로그인Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka.
Tepat empat tahun yang lalu, di mana usia Hazel masih 21 tahun. Hazel masih terdiam dan merenung, ia merasa jika harusnya dirinya tak berada di sana. Ada perasaan yang janggal di hati Hazel. ’Aku... belum mati?’ batin Hazel bergolak. ’Tidak. Aku sudah mati! Aku ingat jelas rasa sakit dari racun itu.’ Ia menatap tangannya sendiri. Kulitnya masih merona sehat, tidak pucat dan dingin seperti beberapa saat lalu. Detak jantungnya berirama kuat di dalam dadanya. Saat kesadaran penuh itu menghantamnya, sebuah sengatan emosi yang hebat membuat napas Hazel memburu. Ini bukan mimpi di ambang kematian. Ini adalah kenyataan yang diputar balik. Tuhan, atau apa pun kekuatan di alam semesta ini, rupanya telah mendengar sumpah matinya. Ia diberikan kesempatan untuk terlahir kembali. Ia kembali ke titik di mana semua kehancurannya belum dimulai. "Hazel? Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" Axel menghentikan makannya, mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi Hazel dengan raut wajah yang tampak begitu khawatir—akting yang sangat sempurna. Sebelum tangan Axel menyentuh kulitnya, Hazel dengan anggun memundurkan kepalanya, menghindari sentuhan itu secara halus namun tegas. Sesuatu di dalam diri Hazel telah berubah. Rasa takut dan cinta butanya sudah mati di lantai marmer tiga tahun yang akan datang. Yang tersisa di dalam raga ini hanyalah jiwa penuh dendam yang siap membakar. Hazel memejamkan mata sejenak, menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ketika ia membuka matanya kembali, tatapan matanya yang dulu lembut dan naif, kini berubah menjadi sedingin es, menatap lurus ke arah Axel dan Luna bergantian. "Aku tidak apa-apa," ujar Hazel, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius, senyuman yang membuat Luna mendadak merasa tidak nyaman tanpa tahu alasannya. Gemuruh di dada Hazel kian sulit diredam. Di bawah meja, jemarinya meremas kain gaun beludrunya dengan amat kencang. Pikiran-pikiran di kepalanya berputar secepat badai. ’Aku masih bertunangan dengan Axel! Kami belum menikah!’ Sebuah kilatan harapan melintas di benak Hazel. Artinya, takdir buruk itu belum sepenuhnya terkunci. Dia masih memiliki ruang untuk bernapas, masih ada waktu untuk memotong tali jerat yang perlahan-lahan dipasang oleh Axel dan Luna di lehernya. Dia bisa menghindari pernikahan jahanam itu. Namun, Hazel tidak boleh gegabah. Otak dinginnya segera memperingatkan jika dia mendadak berteriak membatalkan pertunangan malam ini tanpa alasan yang logis, papanya pasti akan mengamuk, dan Axel akan langsung memasang kewaspadaan tinggi. Dia butuh strategi yang matang. Untuk saat ini, prioritas utamanya adalah keluar dari ruangan yang menyesakkan ini. Dia butuh udara segar untuk menenangkan diri dan menyusun rencana. Hazel meletakkan garpu dan pisaunya dengan pelan, sengaja menimbulkan bunyi denting halus untuk menarik perhatian. "Papa, Mama..." Hazel menatap kedua orang tuanya yang duduk di ujung meja utama. "Saya mohon izin untuk pulang lebih awal malam ini." Suasana hangat di meja makan itu mendadak mendingin. Sang Papa, John Mauve, langsung meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan sedikit keras ke meja. Dahinya mengernyit dalam, menatap Hazel dengan pandangan menegur yang tajam. "Pulang duluan?!" suara John terdengar berat dan penuh wibawa, tipe suara yang biasanya langsung membuat Hazel menciut ketakutan. "Hazel, ini malam perayaan pernikahan Papa dan Mamamu yang ke-10! Axel dan orang tuanya juga masih di sini! Lagi pula, setelah makan malam ini selesai, kita semua sudah menjadwalkan pembicaraan serius dengan keluarga Axel untuk menentukan tanggal pernikahan kalian. Di mana sopan santunmu?!" "Betul kata Papa, Kak!" Luna menimpali dengan nada bicara yang dibuat sehalus mungkin, seolah-olah dia adalah adik yang sangat perhatian. "Ini kan malam penting untuk Papa dan Mama. Masa Kak Hazel tega merusaknya?" Hazel mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Dulu, kalimat sindiran Luna dan teguran papanya akan langsung membuatnya merasa bersalah dan meminta maaf sambil menunduk. Tapi Hazel yang sekarang hanya menatap mereka dengan tatapan datar, bahkan cenderung sedingin es. "Saya benar-benar minta maaf, Papa, Mama, Om dan Tante!" ujar Hazel, suaranya tetap tenang namun terselip ketegasan yang tidak bisa dibantah. Dia sengaja menyentuh pelipisnya, memasang ekspresi agak pucat. "Saya tidak berniat tidak menghormati Papa dan Mama beserta Om dan Tante juga. Tapi sejak sore tadi kepala saya sangat pusing dan mendadak tubuh saya rasanya tidak enak badan. Saya khawatir jika memaksakan diri tinggal, saya justru akan pingsan di tengah aula luar dan mempermalukan keluarga kita." Mendengar itu, Axel langsung memasang raut wajah cemas yang sangat dramatis. Pria itu menggeser kursinya mendekat dan menyentuh lengan kursi Hazel. "Hazel, kalau begitu biar aku yang mengantarmu pulang," potong Axel cepat, suaranya terdengar begitu penuh perhatian di telinga orang-orang di ruangan itu. "Aku tidak akan tenang membiarkan tunanganku pulang sendirian dalam keadaan sakit." ’Tunangan? Menjijikkan,’ umpat Hazel dalam hati. Sentuhan atau bahkan sekadar kedekatan Axel saat ini membuatnya ingin muntah. "Tidak perlu, Axel," Hazel langsung berdiri, menarik dirinya menjauh dengan gerakan yang begitu anggun namun sarat akan penolakan. Ia bahkan tidak sudi menatap mata Axel. "Aku sudah meminta sopir pribadiku untuk menyiapkan mobil di depan lobby. Kau tetaplah di sini bersama Papa dan Luna untuk menemani para tamu." Sebelum papanya atau Axel sempat melontarkan protes atau argumen lain, Hazel memberikan anggukan hormat yang singkat kepada orang tuanya. "Saya permisi." Dengan langkah lebar dan dagu terangkat tegas, Hazel berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan privat tersebut. Gaun malamnya berkibar seiring dengan langkahnya yang mantap. Dia tidak menoleh ke belakang sedikit pun, mengabaikan tatapan heran Axel dan kerutan tidak suka di wajah papanya. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Hazel berjalan pergi dengan memegang kendali atas langkahnya sendiri. Kalau di kehidupannya yang lalu, Hazel pasti akan menuruti semua perkataan mereka dengan senang hati seperti anjing penurut yang baik dan patuh. "Jangan harap kali ini aku akan tunduk pada manusia menjijikkan seperti kalian!" Kedua tangan Hazel mengepal dengan erat penuh dengan kebencian. Langkah kaki Hazel bergema cepat di sepanjang koridor VIP yang sepi, menjauh dari ruang makan privat keluarganya. Jantungnya masih bertalu hebat. Ia hanya butuh beberapa menit lagi untuk mencapai pintu keluar, menghirup udara bebas, dan menyusun rencana pembalasan dendamnya. Namun takdir tampaknya senang bermain-main. Tepat di persimpangan koridor menuju lobby utama, langkah Hazel terhenti paksa. Suara perdebatan sengit bernada tinggi memecah keheningan tempat itu.John terdiam sejenak. Kata 'Luna' yang meluncur dari bibir Hazel bagaikan paku bumi yang menancap tepat di tengah ruang geraknya. Pria paruh baya itu berdiri mematung di tengah ruangan, mulutnya teratup rapat dengan raut wajah yang mendadak linglung dan penuh keraguan. "Kenapa Papa diam? Apa lagi yang Papa inginkan?!" desak Hazel yang sudah tidak tahan lahi.John menggeleng, "Pergilah!" Tanpa melontarkan sepatah kata pembelaan, John pun membiarkan Hazel pergi begitu saja melintasi pintu kayu jati eksekutif tersebut.Begitu pintu ruangan papanya terkatup rapat di belakang punggungnya, Hazel menghembuskan napas panjang yang amat lega. Akhirnya Hazel bisa bebas dari rasa stres luar biasa setelah baru saja menghadapi dua pria paruh baya yang sangat bebal dan keras kepala. Menghadapi konfrontasi bisnis yang rumit rasanya jauh lebih mudah ketimbang meladeni dua orang tua yang matanya sudah tertutup oleh ambisi dan ego masing-masing.Hazel berjalan menyusuri koridor utama kantornya yang
Keheningan yang pekat merayap di antara mereka bertiga. Hazel menatap cangkir teh Tuan Baron yang memancarkan sisa-sisa uap tipis, berusaha mengurai benang kusut yang makin membelenggu pikirannya.Lagi-lagi Hazel harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi menjaga masa depan perusahaannya.Jika ia mengamuk saat ini dan membeberkan semua borok Axel, harga diri Om Baron mungkin akan terluka hebat, dan dampaknya bisa menjalar pada pencabutan suntikan dana di perusahaan peninggalan almarhumah ibunya. Kepentingan bisnis yang rapat dengan urusan asmara memang selalu menjadi kombinasi yang memuaskan untuk membuat kepala Hazel terasa mau pecah.Akhirnya, setelah bercakap-cakap dengan Om Baron dan mendengarkan berbagai bujukan serta wejangan pria paruh baya itu, Hazel memilih mengalah secara taktis. Hazel tidak mau berdebat dan menghabiskan tenaganya untuk berurusan dengan keluarga Axel."Baiklah, Om Baron, Hazel mengerti," ucap Hazel dengan nada suara yang begitu manis, teratur, dan di
Ruangan kerja berukuran luas itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menyengat kulit, berbanding terbalik dengan tatapan intens dari dua pria paruh baya yang kini tertuju sepenuhnya pada Hazel.Baron tentu saja ingin tahu alasannya. Sorot mata pengusaha senior itu menuntut penjelasan yang masuk akal dan tak bantah.Hazel menghela napas halus. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan meremas pelan. Karena Hazel tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, tentu saja Hazel tidak mengatakan kebenarannya 100%, termasuk mengenai Axel yang terus memihak Luna. Jika ia membongkar seluruh kelakuan busuk Axel dan manipulasi Luna di sini, papanya pasti akan langsung murka tanpa arah, dan urusan ini akan melebar ke mana-mana. Bagaimanapun juga, perusahaan Tuan Baron merupakan salah satu penanam saham yang besar dan berpengaruh di perusahaan mama Hazel. Satu tindakan gegabah bisa berakibat fatal bagi warisan almarhumah ibunya.Dengan raut wajah yang tetap tenang d
Pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, mengungkapkan atmosfer tegang yang menyerbak di dalam ruangan kerja John. Hazel sempat menyatukan kedua alisnya, mencoba mencerna pemandangan di hadapannya sebelum matanya mengenali raut wajah pria paruh baya bertubuh tegap di atas sofa.Rupanya yang datang adalah Tuan Baron, yakni papa dari Axel.Sebuah kedutan sinis muncul di sudut bibir Hazel. Semula, Hazel pikir Axel yang akan datang mencarinya dengan segala drama dan raungan emosionalnya. Namun ternyata, Axel benar-benar tidak punya nyali sama sekali untuk berhadapan langsung dengannya. Pria itu justru sembunyi di balik ketiak ayahnya dan menyuruh sang papa yang menyelesaikan kekacauan ini. "Sangat tipikal Axel! Tidak pernah bisa mengatasi masalah dengan cara dewasa! Benar-benar kekanakak!" batin Hazel sembari menahan dorongan untuk memutar bola matanya keras-keras.Hazel pun masuk lalu duduk berseberangan dengan Baron, menegakkan punggungnya tanpa memperlihatkan sedikit pun keragu
Hazel memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak boleh membiarkan pikirannya terus-menerus digerogoti oleh bayang-bayang Axel. Ini adalah dunia kerja, tempat di mana dedikasi dan reputasinya dipertaruhkan, bukan panggung drama picisan tempat ia harus meratapi nasib. Hazel sadar betul, dirinya tidak boleh seperti ini hanya karena masalah Axel. Bagaimanapun situasinya, ia tetap harus bersikap profesional dan memisahkan secara tegas antara urusan pribadi yang berantakan dan tanggung jawab pekerjaan.Hazel memutar posisi duduknya menghadap Bu Senja. Ia menyunggingkan senyum tipis yang diusahakan sealami mungkin, meski raut lelah di matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan."Saya cuma sedikit kelelahan saja, Bu Senja," ucap Hazel halus, berusaha menenangkan raut khawatir di wajah atasan sekaligus mentornya itu. "Semalam ada beberapa urusan yang cukup menyita waktu dan pikiran, jadi kurang tidur."Bu Senja menatap Hazel intens selama beber
Pagi itu, pendar sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden tinggi di ruang makan keluarga John, memantul hangat di atas meja kayu mahoni yang dipenuhi hidangan sarapan. Namun, di balik kemewahan dan kehangatan visual ruangan itu, ada atmosfer aneh yang merayap dingin.Hazel duduk menatap piringnya yang masih terisi separuh. Jemarinya yang menggenggam garpu membeku di udara. Saat mengunyah potongan roti panggangnya perlahan, Hazel merasa ada sesuatu yang teramat aneh. Suasana rumah pagi ini begitu tenang, sangat tenang hingga terasa tidak alami, seolah-olah peristiwa berdarah di pelataran butik semalam hanyalah mimpi belakangan. Tak ada satu pun suara piring yang dibanting, tak ada tatapan menghakimi dari ibu tirinya, dan yang paling membingungkan, tak ada suara membentak dari papanya.Sama sekali tidak ada yang menyinggung soal keputusannya membatalkan pernikahan dengan Axel.Padahal, jika mengikut pola normal selama bertahun-tahun Hazel hidup di rumah ini, jika papanya ta
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







