanyanya pelan.“You really don’t love me?”“Kamu yang nggak cinta aku,” sahut Tala pelan.Geza mengembuskan napas kasar. Ada frustrasi yang akhirnya lolos dari ketenangannya.“Apa yang saya tunjukkan selama ini nggak cukup buat bikin kamu paham kalau saya secinta itu sama kamu?”Itulah kalimat yang selama ini ingin Tala dengar dari mulut Geza—validasi yang begitu jelas, tanpa ruang untuk disalahartikan. Namun kini justru kalimat itu membuatnya semakin gelisah, terlebih saat Geza mengatakannya dalam situasi seperti ini, ketika Tala sedang berusaha diyakinkan.Membuat kalimatnya makin terasa ambigu, apakah ini ketulusannya atau bentuk manipulasinya agar Tala setuju. Sebagaimana dulu, ketika Geza memainkan situasi dan emosinya sampai Tala bertindak impulsif dan menyetujui pernikahan kontrak mereka.“Za, mungkin yang kamu rasain ke aku bukan cinta.” Suaranya melemah.“Mungkin itu k

  • Sebelum Tiga Tahun   147- Keputusan Bulat

    Nama itu berhasil membuat Tala berbalik.Geza menyeringai tipis. “Kayaknya cuma nama itu yang bisa bikin kamu mau natap saya.”Sengaja sekali menikmati ekspresi waspada di wajah perempuan itu.“Gini...””...jujur Ta, malam itu kamu memang nggak bilang apa-apa soal perasaan kamu . Kamu cuma bilang cerai berkali-kali sampai saya muak dengernya dan pengen cium kamu saat itu juga,” beber Geza.“Dan kamu cium aku?” sahut Tala.“Ya menurut kamu?” Geza balik bertanya.Tala mendengkus.Ingatan tentang malam itu memang datang dalam potongan-potongan yang tidak utuh. Terlalu banyak bagian yang hilang, menyisakan rasa malu setiap kali satu fragmen tiba-tiba muncul di kepalanya.“Malam itu saya bilang, Kinan cuma masa lalu saya. Saya udah nggak punya hubungan apa-apa sama dia di luar pekerjaan,” terang Geza.“Tapi kamu masih sering teleponan sama dia di luar jam kerja, bahkan pas weekend sekalipun,” sahut Tala.“Membahas pekerjaan.” Geza mengembuskan napas berat. “Ada proyek yang Bhuwana mau gara

  • Sebelum Tiga Tahun   146- Prasangka Salah

    Pengakuan Adrian tempo hari cukup memengaruhi Tala. Ia jadi banyak berpikir. Pria yang dulu terasa mustahil menyukainya ternyata bersedia menunggunya sampai kontraknya selesai, bahkan tak mempermasalahkan jika nanti Tala berstatus janda.Secara logika, hidup bersama Adrian terasa lebih aman. Ia terbuka soal perasaannya, tak banyak menyimpan siasat, dan Tala tak pernah merasa harus menebak-nebak maksudnya setiap kali mereka berbicara.Tanpa sadar, Tala tenggelam menatap maket pemberian Adrian di meja kerjanya.Sampai suara Geza yang sejak tadi memanggilnya tak juga ia gubris.“Segitu berharganya itu maket?” sindir Geza.Tala baru menoleh. “Kamu ngapain ke sini, Za?”“Tidur, lah. Ada Bude Sinta. Saya nunggu kamu di kamar, nggak dateng-dateng.” Geza mengeluh.“Iya, sorry. Aku tadi kelarin kerjaan dulu.”“Pekerjaan atau ngelamunin Adrian?” todong Geza.“Kamu mau ngajak debat kusir lagi?”“Iya, kalau kamu respons saya sambil jutek kayak gitu,” ujar Geza sambil berlalu. Suaranya datar, cende

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status