เข้าสู่ระบบPagi itu, pendar sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden tinggi di ruang makan keluarga John, memantul hangat di atas meja kayu mahoni yang dipenuhi hidangan sarapan. Namun, di balik kemewahan dan kehangatan visual ruangan itu, ada atmosfer aneh yang merayap dingin.Hazel duduk menatap piringnya yang masih terisi separuh. Jemarinya yang menggenggam garpu membeku di udara. Saat mengunyah potongan roti panggangnya perlahan, Hazel merasa ada sesuatu yang teramat aneh. Suasana rumah pagi ini begitu tenang, sangat tenang hingga terasa tidak alami, seolah-olah peristiwa berdarah di pelataran butik semalam hanyalah mimpi belakangan. Tak ada satu pun suara piring yang dibanting, tak ada tatapan menghakimi dari ibu tirinya, dan yang paling membingungkan, tak ada suara membentak dari papanya.Sama sekali tidak ada yang menyinggung soal keputusannya membatalkan pernikahan dengan Axel.Padahal, jika mengikut pola normal selama bertahun-tahun Hazel hidup di rumah ini, jika papanya ta
Arlo terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari mamanya. Kata 'dendam' yang meluncur begitu tenang dari bibir sang mama seketika merenggut habis sisa-sisa binar gembira di wajah tegapnya. Keheningan yang dingin membeku di antara mereka, memutus atmosfer hangat yang baru saja tercipta beberapa detik lalu.Entah kenapa, dada Arlo mendadak berdesir tidak nyaman. Ia merasakan sebuah denyut sesak yang merayapi benaknya, membuatnya mendadak kehilangan mood untuk melanjutkan percakapan malam itu.Arlo menegakkan posisinya, memalingkan pandangan dari tatapan menuntut sang mama. "Ma... aku masuk ke kamar dulu ya. Sudah malam, Mama juga harus istirahat," ujar Arlo dengan suara rendah yang terdengar teramat datar, memotong pembicaraan mereka secara halus namun tegas.Mamanya tidak memaksanya untuk menjawab. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan sembari menatap punggung tegap putranya yang berlalu menaiki anak tangga satu per satu.Pand
Suasana kediaman keluarga John malam itu diselimuti oleh keheningan yang mencengkeram. Begitu Hazel mendorong pintu depan yang berat dan melangkah masuk, tidak ada satu pun orang yang menyambutnya. Seluruh sudut rumah megah berarsitektur klasik itu tampak remang, hanya diterangi oleh pendar lampu dinding bernuansa kuning temaram.Hazel menghentikan langkahnya di tengah ruang tengah, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sunyi. Itu berarti semua orang sudah tidur, termasuk John dan ibu tirinya.Sebuah helaan napas lega yang teramat panjang lolos dari bibir Hazel. Bahunya yang tegang sejak insiden di pelataran butik perlahan meluruh rileks. Setidaknya, untuk malam ini, Hazel bisa beristirahat sejenak di kamar bahagianya tanpa perlu menghadapi tatapan menghakimi dari sang papa. Ia tak perlu menghabiskan sisa tenaganya yang telah terkuras habis hanya untuk meladeni perdebatan kusir yang sia-sia. Walaupun memang mungkin hari ini Hazel bisa lolos, tapi keesokan harinya pasti papanya tida
Hazel tidak peduli lagi. Tanpa menghiraukan ucapan dari Axel, ia membalikkan badan dengan gerakan tegas. Jemarinya mencengkeram erat lengan kemeja Arlo dan Yaya secara bersamaan."Ayo masuk. Abaikan saja dia," ucap Hazel dengan nada dingin yang menyiratkan keputusannya tak bisa diganggu gugat.Hazel mengajak Arlo dan Yaya untuk mengabaikan Axel begitu saja. Mereka melangkah cepat melintasi pelataran, mendorong pintu kaca butik, lalu segera mengunci pintu butik itu dari dalam. Suara kait kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, menegaskan sebuah batas tegas yang kini membentang di antara Hazel dan pria dari masa lalunya itu.Sementara itu, di dalam sedan silver yang terparkir tak jauh di bawah kerindangan pohon akasia, Luna yang sedari tadi memperhatikan seluruh adegan dramatis itu dari jauh mengulas senyum miring. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia menyaksikan bagaimana Hazel menyeret kedua orang itu masuk dan membiarkan Axel berdiri mematung sendir
Pria itu berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan, kemeja yang tak lagi rapi, dan raut wajah penuh frustrasi yang membakar.Begitu melihat pergerakan dari dalam mobil hitam itu, Axel langsung melangkah lebar menghampiri. Belum sempat kaki Hazel menapak sempurna di atas paving, Axel sudah melayangkan cecaran pertanyannya tanpa memedulikan presensi Arlo maupun Yaya yang baru keluar dari pintu belakang."Hazel! Jelaskan padaku sekarang!" tuntut Axel, suarasa meninggi dengan napas yang memburu. "Apa maksud dari perkataanmu di pelataran restoran tadi?! Siapa orang lain yang kamu maksud?! Kenapa kamu terus-terusan menyudutkanku seolah-olah aku ini penjahatnya?!"Hazel berdiri tegang di samping pintu mobil. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun panas di dadanya jauh lebih membakar. Hazel merasa sangat muak. Rasa lelah yang menumpuk dari urusan magang di kantor, pesanan ratusan gaun di butik, hingga drama picisan berdarah yang dibuat Axel dan Luna rasanya sudah mengura
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Dari tadi aku lihat kamu seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat." Hazel bisa merasakan ada beban pikiran yang mendadak menggelayuti pria di samping kemudinya itu.Arlo menoleh sekilas ke arah Hazel saat mobil mereka berhenti di bawah pendar merah lampu lalu lintas. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat, sebelum akhirnya ia menyuarakan pertanyaan yang mengusik benaknya sejak di pelataran parkir tadi."Kenapa... kamu tadi berpihak padaku, Hazel?" tanya Arlo lirih, matanya menatap lurus menembus kaca depan yang dibasahi sisa embun malam. "Di depan Axel, di depan banyak orang... kamu lebih memilih membelaku dan menepis dia."Hazel mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Sebuah senyuman tipis yang hambar terukir di bibirnya."Tentu saja karena aku sudah tahu sejak awal," jawab Hazel dengan tenang, suarasa terdengar begitu masuk akal. "Aku tahu betul kalau dalang di balik semua keributan membabi
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma







