MasukEntah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di mana ia pernah melihat wajah pria di hadapannya ini. Nama Arlo terasa tidak asing, tapi sekaligus begitu jauh. Namun, semakin ia memaksa otaknya berputar, rasa pening yang menusuk justru kian menyiksa. 'Sial, kepalaku mau pecah!' batinnya frustrasi. Menyerah pada rasa sakit, Hazel memutuskan untuk berhenti. Lagi pula, apa pedulinya? Anggap saja pertemuan absurd hari ini tidak pernah terjadi. Hazel menurunkan pandangannya ke bawah, tepat pada jemari Arlo yang masih melingkari pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kasar, ia menepis tangan pria itu hingga terlepas. "Cukup!" desis Hazel, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melangkah mundur, memberi jarak yang tegas di antara mereka. "Kita nggak saling kenal. Dan setelah ini, saya harap kita jangan pernah ketemu lagi!" Hazel berbalik, bersiap untuk pergi dari sana secepat mungkin. Namun, sebuah suara kekehan rendah menghentikan langkahnya. "Kamu yakin kita nggak bakal ketemu lagi?" Hazel menoleh refleks. Di sana, Arlo masih berdiri di posisi yang sama. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman, sebuah lengkungan bibir yang tipis, namun entah bagaimana, terlihat begitu hangat sekaligus misterius. Deg! Jantung Hazel mencelos. Senyuman itu. Hazel terpaku di tempatnya, kembali memaksa memorinya berputar hebat. Rasanya sangat familiar. Ia yakin pernah melihat senyuman itu di suatu tempat, di suatu waktu yang lampau. Tapi di mana? Kenapa rasanya begitu dekat tapi mustahil untuk digapai? Rasa pening itu kembali menyerang, kali ini membuat pandangannya sempat mengabur sedetik. "Nggak... nggak mungkin," gumam Hazel pada dirinya sendiri, mulai merasa ngeri dengan kepalanya yang menolak bekerja sama. Melihat Hazel yang tampak tersiksa dengan pikirannya sendiri, senyum Arlo perlahan memudar, digantikan oleh tatapan teduh yang sulit diartikan. "Hei! Kenapa diam? Apa perlu ku antar pulang?" Suara Arlo justru menjadi pemicu Hazel untuk segera sadar. Ia menggelengkan kepala dengan kuat, mengusir segala spekulasi yang berkecamuk di benaknya. Ia tidak boleh lemah di depan orang asing ini. "Bukan uurusanmu!" potong Hazel tajam. Tanpa membuang waktu lagi, Hazel memutar tubuhnya dan melangkah lebar-lebar meninggalkan tempat tersebut. Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari, mengabaikan detak jantungnya yang berpacu liar. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera sampai di rumah, mengunci pintu kediamannya, dan menenggelamkan diri di balik selimut demi melupakan tatapan mata dan senyuman Arlo yang terus membayangnya. Setibanya di rumah, dengan langkah gontai dan sisa tenaga yang nyaris habis, ia melangkah masuk ke dalam kamar. Tanpa sempat mengganti pakaian atau melepas alas kakinya dengan benar, Hazel langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Kasur empuk itu menyambutnya, namun tubuhnya terasa begitu berat, seolah baru saja memikul beban berton-ton. Ia telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram, sementara lengannya diletakkan di atas dahi, mencoba menghalau pening yang masih setia berdenyut di kepalanya. "Siapa Arlo sebenarnya?" Pertanyaan itu terus berputar, bergaung di dalam benaknya tanpa henti. Hazel memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memutar kembali memori dari kehidupannya yang lalu. Ia mengingat setiap detail, setiap kegagalan, dan setiap garis takdir yang pernah ia lalui sebelum terbangun kembali di masa ini. Namun, sekeras apa pun ia mengingat, tidak ada satu pun fragmen ingatan yang memuat kejadian aneh seperti hari ini. Sama sekali tidak ada. "Harusnya nggak begini," gumamnya lirih pada kesunyian kamar. Berdasarkan garis waktu di ingatan masa lalunya, linimasa hari ini sudah sangat jelas. Seharusnya, setelah menghadiri malam perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke-10, Hazel bersama keluarga Axel menentukan tanggal pernikahannya. Setelah itu, Axel yang akan mengantarnya pulang dengan selamat sampai ke depan pintu rumah ini. Jalan ceritanya mutlak seperti itu. Tanpa ada interupsi dari pria asing bernama Arlo. Tanpa ada pelukan, keributan dengan wanita, genggaman tangan yang tiba-tiba, atau senyuman familiar yang memicu sakit kepala hebat. Hazel membalikkan tubuhnya ke samping, meringkuk sambil memeluk bantal. Matanya menatap kosong ke sudut ruangan. "Atau... mungkin ini semua karena perbuatanku sendiri?" sebuah pemikiran baru tiba-tiba melintas di benak Hazel. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna kemungkinan itu. Di kehidupan kali ini, ia memang tidak lagi berjalan di atas rel yang sama. Ia mengambil keputusan yang berbeda, memilih langkah yang tidak pernah ia ambil di masa lalu, dan dengan sadar mengubah beberapa detail kecil agar nasib buruknya tidak terulang. Hazel menghela napas panjang, membenamkan separuh wajahnya ke bantal. "Ah, ya sudahlah lebih baik aku tidur saja," gumamnya lalu memejamkan kedua matanya. Baru saja mata Hazel terasa seberat timah dan kesadarannya perlahan hanyut ke alam bawah sadar, sebuah hantaman keras mengejutkannya. "Hazel! Buka pintunya?!" Suara bariton yang menggelegar itu seketika merobek keheningan kamar. Hazel tersentak bangun, detak jantungnya langsung tak beraturan akibat efek kejut yang mendadak. Rasa pening yang belum sepenuhnya hilang kini bercampur dengan rasa panas yang menjalar ke dadanya. Rasa kesal yang luar biasa membubung tinggi. "Bahkan untuk istirahat sebentar saja nggak bisa!" batinnya, mengepalkan tangan di atas seprai. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Rumah ini benar-benar tidak pernah menjadi tempat yang aman atau tenang baginya. "Hazel! Jangan pura-pura tidur ya kamu!" Teriak suara itu lagi, disusul gedoran yang lebih tidak sabaran. Dengan hentakan kasar, Hazel menyibak selimutnya. Ia turun dari kasur, melangkah cepat dengan kaki telanjang yang sengaja dihentakkan ke lantai, meluapkan emosinya yang tertahan. Sambil menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol ekspresi wajahnya, ia memutar kunci dan menyentak pintu kamar itu hingga terbuka lebar. "Ada apa sih, Pa?! Hazel capek mau tidur!" Bukan hanya Papanya yang berdiri di sana dengan wajah merah padam dan napas memburu. Di belakang pria itu, bersandar dengan anggun seolah sedang menonton pertunjukan gratis, ada Mama tirinya yang memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. Dan tepat di samping wanita itu, adik tirinya berdiri sambil bersedekap dada, melemparkan tatapan sinis yang tidak berusaha disembunyikannya sama sekali. Trio itu sudah lengkap, berdiri berjejer merusak batas privasinya. "Bagus, ya, kamu sudah berani sama orang tua?! Kamu bukannya merenungkan kesalahan malah enak-enakan tidur! Apa kamu harus selalu dihukum sesuai hukum leluhur agar bisa nurut sedikit, ha?!" bentak papanya yang terlihat sudah sangat naik pitam. Hazel tersenyum getir. Lagi-lagi dirinya dijadikan sasaran oleh keluarga gilanya itu. "Heh, jadi masih seperti ini lagi?!"Matahari pagi musim gugur membiaskan cahaya keemasan yang hangat melalui celah jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suasana yang biasanya diselimuti ketegangan kini berganti menjadi kedamaian murni. Setelah badai besar yang menimpa mereka, mulai dari skandal manipulasi perusahaan, keracunan di pesta, hingga aksi penyanderaan dan ledakan gedung tua oleh Mona, semua ancaman itu kini telah resmi berakhir secara mutlak.Di dalam ruangan yang tenang itu, Arlo berdiri di dekat jendela, memperhatikan Hazel yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas travel kecil. Wajah Hazel yang sebelumnya pucat kini telah kembali memancarkan rona segar dan sehat. Tatapan matanya yang dulu kerap kali diselimuti ketakutan dan luka, kini tampak jernih, tenang, dan dipenuhi binar kehidupan yang utuh.Arlo menghembuskan napas pelan, merasakan getaran hangat yang meluap di dalam dadanya. Pria itu menyadari bahwa inilah saatnya. Seluruh musuh telah tereliminasi, keadilan untuk Love Co
Lampu indikator LED merah pada rakitan peledak di sudut plafon berkedip makin cepat, diiringi bunyi bip ritmis yang bagaikan detak jarum jam kematian. Suara jeritan histeris Mona yang menggema penuh kegilaan seketika menghentikan aliran darah siapa pun yang berada di dalam gedung tua tersebut.Atmosfer di dalam ruangan berdebu itu berubah menjadi medan kepanikan yang teramat mencekam."Semua keluar! Evakuasi sekarang juga!" teriak komandan polisi dengan suara menggelegar, langsung memicu pergerakan cepat para personel aparat untuk menyelamatkan diri dan mengamankan area.Arlo tak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memedulikan rasa pening yang menusuk di belakang kepalanya akibat hantaman sebelumnya, Arlo langsung merengkuh Hazel ke dalam dekapan tegapnya. Ia melindunginya dengan seluruh bobot tubuhnya sendiri, menarik gadis itu agar terus bergerak maju menyusuri lorong keluar."Arlo... bagaimana dengan yang lain?!" jerit Hazel dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal di teng
Gelak tawa histeris Mona yang menggema di setiap sudut gedung tua itu mendadak terhenti secara tiba-tiba. Suara tawanya seolah tercekik di tenggorokan, menyisakan keheningan mencekam saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak bergema konstan dari arah pintu besi utama yang setengah terbuka.Cahaya lampu sorot berdaya tinggi menembus kegelapan ruangan, disusul suara bariton yang tegas dan berwibawa melintasi udara dingin."Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian!"Mona membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam ketidakpercayaan yang amat sangat. Dari balik pijar cahaya putih yang menyilaukan, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata api melangkah masuk dengan siaga. Namun, bukan keberadaan barisan aparat itu yang membuat napas Mona terhenti seketika, melainkan sosok wanita yang berjalan di tengah pengawalan ketat tersebut.Tiba-tiba Hazel muncul bersama dengan Damian dan Yaya juga polisi.Hazel berdiri tegak di sana. Meskipun wajahnya masih menyi
Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pun bergetar. Di jemari lentik wanita itu, terkandung sebuah ancaman mematikan yang sanggup meremukkan seluruh dunia Arlo hanya dengan satu tekanan kecil pada pelatuk.Arlo memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang keras. Pikiran Arlo berputar hebat, bekerja ekstra keras mencari jalan keluar dari kubangan maut ini."Bodoh! Kenapa aku begitu gegabah?!" umpat Arlo merutuki dirinya sendiri di dalam hati.Rasa penyesalan yang membakar dada menyerangnya tanpa
Rasa sakit yang menusuk tajam di belakang kepala menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Arlo. Sensasi pening yang amat hebat memutar balikkan dunianya, disusul rasa lengket dari darah kering yang menempel di sela-sela rambutnya. Dinding tengkoraknya seolah dihantam palu secara berkala, menciptakan denyutan nyeri yang membakar hingga ke pangkal leher.Arlo mengerang pelan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kepalanya yang berat, namun niat itu tertahan seketika. Gesekan kasar tali tambang tebal yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang sandaran kursi kayu membuat kulitnya tergores perih. Kedua kakinya pun terikat kuat pada kaki-kaki kursi, mengunci seluruh pergerakan tubuh tegapnya tanpa sisa.Dengan susah payah, Arlo memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk terbuka.Pandangannya membayang ganda sebelum perlahan-lahan fokus pada sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau apak dan penuh debu, tampak seperti gedung tua
Lampu gantung di koridor rumah sakit berpendar redup, membiaskan cahaya kekuningan yang terasa kian dingin seiring bergeraknya jarum jam. Waktu terus bergulir membelah malam, namun suasana di dalam kamar perawatan VIP itu justru terasa makin mencekam oleh hening yang menggantung.Hazel duduk bersandar di atas ranjang medisnya. Pakaian pasien yang dipakainya terasa kebesaran, membungkus tubuhnya yang masih rentan setelah baru saja melewati masa kritis akibat racun yang menyerang sistem sarafnya. Infus di punggung tangannya sesekali berdenyut pelan, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.Ponsel pintar di atas nakas terus menampakkan layar gelap. Tak ada notifikasi, tak ada panggulan masuk, tak ada satu pun pesan singkat yang terkirim dari nomor Arlo.Hazel mulai cemas Arlo kenapa-kenapa karena sampai sekarang belum ada kabar dan perasaan Hazel juga tidak enak."Kenapa belum ada kabar juga, ya?" bisik Hazel lirih. Suaranya s
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







