Share

5. Familiar

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-05-23 11:07:17

Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di mana ia pernah melihat wajah pria di hadapannya ini.

Nama Arlo terasa tidak asing, tapi sekaligus begitu jauh. Namun, semakin ia memaksa otaknya berputar, rasa pening yang menusuk justru kian menyiksa.

'Sial, kepalaku mau pecah!' batinnya frustrasi.

Menyerah pada rasa sakit, Hazel memutuskan untuk berhenti. Lagi pula, apa pedulinya? Anggap saja pertemuan absurd hari ini tidak pernah terjadi.

Hazel menurunkan pandangannya ke bawah, tepat pada jemari Arlo yang masih melingkari pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kasar, ia menepis tangan pria itu hingga terlepas.

"Cukup!" desis Hazel, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melangkah mundur, memberi jarak yang tegas di antara mereka. "Kita nggak saling kenal. Dan setelah ini, saya harap kita jangan pernah ketemu lagi!"

Hazel berbalik, bersiap untuk pergi dari sana secepat mungkin. Namun, sebuah suara kekehan rendah menghentikan langkahnya.

"Kamu yakin kita nggak bakal ketemu lagi?"

Hazel menoleh refleks. Di sana, Arlo masih berdiri di posisi yang sama. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman, sebuah lengkungan bibir yang tipis, namun entah bagaimana, terlihat begitu hangat sekaligus misterius.

Deg!

Jantung Hazel mencelos. Senyuman itu. Hazel terpaku di tempatnya, kembali memaksa memorinya berputar hebat. Rasanya sangat familiar.

Ia yakin pernah melihat senyuman itu di suatu tempat, di suatu waktu yang lampau. Tapi di mana? Kenapa rasanya begitu dekat tapi mustahil untuk digapai?

Rasa pening itu kembali menyerang, kali ini membuat pandangannya sempat mengabur sedetik.

"Nggak... nggak mungkin," gumam Hazel pada dirinya sendiri, mulai merasa ngeri dengan kepalanya yang menolak bekerja sama.

Melihat Hazel yang tampak tersiksa dengan pikirannya sendiri, senyum Arlo perlahan memudar, digantikan oleh tatapan teduh yang sulit diartikan. "Hei! Kenapa diam? Apa perlu ku antar pulang?"

Suara Arlo justru menjadi pemicu Hazel untuk segera sadar. Ia menggelengkan kepala dengan kuat, mengusir segala spekulasi yang berkecamuk di benaknya. Ia tidak boleh lemah di depan orang asing ini.

"Bukan uurusanmu!" potong Hazel tajam.

Tanpa membuang waktu lagi, Hazel memutar tubuhnya dan melangkah lebar-lebar meninggalkan tempat tersebut. Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari, mengabaikan detak jantungnya yang berpacu liar.

Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera sampai di rumah, mengunci pintu kediamannya, dan menenggelamkan diri di balik selimut demi melupakan tatapan mata dan senyuman Arlo yang terus membayangnya.

Setibanya di rumah, dengan langkah gontai dan sisa tenaga yang nyaris habis, ia melangkah masuk ke dalam kamar. Tanpa sempat mengganti pakaian atau melepas alas kakinya dengan benar, Hazel langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.

Kasur empuk itu menyambutnya, namun tubuhnya terasa begitu berat, seolah baru saja memikul beban berton-ton. Ia telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram, sementara lengannya diletakkan di atas dahi, mencoba menghalau pening yang masih setia berdenyut di kepalanya.

"Siapa Arlo sebenarnya?" Pertanyaan itu terus berputar, bergaung di dalam benaknya tanpa henti.

Hazel memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memutar kembali memori dari kehidupannya yang lalu. Ia mengingat setiap detail, setiap kegagalan, dan setiap garis takdir yang pernah ia lalui sebelum terbangun kembali di masa ini.

Namun, sekeras apa pun ia mengingat, tidak ada satu pun fragmen ingatan yang memuat kejadian aneh seperti hari ini. Sama sekali tidak ada.

"Harusnya nggak begini," gumamnya lirih pada kesunyian kamar.

Berdasarkan garis waktu di ingatan masa lalunya, linimasa hari ini sudah sangat jelas. Seharusnya, setelah menghadiri malam perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke-10, Hazel bersama keluarga Axel menentukan tanggal pernikahannya.

Setelah itu, Axel yang akan mengantarnya pulang dengan selamat sampai ke depan pintu rumah ini. Jalan ceritanya mutlak seperti itu. Tanpa ada interupsi dari pria asing bernama Arlo.

Tanpa ada pelukan, keributan dengan wanita, genggaman tangan yang tiba-tiba, atau senyuman familiar yang memicu sakit kepala hebat.

Hazel membalikkan tubuhnya ke samping, meringkuk sambil memeluk bantal. Matanya menatap kosong ke sudut ruangan.

"Atau... mungkin ini semua karena perbuatanku sendiri?" sebuah pemikiran baru tiba-tiba melintas di benak Hazel.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna kemungkinan itu. Di kehidupan kali ini, ia memang tidak lagi berjalan di atas rel yang sama.

Ia mengambil keputusan yang berbeda, memilih langkah yang tidak pernah ia ambil di masa lalu, dan dengan sadar mengubah beberapa detail kecil agar nasib buruknya tidak terulang.

Hazel menghela napas panjang, membenamkan separuh wajahnya ke bantal. "Ah, ya sudahlah lebih baik aku tidur saja," gumamnya lalu memejamkan kedua matanya.

Baru saja mata Hazel terasa seberat timah dan kesadarannya perlahan hanyut ke alam bawah sadar, sebuah hantaman keras mengejutkannya.

"Hazel! Buka pintunya?!"

Suara bariton yang menggelegar itu seketika merobek keheningan kamar. Hazel tersentak bangun, detak jantungnya langsung tak beraturan akibat efek kejut yang mendadak.

Rasa pening yang belum sepenuhnya hilang kini bercampur dengan rasa panas yang menjalar ke dadanya. Rasa kesal yang luar biasa membubung tinggi.

"Bahkan untuk istirahat sebentar saja nggak bisa!" batinnya, mengepalkan tangan di atas seprai. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Rumah ini benar-benar tidak pernah menjadi tempat yang aman atau tenang baginya.

"Hazel! Jangan pura-pura tidur ya kamu!" Teriak suara itu lagi, disusul gedoran yang lebih tidak sabaran.

Dengan hentakan kasar, Hazel menyibak selimutnya. Ia turun dari kasur, melangkah cepat dengan kaki telanjang yang sengaja dihentakkan ke lantai, meluapkan emosinya yang tertahan.

Sambil menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol ekspresi wajahnya, ia memutar kunci dan menyentak pintu kamar itu hingga terbuka lebar.

"Ada apa sih, Pa?! Hazel capek mau tidur!"

Bukan hanya Papanya yang berdiri di sana dengan wajah merah padam dan napas memburu.

Di belakang pria itu, bersandar dengan anggun seolah sedang menonton pertunjukan gratis, ada Mama tirinya yang memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.

Dan tepat di samping wanita itu, adik tirinya berdiri sambil bersedekap dada, melemparkan tatapan sinis yang tidak berusaha disembunyikannya sama sekali.

Trio itu sudah lengkap, berdiri berjejer merusak batas privasinya.

"Bagus, ya, kamu sudah berani sama orang tua?! Kamu bukannya merenungkan kesalahan malah enak-enakan tidur! Apa kamu harus selalu dihukum sesuai hukum leluhur agar bisa nurut sedikit, ha?!" bentak papanya yang terlihat sudah sangat naik pitam.

Hazel tersenyum getir. Lagi-lagi dirinya dijadikan sasaran oleh keluarga gilanya itu. "Heh, jadi masih seperti ini lagi?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Cinta atau Obsesi?

    Amukan Luna meledak begitu pintu kamarnya terkatup rapat. Gadis itu melemparkan bantal, membalikkan tempat pensil di atas meja rias, hingga vas bunga kecil yang berada di sudut meja hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Napasnya memburu, mukanya merah padam dipenuhi amarah yang membakar."Kurang ajar! Kak Axel benar-benar kurang ajar!" jerit Luna histeris seraya menghentakkan kakinya ke lantai.Rona yang bergegas mengekor di belakangnya langsung mengunci pintu kamar. Pria paruh baya di luar, John, masih sibuk menetralkan rasa syoknya di ruang keluarga, sementara Rona harus meredam ledakan emosi putri kesayangannya ini."Luna, tenang dulu, Sayang! Jangan teriak-teriak seperti ini! Jangan buang-buang energimu, Sayang!" bisik Rona panik sembari memegang kedua bahu Luna yang gemetaran."Aku tidak peduli, Mama!" rengek Luna melengking, air matanya kembali menetes deras, kali ini bukan air mata buatan, melainkan murni luapan amarah dan rasa tidak terima. "Mama lihat sendiri kan

  • Sekarang, Giliranku!    sandiwara gagal

    Langkah kaki Hazel terhenti tepat di batas karpet bulu ruang keluarga. Suara isakan Luna yang mendayu-dayu berpadu dengan usapan penuh drama dari Rona menciptakan panggung pertunjukan yang sangat familiar. John, yang duduk di sofa utama dengan segelas air dingin di genggamannya, seketika menoleh begitu mendengar derap langkah Hazel. Matanya menyalang penuh amarah."Bagus! Akhirnya kamu pulang juga, Hazel!" bentak John keras, langsung berdiri hingga air di gelasnya berguncang. "Kamu puas sekarang?! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada adikmu!"Hazel menghentikan usahanya untuk memutar bola mata. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tegak dengan sikap tenang yang teramat kontras dibanding ketegangan di ruangan itu. Bumbu komedi hadir dari raut wajah Hazel yang justru terlihat sangat mengantuk ketimbang panik, seperti seseorang yang dipaksa menonton siaran ulang sinetron episodenya sudah ia hafal luar kepala."Ada apa lagi, Pa?" tanya Hazel datar, tanpa nada ketakutan sed

  • Sekarang, Giliranku!    biar waktu dan tindakan yang buktikan

    Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j

  • Sekarang, Giliranku!    minta kesempatan terakhir

    Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka

  • Sekarang, Giliranku!    blokir dan hapus

    Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa

  • Sekarang, Giliranku!    Terngiang-ngiang

    Sinar matahari pagi menerobos mulus melewati celah tirai kamar Hazel, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas sprei putih. Hazel terbangun dari tidurnya yang nyenyak, mengusap matanya perlahan sembari menguap lebar. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi Hazel bisa sedikit lebih santai tanpa perlu terburu-buru berdandan rapi demi mengejar fingerprint kehadiran di kantor atau jam buka butik.Namun, mengabaikan fakta bahwa fisiknya sudah cukup beristirahat, benak Hazel justru langsung riuh. Hanya saja Hazel masih terngiang-ngiang akan kejadian dengan Arlo semalam. Bayangan tatapan mata pekat pria itu saat memegang jemarinya, kejujuran suaranya yang berat, dan hadiah kalung berlian biru langka yang kini tergeletak manis di atas meja riasnya mendadak berputar ulang tanpa permisi.Bahkan saat ini wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian itu. Hazel menutupi pipinya yang panas dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal."Astaga, Hazel... S

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status