Beranda / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 6. Baru Permulaan

Share

6. Baru Permulaan

Penulis: Perfect Wife
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 15:08:27

Aroma familier dari rumah ini mendadak terasa mencekik, memicu kilas balik yang menghantam dada Hazel begitu keras. Jika ini adalah Hazel yang dulu, lututnya pasti sudah gemetar.

Ia akan langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud di kaki papanya, memohon ampun sambil terisak agar tidak dihukum, meskipun ujung-ujungnya, pembelaan dirinya selalu dianggap angin lalu dan hukuman tetap jatuh.

Di hadapannya, Hazel bisa menangkap kilat kepuasan di mata Luna dan senyum tipis yang disembunyikan sang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sekarang, Giliranku!    10. Gagal Mengubah Alur?

    Kilat amarah di mata John terasa begitu familier. Di kehidupan sebelumnya, Hazel juga berdiri di titik yang sama, dihakimi secara sepihak oleh seluruh isi rumah ini. Bedanya, dulu ia dicaci maki karena dianggap egois membiarkan Luna terluka demi melindunginya dari hantaman bola. Hazel mengepalkan jemarinya tersembunyi di balik rok. Rupanya, meski ia sudah bersusah payah mengubah alur kejadian, ia tetap saja tidak bisa lepas dari adegan menyebalkan dan melelahkan ini.Rumah mewah ini memang besar, namun Hazel merasa tak ada tempat untuk dirinya di sini. Ingin rasanya Hazel berteriak dan keluar detik ini juga dari tempat yang lebih mirip neraka ketimbang tempat tinggal.Namun, Hazel menarik napas dalam-dalam, memaksakan logikanya untuk tetap bertahan. "Sabar, Hazel, sabar..." bisik hatinya menenangkan. Misinya belum selesai, bahkan ini mungkin baru saja dimulai. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri di ambang kematian yang lalu jika ia tidak boleh kalah lagi di kesempatan kali ini.

  • Sekarang, Giliranku!    9. Ala-Ala Drama

    Keputusasaan yang pekat menghantam dadanya. Bagaimana bisa Tuhan sekejam ini? Ia baru saja diberikan kesempatan kedua untuk membalaskan dendam dan memperbaiki takdir, namun sekarang hidupnya justru diperpendek dengan cara sekonyol ini. Di dalam hati, ia menjerit, mengeluhkan keadilan Yang Maha Kuasa atas nasibnya yang begitu tragis.Sentakan kuat mendarat di lengan Hazel, menarik tubuhnya mundur dengan kasar hingga ia kehilangan keseimbangan. Detik berikutnya, motor itu melesat lewat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatunya, meninggalkan kepulan asap knalpot dan bunyi klakson yang memekakkan telinga.Hazel terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam kepala. Namun, ia menyadari satu hal, ia masih bernapas. Lagi-lagi, ia selamat dari maut.Saat Hazel mendongak untuk melihat siapa yang menariknya, matanya langsung terbelalak. Dan yang menolongnya adalah... ya, betul, Arlo. Pria itu lagi.Hazel be

  • Sekarang, Giliranku!    8. Ogah Sial

    "Kamu enggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?" tanya pria itu lembut, mengabaikan presensi Axel dan Luna yang masih memandang mereka dengan tatapan syok di belakang.Rupanya Arlo yang telah menyelamatkan Hazel. Hazel segera memundurkan langkahnya, melepaskan sisa-sisa kehangatan lengan Arlo dari pinggangnya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu menatap Arlo dengan pandangan sedingin es."Aku baik-baik saja. Terima kasih," jawab Hazel, nadanya datar tanpa emosi.Di dalam hatinya, Hazel justru menyalakan alarm waspada. Kehadiran Arlo yang tiba-tiba ini terasa terlalu kebetulan. Pria ini tidak biasa. Pikirannya melayang pada kesan buruk dari pertemuan awal mereka yang penuh rahasia dan ketegangan. Pertemuan itu meninggalkan firasat tidak enak, dan Hazel tidak mau menanggung sial lagi di kehidupan kedua ini hanya karena berurusan dengan pria misterius seperti Arlo.Sebelum Arlo sempat membalas, sebuah tangan mencengkeram bahu Hazel dan menariknya menjauh. Axel merangsek maju, wa

  • Sekarang, Giliranku!    7. Manipulasi Gagal

    Hazel menatap drama picisan itu dengan geli. Ingatannya langsung terlempar ke kehidupan masa lalu. Dulu, skenario ini selalu berulang. Luna akan selalu mengekor ke mana pun ia dan Axel pergi, bertingkah seolah dirinya adalah pihak yang terintimidasi, sementara Axel akan menatap Hazel dengan pandangan menghakimi.'Bodohnya aku dulu!' batin Hazel.Kini tabir itu telah terbuka. Hazel sadar sepenuhnya bahwa sejak awal, Luna memang tidak pernah mengincar Axel karena cinta. Luna hanya menginginkan apa pun yang dimiliki Hazel. Wanita itu terobsesi untuk merebut seluruh dunianya, menghancurkannya berkeping-keping dari dalam.Axel yang melihat perubahan sikap Luna langsung mengerutkan dahi, bersiap membuka suara untuk membela. "Zel, kamu enggak perlu sampai sekeras itu sama adik kamu!""Siapa yang bilang Luna tidak boleh ikut?"Kalimat Axel terputus. Hazel memotongnya dengan nada suara yang teramat santai, bahkan cenderung ramah. Hazel bersandar pada sandaran sofa, melipat kakinya dengan anggu

  • Sekarang, Giliranku!    6. Baru Permulaan

    Aroma familier dari rumah ini mendadak terasa mencekik, memicu kilas balik yang menghantam dada Hazel begitu keras. Jika ini adalah Hazel yang dulu, lututnya pasti sudah gemetar.Ia akan langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud di kaki papanya, memohon ampun sambil terisak agar tidak dihukum, meskipun ujung-ujungnya, pembelaan dirinya selalu dianggap angin lalu dan hukuman tetap jatuh.Di hadapannya, Hazel bisa menangkap kilat kepuasan di mata Luna dan senyum tipis yang disembunyikan sang mama tiri. Mereka sedang bersiap menonton pertunjukan. Mereka ingin tertawa di atas penderitaannya lagi.'Tidak akan pernah lagi,' bisik Hazel dalam hati. Jemarinya mencengkeram kusen pintu, menyalurkan seluruh dendam yang membakar dadanya menjadi sebuah ketenangan yang dingin. Ia tidak akan mengulang kebodohan yang sama.Hazel memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya. Ketika ia membuka mata, sorot matanya yang tajam telah berganti menjadi pandangan yang sayu, redup, dan rapuh. Tubuhnya senga

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di mana ia pernah melihat wajah pria di hadapannya ini. Nama Arlo terasa tidak asing, tapi sekaligus begitu jauh. Namun, semakin ia memaksa otaknya berputar, rasa pening yang menusuk justru kian menyiksa.'Sial, kepalaku mau pecah!' batinnya frustrasi.Menyerah pada rasa sakit, Hazel memutuskan untuk berhenti. Lagi pula, apa pedulinya? Anggap saja pertemuan absurd hari ini tidak pernah terjadi.Hazel menurunkan pandangannya ke bawah, tepat pada jemari Arlo yang masih melingkari pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kasar, ia menepis tangan pria itu hingga terlepas."Cukup!" desis Hazel, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melangkah mundur, memberi jarak yang tegas di antara mereka. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status