Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 37- Family Time

Share

37- Family Time

Author: Sora Carita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-12 23:12:56

“Ta, kamu mencintai Geza?” tanya Bude Sinta tiba-tiba.

“Iya dong, Bude.” Tala mencolek es krim di dalam cup, pura-pura sibuk agar kebohongannya tak terlalu kentara.

“Memangnya kenapa Bude tanya begitu?” tanyanya hati-hati. “Aku ada salah? Kurang baik sama Mas Geza?”

Sejak Dharma mengaku memiliki bukti tentang pernikahan kontrak mereka, Tala menjadi jauh lebih paranoid. Ia merasa terus diawasi. Takut setiap percakapannya dengan Geza direkam, takut setiap gerak-geriknya diperhatikan dan ketahuan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
udh hampir part 40 bahkan tala gatau lebih dalam tentang geza dan rencananyaa
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Tiga Tahun   46- Ratu di Singgasana

    “Kemarin adik ipar makan siang bareng sama seniornya. Akrab juga ya, atau emang udah terlalu akrab?”Kalimat nyeleneh itu sukses menghentikan langkah Geza di lobi Janitra.Sebagai GM perusahaan properti kelas kakap seperti Bhuwana, kehadiran Geza di Janitra sebenarnya adalah sebuah anomali. Karena itu ia selalu membungkus kedatangannya dengan alasan makan siang bersama istri. Setelahnya, ia kerap melipir ke ruangan Suwandi untuk diskusi.Namun di kalangan direksi dan pemangku kepentingan, semua sudah paham. Geza adalah penggerak di balik layar dan punya pengaruh banyak di Janitra. Label licik, manipulatif dan kurang ajar jelas sudah lama melekat padanya—dan Geza tak pernah merasa perlu membantah satu pun.“Ngajak makan siang? Kecolongan start lo, Tala udah makan.” Raga masih ingin bermain-main.Geza hanya menyeringai tipis. Ia malas meladeni kakak tirinya terlalu lama. Sejak kecil mereka tidak pernah akur, dan sepertinya itu tidak akan pernah berubah.“Thanks for the info.”“Congrats

  • Sebelum Tiga Tahun   45- Sekat Tipis

    Sejak perayaan ulang tahun di preschool, kado terus berdatangan dari kerabat terdekat, termasuk kiriman dari Dharma dan Ratna. Bahkan, mereka sempat datang langsung ke rumah dengan dalih menjenguk, namun berakhir dengan basa-basi yang dingin dan ancaman halus mengenai status nikah kontrak Tala.Yang tidak Tala duga, Adrian juga ikut memberikan kado. Ia memang selalu baik pada semua orang, tapi ada sesuatu yang membuat hati Tala sedikit hangat melihat caranya memperhatikan Sansa—padahal mereka baru bertemu satu kali.Sebagian kecil dari dirinya sempat merasa senang, bahkan bisa dibilang ‘geer’. Tapi ia buru-buru menepisnya. Ada tembok besar yang jelas berdiri di sana.“Tala.”Panggilan itu membuatnya tersentak dari lamunan. Ia baru sadar sejak tadi menatap bingkisan berwarna merah muda di atas meja.“Titip ya, Ta. Buat Sansa,” ujar Adrian sambil menyodorkan paper bag itu sedikit lebih dekat.“Oh iya, Thank you, Kak. Sampai repot-repot gini.”“Sama sekali gak repot, cuma aku gak tau pre

  • Sebelum Tiga Tahun   44- Si Tak Punya Hati

    Geza adalah si manipulatif yang tak punya hati. Begitulah yang selalu ada di benak Tala. Namun interaksi dan perlakuannya pada Sansa selalu membuat Tala goyah, membuat Tala lupa kalau pria itu berbahaya.Dua hari lalu ia begitu bersemangat menyiapkan perayaan ulang tahun untuk Sansa, menyiapkan dekor yang begitu cantik dan semua perintilannya sesuai permintaan Sansa. Ia melakukannya sendiri.Sendiri.Hal yang tak mungkin dilakukan seorang Geza.Ulang tahun Sansa yang kedua jatuh tepat tujuh hari setelah meninggalnya Arka dan Jani. Tak ada perayaan apa pun. Saat itu semua orang masih sibuk berduka dan menghadapi trauma Sansa.Karena itu, tahun ini Geza ingin merayakannya dengan meriah. Selain untuk menyenangkan Sansa, perayaan besar juga bisa menjadi publikasi yang baik bagi keluarga mereka.Sangat manipulatif bukan? Selalu mengambil manfaat dari setiap hal.Sebaliknya, Tala lebih memilih acara yang sederhana dan privat. Baginya, yang terpenting adalah memastikan Sansa benar-benar meni

  • Sebelum Tiga Tahun   43- Babak Berbahaya

    “Kenapa lagi kalian?” tanya Bastian jengah. Matanya bergantian menatap Geza dan Tala yang sejak tadi hanya saling diam.Di ruang privat restoran sushi itu, ia baru saja menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk menjelaskan proses banding Dharma. Sebagian besar istilah hukumnya hanya lewat begitu saja di kepala Tala.“Nggak apa-apa, Mas,” jawab Tala cepat sambil merapikan posisi duduknya. “Ayo dilanjut.”Bastian mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya lebih santai.“Ayah tersayang kalian tuh harus diwaspadai,” ujar Bastian. “Kayaknya dia nggak akan bergantung sama satu jalur. Kalau perlu dia bakal bangun opini, cari amunisi tambahan, lobi orang yang tepat, sampai mainin isu reputasi perusahaan dan keluarga buat menekan posisi kalian.”Tala tidak langsung bereaksi. Namun jemarinya yang memegang gelas sedikit mengencang. Ia hampir lupa bahwa Sansa masih belum sepenuhnya aman. Selama beberapa waktu terakhir semuanya terasa lebih tenang. Sampai-sampai ia mulai percaya kalau Dh

  • Sebelum Tiga Tahun   42- Pria Sebrengsek Itu

    "Ta, gimana rasanya tidur seranjang sama Geza tiap hari? Bikin naluri biologis lo bergejolak nggak?"Pertanyaan paling absurd itu sebenarnya tidak memengaruhi Tala. Hanya saja, cukup mengganggu ketika Geza duduk anteng di sebelahnya—tidak menyebalkan, tidak cari perkara seperti malam ini.Tumben sekali ia tidak melanjutkan perdebatan yang belum usai saat jam makan siang tadi—soal kehadiran Adrian di site. Biasanya Geza akan menyimpan kekesalannya lalu membuka topik yang sama lagi sampai merasa puas. Padahal perdebatan mereka saat itu baru saja memanas sebelum terpotong oleh Sansa yang merengek minta disuapi es krim.“Gimana site udah kondusif?” pria itu buka suara.Tala yang sedang berusaha memfokuskan diri pada laporan progres proyek di laptopnya mengangkat wajah. Selain karena Geza sedang anteng malam ini, aroma sabun sehabis mandi yang masih menempel pada pria itu entah kenapa cukup mengganggu konsentrasinya.Ia pun bergeser sedikit. “Material udah aman.”“Saya tahu.”Tala langsun

  • Sebelum Tiga Tahun   41- Jadwal Pacaran

    Pukul sebelas lewat tiga puluh, Geza masih berada di ruang rapat lantai dua puluh Bhuwana Sedaya Tower, menghadiri pembahasan kerja sama pengembangan kawasan terpadu yang dihadiri tim proyek, konsultan, dan pihak investor.Setengah jam lagi rapat itu akan selesai. Pembahasan inti sudah tuntas, menyisakan obrolan-obrolan ringan yang biasanya muncul menjelang penutupan. Setelahnya, seluruh peserta dijadwalkan makan siang bersama di salah satu steakhouse kawasan Mega Kuningan.Satu pesan masuk dari Sus Lia.Pak, Sansa dari tadi bilang maunya dijemput Om Eja.Geza membacanya sekilas lalu ia membuka agenda di tabletnya. Pukul dua ia harus berada di BSD untuk site visit proyek township terbaru Bhuwana. Secara logika, akan jauh lebih efisien jika ia langsung berangkat dari Mega Kuningan menuju lokasi proyek. Tala pun sedang berada di lapangan, meninjau proyek Janitra yang sempat tertunda akibat kendala pasokan material.Geza akan meminta sopir panggilan saja untuk menjemput Sansa seperti bia

  • Sebelum Tiga Tahun   40- Senior Masa Kuliah

    Acara networking itu digelar di ballroom sebuah hotel bintang lima. Sejak pagi, ruangan sudah dipenuhi para pelaku industri properti—developer, kontraktor, konsultan, hingga perbankan—yang berkumpul dalam forum tahunan membahas arah pembangunan kawasan urban lima tahun ke depan.Ini pertama kalinya

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status