เข้าสู่ระบบSumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.
Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang kuat, hangat, namun tidak menyakitkan mengunci gerakannya. Hazel menoleh dengan sentakan cepat, menatap Arlo dengan tatapan mata yang menyalang penuh kekesalan. Gigi-giginya bergemulutuk. "Lepas!" desis Hazel rendah, suaranya sarat akan emosi yang tertahan. "Apa-apaan kau ini?! Kau sendiri yang menyeretku ke dalam drama gilamu, dan sekarang kau malah menahanku dan membela wanita ini?!" Rasa dongkol dan kecewa mendadak menghantam dada Hazel. Di kehidupan lalunya, dia selalu dikhianati dan dijadikan tameng. Pikirannya langsung melompat pada kesimpulan terburuk kalau pria asing bernama Arlo ini pasti menyesal telah melibatkannya, atau mungkin Arlo sengaja ingin mempermainkannya dan memberikan pelajaran pada Hazel di depan mantan kekasihnya. Air muka Hazel mengeras, menatap Arlo seolah pria itu adalah musuh baru dalam daftar hitamnya. Namun, Arlo sama sekali tidak membalas tatapan penuh permusuhan itu dengan kemarahan. Pria itu justru menatap Hazel dengan sepasang manik mata yang dalam, tenang, dan entah mengapa... terselip secercah rasa kagum di sana. "Tenanglah," ujar Arlo, suaranya berat dan sangat tenang, kontras dengan badai emosi yang sedang melanda Hazel. Arlo perlahan menurunkan tangan Hazel yang sedang terkunci, membawanya kembali ke samping tubuh dengan gerakan yang luar biasa lembut, seolah-olah tangan Hazel adalah porselen mahal yang mudah retak. "Kau salah paham," lanjut Arlo, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin sewaktu ia mengalihkan pandangannya kepada Mona yang masih berdiri mematung. Arlo maju satu langkah, memposisikan tubuh tegapnya sedikit di depan Hazel, seolah secara naluriah ingin memotong jarak antara Hazel dan Mona. "Aku menahanmu bukan karena ingin membelanya," bisik Arlo, cukup keras untuk didengar oleh kedua wanita di dekatnya. "Tapi karena aku tidak sudi tangan calon istriku yang berharga ini kotor karena menyentuh kulit wanita seperti dia. Biar tanganku sendiri yang melakukannya." Plak! Suara hantaman yang jauh lebih keras dan bertenaga bergema di koridor VIP tersebut. Tamparan dari tangan kekar Arlo mendarat telak di pipi Mona yang satunya, membuat tubuh wanita itu terhuyung ke samping hingga hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya. Hazel tertegun, matanya melebar menatap punggung tegap Arlo. Dugaan buruknya runtuh seketika, menyisakan rasa hangat aneh yang mendadak menyelinap di sudut hatinya yang telah beku. Mona terjerembap ke lantai marmer yang dingin, bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar. Rambutnya yang semula tertata rapi kini acak-acakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah padam akibat tamparan keras Arlo. Napasnya memburu, bukan hanya karena rasa sakit fisik di pipinya, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa hebat yang menghantam kesadarannya. Ia mendongak, menatap Arlo dengan mata membelalak tak percaya. "Arlo... kamu... kamu menamparku?" suara Mona bergetar hebat, sarat akan kepedihan yang dibuat-buat, namun kali ini bercampur dengan ketakutan murni. Di dalam benak Mona, sekacau apa pun hubungan mereka, Arlo seharusnya tetap membelanya. Dia adalah Mona, wanita yang selalu berhasil memanipulasi situasi dengan air matanya. Arlo sama sekali tidak menunjukkan riak penyesalan. Pria itu justru melangkah maju, berdiri angkuh di hadapan Mona yang bersimpuh. Sepasang matanya yang tajam bak elang menatap Mona dengan pandangan yang begitu rendah dan penuh kejijikan. "Dengar baik-baik, Mona!" ujar Arlo. Suaranya rendah, bariton, namun memiliki gaung intimidasi yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Siapa pun di dunia ini, termasuk kau, tidak diizinkan untuk menyentuh, mencaci, apalagi menindas wanita ini!" Arlo sedikit memiringkan kepalanya, memastikan setiap kata yang keluar dari bibirnya tertanam kuat di kepala Mona. "Jika kau masih menyayangi hidupmu, angkat kakimu dari sini sekarang juga. Teruslah menentangku, atau tunjukkan wajah busukmu lagi di hadapan calon istriku, maka aku bersumpah..." Arlo menjeda kalimatnya, aura membunuh yang pekat mendadak menguar dari tubuh tegapnya. "...Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu beserta seluruh hal yang kau banggakan hingga tak tersisa!" Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal. Mona tahu betul siapa Arlo dan seberapa besar kekuasaan yang digenggam oleh pria itu. Di bawah tatapan mematikan Arlo, nyali Mona menciut sepenuhnya. Air mata sandiwaranya kini berganti menjadi air mata ketakutan yang nyata. Dengan tubuh yang masih gemetar, Mona berusaha bangkit berdiri. Ia memundurkan langkahnya perlahan, menjauh dari jangkauan Arlo. Namun, rasa malu yang teramat sangat dan harga dirinya yang diinjak-injak memicu letupan dendam yang pekat di dalam hatinya. Sebelum benar-benar membalikkan badan untuk melarikan diri, Mona menghentikan langkahnya sejenak. Sepasang matanya yang merah dan penuh kilat kebencian beralih, menuding lurus ke arah Hazel yang sejak tadi berdiri diam di belakang tubuh Arlo. "Ini belum selesai!" tuding Mona dengan jari yang gemetar hebat, suaranya melengking tajam, sarat akan racun kedengkian. "Kau... perempuan jalang! Ingat wajahku baik-baik! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Hari ini kau bisa bersembunyi di balik punggung Arlo, tapi suatu hari nanti, akan kupastikan kau membayar setiap jengkal penghinaan yang kuterima malam ini. Aku akan membalasmu berkali-kali lipat!" Setelah meluapkan ancaman penuh dendam itu, Mona berbalik dan berlari kencang meninggalkan koridor VIP dengan langkah tertatih-tatih di atas sepatu hak tingginya, menghilang di balik tikungan koridor. Suasana koridor kembali hening. Hazel menatap ujung koridor tempat Mona menghilang dengan pandangan datar. Alih-alih takut dengan ancaman Mona, sudut bibir Hazel justru terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. ’Membalasku?’ batin Hazel berbisik sinis. ’Silakan coba, Mona. Aku bahkan sudah pernah merasakan mati sekali. Ancaman kekanak-kanakanmu sama sekali tidak ada artinya bagiku.’ Akhirnya Mona benar-benar pergi dari pandangan Hazel. Hazel menghela nafas panjangnya. Waktunya jadi terbuang sia-sia karena meladeni drama picisan tadi. Bahkan dia malah menambah musuh karena ikut campur dalam urusan orang lain. Hazel memaki dirinya sendiri. 'Dasar bodoh! Baru saja terlahir kembali selama beberapa jam, malah menambah masalah yang tidak perlu!' batinnya. Arlo yang sedari tadi melihat Hazel yang terdiam mencoba untuk memecah keheningan. "Terimakasih atas bantuanmu!" "Tidak perlu! Aku pergi!" Hazel segera melangkah untuk meninggalkan Arlo. Namun lagi-lagi Arlo menahan dirinya. Pergelangan tangan kanannya digenggam dengan erat oleh Arlo. Hazel benar-benar lelah dan ingin beristirahat. Ia memutar bola matanya sembari menghela napas karena kesal. "Kenapa lagi?! Apa yang tadi masih tidak cukup untukmu?! Aku tidak memintamu untuk membayar ku berakting harusnya kamu sudah bersyukur! Bukannya ngelunjak!" Hazel memperhatikan Arlo dan melihat Arlo tersenyum tipis. Namun senyuman Arlo membuat Hazel tertegun.Matahari pagi musim gugur membiaskan cahaya keemasan yang hangat melalui celah jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suasana yang biasanya diselimuti ketegangan kini berganti menjadi kedamaian murni. Setelah badai besar yang menimpa mereka, mulai dari skandal manipulasi perusahaan, keracunan di pesta, hingga aksi penyanderaan dan ledakan gedung tua oleh Mona, semua ancaman itu kini telah resmi berakhir secara mutlak.Di dalam ruangan yang tenang itu, Arlo berdiri di dekat jendela, memperhatikan Hazel yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas travel kecil. Wajah Hazel yang sebelumnya pucat kini telah kembali memancarkan rona segar dan sehat. Tatapan matanya yang dulu kerap kali diselimuti ketakutan dan luka, kini tampak jernih, tenang, dan dipenuhi binar kehidupan yang utuh.Arlo menghembuskan napas pelan, merasakan getaran hangat yang meluap di dalam dadanya. Pria itu menyadari bahwa inilah saatnya. Seluruh musuh telah tereliminasi, keadilan untuk Love Co
Lampu indikator LED merah pada rakitan peledak di sudut plafon berkedip makin cepat, diiringi bunyi bip ritmis yang bagaikan detak jarum jam kematian. Suara jeritan histeris Mona yang menggema penuh kegilaan seketika menghentikan aliran darah siapa pun yang berada di dalam gedung tua tersebut.Atmosfer di dalam ruangan berdebu itu berubah menjadi medan kepanikan yang teramat mencekam."Semua keluar! Evakuasi sekarang juga!" teriak komandan polisi dengan suara menggelegar, langsung memicu pergerakan cepat para personel aparat untuk menyelamatkan diri dan mengamankan area.Arlo tak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memedulikan rasa pening yang menusuk di belakang kepalanya akibat hantaman sebelumnya, Arlo langsung merengkuh Hazel ke dalam dekapan tegapnya. Ia melindunginya dengan seluruh bobot tubuhnya sendiri, menarik gadis itu agar terus bergerak maju menyusuri lorong keluar."Arlo... bagaimana dengan yang lain?!" jerit Hazel dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal di teng
Gelak tawa histeris Mona yang menggema di setiap sudut gedung tua itu mendadak terhenti secara tiba-tiba. Suara tawanya seolah tercekik di tenggorokan, menyisakan keheningan mencekam saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak bergema konstan dari arah pintu besi utama yang setengah terbuka.Cahaya lampu sorot berdaya tinggi menembus kegelapan ruangan, disusul suara bariton yang tegas dan berwibawa melintasi udara dingin."Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian!"Mona membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam ketidakpercayaan yang amat sangat. Dari balik pijar cahaya putih yang menyilaukan, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata api melangkah masuk dengan siaga. Namun, bukan keberadaan barisan aparat itu yang membuat napas Mona terhenti seketika, melainkan sosok wanita yang berjalan di tengah pengawalan ketat tersebut.Tiba-tiba Hazel muncul bersama dengan Damian dan Yaya juga polisi.Hazel berdiri tegak di sana. Meskipun wajahnya masih menyi
Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pun bergetar. Di jemari lentik wanita itu, terkandung sebuah ancaman mematikan yang sanggup meremukkan seluruh dunia Arlo hanya dengan satu tekanan kecil pada pelatuk.Arlo memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang keras. Pikiran Arlo berputar hebat, bekerja ekstra keras mencari jalan keluar dari kubangan maut ini."Bodoh! Kenapa aku begitu gegabah?!" umpat Arlo merutuki dirinya sendiri di dalam hati.Rasa penyesalan yang membakar dada menyerangnya tanpa
Rasa sakit yang menusuk tajam di belakang kepala menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Arlo. Sensasi pening yang amat hebat memutar balikkan dunianya, disusul rasa lengket dari darah kering yang menempel di sela-sela rambutnya. Dinding tengkoraknya seolah dihantam palu secara berkala, menciptakan denyutan nyeri yang membakar hingga ke pangkal leher.Arlo mengerang pelan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kepalanya yang berat, namun niat itu tertahan seketika. Gesekan kasar tali tambang tebal yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang sandaran kursi kayu membuat kulitnya tergores perih. Kedua kakinya pun terikat kuat pada kaki-kaki kursi, mengunci seluruh pergerakan tubuh tegapnya tanpa sisa.Dengan susah payah, Arlo memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk terbuka.Pandangannya membayang ganda sebelum perlahan-lahan fokus pada sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau apak dan penuh debu, tampak seperti gedung tua
Lampu gantung di koridor rumah sakit berpendar redup, membiaskan cahaya kekuningan yang terasa kian dingin seiring bergeraknya jarum jam. Waktu terus bergulir membelah malam, namun suasana di dalam kamar perawatan VIP itu justru terasa makin mencekam oleh hening yang menggantung.Hazel duduk bersandar di atas ranjang medisnya. Pakaian pasien yang dipakainya terasa kebesaran, membungkus tubuhnya yang masih rentan setelah baru saja melewati masa kritis akibat racun yang menyerang sistem sarafnya. Infus di punggung tangannya sesekali berdenyut pelan, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.Ponsel pintar di atas nakas terus menampakkan layar gelap. Tak ada notifikasi, tak ada panggulan masuk, tak ada satu pun pesan singkat yang terkirim dari nomor Arlo.Hazel mulai cemas Arlo kenapa-kenapa karena sampai sekarang belum ada kabar dan perasaan Hazel juga tidak enak."Kenapa belum ada kabar juga, ya?" bisik Hazel lirih. Suaranya s
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







