Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 3. Drama Picisan

Share

3. Drama Picisan

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-05-23 11:06:46

"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah.

Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi yang pekat. "Sudah kukatakan berkali-kali, Mona! Di antara kita sudah selesai! Pergilah sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku!"

Hazel menghela napas panjang. ’Sial! Drama picisan!’ batinnya. Enggan terlibat dalam masalah yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, Hazel berbalik, berniat memutar arah lewat koridor samping.

Namun, pergerakan Hazel tertangkap oleh manik mata tajam pria bernama Arlo itu. Sebelum Hazel sempat melangkah jauh, sebuah tangan kekar yang hangat mendadak menyambar pergelangan tangannya, menarik tubuh Hazel dalam satu sentakan kuat hingga dadanya membentur dada bidang pria asing itu.

Deg!

Aroma maskulin campuran kayu gaharu dan citrus langsung menyerbu indra penciuman Hazel. Sebuah lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuhnya tanpa celah.

"Lepaskan! Menyingkir dariku!" Hazel meronta, matanya melebar karena terkejut. "Apa-apaan ini?! Aku bilang, lepaskan aku!"

Hazel berusaha mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki. Ia baru saja lolos dari jerat Axel, dan hal terakhir yang ia harus lewati malam ini adalah terlibat dalam masalah tidak berguna dengan orang asing.

Namun, alih-alih melepaskannya, pria asing itu justru semakin mempererat dekapannya, mengunci pergerakan Hazel hingga ia nyaris tidak bisa berkutik.

Pria itu menunduk, menatap Hazel dengan senyum tipis yang sarat akan provokasi, sebelum mengalihkan pandangannya yang sedingin es kepada wanita di hadapannya.

"Berhentilah mengejarku, Mona!" ujar Arlo, suaranya berat, bariton, dan terdengar begitu mutlak. "Karena malam ini, aku ingin kau tahu alasan yang sebenarnya. Perkenalkan... dia adalah calon istriku!"

’Apa?!’ Hazel membeku, merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku karena syok yang luar biasa. 'Calon istri? Siapa pria gila ini?!'

"Kau..." Hazel baru saja hendak memaki dan membantah ucapan gila itu, namun pekikan histeris Alana langsung memotong kalimatnya.

"Apa?! Perempuan ini?!" Mona menunjuk wajah Hazel dengan jari yang gemetar karena amarah yang memuncak. Tatapan matanya yang tadi penuh kesedihan kini berubah menjadi kilatan kebencian murni yang diarahkan sepenuhnya pada Hazel.

"Dasar perempuan jalang rendahan!" maki Mona, suaranya melengking memenuhi koridor, tidak lagi memedulikan harga dirinya sebagai wanita kelas atas. "Jadi karena perempuan murah dan tidak tahu diri ini kau mencampakkanku, Arlo?! Berani-beraninya kau merebut pria orang lain, Jalang!"

Telinga Hazel berdenging mendengarnya. Di kehidupan lalunya, dia dihancurkan oleh cinta palsu dan pengkhianatan. Dan sekarang, di kehidupan keduanya yang baru berjalan beberapa menit, dia harus dicaci maki sebagai perebut pria orang lain karena ulah pria asing yang mengungkungnya ini.

Darah Hazel mendidih. Perlahan, rasa terkejutnya menguap, berganti dengan kilatan amarah yang dingin di dalam sepasang matanya.

Plak!

​Suara tamparan yang keras dan garing memotong makian wanita itu seketika. Koridor VIP mendadak hening, menyisakan gema napas yang memburu.

​Mona terkesiap, kepalanya tertoleh ke samping akibat hantaman telapak tangan Hazel. Perlahan, ia memegang pipinya yang mulai memerah, menatap Hazel dengan mata yang melebar, tak percaya bahwa seorang wanita asing baru saja menamparnya di tempat umum.

​Hazel menurunkan tangannya dengan anggun, sama sekali tidak terlihat meledak-ledak. Ia memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Mona dengan pandangan yang begitu tenang namun mengintimidasi.

​"Jaga bicaramu, Nona!" ujar Hazel. Suaranya terdengar sangat tenang, tegas, tanpa ada satu pun kata kasar yang keluar, namun sanggup membuat atmosfer di sekitar mereka terasa mencekam.

Sepasang mata tajam Hazel bergerak meneliti penampilan Mona dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hazel memperhatikan bagaimana air mata Mona menetes dengan begitu presisi, bagaimana jemarinya bergetar yang terkesan terlalu dramatis, serta bagaimana tatapan matanya berubah-ubah antara amarah murni dan raut korban yang teraniaya dalam hitungan detik.

​Hazel tersenyum sinis di dalam hati. ’Ah... tipe wanita teh hijau (green tea bitch).’

​Hazel langsung paham. Wanita di hadapannya ini adalah tipe pencari simpati yang pandai bersandiwara, persis seperti adiknya, Luna. Pantas saja pria di sebelahnya ini—yang baru saja ia ketahui bernama Arlo dari makian Mona tadi—begitu muak dan ingin membuat wanita ini menjauh sejauh mungkin. Menghadapi wanita manipulatif seperti ini dengan kebaikan hanya akan membuat diri sendiri terpojok.

​Kilatan licik mendadak melintas di benak Hazel. Amarahnya yang membara akibat pengkhianatan Axel, kelakuan munafik Luna, serta sikap egois papanya beberapa menit lalu masih menumpuk di dadanya, butuh tempat untuk diluapkan.

Dan malam ini, Mona datang di waktu yang sangat tepat untuk menjadi samsak emosinya. Seolah alam pun berpihak pada Hazel malam ini.

​’Bekerja sama dengan pria ini tampaknya bukan ide yang buruk,’ pikir Hazel. Ini adalah kesempatan sempurna untuk melampiaskan kekesalannya yang tak bisa ia luapkan.

​Hazel sengaja menghela napas panjang, lalu tiba-tiba mengubah gestur tubuhnya. Ia menyandarkan bobot tubuhnya dengan santai ke dada bidang Arlo, seolah menerima klaim pria itu sepenuhnya. Tangan Hazel bergerak mengusap dada jas Arlo dengan gerakan lambat yang sengaja memprovokasi Mona.

​"Sayang," panggil Hazel kepada Arlo, suaranya sengaja dibuat mendayu namun terdengar sangat natural, membuat Arlo sedikit menegang karena terkejut dengan perubahan sikap wanita di pelukannya. "Kenapa kamu tidak bilang kalau mantan kekasihmu ini sangat... berisik? Selera masa lalumu ternyata cukup merepotkan ya."

​Hazel kemudian menoleh kembali pada Mona, menatapnya dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.

​"Dengar ya, Nona yang terhormat! Mulai detik ini, pria ini adalah milikku! Jadi, bersihkan air mata palsumu itu, balikkan badanmu, dan pergilah sebelum aku kehilangan sisa kesoponanku untuk tidak memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu!"

Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Arlo saat melihat Hazel yang bersedia bekerja sama dengan dirinya. Sementara Mona yang kesal setengah mati karena merasa dipermalukan oleh Hazel tidak terima begitu saja.

Namun bukanya memaki Hazel, Mona justru menangis tersedu-sedu. Wajahnya memelas, tangan kirinya masih memegang pipinya yang terasa panas dan sakit akibat tamparan Hazel.

"Arlo, kamu lihat kan perempuan ini?! Dia begitu liar dan kasar! Bahkan dia menamparku di depan umum! Apakah wanita yang tidak punya sopan santun ini pantas untuk menjadi istrimu?!" Mona kembali memprovokasi Hazel.

Hazel yang kembali dicerca menjadi semakin emosi. Kepalanya seperti sebuah gunung yang siap meledakkan lavanya kapan saja. Niatnya untuk melampiaskan amarah, namun Hazel malah mendapatkan sumber amarah baru.

"Kau... Benar-benar..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    biar waktu dan tindakan yang buktikan

    Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j

  • Sekarang, Giliranku!    minta kesempatan terakhir

    Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka

  • Sekarang, Giliranku!    blokir dan hapus

    Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa

  • Sekarang, Giliranku!    Terngiang-ngiang

    Sinar matahari pagi menerobos mulus melewati celah tirai kamar Hazel, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas sprei putih. Hazel terbangun dari tidurnya yang nyenyak, mengusap matanya perlahan sembari menguap lebar. Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi Hazel bisa sedikit lebih santai tanpa perlu terburu-buru berdandan rapi demi mengejar fingerprint kehadiran di kantor atau jam buka butik.Namun, mengabaikan fakta bahwa fisiknya sudah cukup beristirahat, benak Hazel justru langsung riuh. Hanya saja Hazel masih terngiang-ngiang akan kejadian dengan Arlo semalam. Bayangan tatapan mata pekat pria itu saat memegang jemarinya, kejujuran suaranya yang berat, dan hadiah kalung berlian biru langka yang kini tergeletak manis di atas meja riasnya mendadak berputar ulang tanpa permisi.Bahkan saat ini wajahnya kembali memerah ketika teringat kejadian itu. Hazel menutupi pipinya yang panas dengan kedua telapak tangan, menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal."Astaga, Hazel... S

  • Sekarang, Giliranku!    ditinggal

    Axel terdiam sejenak, kepalanya kembali mencerna apa yang terjadi sebelumnya. Hembusan angin malam yang dingin di atas Bukit Berbintang seolah sedikit menusuk otaknya, meluruhkan kabut emosi yang selama ini menyumbat logikanya. Kali ini Axel sedikit sadar dan menurutnya memancing rasa cemburu Hazel dengan jalan dengan Luna bukan cara yang benar.Ia menatap sosok Luna di sampingnya. Justru jika diingat-ingat kembali dengan kepala dingin, hubungan antara dirinya dan Hazel selalu bertengkar dan lebih renggang jika bersama dengan LuLunaSetiap kali ada kemelut, keberadaan Luna bukannya menjadi penengah, melainkan minyak tanah yang menyiram kobaran api.Bahkan Axel sempat memikirkan pertanyaan Hazel sebelum hubungan mereka benar-benar sehancur ini. Suara serak Hazel yang bergetar menahan tangis malam itu mendadak bergema nyaring di dalam gendang telinganya."Kamu mengenaliku bukan cuma satu atau dua hari saja, Axel! Tapi kamu benar-benar tidak bisa melihat siapa korban sebenarnya di sini?

  • Sekarang, Giliranku!    apa isinya?

    Hazel terkejut karena saat ia menoleh ke sampingnya, Arlo sudah di sana—berdiri begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu terasa merayapi kulit pipinya. Kehadiran Arlo yang tanpa suara membuat Hazel terpaku, sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Cukup lama keduanya bertatapan mata. Manik mata Arlo yang pekat menatap Hazel dengan pendar kehangatan yang amat dalam, seolah mengunci seluruh fokus dunia hanya pada gadis di hadapannya.Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, Hazel mendadak merasakan desiran aneh di dadanya. Denyut nadinya berpacu liar, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejutkan oleh ledakan confetti tadi."A-Arlo?" batinnya gugup. Hingga akhirnya Hazel tersadar karena detak jantungnya yang tidak stabil. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke sembarang arah, mengusap leher belakangnya dengan canggung. Hazel langsung salah tingkah dibuatnya. Pipinya merona merah, dan ia pura-pura sibuk merapikan tatanan gaun manekin di dekatnya agar tidak ketah

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status