LOGINbaekan nih yeee
Geza mengembus napas berat sekali saat akan melanjutkan. “Awalnya, semuanya berjalan normal. Wardoyo menjalankan perannya sebagai mentor yang baik. Meskipun pada dasarnya dia adalah kolega Papa, dia justru lebih banyak berdiri di pihak saya. Dia tahu seberapa besar kebencian saya terhadap Papa. Terlebih lagi, dia tahu saya dan Kinan menjalin hubungan.” Geza berdeham sesaat. Ada sedikit kecanggungan ketika ia menyebut hubungan masa lalunya dengan Kinan. “Tapi, seiring waktu, saya paham kalau tujuan Wardoyo mengajari saya tak lain agar dia punya tangan kanan yang bisa dimanfaatkan untuk membantunya berkuasa di Bhuwana, perusahaan yang notabene milik kakak sepupunya sendiri. Dia butuh saya untuk membereskan semua kekurangan anak sulungnya yang nggak kompeten.” Tala terdiam mendengarkan penjelasan itu. Setelah beberapa saat, barulah ia menyela. “Terus, kenapa kamu nggak langsung keluar?” tanyanya. “Karena saya nggak mau keluar begitu aja setelah dimanfaatkan seperti itu. Saya menggun
“Jadi, aku harap kamu bisa jujur soal semuanya ke aku. Kalau Kinan aja bisa begitu paham isi kepala kamu, mestinya aku juga bisa. Aku ini istri kamu,” ujar Tala. Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi kecemburuan di balik kalimat itu begitu kentara. Geza menoleh, sedikit geli. “Kamu masih cemburu sama dia? Padahal kemarin kamu baru aja tahu kalau saya udah cinta kamu sejak lama.” “Oh, jelas. Katanya dia paham banget cara kamu berpikir,” balas Tala tanpa ragu. Geza mendengkus. “Sesuai dugaan. Dia bilang apa aja ke kamu?” Tala langsung mendelik. “Kamu bisa sepaham itu juga sama cara pikir Kinan?” Geza merangkul bahu Tala, mendekatkannya sedikit. “Bukan gitu. Cuma kayaknya nggak mungkin kamu tiba-tiba cari tahu ke vendor soal rencana pernikahan kalau Kinan nggak cerita macam-macam.” “Dia cerita semua hal tentang kalian di masa lalu dan ... dia juga bilang kalau dia udah merasa kalah sejak dulu,” ucap Tala. Geza menoleh kepadanya. “Setelah dengar semua cerita dia dan tahu soal ren
Seminggu sudah berlalu sejak obrolan malam itu di taman belakang. Tala memang kembali bersikap wajar kepada Geza, tetapi tetap ada batas yang ia pertahankan. Saat berada di kamar bersama, Tala masih terlihat canggung, sementara Geza berusaha bersikap normal. Hanya saja, pria itu kini jauh lebih menjaga diri. Ia tidak lagi asal memeluk atau menyentuh Tala seperti biasanya. Selama seminggu terakhir, selain sempat berbincang dengan Bastian dan Amika tempo hari, Tala juga beberapa kali mencurahkan isi pikirannya kepada Jia saat sesi pilates. Tentu saja, ia tidak menceritakan masalahnya secara gamblang. Namun, Jia sempat memberikan pandangan bahwa apa pun dalam rumah tangga seharusnya masih bisa dibicarakan dan diperbaiki, selama bukan KDRT atau perselingkuhan. Tala setuju dengan prinsip itu. Mungkin memang sudah waktunya ia bicara baik-baik dengan Geza. Membahas semua hal yang masih mengganjal dan meminta pria itu membuka semua sisi dirinya, termasuk hal-hal yang selama ini disembunyik
Berbicara dengan Bastian soal masalahnya dengan Geza justru membuat kepala Tala semakin penuh. Bagaimanapun, Bastian selalu berada di pihak Geza. Dan setelah mendengar berbagai penjelasannya sejak tadi, Tala mulai merasa sedikit terpengaruh. “Tuh, kan, Mas. Ke sini buat jadi promotor Geza lagi,” sindir Tala. “Eh, nggak. Ini murni POV saya sebagai sahabat, pengacara pribadi, sekaligus rekan bisnis yang selalu direpotin sama dia.” Bastian mengangkat kedua tangan. “Lagipula, saya ke sini mau pacaran. Kebetulan aja ada kamu di sini.” Tala hanya mengibaskan tangan, tak terlalu percaya dengan alasannya. “Tapi kamu tuh memang dukung Geza banget, tahu, Yang. Mihak banget. Kayaknya apa pun yang Geza omongin, kamu tuh setuju aja,” komentar Amika sambil menoleh kepada kekasihnya itu. “Eh, nggak juga. Waktu Geza pertama kali bilang punya ide nikah kontrak, aku justru nolak, Mik. Udah aku ingetin juga. Serius.” Bastian menggeleng. “Aku malahan nyuruh dia buat pedekate yang bener. Sayangnya tu
Bastian lah yang berdiri di ambang pintu itu, dengan kemeja kerjanya yang sudah tergulung hingga siku. Cepat sekali ia pulang, padahal jam baru menunjukkan pukul empat sore. Anak konglo memang punya kuasa berbeda. Tala sendiri datang ke apartemen Amika karena tahu sahabatnya itu sedang cuti. Kebetulan, Sansa sedang les balet tak jauh dari sana, jadi Tala sekalian mampir untuk menghabiskan waktu sambil menunggu keponakannya selesai les. Bastian meletakkan kotak pizza yang dibawanya di meja, lengkap dengan sebotol kopi susu ukuran satu liter. “Silakan, Tata.” Pria itu mempersilakan sambil bertingkah seolah-olah dirinya tuan rumah. Ia kemudian duduk di sofa seberang Tala, berdampingan dengan Amika. “Ini tandanya habis makan gue pulang, gitu, Mik?” tanya Tala kepada sahabatnya. Amika tertawa. “Nggaklah. Nanti Bastian yang gue usir. Orang lain pada kerja, dia malah kabur duluan.” “Kok gitu sih, Yang?” Bastian memasang wajah merajuk. “Perasaan kemarin protes gara-gara diganggu terus p
“Jadi, bukannya nemuin bukti perselingkuhan, lo malah nemuin bukti kalau jebakan nikah kontrak itu udah disiapin jauh-jauh hari, bahkan sebelum insiden itu terjadi?” Amika memastikan, masih tampak tak percaya. Tala mengangguk. “Dan lucunya, lo malah nemuin fakta kalau suami yang selama ini lo kira selingkuh itu ternyata udah secinta itu sama lo sejak bertahun-tahun lalu?” lanjut Amika. Wajahnya menunjukkan campuran bingung, takjub, sekaligus terkejut. Tala tertegun. Ia menyesap kopi yang disuguhkan Amika. Cahaya matahari sore menembus gorden apartemen perempuan itu, jatuh di antara mereka. “What a great plot twist, Ta. Drama banget hidup lo,” komentar Amika. “Kebanyakan nonton drama sih lo. Kejadian begini kan di dunia nyata. Law of attraction itu.” sambungnya, terkikik sendiri. Tala hanya mendengkus. ”Ngaco!” “Loh, iya lah!” Amika kembali menyahut. “Mulai dari diajak nikah kontrak sama adik ipar kakak lo. Terus suami lo ternyata CEO yang nyamar, dan tahu-tahu udah naksir lo se
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat







