ログインChapter 49CutiDi atas tempat tidur Max yang tidak lagi rapi, Nichole berbaring di damping Max yang memejamkan mata. Nichole dengan lembut menyentuh alis Max dengan ujung jari-jarinya dan perlahan gerakannya sampai ke ujung hidung Max. Pria itu membuka matanya dan menoleh sembari tersenyum lembut lalu memeluk Nichole. "Aku ketiduran," ucap Max lembut dan suaranya parau. Nichole tersenyum. "Aku pernah membaca novel dewasa dan katanya, kebanyakan pria akan tertidur setelah melakukannya." Max menatap Nichole dengan serius, ia ingin diberitahu pada Nichole bahwa itu juga pengalam pertamanya, tetapi Max kemudian memilih menyimpannya."Oh, ya?" "Apa kau selalu begitu?"Max mengusap ujung alisnya sekilas dan berkata, "Ini pertama kali aku tertidur." Nichole menyipitkan matanya. "Kau lelah?" Bukan lelah, Max hanya tidak tahu caranya mendeskripsikannya. "Itu karena kau hebat," kata Max akhirnya.Nichole tersenyum dan pipinya memerah. "Aku masih tidak berpengalaman, nanti aku akan melaku
Chapter 48Rencana BaruNichole berdiri di depan sebuah rumah yang berada di kawasan tenang di pinggiran Washington, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota dan gedung-gedung pemerintahan yang selama beberapa minggu terakhir menjadi bagian dari hidup Nichole. Rumah itu tidak besar, tetapi terlihat kokoh dan terawat. Bangunan dua lantai dengan halaman kecil di depan, garasi sederhana, dan beberapa pohon tua yang membuat suasana terasa lebih tenang. Tidak ada penjaga di depan gerbang sehingga membuatnya terkesan seperti pemiliknya adalah seseorang yang menginginkan ketenangan setelah menghabiskan sebagian hidupnya untuk bekerja demi keamanan orang lain.Nichole berhenti di depan pintu beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk, menghela napas pelan beberapa kali karena dirinya sendiri tidak yakin mengapa ia datang. Setelah semua penjelasan dari Grayson dan mengetahui permainan besar yang terjadi di belakangnya, seharusnya ia kembali ke rumah keluarganya dan mempersiapkan kepulangannya ke Cambri
Chapter 47KebenaranPagi itu terasa lebih berat dari biasanya, bahkan saat mereka di Baltimore atau Arlington sekalipun. Nichole duduk di dekat jendela kamar dengan beberapa jenis menu sarapan yang sejak tadi tidak disentuh, pemandangan kota Washington yang mulai ramai di bawah sana tidak menarik perhatiannya sedikit pun. Biasanya ia akan memperhatikan detail kecil di sekitarnya, memperkirakan kemungkinan, dan menyusun rencana berikutnya.Namun, pagi ini ia bahkan tidak memiliki rencana apa pun. Luka di benaknya yang disebabkan oleh kakeknya masih menganga hingga rasanya sulit menerima kenyataan bahwa selama ini ia berjuang mencari jawaban, sementara orang yang memiliki jawabannya hanya diam dan membiarkannya berjalan dalam kegelapan.Max berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan Nichole yang sudah hampir setengah jam duduk tanpa bergerak. Semalam, Nichole cukup lama menangis di pelukannya dan tidak berusaha menenangkan, hanya membiarkan perempuan itu meluapkan kekecewaannya dalam
Chapter 46 Terlalu Lelah Mereka meninggalkan villa dan tidak satu pun di antara mereka yang memulai pembicaraan. Nichole duduk di kursi belakang bersama Max dan sepanjang perjalanan menuju hotel, perempuan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap keluar jendela, memperhatikan lampu kota Washington yang perlahan bergerak melewati pandangannya. Wajahnya muram dan di dalam benaknya merasakan beribu-ribu kekecewaan terhadap kakeknya, sementara Raymond duduk di samping Fred yang mengemudikan mobil dengan perasaan kacau yang hampir tidak bisa digambarkan, ia tidak bisa memikirkan apa tujuan komandannya sehingga memainkan intrik seperti itu. Dari pantulan kaca jendela, Max melihat wajah Nichole yang berusaha tetap tenang. Perempuan itu masih mempertahankan ekspresi yang sama sejak keluar dari villa tadi, tetapi Max melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Nichole mulai memerah, pasti menahan sesuatu yang tidak bisa dikatakan sekarang. Nichole terbiasa tidak m
Chapter 45Kecewa"Kita harus cepat, terlambat sedikit saja kita akan kehilangan kesempatan," kata Raymond dari jok belakang.Sejak Malik menemukan koordinat tersebut, Raymond sudah memiliki perasaan buruk dan melihat kendaraan Grayson Ellingthon berada di tempat yang sama dengan titik keberadaan Igor Volkov membuat semua kecurigaannya semakin dalam.Selama ini ia mengira dirinya sedang mengejar seseorang yang bersembunyi, ternyata mungkin orang itu berada di tempat yang tidak pernah mereka pikirkan."Kau sebaiknya tidak bisa masuk bersama kami," kata Max.Nichole menoleh kepada Max. "Kenapa?"Max menatap villa itu dengan ekspresi berat. "Karena kalau Ray masuk ke sana, Kariernya mungkin tidak bisa dipertahanka. Dan jika kecurigaan kita tidak terbukti, Ray bukan lagi orang yang bisa mengumpulkan informasi, dia akan menjadi agen CIA yang memasuki properti atasannya sendiri tanpa izin.""Max benar, kalau komandanku memang terlibat dalam semua ini, aku harus tetap memiliki posisi untuk b
Chapter 44Rahasia Hampir TerungkapRaymond menatap koordinat di layar, titik kecil yang menunjukkan lokasi sebuah villa di Washington itu membuat kepalannya terasa berdenyut. Tempat yang beberapa hari lalu tidak pernah terpikir akan memiliki hubungan dengan Igor Volkov, sekarang tiba-tiba menjadi pusat dari semua pertanyaan yang belum terjawab.Nichole memperhatikan ekspresi Raymond, pria itu selalu terlihat seperti seseorang yang mampu menjaga pikirannya tetap dingin, bahkan saat menghadapi kegagalan. Namun, kali ini terlihat sangat berbeda."Ada sesuatu yang belum kau katakan," ujar Nichole pelan.Raymond mengalihkan pandangannya dari layar dan menatap Nichole. Beberapa detik ia terlihat ragu seolah sedang mempertimbangkan apakah informasi berikutnya akan membuat keadaan menjadi lebih baik atau justru bertambah rumit."Komandanku itu...." Raymond berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Dia adalah salah satu orang yang paling dekat dengan kakekmu."Suasana ruang itu seketika hening,
Chapter 21Di Ambang BatasUdara malam terasa lebih berat dari biasanya ketika mobil berhenti dua blok dari rumah belakang milik Daniel Hargrove. Tidak ada percakapan selama beberapa detik pertama setelah mesin dimatikan, hanya suara halus pendingin mesin yang perlahan mereda dan napas yang ditahan
Chapter 5 Tantangan Paginya setelah membersihkan diri Nichole segera pergi ke ruang makan di mana seperti biasanya setiap hari seluruh anggota keluarganya akan berkumpul di sana untuk menikmati sarapan mereka juga makan malam yang hangat. “Selamat pagi, Mom,” sapa Nichole pada ibunya yang berad
Chapter 4 Bertemu Harvey Di depan pintu masuk Basketball City, Nichole langsung menemukan Maddy yang berdiri tidak jauh dari empatnya berdiri. Wanita berambut cokelat itu mengenakan dres pendek berbahan katun dan dipadukan dengan sneakers putih, berdiri sendirian di samping meja resepsionis.
Chapter 3 Seseorang yang dikagumi Nichole Nichole memiliki dua orang adik laki-laki yang usianya masih remaja. Tetapi, di keluarga Elingthon, Nichole merupakan cucu yang paling disayang oleh kakeknya karena dirinya adalah cucu pertama di keluarga itu. Ayahnya adalah satu-satunya putra di kelu







