Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 161- Topping Dunia

Share

161- Topping Dunia

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-08-22 14:21:25
Agenda sunset cruise yang semula ada di itinerary akhirnya berubah begitu Bastian ikut bergabung. Amika memilih castaway picnic sebagai gantinya—menghabiskan sore di pantai terpencil dengan makanan yang sudah disiapkan pihak resort.

Sialan kan Amika?

Sesungguhnya Tala ingin mengumpat. Sial sekali trip kali ini. Alih-alih girls trip, ia malah harus menyaksikan sepasang sejoli kembali berpadu kasih setelah pertengkaran mereka.

Boat membawa mereka menjauh dari pulau utama, menyusuri perairan ten
Sora Carita

nah lho lho lho, suami kontraknya juga nyusulin ternyata.

| 8
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
El Craft
semoga baby Peppa segera launching
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
yuk yuk bisa yukkk up thor hehe
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
harus luluh nih pokoknya si tala sama geza..biar gak plin plan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   170- Selama Mungkin, Seumur Hidup

    Jabatan tangan itu hanya berlangsung sebentar. Detik berikutnya, Geza membalik tangan Tala, menariknya perlahan menuju bibir, lalu mengecup punggung tangannya lama. Tatapannya terangkat pada Tala, menyimpan binar yang sukses membuat jantung perempuan itu bertalu-talu.Pria yang selama ini sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar tipenya ternyata justru mampu membuatnya jatuh sejauh ini.Tala selalu terbiasa menurunkan ekspektasi, membangun tembok denial, menyisakan kemungkinan terburuk sebagai bentuk perlindungan diri. Barangkali perasaannya akan berakhir sama seperti dulu dengan Adrian—hanya menjadi miliknya sendiri, tanpa pernah benar-benar sampai kepada orang yang ia cintai. Sebab jatuh lebih dulu selalu terasa seperti mengambil risiko paling besar.Namun kali ini berbeda. Perasaannya disambut. Dan yang paling membuatnya takut sekaligus bahagia, pria yang menyambutnya adalah Geza.Geza menurunkan tangan Tala, tetapi belum juga melepaskannya. Ia justru meraih satu tangan lainnya,

  • Sebelum Tiga Tahun   169- Love Language

    Berbeda dengan dinner jebakan—castaway picnic yang sepenuhnya diatur diam-diam oleh Amika dan akhirnya hanya diisi keheningan karena Tala dan Geza sama-sama masih sibuk menjaga gengsi—dinner kali ini terasa jauh berbeda.Itinerary malam ini memang masih milik Amika, tetapi Geza sudah mengubah suasananya menjadi jauh lebih romantis dan personal.Tala yang baru tiba langsung menyadari perbedaannya. Matanya menyapu meja makan yang ditata privat di tepi pantai, tak jauh dari vila. Sebuah meja kecil berlapis taplak putih berdiri di atas hamparan pasir, diterangi beberapa lilin dalam lentera kaca yang cahayanya bergoyang pelan diterpa angin laut.Dua kursi ditempatkan berhadapan, dengan beberapa bunga tropis putih yang ditata sederhana di tengah meja. Sebotol wine, peralatan makan yang tersusun rapi, serta hidangan yang mulai disajikan satu per satu melengkapi meja itu.Wine lagi? Jelas.Namun kali ini Tala tidak akan mati-matian menahan diri seperti saat castaway picnic kemarin. Gelas di h

  • Sebelum Tiga Tahun   168- Ngadon Lagi

    Waktu sudah berlalu cepat sejak mereka terdiam dalam posisi saling memeluk. Berbaring di atas dada lebar Geza sungguh membuat Tala lupa diri. Pertemuan antar kulit tanpa sehelai benang jelas memantik banyak listrik statis yang menjalar di sepanjang sarafnya. Apalagi saat tangan besar pria itu kembali bergerak, mengusap lembut puncak dadanya."Mas, udah..." Tangan Tala bergerak menahan usapan itu, berusaha menyisakan sedikit benang kendali di antara mereka.Usapan itu berhenti. Geza menurunkan posisi tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Senyum tipis terbit di bibirnya.”Takut nerkam saya lagi?” tanya pria itu sambil terkekeh.”Kamu ya, yang nerkam aku.” balas Tala.“Kan kamu yang mancing.”Geza menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Tala sebelum mencuri kecupan singkat.Dengan posisi menyamping seperti ini, Tala bisa dengan mudah memindai setiap lekuk wajah Geza yang memesona. Tatapan mereka bertemu cukup lama sebelum tangan Geza naik mengusap rambutnya.“Mau makan sekarang?” tanyanya

  • Sebelum Tiga Tahun   167- I'm Yours

    Perempuan yang ia rindukan setengah gila ini—yang belakangan membuat kepala Geza hampir pecah karena saking keras kepalanya—kini berada sepenuhnya dalam dekapannya. Mengerang pasrah di bawah kuasanya, bagaimana mungkin Geza tidak makin tenggelam dalam pusaran gairah itu?“Tala, you’re mine…Tell me you are.” Suara Geza terdengar parau.Cengkeraman jemari Tala di bahunya makin kuat seiring ritme yang terus Geza pacu lebih cepat.”Iya masshh...i’m yours...”Sialan. Panggilan mas dengan desah lembut begini membuat badai gelora di kepalanya makin menggila. Geza masuk lebih dalam dan balasannya ia dapat jepitan berdenyut yang luar biasa di bawah sana. Jemari Tala bergerak naik, mencengkeram rambut Geza, seolah mencari pegangan yang lebih kuat untuk menahan gelombang badai yang diciptakan pria itu.”Mass...terush..eughht...” desahan itu serupa umpan yang memanggil badai untuk menghantam lebih cepat dan lebih intens.Geza sungguh lepas kendali.Selain gerakan ritmis yang menghentak di antara b

  • Sebelum Tiga Tahun   166- Proyek Bikin Bayi

    Apa katanya?Geza ingin mendengarnya sekali lagi. Memastikan ia tidak salah menangkap maksud perempuan itu.“Are you sure Ta? Bikin bayi?” tanyanya memastikan sambil menahan kekehan.Sial, kenapa topik bikin bayi ini jadi terdengar menggemaskan begini saat keluar dari mulutnya? Tala, yang kini berada di atasnya dengan kedua tangan bertumpu di kasur, hanya mengangguk. Matanya sayu, tapi tatapannya begitu jelas.Demi apa pun, ini pemandangan yang tak pernah Geza kira akan ia dapatkan.Tala. Perempuan keras kepala yang dicintainya dengan sama kerasnya. Kini berada di atasnya, menatapnya dengan sorot penuh damba.“Kamu nggak mau?” tanyanya lembut, mendayu. Satu tangannya menelusuri dagu Geza.Kenapa perempuan ini tiba-tiba begitu pandai menggoda?“Menurut kamu?” suara Geza keluar semakin berat.“Mau. Tapi kamu lagi nahan diri, kan?” Tala tersenyum kecil, penuh percaya diri. “Kamu mau lihat sejauh apa aku bisa bikin kamu laper.”Perempuan itu benar-benar sedang menggodanya.Gairah yang sej

  • Sebelum Tiga Tahun   165- Ciuman Gak Enak

    Di balkon depan villa, Geza masih termenung dengan cincin di tangan. Ia memperhatikan kilauannya yang sesekali menangkap cahaya sore yang mulai turun.Cincin yang selalu ia bawa ke mana pun—yang seharusnya sudah melingkar di jari Tala malam itu, jika saja dinner yang ia rencanakan tidak berakhir berantakan karena perempuan itu tiba-tiba mengetahui soal fakta pemecatannya.Langkah kaki Tala terdengar mendekat, membuat Geza segera memasukkan kembali cincin itu ke saku celananya. Tak lama kemudian, sosoknya muncul dengan linen oversized berwarna sage. Sederhana, tetapi entah kenapa tetap berhasil membuat Geza terpaku sesaat.Sore ini mereka punya agenda catamaran sailing, berkeliling pulau dengan perahu catamaran kecil. Namun, untuk saat ini, agenda itu bukan hal yang memenuhi kepalanya. Pikirannya justru masih dipenuhi ciuman tadi siang—ciuman dari perempuan yang selama ini berkali-kali menolaknya.“Ayo, Za,” ajak Tala.Hebat sekali perempuan itu. Setelah tadi siang menciumnya begitu saj

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status