Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 2. Kesempatan Kedua

Share

2. Kesempatan Kedua

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-05-23 11:06:24

Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka.

Tepat empat tahun yang lalu, di mana usia Hazel masih 21 tahun.

Hazel masih terdiam dan merenung, ia merasa jika harusnya dirinya tak berada di sana. Ada perasaan yang janggal di hati Hazel.

’Aku... belum mati?’ batin Hazel bergolak. ’Tidak. Aku sudah mati! Aku ingat jelas rasa sakit dari racun itu.’

Ia menatap tangannya sendiri. Kulitnya masih merona sehat, tidak pucat dan dingin seperti beberapa saat lalu. Detak jantungnya berirama kuat di dalam dadanya.

Saat kesadaran penuh itu menghantamnya, sebuah sengatan emosi yang hebat membuat napas Hazel memburu. Ini bukan mimpi di ambang kematian.

Ini adalah kenyataan yang diputar balik. Tuhan, atau apa pun kekuatan di alam semesta ini, rupanya telah mendengar sumpah matinya.

Ia diberikan kesempatan untuk terlahir kembali. Ia kembali ke titik di mana semua kehancurannya belum dimulai.

"Hazel? Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" Axel menghentikan makannya, mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi Hazel dengan raut wajah yang tampak begitu khawatir—akting yang sangat sempurna.

Sebelum tangan Axel menyentuh kulitnya, Hazel dengan anggun memundurkan kepalanya, menghindari sentuhan itu secara halus namun tegas. Sesuatu di dalam diri Hazel telah berubah.

Rasa takut dan cinta butanya sudah mati di lantai marmer tiga tahun yang akan datang. Yang tersisa di dalam raga ini hanyalah jiwa penuh dendam yang siap membakar.

Hazel memejamkan mata sejenak, menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka matanya kembali, tatapan matanya yang dulu lembut dan naif, kini berubah menjadi sedingin es, menatap lurus ke arah Axel dan Luna bergantian.

"Aku tidak apa-apa," ujar Hazel, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius, senyuman yang membuat Luna mendadak merasa tidak nyaman tanpa tahu alasannya.

Gemuruh di dada Hazel kian sulit diredam. Di bawah meja, jemarinya meremas kain gaun beludrunya dengan amat kencang. Pikiran-pikiran di kepalanya berputar secepat badai.

’Aku masih bertunangan dengan Axel! Kami belum menikah!’ Sebuah kilatan harapan melintas di benak Hazel.

Artinya, takdir buruk itu belum sepenuhnya terkunci. Dia masih memiliki ruang untuk bernapas, masih ada waktu untuk memotong tali jerat yang perlahan-lahan dipasang oleh Axel dan Luna di lehernya. Dia bisa menghindari pernikahan jahanam itu.

Namun, Hazel tidak boleh gegabah. Otak dinginnya segera memperingatkan jika dia mendadak berteriak membatalkan pertunangan malam ini tanpa alasan yang logis, papanya pasti akan mengamuk, dan Axel akan langsung memasang kewaspadaan tinggi.

Dia butuh strategi yang matang. Untuk saat ini, prioritas utamanya adalah keluar dari ruangan yang menyesakkan ini. Dia butuh udara segar untuk menenangkan diri dan menyusun rencana.

Hazel meletakkan garpu dan pisaunya dengan pelan, sengaja menimbulkan bunyi denting halus untuk menarik perhatian.

"Papa, Mama..." Hazel menatap kedua orang tuanya yang duduk di ujung meja utama. "Saya mohon izin untuk pulang lebih awal malam ini."

Suasana hangat di meja makan itu mendadak mendingin. Sang Papa, John Mauve, langsung meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan sedikit keras ke meja. Dahinya mengernyit dalam, menatap Hazel dengan pandangan menegur yang tajam.

"Pulang duluan?!" suara John terdengar berat dan penuh wibawa, tipe suara yang biasanya langsung membuat Hazel menciut ketakutan. "Hazel, ini malam perayaan pernikahan Papa dan Mamamu yang ke-10! Axel dan orang tuanya juga masih di sini! Lagi pula, setelah makan malam ini selesai, kita semua sudah menjadwalkan pembicaraan serius dengan keluarga Axel untuk menentukan tanggal pernikahan kalian. Di mana sopan santunmu?!"

"Betul kata Papa, Kak!" Luna menimpali dengan nada bicara yang dibuat sehalus mungkin, seolah-olah dia adalah adik yang sangat perhatian. "Ini kan malam penting untuk Papa dan Mama. Masa Kak Hazel tega merusaknya?"

Hazel mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Dulu, kalimat sindiran Luna dan teguran papanya akan langsung membuatnya merasa bersalah dan meminta maaf sambil menunduk. Tapi Hazel yang sekarang hanya menatap mereka dengan tatapan datar, bahkan cenderung sedingin es.

"Saya benar-benar minta maaf, Papa, Mama, Om dan Tante!" ujar Hazel, suaranya tetap tenang namun terselip ketegasan yang tidak bisa dibantah. Dia sengaja menyentuh pelipisnya, memasang ekspresi agak pucat. "Saya tidak berniat tidak menghormati Papa dan Mama beserta Om dan Tante juga. Tapi sejak sore tadi kepala saya sangat pusing dan mendadak tubuh saya rasanya tidak enak badan. Saya khawatir jika memaksakan diri tinggal, saya justru akan pingsan di tengah aula luar dan mempermalukan keluarga kita."

Mendengar itu, Axel langsung memasang raut wajah cemas yang sangat dramatis. Pria itu menggeser kursinya mendekat dan menyentuh lengan kursi Hazel.

"Hazel, kalau begitu biar aku yang mengantarmu pulang," potong Axel cepat, suaranya terdengar begitu penuh perhatian di telinga orang-orang di ruangan itu. "Aku tidak akan tenang membiarkan tunanganku pulang sendirian dalam keadaan sakit."

’Tunangan? Menjijikkan,’ umpat Hazel dalam hati. Sentuhan atau bahkan sekadar kedekatan Axel saat ini membuatnya ingin muntah.

"Tidak perlu, Axel," Hazel langsung berdiri, menarik dirinya menjauh dengan gerakan yang begitu anggun namun sarat akan penolakan. Ia bahkan tidak sudi menatap mata Axel. "Aku sudah meminta sopir pribadiku untuk menyiapkan mobil di depan lobby. Kau tetaplah di sini bersama Papa dan Luna untuk menemani para tamu."

Sebelum papanya atau Axel sempat melontarkan protes atau argumen lain, Hazel memberikan anggukan hormat yang singkat kepada orang tuanya.

"Saya permisi."

Dengan langkah lebar dan dagu terangkat tegas, Hazel berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan privat tersebut. Gaun malamnya berkibar seiring dengan langkahnya yang mantap.

Dia tidak menoleh ke belakang sedikit pun, mengabaikan tatapan heran Axel dan kerutan tidak suka di wajah papanya. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Hazel berjalan pergi dengan memegang kendali atas langkahnya sendiri.

Kalau di kehidupannya yang lalu, Hazel pasti akan menuruti semua perkataan mereka dengan senang hati seperti anjing penurut yang baik dan patuh.

"Jangan harap kali ini aku akan tunduk pada manusia menjijikkan seperti kalian!" Kedua tangan Hazel mengepal dengan erat penuh dengan kebencian.

Langkah kaki Hazel bergema cepat di sepanjang koridor VIP yang sepi, menjauh dari ruang makan privat keluarganya. Jantungnya masih bertalu hebat. Ia hanya butuh beberapa menit lagi untuk mencapai pintu keluar, menghirup udara bebas, dan menyusun rencana pembalasan dendamnya.

Namun takdir tampaknya senang bermain-main.

Tepat di persimpangan koridor menuju lobby utama, langkah Hazel terhenti paksa. Suara perdebatan sengit bernada tinggi memecah keheningan tempat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    will you marry me?

    Matahari pagi musim gugur membiaskan cahaya keemasan yang hangat melalui celah jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suasana yang biasanya diselimuti ketegangan kini berganti menjadi kedamaian murni. Setelah badai besar yang menimpa mereka, mulai dari skandal manipulasi perusahaan, keracunan di pesta, hingga aksi penyanderaan dan ledakan gedung tua oleh Mona, semua ancaman itu kini telah resmi berakhir secara mutlak.Di dalam ruangan yang tenang itu, Arlo berdiri di dekat jendela, memperhatikan Hazel yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas travel kecil. Wajah Hazel yang sebelumnya pucat kini telah kembali memancarkan rona segar dan sehat. Tatapan matanya yang dulu kerap kali diselimuti ketakutan dan luka, kini tampak jernih, tenang, dan dipenuhi binar kehidupan yang utuh.Arlo menghembuskan napas pelan, merasakan getaran hangat yang meluap di dalam dadanya. Pria itu menyadari bahwa inilah saatnya. Seluruh musuh telah tereliminasi, keadilan untuk Love Co

  • Sekarang, Giliranku!    selamat

    Lampu indikator LED merah pada rakitan peledak di sudut plafon berkedip makin cepat, diiringi bunyi bip ritmis yang bagaikan detak jarum jam kematian. Suara jeritan histeris Mona yang menggema penuh kegilaan seketika menghentikan aliran darah siapa pun yang berada di dalam gedung tua tersebut.Atmosfer di dalam ruangan berdebu itu berubah menjadi medan kepanikan yang teramat mencekam."Semua keluar! Evakuasi sekarang juga!" teriak komandan polisi dengan suara menggelegar, langsung memicu pergerakan cepat para personel aparat untuk menyelamatkan diri dan mengamankan area.Arlo tak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memedulikan rasa pening yang menusuk di belakang kepalanya akibat hantaman sebelumnya, Arlo langsung merengkuh Hazel ke dalam dekapan tegapnya. Ia melindunginya dengan seluruh bobot tubuhnya sendiri, menarik gadis itu agar terus bergerak maju menyusuri lorong keluar."Arlo... bagaimana dengan yang lain?!" jerit Hazel dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal di teng

  • Sekarang, Giliranku!    rencana cadangan

    Gelak tawa histeris Mona yang menggema di setiap sudut gedung tua itu mendadak terhenti secara tiba-tiba. Suara tawanya seolah tercekik di tenggorokan, menyisakan keheningan mencekam saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak bergema konstan dari arah pintu besi utama yang setengah terbuka.Cahaya lampu sorot berdaya tinggi menembus kegelapan ruangan, disusul suara bariton yang tegas dan berwibawa melintasi udara dingin."Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian!"Mona membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam ketidakpercayaan yang amat sangat. Dari balik pijar cahaya putih yang menyilaukan, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata api melangkah masuk dengan siaga. Namun, bukan keberadaan barisan aparat itu yang membuat napas Mona terhenti seketika, melainkan sosok wanita yang berjalan di tengah pengawalan ketat tersebut.Tiba-tiba Hazel muncul bersama dengan Damian dan Yaya juga polisi.Hazel berdiri tegak di sana. Meskipun wajahnya masih menyi

  • Sekarang, Giliranku!    tidak akan membiarkan

    Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pun bergetar. Di jemari lentik wanita itu, terkandung sebuah ancaman mematikan yang sanggup meremukkan seluruh dunia Arlo hanya dengan satu tekanan kecil pada pelatuk.Arlo memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang keras. Pikiran Arlo berputar hebat, bekerja ekstra keras mencari jalan keluar dari kubangan maut ini."Bodoh! Kenapa aku begitu gegabah?!" umpat Arlo merutuki dirinya sendiri di dalam hati.Rasa penyesalan yang membakar dada menyerangnya tanpa

  • Sekarang, Giliranku!    Ancaman sang mantan

    Rasa sakit yang menusuk tajam di belakang kepala menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Arlo. Sensasi pening yang amat hebat memutar balikkan dunianya, disusul rasa lengket dari darah kering yang menempel di sela-sela rambutnya. Dinding tengkoraknya seolah dihantam palu secara berkala, menciptakan denyutan nyeri yang membakar hingga ke pangkal leher.Arlo mengerang pelan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kepalanya yang berat, namun niat itu tertahan seketika. Gesekan kasar tali tambang tebal yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang sandaran kursi kayu membuat kulitnya tergores perih. Kedua kakinya pun terikat kuat pada kaki-kaki kursi, mengunci seluruh pergerakan tubuh tegapnya tanpa sisa.Dengan susah payah, Arlo memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk terbuka.Pandangannya membayang ganda sebelum perlahan-lahan fokus pada sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau apak dan penuh debu, tampak seperti gedung tua

  • Sekarang, Giliranku!    punya firasat

    Lampu gantung di koridor rumah sakit berpendar redup, membiaskan cahaya kekuningan yang terasa kian dingin seiring bergeraknya jarum jam. Waktu terus bergulir membelah malam, namun suasana di dalam kamar perawatan VIP itu justru terasa makin mencekam oleh hening yang menggantung.Hazel duduk bersandar di atas ranjang medisnya. Pakaian pasien yang dipakainya terasa kebesaran, membungkus tubuhnya yang masih rentan setelah baru saja melewati masa kritis akibat racun yang menyerang sistem sarafnya. Infus di punggung tangannya sesekali berdenyut pelan, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.Ponsel pintar di atas nakas terus menampakkan layar gelap. Tak ada notifikasi, tak ada panggulan masuk, tak ada satu pun pesan singkat yang terkirim dari nomor Arlo.Hazel mulai cemas Arlo kenapa-kenapa karena sampai sekarang belum ada kabar dan perasaan Hazel juga tidak enak."Kenapa belum ada kabar juga, ya?" bisik Hazel lirih. Suaranya s

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status