Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 4. Salah Sangka

Share

4. Salah Sangka

Author: Perfect Wife
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-23 11:07:02

Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.

Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang kuat, hangat, namun tidak menyakitkan mengunci gerakannya.

Hazel menoleh dengan sentakan cepat, menatap Arlo dengan tatapan mata yang menyalang penuh kekesalan. Gigi-giginya bergemulutuk.

"Lepas!" desis Hazel rendah, suaranya sarat akan emosi yang tertahan. "Apa-apaan kau ini?! Kau sendiri yang menyeretku ke dalam drama gilamu, dan sekarang kau malah menahanku dan membela wanita ini?!"

Rasa dongkol dan kecewa mendadak menghantam dada Hazel. Di kehidupan lalunya, dia selalu dikhianati dan dijadikan tameng. Pikirannya langsung melompat pada kesimpulan terburuk kalau pria asing bernama Arlo ini pasti menyesal telah melibatkannya, atau mungkin Arlo sengaja ingin mempermainkannya dan memberikan pelajaran pada Hazel di depan mantan kekasihnya.

Air muka Hazel mengeras, menatap Arlo seolah pria itu adalah musuh baru dalam daftar hitamnya. Namun, Arlo sama sekali tidak membalas tatapan penuh permusuhan itu dengan kemarahan.

Pria itu justru menatap Hazel dengan sepasang manik mata yang dalam, tenang, dan entah mengapa... terselip secercah rasa kagum di sana.

"Tenanglah," ujar Arlo, suaranya berat dan sangat tenang, kontras dengan badai emosi yang sedang melanda Hazel.

Arlo perlahan menurunkan tangan Hazel yang sedang terkunci, membawanya kembali ke samping tubuh dengan gerakan yang luar biasa lembut, seolah-olah tangan Hazel adalah porselen mahal yang mudah retak.

"Kau salah paham," lanjut Arlo, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin sewaktu ia mengalihkan pandangannya kepada Mona yang masih berdiri mematung.

Arlo maju satu langkah, memposisikan tubuh tegapnya sedikit di depan Hazel, seolah secara naluriah ingin memotong jarak antara Hazel dan Mona.

"Aku menahanmu bukan karena ingin membelanya," bisik Arlo, cukup keras untuk didengar oleh kedua wanita di dekatnya. "Tapi karena aku tidak sudi tangan calon istriku yang berharga ini kotor karena menyentuh kulit wanita seperti dia. Biar tanganku sendiri yang melakukannya."

Plak!

Suara hantaman yang jauh lebih keras dan bertenaga bergema di koridor VIP tersebut. Tamparan dari tangan kekar Arlo mendarat telak di pipi Mona yang satunya, membuat tubuh wanita itu terhuyung ke samping hingga hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.

Hazel tertegun, matanya melebar menatap punggung tegap Arlo. Dugaan buruknya runtuh seketika, menyisakan rasa hangat aneh yang mendadak menyelinap di sudut hatinya yang telah beku.

Mona terjerembap ke lantai marmer yang dingin, bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar. Rambutnya yang semula tertata rapi kini acak-acakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah padam akibat tamparan keras Arlo.

Napasnya memburu, bukan hanya karena rasa sakit fisik di pipinya, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa hebat yang menghantam kesadarannya.

Ia mendongak, menatap Arlo dengan mata membelalak tak percaya.

"Arlo... kamu... kamu menamparku?" suara Mona bergetar hebat, sarat akan kepedihan yang dibuat-buat, namun kali ini bercampur dengan ketakutan murni.

Di dalam benak Mona, sekacau apa pun hubungan mereka, Arlo seharusnya tetap membelanya. Dia adalah Mona, wanita yang selalu berhasil memanipulasi situasi dengan air matanya.

Arlo sama sekali tidak menunjukkan riak penyesalan. Pria itu justru melangkah maju, berdiri angkuh di hadapan Mona yang bersimpuh. Sepasang matanya yang tajam bak elang menatap Mona dengan pandangan yang begitu rendah dan penuh kejijikan.

"Dengar baik-baik, Mona!" ujar Arlo. Suaranya rendah, bariton, namun memiliki gaung intimidasi yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Siapa pun di dunia ini, termasuk kau, tidak diizinkan untuk menyentuh, mencaci, apalagi menindas wanita ini!"

Arlo sedikit memiringkan kepalanya, memastikan setiap kata yang keluar dari bibirnya tertanam kuat di kepala Mona.

"Jika kau masih menyayangi hidupmu, angkat kakimu dari sini sekarang juga. Teruslah menentangku, atau tunjukkan wajah busukmu lagi di hadapan calon istriku, maka aku bersumpah..." Arlo menjeda kalimatnya, aura membunuh yang pekat mendadak menguar dari tubuh tegapnya. "...Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu beserta seluruh hal yang kau banggakan hingga tak tersisa!"

Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal. Mona tahu betul siapa Arlo dan seberapa besar kekuasaan yang digenggam oleh pria itu. Di bawah tatapan mematikan Arlo, nyali Mona menciut sepenuhnya. Air mata sandiwaranya kini berganti menjadi air mata ketakutan yang nyata.

Dengan tubuh yang masih gemetar, Mona berusaha bangkit berdiri. Ia memundurkan langkahnya perlahan, menjauh dari jangkauan Arlo. Namun, rasa malu yang teramat sangat dan harga dirinya yang diinjak-injak memicu letupan dendam yang pekat di dalam hatinya.

Sebelum benar-benar membalikkan badan untuk melarikan diri, Mona menghentikan langkahnya sejenak. Sepasang matanya yang merah dan penuh kilat kebencian beralih, menuding lurus ke arah Hazel yang sejak tadi berdiri diam di belakang tubuh Arlo.

"Ini belum selesai!" tuding Mona dengan jari yang gemetar hebat, suaranya melengking tajam, sarat akan racun kedengkian. "Kau... perempuan jalang! Ingat wajahku baik-baik! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Hari ini kau bisa bersembunyi di balik punggung Arlo, tapi suatu hari nanti, akan kupastikan kau membayar setiap jengkal penghinaan yang kuterima malam ini. Aku akan membalasmu berkali-kali lipat!"

Setelah meluapkan ancaman penuh dendam itu, Mona berbalik dan berlari kencang meninggalkan koridor VIP dengan langkah tertatih-tatih di atas sepatu hak tingginya, menghilang di balik tikungan koridor.

Suasana koridor kembali hening. Hazel menatap ujung koridor tempat Mona menghilang dengan pandangan datar. Alih-alih takut dengan ancaman Mona, sudut bibir Hazel justru terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.

’Membalasku?’ batin Hazel berbisik sinis. ’Silakan coba, Mona. Aku bahkan sudah pernah merasakan mati sekali. Ancaman kekanak-kanakanmu sama sekali tidak ada artinya bagiku.’

Akhirnya Mona benar-benar pergi dari pandangan Hazel. Hazel menghela nafas panjangnya. Waktunya jadi terbuang sia-sia karena meladeni drama picisan tadi.

Bahkan dia malah menambah musuh karena ikut campur dalam urusan orang lain. Hazel memaki dirinya sendiri.

'Dasar bodoh! Baru saja terlahir kembali selama beberapa jam, malah menambah masalah yang tidak perlu!' batinnya.

Arlo yang sedari tadi melihat Hazel yang terdiam mencoba untuk memecah keheningan. "Terimakasih atas bantuanmu!"

"Tidak perlu! Aku pergi!" Hazel segera melangkah untuk meninggalkan Arlo.

Namun lagi-lagi Arlo menahan dirinya. Pergelangan tangan kanannya digenggam dengan erat oleh Arlo.

Hazel benar-benar lelah dan ingin beristirahat. Ia memutar bola matanya sembari menghela napas karena kesal. "Kenapa lagi?! Apa yang tadi masih tidak cukup untukmu?! Aku tidak memintamu untuk membayar ku berakting harusnya kamu sudah bersyukur! Bukannya ngelunjak!"

Hazel memperhatikan Arlo dan melihat Arlo tersenyum tipis. Namun senyuman Arlo membuat Hazel tertegun.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sekarang, Giliranku!    surprise

    Mobil SUV hitam milik Arlo membelah kepadatan jalan raya dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu kontras. Arlo mengemudi dengan santai, sementara Hazel duduk tegak di kursi penumpang dengan wajah merah padam menahan gemas.Hazel terus mendesak Arlo agar mengaku, mencecar pria itu tanpa ampun. "Arlo! Katakan sekarang! Ada apa dengan butikku? Apakah ada kebocoran pipa? Apakah ada supplier yang membatalkan kain sutra kita? Atau... atau Yaya pingsan karena kelelahan?!"Namun Arlo tetap tidak akan memberitahu. Pria itu hanya menatap lurus ke depan, sesekali menyesuaikan pegangannya pada lingkar kemudi, lalu mengulas senyum tipis yang amat misterius. Ketenangan Arlo justru membuat tingkat kepanikan Hazel melonjak ke ubun-ubun. Rasa-rasanya Hazel ingin sekali mencubit lengan tegap pria di sampingnya itu agar mau membuka suara.Hingga akhirnya mereka tiba di butik Hazel. Mobil berhenti sempurna di pelataran parkir yang biasanya terang benderang oleh pendar lampu neon

  • Sekarang, Giliranku!    ada apa

    John terdiam sejenak. Kata 'Luna' yang meluncur dari bibir Hazel bagaikan paku bumi yang menancap tepat di tengah ruang geraknya. Pria paruh baya itu berdiri mematung di tengah ruangan, mulutnya teratup rapat dengan raut wajah yang mendadak linglung dan penuh keraguan. "Kenapa Papa diam? Apa lagi yang Papa inginkan?!" desak Hazel yang sudah tidak tahan lahi.John menggeleng, "Pergilah!" Tanpa melontarkan sepatah kata pembelaan, John pun membiarkan Hazel pergi begitu saja melintasi pintu kayu jati eksekutif tersebut.Begitu pintu ruangan papanya terkatup rapat di belakang punggungnya, Hazel menghembuskan napas panjang yang amat lega. Akhirnya Hazel bisa bebas dari rasa stres luar biasa setelah baru saja menghadapi dua pria paruh baya yang sangat bebal dan keras kepala. Menghadapi konfrontasi bisnis yang rumit rasanya jauh lebih mudah ketimbang meladeni dua orang tua yang matanya sudah tertutup oleh ambisi dan ego masing-masing.Hazel berjalan menyusuri koridor utama kantornya yang

  • Sekarang, Giliranku!    mengesampingkan ego

    Keheningan yang pekat merayap di antara mereka bertiga. Hazel menatap cangkir teh Tuan Baron yang memancarkan sisa-sisa uap tipis, berusaha mengurai benang kusut yang makin membelenggu pikirannya.Lagi-lagi Hazel harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi menjaga masa depan perusahaannya.Jika ia mengamuk saat ini dan membeberkan semua borok Axel, harga diri Om Baron mungkin akan terluka hebat, dan dampaknya bisa menjalar pada pencabutan suntikan dana di perusahaan peninggalan almarhumah ibunya. Kepentingan bisnis yang rapat dengan urusan asmara memang selalu menjadi kombinasi yang memuaskan untuk membuat kepala Hazel terasa mau pecah.Akhirnya, setelah bercakap-cakap dengan Om Baron dan mendengarkan berbagai bujukan serta wejangan pria paruh baya itu, Hazel memilih mengalah secara taktis. Hazel tidak mau berdebat dan menghabiskan tenaganya untuk berurusan dengan keluarga Axel."Baiklah, Om Baron, Hazel mengerti," ucap Hazel dengan nada suara yang begitu manis, teratur, dan di

  • Sekarang, Giliranku!    diminta berpikir lagi

    Ruangan kerja berukuran luas itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menyengat kulit, berbanding terbalik dengan tatapan intens dari dua pria paruh baya yang kini tertuju sepenuhnya pada Hazel.Baron tentu saja ingin tahu alasannya. Sorot mata pengusaha senior itu menuntut penjelasan yang masuk akal dan tak bantah.Hazel menghela napas halus. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan meremas pelan. Karena Hazel tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, tentu saja Hazel tidak mengatakan kebenarannya 100%, termasuk mengenai Axel yang terus memihak Luna. Jika ia membongkar seluruh kelakuan busuk Axel dan manipulasi Luna di sini, papanya pasti akan langsung murka tanpa arah, dan urusan ini akan melebar ke mana-mana. Bagaimanapun juga, perusahaan Tuan Baron merupakan salah satu penanam saham yang besar dan berpengaruh di perusahaan mama Hazel. Satu tindakan gegabah bisa berakibat fatal bagi warisan almarhumah ibunya.Dengan raut wajah yang tetap tenang d

  • Sekarang, Giliranku!    tidak berani bertemu

    Pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, mengungkapkan atmosfer tegang yang menyerbak di dalam ruangan kerja John. Hazel sempat menyatukan kedua alisnya, mencoba mencerna pemandangan di hadapannya sebelum matanya mengenali raut wajah pria paruh baya bertubuh tegap di atas sofa.Rupanya yang datang adalah Tuan Baron, yakni papa dari Axel.Sebuah kedutan sinis muncul di sudut bibir Hazel. Semula, Hazel pikir Axel yang akan datang mencarinya dengan segala drama dan raungan emosionalnya. Namun ternyata, Axel benar-benar tidak punya nyali sama sekali untuk berhadapan langsung dengannya. Pria itu justru sembunyi di balik ketiak ayahnya dan menyuruh sang papa yang menyelesaikan kekacauan ini. "Sangat tipikal Axel! Tidak pernah bisa mengatasi masalah dengan cara dewasa! Benar-benar kekanakak!" batin Hazel sembari menahan dorongan untuk memutar bola matanya keras-keras.Hazel pun masuk lalu duduk berseberangan dengan Baron, menegakkan punggungnya tanpa memperlihatkan sedikit pun keragu

  • Sekarang, Giliranku!    dipanggil

    Hazel memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak boleh membiarkan pikirannya terus-menerus digerogoti oleh bayang-bayang Axel. Ini adalah dunia kerja, tempat di mana dedikasi dan reputasinya dipertaruhkan, bukan panggung drama picisan tempat ia harus meratapi nasib. Hazel sadar betul, dirinya tidak boleh seperti ini hanya karena masalah Axel. Bagaimanapun situasinya, ia tetap harus bersikap profesional dan memisahkan secara tegas antara urusan pribadi yang berantakan dan tanggung jawab pekerjaan.Hazel memutar posisi duduknya menghadap Bu Senja. Ia menyunggingkan senyum tipis yang diusahakan sealami mungkin, meski raut lelah di matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan."Saya cuma sedikit kelelahan saja, Bu Senja," ucap Hazel halus, berusaha menenangkan raut khawatir di wajah atasan sekaligus mentornya itu. "Semalam ada beberapa urusan yang cukup menyita waktu dan pikiran, jadi kurang tidur."Bu Senja menatap Hazel intens selama beber

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status