Masuk
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya.
Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depannya, segelas anggur merah yang baru saja ia sesap menyisakan bercak kemerahan di bibirnya yang mulai memucat. Di seberang meja, Axel berdiri dengan tenang. Pria itu perlahan merapikan jas hitamnya yang licin tanpa cela, lalu memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Tidak ada kepanikan. Tidak ada raut cemas dari seorang suami yang melihat istrinya sedang sekarat. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai mengabur, Hazel menatap pria yang selama tiga tahun ini berbagi ranjang dengannya. Air mata Hazel jatuh, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang membakar organ dalamnya, tapi karena penolakan batin yang teramat sangat. Ia masih tidak percaya. Pria yang selalu memeluknya hangat setiap malam, kini menatapnya seperti melihat seekor serangga yang menjijikkan. "A-Axel..." suara Hazel tercekat, parau dan nyaris habis. "Kenapa...? Apa salahku... sampai kamu tega melakukan ini?" Axel melangkah mendekat. Langkah sepatunya terdengar begitu tegas dan dingin di keheningan ruangan pribadi itu. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya yang tampan namun kini terasa begitu asing bagi Hazel. Sebuah senyuman tipis—dingin dan tanpa rasa bersalah sedikit pun—terukir di bibirnya. "Kamu mau tahu kenapa, Hazel?" bisik Axel, suaranya begitu tenang, seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. "Sederhana. Karena setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah siksaan. Aku sangat membencimu. Menjijikkan rasanya harus menyentuh wanita sepertimu." Hazel terbelalak, dadanya kian sesak. "Tapi... pernikahan kita... ucapan cintamu..." "Semua itu palsu!" potong Axel cepat, tatapannya menajam, memancarkan kebencian yang mendalam yang selama ini berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. "Satu-satunya alasanku sudi menurunkan harga diriku, berlutut melamarmu, dan berpura-pura menjadi suami yang penuh kasih, adalah demi Luna!" Nama itu mencuat seperti belati kedua yang menusuk jantung Hazel. "Luna..." gumam Hazel lirih di sela rintihannya. "Ya, Luna. Gadis malang yang hidupnya hancur karena terus-menerus kamu rundung dan kamu injak-injak," ucap Axel, nadanya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. Ia mencengkeram dagu Hazel yang sudah melemah, memaksanya menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam. "Kamu merebut segalanya dari dia, Hazel. Dan hari ini, aku datang sebagai takdir yang akan membalaskan seluruh rasa sakitnya. Anggap saja ini akhir dari permainanmu." Axel melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat tubuh Hazel tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Pria itu berbalik, melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Hazel yang perlahan tenggelam dalam kegelapan malam, ditemani detak jantungnya yang kian melambat. Hazel tertawa getir. Suara tawa yang keluar dari tenggorokannya yang tercekat terdengar lebih mirip bisikan hantu. Air mata mengalir melewati sudut matanya, membasahi pipinya yang kian memucat. Awalnya ia mengira jika Axel mengajaknya untuk makan malam sebagai perayaan pernikahan mereka yang ke 3 tahun. Namun tak disangka, momen yang begitu indah malah digantikan menjadi momen yang memberikan rasa sakit tak terduga. Axel sengaja memberikan resto mewah itu untuk makam pribadi Hazel malam ini. Hazel tak pernah menyangka jika ia akan berakhir dengan mengenaskan. ’Bodoh... Kau begitu bodoh, Hazel,’ batinnya memaki diri sendiri. Dia teringat bagaimana dia dengan sukarela menyerahkan segalanya untuk Axel, percaya pada setiap bualan manis dan pelukan hangat yang ternyata hanyalah topeng dari sebuah ambisi busuk Pandangan Hazel mulai mengabur. Cahaya lampu gantung di langit-langit kamar tampak berpendar, menjauh, seiring dengan detak jantungnya yang kian melambat. Sukmanya terasa mulai merenggang, bersiap melepaskan diri dari raga yang telah hancur. Memori di mana ia berkali-kali difitnah, ditindas oleh Luna semuanya terlihat dengan jelas. Namun, alih-alih kepasrahan, rasa hangat yang pekat dan membara mendadak menyelimuti sisa kesadarannya. Itu bukan lagi rasa sedih, melainkan kebencian murni. Dengan sisa kekuatan terakhir yang mengalir di nadinya, Hazel mencengkeram dadanya, bersumpah di dalam kegelapan yang menjemputnya: "Demi langit dan bumi yang menyaksikanku mati malam ini... jika Tuhan mengizinkanku bernapas kembali, jika aku terlahir kembali ke dunia ini..." Angin malam berdesir kencang, seolah menyambut sumpah matinya.. "...akan kupastikan kalian merangkak di kakiku! Setiap air mata, setiap tetes darah, dan setiap jengkal rasa sakit ini! Akan aku balas berkali-kali lipat! Aku bersumpah!" Bersamaan dengan kalimat terakhir yang bergema di benaknya, tangan Hazel terkulai lemas di atas marmer dingin. Napasnya berhenti. Matanya tertutup rapat, membawa dendam membara yang mengunci jiwanya. Kegelapan yang menjemput Hazel ternyata tidak membawa kedamaian yang sunyi. Begitu napas terakhirnya terenggut, sukmanya tidak melayang ke langit, melainkan terlempar dengan hantaman yang luar biasa dahsyat. Hazel merasa tubuhnya seringan kapas namun ditarik oleh gravitasi yang tak kasat mata, menerobos masuk ke dalam sebuah lubang hitam yang pekat dan tak berujung. Angin tak bersuara menghantam kesadarannya, berputar-putar dalam pusaran waktu yang mengaburkan batas antara kematian dan kehidupan. Wusss! Rasa pening mendadak menyerang kepalanya seperti hantaman gada besi. Hazel tersentak, kelopak matanya terbuka lebar secara refleks. Bukan lantai marmer dingin tempatnya meregang nyawa yang ia lihat. Bukan pula kegelapan pekat yang menakutkan. Pandangannya justru menangkap pendar cahaya keemasan dari lampu gantung kristal yang megah. Bau anyir racun di tenggorokannya lenyap, berganti dengan aroma panggangan daging premium dan pekatnya wangi anggur merah. Suara denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen, serta obrolan santai kelas atas bergemuruh di sekelilingnya. "Hazel? Kau melamun lagi? Makanannya keburu dingin..." Hazel menoleh patah-patah ke arah sumber suara. Di samping kirinya, duduk Axel. Pria itu mengenakan setelan tuksedo formal, memotong daging steak dengan gerakan yang sangat elegan. Senyumnya begitu menawan, senyum yang sama yang dulu selalu membuat jantung Hazel berdesir hangat—namun kini, melihat senyum itu justru membuat bulu kuduk Hazel meremajakan rasa ngeri. "K-kau..." Suara Hazel tercekat, tangannya gemetar hebat di bawah meja. Di seberang meja, seorang gadis dengan gaun putih bersih tampak tertawa kecil sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet. "Kakak, apa ada hal lain yg lebih penting selain perjamuan makan malam ini sampai Kakak melamun begitu?" "Memang Luna kita yang paling mengerti, tidak seperti anak lain yang egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri!" sahut Rona, mama tiri Hazel. Hazel mencengkeram rok gaunnya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya berputar cepat, menyusun kepingan memori yang mendadak tumpang tindih di otaknya. 'Perjamuan makan malam ini... Restaurant ini... Axel... Orang tua Axel... Luna...'Matahari pagi musim gugur membiaskan cahaya keemasan yang hangat melalui celah jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suasana yang biasanya diselimuti ketegangan kini berganti menjadi kedamaian murni. Setelah badai besar yang menimpa mereka, mulai dari skandal manipulasi perusahaan, keracunan di pesta, hingga aksi penyanderaan dan ledakan gedung tua oleh Mona, semua ancaman itu kini telah resmi berakhir secara mutlak.Di dalam ruangan yang tenang itu, Arlo berdiri di dekat jendela, memperhatikan Hazel yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas travel kecil. Wajah Hazel yang sebelumnya pucat kini telah kembali memancarkan rona segar dan sehat. Tatapan matanya yang dulu kerap kali diselimuti ketakutan dan luka, kini tampak jernih, tenang, dan dipenuhi binar kehidupan yang utuh.Arlo menghembuskan napas pelan, merasakan getaran hangat yang meluap di dalam dadanya. Pria itu menyadari bahwa inilah saatnya. Seluruh musuh telah tereliminasi, keadilan untuk Love Co
Lampu indikator LED merah pada rakitan peledak di sudut plafon berkedip makin cepat, diiringi bunyi bip ritmis yang bagaikan detak jarum jam kematian. Suara jeritan histeris Mona yang menggema penuh kegilaan seketika menghentikan aliran darah siapa pun yang berada di dalam gedung tua tersebut.Atmosfer di dalam ruangan berdebu itu berubah menjadi medan kepanikan yang teramat mencekam."Semua keluar! Evakuasi sekarang juga!" teriak komandan polisi dengan suara menggelegar, langsung memicu pergerakan cepat para personel aparat untuk menyelamatkan diri dan mengamankan area.Arlo tak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memedulikan rasa pening yang menusuk di belakang kepalanya akibat hantaman sebelumnya, Arlo langsung merengkuh Hazel ke dalam dekapan tegapnya. Ia melindunginya dengan seluruh bobot tubuhnya sendiri, menarik gadis itu agar terus bergerak maju menyusuri lorong keluar."Arlo... bagaimana dengan yang lain?!" jerit Hazel dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal di teng
Gelak tawa histeris Mona yang menggema di setiap sudut gedung tua itu mendadak terhenti secara tiba-tiba. Suara tawanya seolah tercekik di tenggorokan, menyisakan keheningan mencekam saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak bergema konstan dari arah pintu besi utama yang setengah terbuka.Cahaya lampu sorot berdaya tinggi menembus kegelapan ruangan, disusul suara bariton yang tegas dan berwibawa melintasi udara dingin."Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian!"Mona membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam ketidakpercayaan yang amat sangat. Dari balik pijar cahaya putih yang menyilaukan, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata api melangkah masuk dengan siaga. Namun, bukan keberadaan barisan aparat itu yang membuat napas Mona terhenti seketika, melainkan sosok wanita yang berjalan di tengah pengawalan ketat tersebut.Tiba-tiba Hazel muncul bersama dengan Damian dan Yaya juga polisi.Hazel berdiri tegak di sana. Meskipun wajahnya masih menyi
Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pun bergetar. Di jemari lentik wanita itu, terkandung sebuah ancaman mematikan yang sanggup meremukkan seluruh dunia Arlo hanya dengan satu tekanan kecil pada pelatuk.Arlo memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang keras. Pikiran Arlo berputar hebat, bekerja ekstra keras mencari jalan keluar dari kubangan maut ini."Bodoh! Kenapa aku begitu gegabah?!" umpat Arlo merutuki dirinya sendiri di dalam hati.Rasa penyesalan yang membakar dada menyerangnya tanpa
Rasa sakit yang menusuk tajam di belakang kepala menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Arlo. Sensasi pening yang amat hebat memutar balikkan dunianya, disusul rasa lengket dari darah kering yang menempel di sela-sela rambutnya. Dinding tengkoraknya seolah dihantam palu secara berkala, menciptakan denyutan nyeri yang membakar hingga ke pangkal leher.Arlo mengerang pelan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kepalanya yang berat, namun niat itu tertahan seketika. Gesekan kasar tali tambang tebal yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang sandaran kursi kayu membuat kulitnya tergores perih. Kedua kakinya pun terikat kuat pada kaki-kaki kursi, mengunci seluruh pergerakan tubuh tegapnya tanpa sisa.Dengan susah payah, Arlo memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk terbuka.Pandangannya membayang ganda sebelum perlahan-lahan fokus pada sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau apak dan penuh debu, tampak seperti gedung tua
Lampu gantung di koridor rumah sakit berpendar redup, membiaskan cahaya kekuningan yang terasa kian dingin seiring bergeraknya jarum jam. Waktu terus bergulir membelah malam, namun suasana di dalam kamar perawatan VIP itu justru terasa makin mencekam oleh hening yang menggantung.Hazel duduk bersandar di atas ranjang medisnya. Pakaian pasien yang dipakainya terasa kebesaran, membungkus tubuhnya yang masih rentan setelah baru saja melewati masa kritis akibat racun yang menyerang sistem sarafnya. Infus di punggung tangannya sesekali berdenyut pelan, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.Ponsel pintar di atas nakas terus menampakkan layar gelap. Tak ada notifikasi, tak ada panggulan masuk, tak ada satu pun pesan singkat yang terkirim dari nomor Arlo.Hazel mulai cemas Arlo kenapa-kenapa karena sampai sekarang belum ada kabar dan perasaan Hazel juga tidak enak."Kenapa belum ada kabar juga, ya?" bisik Hazel lirih. Suaranya s
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







