Share

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana
Author: Risca Amelia

Berpindah ke Tubuh Antagonis

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-01-28 00:22:07

Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.

Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.

Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.

Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.

Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. 

Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?

Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung Isvara menangkap aroma menyengat dari cawan di tangannya.

Sebagai dokter bedah yang pernah mempelajari toksikologi kuno, insting medisnya langsung mengambil alih. Ini bukan sekadar minuman biasa, melainkan aroma alkaloid yang mematikan.

Detik itu juga Isvara menyadari sesuatu. Ia tidak hanya berpindah dimensi, tetapi sedang berada di tengah adegan bunuh diri yang konyol.

Tok! Tok! Tok!

"Tuan Putri! Tuan Putri Isvara! Tolong buka pintunya! Jangan membuat kami takut!”

Teriakan dari balik pintu membuat Isvara tersentak. “Putri? Siapa yang mereka panggil Putri?”

Isvara mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa seberat batu. Sebelum ia sempat meletakkan cawan itu, pintu kamar didobrak dengan dentuman yang menggetarkan dinding.

BAM!

Engsel pintu nyaris terlepas. Isvara tersentak hebat hingga cairan di dalam cawan tumpah sebagian, membasahi karpet bulu di bawah kakinya. 

“S-siapa kau?” tanya Isvara terbata. 

Ia melihat sosok seorang pria yang melangkah masuk. Wajahnya sangat tampan, tetapi rautnya sedingin es di puncak gunung. 

Pria itu terus mendekat tanpa menjawab pertanyaan Isvara. Bayangannya yang tinggi besar seakan menelan tubuh Isvara yang masih terduduk lemas di tempat tidur.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna biru yang disampirkan di bahunya. Sementara di pinggangnya melingkar sabuk kulit dengan ukiran kepala macan, simbol kekuatan yang mengintimidasi.

Dengan sorot mata setajam elang, pria tersebut menatap cawan di tangan Isvara.

"Anda bersandiwara lagi, Putri?" tanya pria itu dengan nada dingin. Suara baritonnya yang berat terasa membekukan seluruh ruangan. 

"Setelah gagal mendapatkan perhatian, sekarang Anda menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan?"

Isvara mengerutkan kening, rasa pening di kepalanya semakin menjadi. "Aku... Putri Isvara?"

"Benar. Anda Putri Mahkota Isvara," potong pria itu cepat. 

Ia merebut cawan dari tangan Isvara dengan gerakan kasar yang membuat jemari Isvara memerah. 

Ketika pria itu mencium aroma cairan yang tersisa, seketika rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol.

"Racun daun ular? Apa menurut Anda dengan meminum racun, ketiga pria 'suci' itu akan segera datang kemari?"

Ucapan pria tersebut membuat Isvara tertegun. Ia mencoba mencari titik terang dalam kebuntuan dan kekacauan pikirannya saat ini.

Putri Mahkota Isvara dan ‘Tiga Pria Suci?’ Apakah ini adalah plot dari novel “Sang Ratu Mahipura” yang ia baca beberapa hari lalu? 

Tidak, ini mustahil. Mana mungkin jiwanya berpindah ke dalam tubuh Putri Isvara, sang antagonis yang akan dihukum mati di akhir cerita? Mereka memang memiliki nama yang sama, tetapi Putri Isvara adalah tokoh fiksi yang dibenci semua orang. 

Bunyi keras cawan yang diletakkan pria itu memecah lamunan Isvara. 

"Berhentilah mengacaukan kedamaian istana, Putri.”

Setelah melontarkan peringatan keras, pria itu hendak berbalik dengan jubah yang berkibar gagah. Namun, saat itulah sesuatu dalam tubuh Isvara meledak.

Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba merambat dari perut bagian bawah ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. 

Isvara tersentak. Sebagai dokter, ia tahu ini bukan sekadar reaksi tubuh biasa. 

Tampaknya pemilik tubuh yang asli terlanjur meminum sebagian racun, hingga mengalami gejala mirip orang yang terkena afrodisiak. Jika ini benar, ia harus segera mencari pertolongan medis.

Hanya saja, tangan Isvara terlanjur bergerak sendiri tanpa bisa dicegah. Ia pun bangkit dari pembaringan dan menarik jubah biru pria itu dengan tenaga yang entah datang dari mana.

"Apa yang Anda lakukan—" 

Kalimat pria itu terputus saat Isvara tiba-tiba berjinjit dan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Posisi ini membuat mereka harus beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat. 

"Tolong aku… tubuhku sangat panas."

Tanpa menunggu jawaban, Isvara menempelkan bibirnya yang pucat ke bibir pria itu, lalu menekannya perlahan. Bagi Isvara, kehangatan dan aroma maskulin pria ini bak oase di tengah gurun api yang membakar tubuhnya. 

Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Dengan satu sentakan kuat, pria tersebut melepaskan pertautan bibir mereka.

"Jernihkan pikiran Anda. Hamba bukan tempat pelampiasan sesaat," desisnya ketus, napasnya mulai tidak beraturan. 

Sebelum Isvara sempat membalas, tubuhnya mendadak terangkat di udara.

Pria itu menggendongnya dalam satu gerakan cepat, lalu menghempaskannya kembali ke pembaringan. Namun, alas tidur yang nyaman bahkan tidak mampu meredam rasa panas yang kian menggila.

Jiwa Isvara kini bergejolak, antara nalar seorang dokter dan insting tubuh yang teracuni. 

Di ambang batas kesadarannya, Isvara nekat menarik pria itu hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.

“Kau ini pria sejati atau bukan?” tantang Isvara dengan napas memburu. Ia bisa melihat pupil mata pria itu melebar.

“Kalau kau tidak berani menyentuhku, lepaskan saja jubah kebesaranmu. Kau tidak pantas menjadi pemimpin pasukan Mahipura!”

Isvara tersentak setelah kalimat memalukan itu meluncur dari bibirnya.

Bagaimana jika pria ini mengabulkan permintaannya? Mungkinkah dia telah kehilangan akal sehat karena menempati tubuh seorang tokoh antagonis?

Suasana kamar tiba-tiba menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling berkejaran. 

Dengan sisa kewarasan, Isvara berusaha untuk meralat ucapannya sendiri. Namun, pria itu terlanjur memandangnya dengan tatapan gelap, seperti seekor serigala yang hendak menerkam mangsa. 

"Anda menantang orang yang salah, Tuan Putri.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Pertaruhan Nyawa

    Isvara keluar dari kolam dengan gerakan anggun, lalu mengenakan busana yang telah disiapkan. Sebuah gaun satin berwarna kuning gading yang dipadukan dengan selendang biru berhiaskan manik-manik perak."Ratih, masuklah!" teriak Isvara.Tak berapa lama, Ratih datang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat pasi. Ia langsung sujud menyembah di kaki Isvara dengan tubuh gemetaran Dalam ingatan Ratih, Isvara biasanya akan murka jika ia lalai. Kerap kali ia dihukum dengan pukulan rotan, hingga telapak tangannya membiru."Ampun, Tuan Putri! Hamba mohon ampun! Hamba tadi ketiduran sehingga tidak tahu kalau Jenderal masuk... Hamba pantas dihukum!" isaknya ketakutan.Di luar dugaan, sebuah tangan lembut memegang pundaknya. "Bangunlah, Ratih. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti sangat kelelahan hari ini," ucap Isvara tenang.Ratih tertegun, menatap junjungannya itu dengan mata mengerjap heran. "Tuan Putri... Anda tidak marah?""Tidak. Sekarang, tolong ikatkan selendang ini di pinggangku. Lalu, antar aku

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Mempelai Pria Pengganti

    Isvara menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir pikiran tentang Rudra. Saat ini, tujuannya hanya satu, tetap bertahan hidup sampai akhir.Jika alur novel tidak berubah, tidak lama lagi Baginda Raja Mahasena akan menghelat pernikahan akbar antara Putri Mahkota dan Tiga Tiang Darma. Dan, pernikahan itu adalah awal dari segala bencana.Ia akan menjadi istri yang diabaikan, hingga akhirnya menjadi gelap mata dan mencoba meracuni Candrani. Namun, secara tak sengaja ia justru melenyapkan nyawa Sang Baginda Raja. "Pernikahan itu harus dibatalkan," Isvara mengepalkan tangannya di bawah air. "Aku harus menghindar, meski itu artinya aku akan meninggalkan istana ini selamanya."Kali ini, Isvara berpikir cukup lama. Dia adalah seorang Putri Mahkota yang dijaga ketat, pastinya tidak akan mudah untuk melarikan diri. Di sisi lain, bila dia menolak pernikahan politik secara terang-terangan, ayahnya pasti akan murka. Kecuali, ia bisa menemukan calon mempelai pria pengganti yang setara den

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Melepaskan Cinta Palsu

    Isvara beralih menatap ketiga calon suaminya dengan ekspresi datar. “Aku perlu istirahat untuk mempersiapkan diri menyambut upacara besok. Silakan kalian semua keluar.”Merasa terusir, para pria itu memutar tubuh lantas berjalan menuju pintu yang masih terbuka lebar. Namun, Candrani tidak menyusul mereka. Ia justru mendekat sambil menatap Isvara dengan mata berkaca-kaca."Kakak... aku sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Candrani dengan suara bergetar. “Semua benda berharga ini adalah simbol cinta Tiga Tiang Darma padamu. Kau yang harus menyimpannya, Kak."Tutur kata Candrani yang begitu lemah lembut membuat Isvara melangkah maju. Niatnya hanya ingin meyakinkan Candrani bahwa ia rela menyerahkan tiga pria menyebalkan itu.Akan tetapi, begitu ia mengulurkan tangan, Vajra dan Kaliyan langsung bergerak secepat kilat. Mereka menarik mundur tubuh Candrani, menyembunyikan sang putri di belakang punggung. Seolah, Isvara adalah monster yang hendak mencabik-cabik adiknya tanpa belas kasihan.

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tantangan dari Sang Putri

    Suasana di dalam kamar terasa kian menegangkan. Isvara, yang masih merasakan sisa-sisa mual di perutnya, berdiri dengan punggung tegak. Setelah lolos dari ambang kematian, ia tidak berniat untuk menyerah pada intimidasi ketiga pria ini.Tawaran "upacara pengusiran roh jahat" yang dilontarkan Samudra adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum bangsawan, apalagi bagi seorang Putri Mahkota. Namun, Isvara justru menangkap bola panas itu dengan keberanian yang tak terduga.Ia tahu Samudra selalu merasa punya hak untuk mendidiknya, sebab ia dibesarkan oleh mendiang Ratu Ayudya, ibu kandung Isvara sendiri. Dengan kata lain, Samudra adalah kakak angkatnya. "Upacara pengusiran roh jahat?" Isvara mengulang kata-kata itu dengan nada yang terdengar menyerupai tawa kecil. "Tantangan yang menarik, Kak Samudra. Tapi, sebuah upacara tanpa pertaruhan akan menjadi pertunjukan membosankan. Mari kita buat ini menjadi lebih menarik."Kaliyan, sang Hakim Agung, menyipitkan mata. Sifat kaku dan logisnya te

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Tiga Tiang Dharma

    Urat-urat di leher pria itu berdenyut seiring dengan amarah yang tertahan. Isvara semakin was-was. Nalar dokternya berteriak bahwa ia baru saja memicu ledakan dari seorang pria yang sangat berbahaya.Dengan susah payah, Isvara mencoba membuka mulutnya yang kering. “Lupakan... aku tidak—"Sebelum kalimat Isvara selesai, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu.Lekas saja pria itu menghempaskan tangan Isvara yang menahan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar.Tepat setelah itu, dua orang wanita menghambur masuk. Mereka mengenakan kemben kain sutra berwarna marun yang membebat dada dengan rapi, dipadukan dengan kain lilit bermotif bunga.Wanita yang lebih tua, berusia sekitar empat puluh tahun, langsung memegangi pundak Isvara dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya, seorang gadis muda terisak kecil."Tuan Putri Mahkota, Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu. "Syukurlah Jenderal Rudra sedang lewat dan mendengar keributan

  • Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana   Berpindah ke Tubuh Antagonis

    Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status