Share

Bab 3

Author: Silas
Keesokan paginya, suara dari lantai bawah membangunkanku.

Dengan kesadaran yang masih separuh, aku bangkit dan mengintip ke bawah.

Rian sudah duduk di ruang tamu, berpakaian rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Melihatku, dia melambaikan tangan.

"Alya, hari ini upacara kelulusan. Kamu kok belum siap-siap?"

Demam membuat kepalaku berkabut. Aku bahkan belum sempat membaca pesan di grup kelas.

Belum sempat aku menjawab, Sherly sudah keluar dari kamarnya.

Gaun yang dikenakannya itu kubuat sendiri. Aku bahkan mulai belajar menjahitnya sejak enam bulan sebelumnya.

Dengan sulaman kelinci kecil dan rubah kecil.

Gaun itu sengaja kubuat sepasang dengan setelan yang dikenakan Rian.

Hanya dua gaun sederhana. Namun, entah sudah berapa kali jariku tertusuk jarum demi menyelesaikannya.

Sherly berdiri dalam gaun itu, tangannya meremas ujung rok dengan gelisah.

"Alya, aku suka banget sama gaun ini. Bibi bilang aku kelihatan cantik memakainya."

"Tapi, kalau kamu nggak rela, aku lepas sekarang juga. Aku balikin ke kamu."

Bibirnya berkata ingin melepasnya, tetapi jemarinya justru menggenggam ujung rok itu makin erat.

Rian langsung bergegas naik, berdiri di depan Sherly seperti melindunginya.

"Alya, kamu 'kan punya banyak gaun bagus. Sherly cuma mau yang ini doang. Kenapa kamu maksa dia melepaskannya?"

Ibu juga keluar karena mendengar keributan.

"Alya, kamu bisa nggak sih, jangan perhitungan banget."

"Aku yang nyuruh Sherly pakai. Cuma satu gaun doang. Kamu pakai yang lain aja, 'kan bisa."

Tenggorokanku terasa seperti disumpal pecahan kaca.

"Aku nggak maksa dia."

Namun, tak seorang pun mau mendengarkan penjelasanku.

Ketika aku selesai bersiap dengan terburu-buru, mereka sudah pergi lagi, meninggalkanku, menuju sekolah.

Di upacara kelulusan, Rian dan Sherly berdiri memberikan sambutan sebagai perwakilan siswa berprestasi.

Mereka berdiri di atas panggung mengenakan pakaian pasangan. Sama-sama bersinar, keduanya tampak begitu serasi.

Rian berdiri di sisinya sambil menuntunnya dengan hati-hati.

Takut dia belum terbiasa pakai sepatu hak tinggi untuk pertama kalinya.

Pidato selesai. Sorak-sorai di bawah panggung tak henti-hentinya bersahutan.

"Rian sama Sherly serasi banget! Katanya mereka milih universitas yang sama juga. Duh, aku jadi pengin nge-ship mereka!"

"Argh! Aku juga! Cowok pinter, cewek cantik, dua-duanya juara. Siapa yang tahan buat nggak baper!"

"Eh, ada yang nyadar nggak, gaun mereka model pasangan! Diam-diam ngasih momen manis banget!"

Tiba-tiba seseorang nyeletuk tanpa aba-aba.

"Kalau nggak salah, Rian dulu suka sama teman masa kecilnya, 'kan?"

Semuanya terdiam. Teman-teman di sekitarku yang mengenaliku menatapku dengan tatapan iba.

Aku tidak berkata apa-apa. Hanya menatap kursi kosong di belakangku.

Di upacara kelulusan, ada kursi khusus yang disediakan untuk orang tua.

Temanku bertanya, "Alya, bukannya orang tuamu paling sayang sama kamu?"

"Kok mereka nggak datang di upacara kelulusan?"

Aku mengalihkan pandangan ke arah orang tuaku yang duduk di belakang Sherly dan Rian.

Aku tersenyum getir, lalu menggeleng.

"Ya. Mereka nggak akan datang."

Aku juga sudah tidak butuh mereka datang.

Wali kelas memanggilku ke ruangannya.

Sambil menunjuk formulir pilihan universitas yang sudah kuserahkan, dia menghela napas panjang.

"Alya, nilai ujianmu kali ini bagus banget. Kenapa kamu nggak pilih Universitas Nusa Bangsa?"

"Universitas Samudra yang kamu pilih memang kampus top, tapi jaraknya lebih dari dua ribu kilometer dari sini."

"Coba pikir-pikir lagi, ya."

Ironisnya, sejak nilai ujian diumumkan sampai sekarang, satu-satunya orang yang peduli pada hasil ujianku hanyalah wali kelasku.

"Bu, saya sudah yakin. Terima kasih."

Kota tempat universitas itu berada berjarak lebih dari dua ribu kilometer dari rumahku.

Dua ribu kilometer itu akan menjadi jarak yang tak ingin lagi kutempuh untuk kembali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 9

    Rian berdiri di depan gedung perkuliahan, terlihat jauh lebih murung dari biasanya.Ketika melihatku, matanya berbinar."Alya!""Aku sudah mencarimu berkali-kali. Akhirnya ketemu juga."Saat berbicara, nada suaranya terdengar sedikit sengau, seolah menahan rasa sedih. Dia maju, ingin menggenggam tanganku. Namun, aku mundur beberapa langkah."Rian.""Kamu ini mau apa, sih? Sudah cukup belum dramanya?"Aku pernah menyukai Rian selama bertahun-tahun. Tidak pernah sekali pun aku berkata kasar padanya.Sekarang dia membeku di tempat."Alya ... kamu bilang apa tadi?""Kamu tahu nggak, seberapa besar aku merindukanmu?""Aku terus menunggumu di Universitas Nusa Bangsa. Kenapa kamu malah daftar di sini?"Aku melirik jam. Sudah hampir masuk kelas.Aku sudah tidak punya kesabaran lagi. Aku langsung berkata terus terang. "Karena aku nggak mau lihat kamu sama Sherly.""Aku muak melihatmu. Puas?"Setelah bicara begitu, aku berjalan melewatinya, menuju gedung perkuliahan.Tiba-tiba dia berlari meng

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 8

    Medali di tanganku jatuh ke tanah.Aku terus mundur. Kakiku menginjak batu hingga tubuhku kehilangan keseimbangan, lalu aku jatuh terduduk di tanah. Ayah dan Ibu mendekat, ingin membantuku berdiri. Namun, kenangan-kenangan buruk itu ....Kenangan yang hampir berhasil kulupakan kembali menyerang bersamaan dengan nyeri yang menusuk di dada."Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!"Tangan Ayah dan Ibu membeku di udara. Kepahitan memenuhi mata mereka. "Alya ....""Kamu kenapa, Nak? Ini Ibu, lho."Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Aku terisak.Kata demi kata, kuucapkan semua momen saat aku diabaikan, saat perasaanku dianggap tak penting."Di hatiku, Ibu sudah bukan ibuku sejak lama.""Aku nggak punya Ibu yang cuma ingat selera orang lain.""Aku nggak punya Ibu yang nggak pernah lihat usahaku, yang selalu merasa aku kalah dari orang lain dalam segala hal."Aku menoleh ke Ayah yang berdiri di samping, diam, tetapi air matanya mengalir deras."Aku juga nggak punya Ayah yang selalu me

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 7

    Begitu turun dari pesawat, aku baru saja menyalakan ponsel.Ponselku langsung seperti terkena virus, ratusan pesan bermunculan.Ditambah panggilan tak terjawab dari berbagai orang.Ibu meninggalkan pesan di chat.[Alya, kamu ini kok keras kepala banget, sih.][Nilaimu sebaik ini, kenapa nggak bilang ke kami?][Alya, kamu di mana? Kapan kamu bisa bikin Ibu tenang, sih?]Rian juga mengirim banyak pesan.[Alya, kamu ternyata dapat nilai setinggi ini! Bagus banget! Kita bisa ke Universitas Nusa Bangsa bersama!][Udah, jangan ngambek lagi. Bibi jadi khawatir, nih. Cepetan pulang, ya.][Beberapa hari lagi kita daftar ke kampus bareng, ya.]Aku mengernyit sambil membaca semua pesan itu, lalu langsung memblokir dan menghapus semuanya. Aku melangkah keluar dari bandara. Angin Kota Samudra menyambut wajahku.Membawa keberanian yang baru lahir, aku akan menyongsong masa depan yang benar-benar milikku.Saat keluar dari bandara, aku sedang mencari rute ke kampus di aplikasi navigasi.Seorang wanit

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 6

    Napas Rian tercekat. Dia langsung merebut ponsel itu.Menatap angka di layar dan kode verifikasinya, berulang kali.Lalu mengeluarkan ponselnya sendiri, membandingkannya.Dia menatap Ibu, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak satu pun kata pembelaan keluar.Karena aku memang benar-benar dapat nilai setinggi itu. Dan dia memang benar-benar bilang aku harus mengulang."Bibi ...."Ibu mengangkat tangan, memotong kata-katanya, lalu berbalik pergi.Di jalan, Ibu terus-menerus meneleponku.Rian juga berjongkok di sudut aula pesta, mengirim banyak pesan untukku.Saat itu aku sedang berada di dalam pesawat. Tidak tahu apa-apa.Sesampainya di rumah, Ibu langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa.Dia berteriak memanggil namaku di seluruh rumah. Namun sekeras apa pun, tidak ada yang menyahut.Ayah menyusul di belakang. Tiba-tiba keduanya terpikir sesuatu, lalu berlari naik ke lantai atas.Kamar masih terlihat seperti biasa.Hanya saja, di tempat sampah terlihat jelas tumpukan foto dan polaroid yan

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 5

    Brak! Ponsel di tangan Ibu terjatuh ke lantai. Ibu membeku di tempat.Ayah juga kaget melihat reaksi Ibu.Ayah memungut ponsel itu, lalu bertanya lagi dengan nada tak percaya."Bu Indri, apa mungkin ada kekeliruan?""Sherly aja cuma dapat 670. Mana mungkin Alya dapat nilai setinggi itu."Bu Indri makin bingung.Dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang tua yang begitu tidak peduli pada anaknya? Baru tahu nilainya sekarang, itu pun karena orang lain yang memberi tahu.Bahkan setelah tahu pun, reaksi pertama mereka bukannya senang, melainkan tidak percaya sama sekali."Ayah Alya, saya sangat yakin. Alya kali ini tampil luar biasa.""Dia benar-benar dapat 686 poin."Ayah langsung kehilangan seluruh tenaganya. Dia jatuh terduduk di kursi.Di atas panggung, pembawa acara memanggil mereka naik untuk memberikan sambutan sebagai orang tua Sherly. Seluruh lampu di aula pesta menyorot ke wajah mereka.Namun saat ini, wajah mereka berdua sudah pucat pasi.Di bawah tatapan semua orang, mer

  • Sekali Beranjak, Terpisah Ribuan Gunung   Bab 4

    Upacara kelulusan selesai. Semua orang berjalan kembali.Bahkan baru setelah Sherly mengingatkan, Ayah, Ibu, dan Rian akhirnya teringat padaku."Alya, kamu kok pergi-pergi sendiri, sih."Aku tidak menjawab. Aku langsung masuk ke mobil tanpa menggubris mereka. Duduk di baris paling belakang.Mereka tidak peduli. Begitu masuk mobil, langsung bersemangat membahas universitas dan jurusan."Sherly, kamu sama Rian bareng di Universitas Nusa Bangsa, ya. Ada dia yang jagain kamu, kami jadi tenang."Sherly mengangguk dengan pipi merah.Soal pilihan jurusan, Ayah dan Ibu beda pendapat sampai sempat berdebat.Akhirnya, mereka memutuskan untuk mendengarkan pilihan Sherly sendiri."Sherly itu pintar, punya pendirian, nggak seperti Alya. Sherly nggak pernah bikin kami khawatir."Aku tidak berkata sepatah pun dari tadi.Hampir sampai rumah, baru mereka menyadari keberadaanku di baris paling belakang.Ibu bertanya, "Alya, kamu mau gimana?"Belum sempat aku menjawab, Rian sudah buka suara lebih dulu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status