Share

Bab 4

Author: Silas
Upacara kelulusan selesai. Semua orang berjalan kembali.

Bahkan baru setelah Sherly mengingatkan, Ayah, Ibu, dan Rian akhirnya teringat padaku.

"Alya, kamu kok pergi-pergi sendiri, sih."

Aku tidak menjawab. Aku langsung masuk ke mobil tanpa menggubris mereka.

Duduk di baris paling belakang.

Mereka tidak peduli. Begitu masuk mobil, langsung bersemangat membahas universitas dan jurusan.

"Sherly, kamu sama Rian bareng di Universitas Nusa Bangsa, ya. Ada dia yang jagain kamu, kami jadi tenang."

Sherly mengangguk dengan pipi merah.

Soal pilihan jurusan, Ayah dan Ibu beda pendapat sampai sempat berdebat.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mendengarkan pilihan Sherly sendiri.

"Sherly itu pintar, punya pendirian, nggak seperti Alya. Sherly nggak pernah bikin kami khawatir."

Aku tidak berkata sepatah pun dari tadi.

Hampir sampai rumah, baru mereka menyadari keberadaanku di baris paling belakang.

Ibu bertanya, "Alya, kamu mau gimana?"

Belum sempat aku menjawab, Rian sudah buka suara lebih dulu.

"Bibi, Alya nilainya nggak bagus. Dia harus ngulang setahun lagi."

"Nggak apa-apa. Aku sama Sherly ke Universitas Nusa Bangsa dulu. Nanti tahun depan Alya tinggal nyusul kami."

Ayah dan Ibu saling berpandangan, lalu menghela napas.

"Alya, coba kamu bisa setengah saja seperti Sherly. Kami pasti jauh lebih tenang."

Aku berkedip. Air mata jatuh menetes ke layar ponsel.

Angka 686 di layar itu terasa begitu menyakitkan.

Mereka tidak pernah sekali pun bertanya padaku.

Hanya karena satu kalimat dari Rian, mereka langsung menyimpulkan aku gagal dan harus mengulang.

Aku mulai menjual satu per satu perhiasan yang diberikan Ayah dan Ibu sejak kecil.

Termasuk semua hadiah yang diberikan Rian setiap ulang tahun dan hari raya.

Ditambah uang yang sudah kutabung selama ini, jumlahnya cukup lumayan.

Cukup untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup beberapa bulan pertama.

Setelah semuanya beres, aku menyimpan surat penerimaan dari Universitas Samudra ke dalam koper, lalu menutupnya.

Ketika aku menyeret koper keluar dari kamar, rumah sudah kosong. Tak ada siapa-siapa.

Rian meneleponku.

"Alya, sekolah buat ngulang udah aku cariin buat kamu."

"Nanti habis syukuran masuk kuliah hari ini, aku temenin kamu daftar, ya."

Aku tidak menjawab. Hanya menatap foto keluarga di lantai satu, lalu bertanya.

"Syukuran masuk kuliah siapa?"

"Ya syukurannya aku sama Sherly, lah."

Seluruh keluarga pergi. Hanya aku yang tidak tahu.

Sama seperti grup chat mereka sehari-hari.

Semuanya ada di sana. Kecuali aku.

"Orang tuaku sama orang tuamu udah sepakat. Lagian aku sama Sherly sama-sama ke Universitas Nusa Bangsa, jadi sekalian aja dirayain bareng."

"Hmm."

Kekecewaan sudah mencapai puncaknya. Aku tidak ingin berkata apa-apa lagi.

Rian sepertinya menyadari perubahan suasana hatiku. Nadanya melembut.

"Alya, kami nggak ngajak kamu karena takut kamu sedih."

"Lagian kamu 'kan masih harus ngulang. Tahun depan, syukuranmu pasti kami rayain besar-besaran, deh."

Hatiku serasa ditusuk jarum. Rasa perih itu perlahan menjalar di dadaku.

"Rian, sebenarnya aku ...."

"Rian, udah mau mulai, nih. Kamu lagi ngapain, sih?"

Aku tadinya ingin menjelaskan semuanya padanya. Sekaligus mengakhiri hubungan kami dengan jelas.

Namun, Sherly memotongnya.

Rian buru-buru menutup telepon. Tidak mendengar sisa kalimatku.

Aku menoleh, menatap sekeliling, tempat yang membesarkanku untuk terakhir kalinya.

Setelah itu, aku menyeret koper menuju bandara.

...

Ayah dan Ibu duduk di barisan penonton, menatap Sherly dan Rian di atas panggung.

Hati mereka penuh kebanggaan.

Tiba-tiba Ayah berkata, "Kalau dipikir-pikir, Sherly sama Rian cocok juga, ya."

Ibu langsung duduk tegak, lalu memukul Ayah dengan keras.

"Ngomong apa, sih! Kamu 'kan tahu sendiri dari dulu Alya itu sukanya sama Rian."

Begitu namaku disebut, entah kenapa hati mereka berdua mendadak terasa hampa.

"Nggak tahu juga Alya mau ngulang di mana."

Baru saja bicara begitu, telepon dari wali kelas masuk.

"Halo, Ibu Alya. Saya Bu Indri."

Ibu menyalakan speaker, lalu menjawab sambil tersenyum.

Bu Indri melanjutkan, "Syukuran masuk kuliahnya Alya, rencananya mau diadakan di mana? Saya boleh ikut hadir, 'kan?"

Senyum Ibu membeku di wajahnya. Sekilas, ada raut canggung yang melintas.

"Bu Indri, sepertinya saya harus mengecewakan Ibu. Alya nilainya kurang bagus, jadi dia harus mengulang setahun lagi."

Di seberang telepon, Bu Indri terdiam sejenak, lalu bertanya dengan bingung.

"Ibu Alya bercanda, 'kan? Alya kali ini tampil luar biasa. Nilainya 686, lho. Mana mungkin harus mengulang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 9

    Rian berdiri di depan gedung perkuliahan, terlihat jauh lebih murung dari biasanya.Ketika melihatku, matanya berbinar."Alya!""Aku sudah mencarimu berkali-kali. Akhirnya ketemu juga."Saat berbicara, nada suaranya terdengar sedikit sengau, seolah menahan rasa sedih. Dia maju, ingin menggenggam tanganku. Namun, aku mundur beberapa langkah."Rian.""Kamu ini mau apa, sih? Sudah cukup belum dramanya?"Aku pernah menyukai Rian selama bertahun-tahun. Tidak pernah sekali pun aku berkata kasar padanya.Sekarang dia membeku di tempat."Alya ... kamu bilang apa tadi?""Kamu tahu nggak, seberapa besar aku merindukanmu?""Aku terus menunggumu di Universitas Nusa Bangsa. Kenapa kamu malah daftar di sini?"Aku melirik jam. Sudah hampir masuk kelas.Aku sudah tidak punya kesabaran lagi. Aku langsung berkata terus terang. "Karena aku nggak mau lihat kamu sama Sherly.""Aku muak melihatmu. Puas?"Setelah bicara begitu, aku berjalan melewatinya, menuju gedung perkuliahan.Tiba-tiba dia berlari meng

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 8

    Medali di tanganku jatuh ke tanah.Aku terus mundur. Kakiku menginjak batu hingga tubuhku kehilangan keseimbangan, lalu aku jatuh terduduk di tanah. Ayah dan Ibu mendekat, ingin membantuku berdiri. Namun, kenangan-kenangan buruk itu ....Kenangan yang hampir berhasil kulupakan kembali menyerang bersamaan dengan nyeri yang menusuk di dada."Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!"Tangan Ayah dan Ibu membeku di udara. Kepahitan memenuhi mata mereka. "Alya ....""Kamu kenapa, Nak? Ini Ibu, lho."Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Aku terisak.Kata demi kata, kuucapkan semua momen saat aku diabaikan, saat perasaanku dianggap tak penting."Di hatiku, Ibu sudah bukan ibuku sejak lama.""Aku nggak punya Ibu yang cuma ingat selera orang lain.""Aku nggak punya Ibu yang nggak pernah lihat usahaku, yang selalu merasa aku kalah dari orang lain dalam segala hal."Aku menoleh ke Ayah yang berdiri di samping, diam, tetapi air matanya mengalir deras."Aku juga nggak punya Ayah yang selalu me

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 7

    Begitu turun dari pesawat, aku baru saja menyalakan ponsel.Ponselku langsung seperti terkena virus, ratusan pesan bermunculan.Ditambah panggilan tak terjawab dari berbagai orang.Ibu meninggalkan pesan di chat.[Alya, kamu ini kok keras kepala banget, sih.][Nilaimu sebaik ini, kenapa nggak bilang ke kami?][Alya, kamu di mana? Kapan kamu bisa bikin Ibu tenang, sih?]Rian juga mengirim banyak pesan.[Alya, kamu ternyata dapat nilai setinggi ini! Bagus banget! Kita bisa ke Universitas Nusa Bangsa bersama!][Udah, jangan ngambek lagi. Bibi jadi khawatir, nih. Cepetan pulang, ya.][Beberapa hari lagi kita daftar ke kampus bareng, ya.]Aku mengernyit sambil membaca semua pesan itu, lalu langsung memblokir dan menghapus semuanya. Aku melangkah keluar dari bandara. Angin Kota Samudra menyambut wajahku.Membawa keberanian yang baru lahir, aku akan menyongsong masa depan yang benar-benar milikku.Saat keluar dari bandara, aku sedang mencari rute ke kampus di aplikasi navigasi.Seorang wanit

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 6

    Napas Rian tercekat. Dia langsung merebut ponsel itu.Menatap angka di layar dan kode verifikasinya, berulang kali.Lalu mengeluarkan ponselnya sendiri, membandingkannya.Dia menatap Ibu, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak satu pun kata pembelaan keluar.Karena aku memang benar-benar dapat nilai setinggi itu. Dan dia memang benar-benar bilang aku harus mengulang."Bibi ...."Ibu mengangkat tangan, memotong kata-katanya, lalu berbalik pergi.Di jalan, Ibu terus-menerus meneleponku.Rian juga berjongkok di sudut aula pesta, mengirim banyak pesan untukku.Saat itu aku sedang berada di dalam pesawat. Tidak tahu apa-apa.Sesampainya di rumah, Ibu langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa.Dia berteriak memanggil namaku di seluruh rumah. Namun sekeras apa pun, tidak ada yang menyahut.Ayah menyusul di belakang. Tiba-tiba keduanya terpikir sesuatu, lalu berlari naik ke lantai atas.Kamar masih terlihat seperti biasa.Hanya saja, di tempat sampah terlihat jelas tumpukan foto dan polaroid yan

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 5

    Brak! Ponsel di tangan Ibu terjatuh ke lantai. Ibu membeku di tempat.Ayah juga kaget melihat reaksi Ibu.Ayah memungut ponsel itu, lalu bertanya lagi dengan nada tak percaya."Bu Indri, apa mungkin ada kekeliruan?""Sherly aja cuma dapat 670. Mana mungkin Alya dapat nilai setinggi itu."Bu Indri makin bingung.Dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang tua yang begitu tidak peduli pada anaknya? Baru tahu nilainya sekarang, itu pun karena orang lain yang memberi tahu.Bahkan setelah tahu pun, reaksi pertama mereka bukannya senang, melainkan tidak percaya sama sekali."Ayah Alya, saya sangat yakin. Alya kali ini tampil luar biasa.""Dia benar-benar dapat 686 poin."Ayah langsung kehilangan seluruh tenaganya. Dia jatuh terduduk di kursi.Di atas panggung, pembawa acara memanggil mereka naik untuk memberikan sambutan sebagai orang tua Sherly. Seluruh lampu di aula pesta menyorot ke wajah mereka.Namun saat ini, wajah mereka berdua sudah pucat pasi.Di bawah tatapan semua orang, mer

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 4

    Upacara kelulusan selesai. Semua orang berjalan kembali.Bahkan baru setelah Sherly mengingatkan, Ayah, Ibu, dan Rian akhirnya teringat padaku."Alya, kamu kok pergi-pergi sendiri, sih."Aku tidak menjawab. Aku langsung masuk ke mobil tanpa menggubris mereka. Duduk di baris paling belakang.Mereka tidak peduli. Begitu masuk mobil, langsung bersemangat membahas universitas dan jurusan."Sherly, kamu sama Rian bareng di Universitas Nusa Bangsa, ya. Ada dia yang jagain kamu, kami jadi tenang."Sherly mengangguk dengan pipi merah.Soal pilihan jurusan, Ayah dan Ibu beda pendapat sampai sempat berdebat.Akhirnya, mereka memutuskan untuk mendengarkan pilihan Sherly sendiri."Sherly itu pintar, punya pendirian, nggak seperti Alya. Sherly nggak pernah bikin kami khawatir."Aku tidak berkata sepatah pun dari tadi.Hampir sampai rumah, baru mereka menyadari keberadaanku di baris paling belakang.Ibu bertanya, "Alya, kamu mau gimana?"Belum sempat aku menjawab, Rian sudah buka suara lebih dulu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status