Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 1. Pengkhianatan

Share

Sekarang, Giliranku!
Sekarang, Giliranku!
Author: Perfect Wife

1. Pengkhianatan

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-05-23 11:06:04

Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya.

Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depannya, segelas anggur merah yang baru saja ia sesap menyisakan bercak kemerahan di bibirnya yang mulai memucat.

Di seberang meja, Axel berdiri dengan tenang. Pria itu perlahan merapikan jas hitamnya yang licin tanpa cela, lalu memasukkan sebelah tangan ke saku celana.

Tidak ada kepanikan. Tidak ada raut cemas dari seorang suami yang melihat istrinya sedang sekarat. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai mengabur, Hazel menatap pria yang selama tiga tahun ini berbagi ranjang dengannya.

Air mata Hazel jatuh, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang membakar organ dalamnya, tapi karena penolakan batin yang teramat sangat. Ia masih tidak percaya.

Pria yang selalu memeluknya hangat setiap malam, kini menatapnya seperti melihat seekor serangga yang menjijikkan.

"A-Axel..." suara Hazel tercekat, parau dan nyaris habis. "Kenapa...? Apa salahku... sampai kamu tega melakukan ini?"

Axel melangkah mendekat. Langkah sepatunya terdengar begitu tegas dan dingin di keheningan ruangan pribadi itu. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya yang tampan namun kini terasa begitu asing bagi Hazel. Sebuah senyuman tipis—dingin dan tanpa rasa bersalah sedikit pun—terukir di bibirnya.

"Kamu mau tahu kenapa, Hazel?" bisik Axel, suaranya begitu tenang, seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. "Sederhana. Karena setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah siksaan. Aku sangat membencimu. Menjijikkan rasanya harus menyentuh wanita sepertimu."

Hazel terbelalak, dadanya kian sesak. "Tapi... pernikahan kita... ucapan cintamu..."

"Semua itu palsu!" potong Axel cepat, tatapannya menajam, memancarkan kebencian yang mendalam yang selama ini berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. "Satu-satunya alasanku sudi menurunkan harga diriku, berlutut melamarmu, dan berpura-pura menjadi suami yang penuh kasih, adalah demi Luna!"

Nama itu mencuat seperti belati kedua yang menusuk jantung Hazel.

"Luna..." gumam Hazel lirih di sela rintihannya.

"Ya, Luna. Gadis malang yang hidupnya hancur karena terus-menerus kamu rundung dan kamu injak-injak," ucap Axel, nadanya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. Ia mencengkeram dagu Hazel yang sudah melemah, memaksanya menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam. "Kamu merebut segalanya dari dia, Hazel. Dan hari ini, aku datang sebagai takdir yang akan membalaskan seluruh rasa sakitnya. Anggap saja ini akhir dari permainanmu."

Axel melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat tubuh Hazel tersungkur ke lantai marmer yang dingin.

Pria itu berbalik, melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Hazel yang perlahan tenggelam dalam kegelapan malam, ditemani detak jantungnya yang kian melambat.

Hazel tertawa getir. Suara tawa yang keluar dari tenggorokannya yang tercekat terdengar lebih mirip bisikan hantu. Air mata mengalir melewati sudut matanya, membasahi pipinya yang kian memucat.

Awalnya ia mengira jika Axel mengajaknya untuk makan malam sebagai perayaan pernikahan mereka yang ke 3 tahun. Namun tak disangka, momen yang begitu indah malah digantikan menjadi momen yang memberikan rasa sakit tak terduga.

Axel sengaja memberikan resto mewah itu untuk makam pribadi Hazel malam ini. Hazel tak pernah menyangka jika ia akan berakhir dengan mengenaskan.

​’Bodoh... Kau begitu bodoh, Hazel,’ batinnya memaki diri sendiri.

​Dia teringat bagaimana dia dengan sukarela menyerahkan segalanya untuk Axel, percaya pada setiap bualan manis dan pelukan hangat yang ternyata hanyalah topeng dari sebuah ambisi busuk

Pandangan Hazel mulai mengabur. Cahaya lampu gantung di langit-langit kamar tampak berpendar, menjauh, seiring dengan detak jantungnya yang kian melambat. Sukmanya terasa mulai merenggang, bersiap melepaskan diri dari raga yang telah hancur. Memori di mana ia berkali-kali difitnah, ditindas oleh Luna semuanya terlihat dengan jelas.

​Namun, alih-alih kepasrahan, rasa hangat yang pekat dan membara mendadak menyelimuti sisa kesadarannya. Itu bukan lagi rasa sedih, melainkan kebencian murni.

​Dengan sisa kekuatan terakhir yang mengalir di nadinya, Hazel mencengkeram dadanya, bersumpah di dalam kegelapan yang menjemputnya:

​"Demi langit dan bumi yang menyaksikanku mati malam ini... jika Tuhan mengizinkanku bernapas kembali, jika aku terlahir kembali ke dunia ini..."

Angin malam berdesir kencang, seolah menyambut sumpah matinya..

​"...akan kupastikan kalian merangkak di kakiku! Setiap air mata, setiap tetes darah, dan setiap jengkal rasa sakit ini! Akan aku balas berkali-kali lipat! Aku bersumpah!"

Bersamaan dengan kalimat terakhir yang bergema di benaknya, tangan Hazel terkulai lemas di atas marmer dingin. Napasnya berhenti. Matanya tertutup rapat, membawa dendam membara yang mengunci jiwanya.

Kegelapan yang menjemput Hazel ternyata tidak membawa kedamaian yang sunyi. Begitu napas terakhirnya terenggut, sukmanya tidak melayang ke langit, melainkan terlempar dengan hantaman yang luar biasa dahsyat.

Hazel merasa tubuhnya seringan kapas namun ditarik oleh gravitasi yang tak kasat mata, menerobos masuk ke dalam sebuah lubang hitam yang pekat dan tak berujung. Angin tak bersuara menghantam kesadarannya, berputar-putar dalam pusaran waktu yang mengaburkan batas antara kematian dan kehidupan.

Wusss!

Rasa pening mendadak menyerang kepalanya seperti hantaman gada besi. Hazel tersentak, kelopak matanya terbuka lebar secara refleks.

Bukan lantai marmer dingin tempatnya meregang nyawa yang ia lihat. Bukan pula kegelapan pekat yang menakutkan. Pandangannya justru menangkap pendar cahaya keemasan dari lampu gantung kristal yang megah.

Bau anyir racun di tenggorokannya lenyap, berganti dengan aroma panggangan daging premium dan pekatnya wangi anggur merah.

Suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen, serta obrolan santai kelas atas bergemuruh di sekelilingnya.

"Hazel? Kau melamun lagi? Makanannya keburu dingin..."

Hazel menoleh patah-patah ke arah sumber suara. Di samping kirinya, duduk Axel. Pria itu mengenakan setelan tuksedo formal, memotong daging steak dengan gerakan yang sangat elegan.

Senyumnya begitu menawan, senyum yang sama yang dulu selalu membuat jantung Hazel berdesir hangat—namun kini, melihat senyum itu justru membuat bulu kuduk Hazel meremajakan rasa ngeri.

"K-kau..." Suara Hazel tercekat, tangannya gemetar hebat di bawah meja.

Di seberang meja, seorang gadis dengan gaun putih bersih tampak tertawa kecil sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet. "Kakak, apa ada hal lain yg lebih penting selain perjamuan makan malam ini sampai Kakak melamun begitu?"

"Memang Luna kita yang paling mengerti, tidak seperti anak lain yang egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri!" sahut Rona, mama tiri Hazel.

Hazel mencengkeram rok gaunnya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya berputar cepat, menyusun kepingan memori yang mendadak tumpang tindih di otaknya.

'Perjamuan makan malam ini... Restaurant ini... Axel... Orang tua Axel... Luna...'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    9. Ala-Ala Drama

    Keputusasaan yang pekat menghantam dadanya. Bagaimana bisa Tuhan sekejam ini? Ia baru saja diberikan kesempatan kedua untuk membalaskan dendam dan memperbaiki takdir, namun sekarang hidupnya justru diperpendek dengan cara sekonyol ini. Di dalam hati, ia menjerit, mengeluhkan keadilan Yang Maha Kuasa atas nasibnya yang begitu tragis.Sentakan kuat mendarat di lengan Hazel, menarik tubuhnya mundur dengan kasar hingga ia kehilangan keseimbangan. Detik berikutnya, motor itu melesat lewat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatunya, meninggalkan kepulan asap knalpot dan bunyi klakson yang memekakkan telinga.Hazel terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam kepala. Namun, ia menyadari satu hal, ia masih bernapas. Lagi-lagi, ia selamat dari maut.Saat Hazel mendongak untuk melihat siapa yang menariknya, matanya langsung terbelalak. Dan yang menolongnya adalah... ya, betul, Arlo. Pria itu lagi.Hazel be

  • Sekarang, Giliranku!    8. Ogah Sial

    "Kamu enggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?" tanya pria itu lembut, mengabaikan presensi Axel dan Luna yang masih memandang mereka dengan tatapan syok di belakang.Rupanya Arlo yang telah menyelamatkan Hazel. Hazel segera memundurkan langkahnya, melepaskan sisa-sisa kehangatan lengan Arlo dari pinggangnya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu menatap Arlo dengan pandangan sedingin es."Aku baik-baik saja. Terima kasih," jawab Hazel, nadanya datar tanpa emosi.Di dalam hatinya, Hazel justru menyalakan alarm waspada. Kehadiran Arlo yang tiba-tiba ini terasa terlalu kebetulan. Pria ini tidak biasa. Pikirannya melayang pada kesan buruk dari pertemuan awal mereka yang penuh rahasia dan ketegangan. Pertemuan itu meninggalkan firasat tidak enak, dan Hazel tidak mau menanggung sial lagi di kehidupan kedua ini hanya karena berurusan dengan pria misterius seperti Arlo.Sebelum Arlo sempat membalas, sebuah tangan mencengkeram bahu Hazel dan menariknya menjauh. Axel merangsek maju, wa

  • Sekarang, Giliranku!    7. Manipulasi Gagal

    Hazel menatap drama picisan itu dengan geli. Ingatannya langsung terlempar ke kehidupan masa lalu. Dulu, skenario ini selalu berulang. Luna akan selalu mengekor ke mana pun ia dan Axel pergi, bertingkah seolah dirinya adalah pihak yang terintimidasi, sementara Axel akan menatap Hazel dengan pandangan menghakimi.'Bodohnya aku dulu!' batin Hazel.Kini tabir itu telah terbuka. Hazel sadar sepenuhnya bahwa sejak awal, Luna memang tidak pernah mengincar Axel karena cinta. Luna hanya menginginkan apa pun yang dimiliki Hazel. Wanita itu terobsesi untuk merebut seluruh dunianya, menghancurkannya berkeping-keping dari dalam.Axel yang melihat perubahan sikap Luna langsung mengerutkan dahi, bersiap membuka suara untuk membela. "Zel, kamu enggak perlu sampai sekeras itu sama adik kamu!""Siapa yang bilang Luna tidak boleh ikut?"Kalimat Axel terputus. Hazel memotongnya dengan nada suara yang teramat santai, bahkan cenderung ramah. Hazel bersandar pada sandaran sofa, melipat kakinya dengan anggu

  • Sekarang, Giliranku!    6. Baru Permulaan

    Aroma familier dari rumah ini mendadak terasa mencekik, memicu kilas balik yang menghantam dada Hazel begitu keras. Jika ini adalah Hazel yang dulu, lututnya pasti sudah gemetar.Ia akan langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud di kaki papanya, memohon ampun sambil terisak agar tidak dihukum, meskipun ujung-ujungnya, pembelaan dirinya selalu dianggap angin lalu dan hukuman tetap jatuh.Di hadapannya, Hazel bisa menangkap kilat kepuasan di mata Luna dan senyum tipis yang disembunyikan sang mama tiri. Mereka sedang bersiap menonton pertunjukan. Mereka ingin tertawa di atas penderitaannya lagi.'Tidak akan pernah lagi,' bisik Hazel dalam hati. Jemarinya mencengkeram kusen pintu, menyalurkan seluruh dendam yang membakar dadanya menjadi sebuah ketenangan yang dingin. Ia tidak akan mengulang kebodohan yang sama.Hazel memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya. Ketika ia membuka mata, sorot matanya yang tajam telah berganti menjadi pandangan yang sayu, redup, dan rapuh. Tubuhnya senga

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di mana ia pernah melihat wajah pria di hadapannya ini. Nama Arlo terasa tidak asing, tapi sekaligus begitu jauh. Namun, semakin ia memaksa otaknya berputar, rasa pening yang menusuk justru kian menyiksa.'Sial, kepalaku mau pecah!' batinnya frustrasi.Menyerah pada rasa sakit, Hazel memutuskan untuk berhenti. Lagi pula, apa pedulinya? Anggap saja pertemuan absurd hari ini tidak pernah terjadi.Hazel menurunkan pandangannya ke bawah, tepat pada jemari Arlo yang masih melingkari pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kasar, ia menepis tangan pria itu hingga terlepas."Cukup!" desis Hazel, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melangkah mundur, memberi jarak yang tegas di antara mereka. "

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang kuat, hangat, namun tidak menyakitkan mengunci gerakannya.Hazel menoleh dengan sentakan cepat, menatap Arlo dengan tatapan mata yang menyalang penuh kekesalan. Gigi-giginya bergemulutuk."Lepas!" desis Hazel rendah, suaranya sarat akan emosi yang tertahan. "Apa-apaan kau ini?! Kau sendiri yang menyeretku ke dalam drama gilamu, dan sekarang kau malah menahanku dan membela wanita ini?!"Rasa dongkol dan kecewa mendadak menghantam dada Hazel. Di kehidupan lalunya, dia selalu dikhianati dan dijadikan tameng. Pikirannya langsung melompat pada kesimpulan terburuk kalau pria asing bernama Arlo ini pasti menyesal telah melibatkannya, atau mungkin Arlo sengaja ingin mempermainkannya dan memberikan pel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status