LOGINUrat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan.
Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.
Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"
Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.
Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.
Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.
Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil.
"Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan di depan Paviliun Padma. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Anda."
Isvara menatap mereka satu per satu dengan pandangan kabur. Melihat penampilan keduanya, Isvara yakin mereka adalah dayang istana kepercayaan Sang Putri.
"Kalian...Bi Sumi dan Ratih?"
Keduanya tertegun. "Tentu saja, Putri. Siapa lagi?" jawab Ratih, si dayang muda, sambil menghapus air matanya.
Dari ucapan mereka, Isvara baru mengetahui bahwa pria yang ia provokasi tadi adalah Rudra Adhiyaksa, Jenderal besar Mahipura yang disegani. Dalam kisah novel, pria bermulut pedas itu adalah musuh bebuyutan Putri Isvara—alias dirinya sendiri.
Kenyataan pahit ini membuat keringat di tubuh Isvara kian mengucur deras. Panas di dadanya mulai menyesakkan pernapasan. Semua gejala ini menunjukkan bahwa ia telah memasuki fase kritis racun alkaloid.
"Bi Sumi, Ratih, dengarkan aku!" perintah Isvara dengan suara parau. Ia harus bertindak sekarang atau ia akan mati lebih cepat dari alur cerita.
"Cari arang kayu di dapur, tumbuk sampai sehalus mungkin. Bawa juga air kelapa hijau dan madu ke sini. Cepat!"
"T-tapi Putri, untuk apa arang?” tanya Bi Sumi bingung.
"Lakukan saja!" bentak Isvara, membuat kedua dayang itu terlonjak dan lari tunggang-langgang untuk melaksanakan perintahnya.
Beberapa menit berlalu hingga mereka kembali. Isvara dengan tangan gemetar mencampurkan serbuk hitam arang ke dalam air kelapa, lalu meneteskan sedikit madu. Membuat kedua dayangnya tercengang dengan mulut menganga lebar.
Tanpa ragu, Isvara meminum cairan hitam pekat itu untuk menyerap racun dalam lambungnya. Ia mengabaikan rasa pasir yang melewati kerongkongan dan meneguknya sampai tandas.
Tak lama kemudian, Isvara memuntahkan kembali cairan tersebut ke dalam wadah perunggu, lalu terduduk lemas di tepi pembaringan.
‘Kenapa aku bernasib sial begini? Harus menjadi putri mahkota jahat yang berakhir tragis,’ keluh Isvara dalam hati.
Ia bersandar sejenak pada bantal untuk menenangkan diri. Namun, belum sempat ia mengatur napas, pintu kamar kembali terbuka.
Tiga sosok pria masuk dengan langkah mantap dan tatapan yang sangat datar, seolah kehadiran mereka hanyalah sebuah beban formalitas.
Di paling depan, berdiri seorang pria berjubah putih bersih. Wajahnya teduh dan berkharisma, mirip seorang pendeta suci dalam kisah masa lampau. Sedangkan di dahinya terdapat sebuah tilaka berwarna merah. Namun, di balik matanya yang jernih tersimpan sebuah teka-teki.
Di sebelahnya berdiri seorang pria yang mengenakan tunik emas dengan perhiasan zamrud di jemarinya. Wajahnya yang rupawan dan binar matanya yang cerdas memancarkan aura keangkuhan.
Pria terakhir mengenakan pakaian serba hitam, mirip seragam seorang hakim di persidangan. Ia berdiri tegak, wajahnya tak kalah tampan dengan garis wajah yang simetris dan hidung mancung. Namun, ekspresinya begitu kaku, seperti hendak menjatuhkan vonis penjara pada Isvara detik itu juga.
Mata Isvara membelalak sempurna. Ia tahu siapa ketiga pria sinis ini.
Mereka adalah Tiga Tiang Darma : Samudra, Sang Pendeta Tantra Suci; Vajra, putra tunggal Perdana Mentri sekaligus sastrawan terkaya di Mahipura; serta Kaliyan, Hakim Agung Muda di pengadilan tinggi.
Ketiganya merupakan calon suami Isvara yang seharusnya menjadi pelindung takhta. Namun, mereka justru selalu memihak pada adik tirinya yang lemah lembut, Putri Candrani.
Kaliyan, sang Hakim Agung, membungkukkan badan kepada Isvara sebelum melangkah maju. Suaranya terdengar seperti ketukan palu pengadilan yang dingin.
"Hanya karena kami memberi ucapan selamat ulang tahun pada Putri Candrani, Anda melakukan tindakan ceroboh, Tuan Putri. Percobaan bunuh diri di lingkungan istana termasuk pelanggaran hukum yang berat.”
Isvara terpaku. Jadi mereka menganggap aksi bunuh diri "Isvara yang asli" hanyalah bentuk kecemburuan murahan karena mereka lebih memperhatikan Candrani?
Vajra mendengus, merapikan cincin di jarinya dengan raut muak. "Tindakan Anda sama sekali tidak memiliki nilai sastra. Lebih cocok menjadi drama picisan di festival akhir tahun."
Mendengar itu, kemarahan Isvara mulai memercik. Namun sebelum ia sempat membalas, Samudra berjalan mendekat. Ia menunduk, menatap dalam ke mata Isvara dengan sorot menghipnotis.
"Tuan Putri, Anda tampak berantakan," bisik Samudra dengan nada halus yang justru terasa mengerikan.
"Mungkin, saya perlu mengadakan upacara pengusiran roh jahat untuk membuat Anda sadar. Saya yakin ada pengaruh kekuatan jahat yang selalu membuat Anda lepas kendali.”
Isvara mengepalkan tangannya di balik sutra merah. Ia dikepung oleh para pria tampan yang semuanya memandang rendah padanya, bahkan mungkin menginginkan kejatuhannya. Dan sebagai seorang calon ratu, ia tidak akan diam begitu saja.
Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku
Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den
Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.
Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te
Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan
Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I







