LOGINSuasana di dalam kamar suite 1903 Hotel Grand Luminaria mendadak hening seketika, menyisakan deru napas Arlo yang memburu dan erangan sakit Axel yang terdengar samar dari atas lantai marmer. Kilatan amarah liar yang semula memenuhi iris mata Arlo mendadak luluh menjadi pusaran kepanikan dan kepedihan yang amat dalam saat indra pendengarannya menangkap bisikan lirih wanita yang paling ia cintai."A-Arlo... tolong... panas..."Arlo yang mendengar rintihan pasrah Hazel langsung mengabaikan Axel yang tergeletak meringis. Pria itu memutar tubuhnya secepat kilat, melangkah tergesa menghampiri sisi tempat tidur berukuran king-size tersebut. Begitu jarak di antara mereka terkikis, dada Arlo terasa seperti dihantam balok besi yang amat berat.Hazel terlihat sangat kesakitan dan dalam kondisi yang benar-benar memprihatinkan. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan aura kejayaan yang tenang kini memerah padam akibat gumpalan hawa panas obat perangsang dosis tinggi yang membakar pembuluh darahnya
Suasana gemerlap di dalam ballroom Hotel Grand Luminaria yang semula terasa hangat dan penuh sukacita perlahan berubah menjadi mencekam bagi Arlo. Pria itu melangkah keluar dari lorong toilet VIP seraya membenarkan kancing jasnya. Namun, begitu matanya menyapu seluruh sudut ruangan, sosok wanita berkulit bersih dengan gaun rose gold yang amat ia cintai itu tidak ada di tempatnya.Arlo berjalan membelah kerumunan tamu undangan, mendekati meja hidangan tempat Hazel berjanji akan menunggunya. Kosong. Hanya ada satu gelas tinggi tergeletak miring di atas meja dengan sisa cairan keemasan yang sudah mencair.Perasaanku mendadak tidak enak, batin Arlo. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, menghadirkan firasat buruk yang merayap liar di tengkuknya. Hazel bukanlah tipikal orang yang akan pergi begitu saja tanpa memberitahunya, terlebih di tengah pesta ucapan syukur yang diperuntukkan bagi dirinya sendiri.Arlo mempercepat langkahnya, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ballr
Malam itu, ballroom megah di Hotel Grand Luminaria tampak gemerlap diterangi pendar lampu kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Alunan musik instrumental yang anggun mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan keriuhan tawa para tamu undangan. Untuk merayakan hari bahagianya, kembalinya kepemilikan Love Corporation sekaligus pemulihan nama baiknya secara mutlak, Hazel menggelar sebuah pesta ucapan syukur yang mewah.Hazel mengundang seluruh rekan kerja, divisi desain yang selalu mendukungnya, jajaran direksi, serta teman-teman terdekatnya. Malam ini, Hazel tampak teramat mempesona. Gaun malam berwarna rose gold membalut tubuhnya yang anggun, sementara rambut ash brown panjangnya ditata bergelombang alami menyentuh pinggang. Riasan wajahnya yang dewy berkilau memancarkan aura kejayaan dan ketenangan jiwa yang murni.Di tengah riuhnya suasana, sosok Axel melangkah mendekati Hazel. Pria yang pernah menjadi tunangannya itu datang mengenakan setelan jas hitam rapi, me
Gema suara gemuruh tepuk tangan di ruang rapat utama lantai lima perlahan mereda, meninggalkan atmosfer hangat yang sarat akan rasa hormat dan haru. Pengesahan hukum atas kembalinya Love Corporation ke tangan Hazel telah usai secara resmi. Satu per satu anggota direksi menjabat tangan Hazel dengan penuh rasa hormat sebelum melangkah keluar ruangan.Di sudut meja utama, John masih menatap putrinya dengan Binar kebanggaan yang amat dalam. Sementara itu, Pak Gunawan merapikan sisa-sisa berkas bernilai triliunan rupiah itu ke dalam koper kulit hitamnya."Papa bangga padamu, Hazel," bisik John seraya menepuk pelan bahu Hazel. "Mulai hari ini, posisimu bukan lagi sekadar desainer di bawah naungan orang lain. Kamu adalah pemimpin tertinggi dari warisan teragung Mamamu.""Terima kasih, Papa," jawab Hazel tulus. Suaranya halus namun memancarkan ketegasan jernih. "Hazel janji akan menjaga dan membawa Love Corporation melampaui masa kemajuannya yang dulu."Bu Senja, Miya, Nana, dan Layla yang m
Keheningan samar menyelimuti lorong lantai lima saat langkah-langkah kaki anggota divisi desain bergema di atas lantai marmer berkilau. Hazel berjalan tenang di samping Bu Senja, diapit oleh Miya, Nana, dan Layla yang masih saling berbisik heran. Ketidakpastian mengenai agenda rapat mendadak ini membuat atmosfer di sekitar mereka terasa sedikit tegang dan penuh tanda tanya.Begitu pintu ganda ruang rapat utama terdorong terbuka, aroma kayu jati bercampur harum pendingin udara langsung menyapa. Di ujung meja rapat elips yang panjang, berdiri sosok John yang tampak mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan potongan sempurna. Meski sisa-sisa wajah pucat bekas masa kritisnya masih terlihat tipis, sorot mata pria paruh baya itu kini memancarkan ketegasan yang jernih, kepemimpinan yang utuh, serta sebuah binar haru yang tak tertutupi saat matanya menangkap kehadiran Hazel.Di samping John, berdiri seorang pria tua berambut perak dengan kacamata berbingkai emas yang memegang sebuah koper k
Beberapa hari berlalu membawa angin perubahan yang menyejukkan. Waktu yang berjalan lambat laun membalut luka-luka lama dengan ketenangan yang dinanti. John yang sempat terbaring tak berdaya di rumah sakit kini telah pulih sepenuhnya, baik secara fisik maupun batin, dan resmi kembali memegang kendali di perusahaan. Begitu pula dengan Hazel. Setelah melewati badai fitnah yang begitu dahsyat, fisik dan jiwanya telah pulih. Hari ini, dengan langkah tegap dan senyuman lembut yang tulus, Hazel akhirnya kembali menginjakkan kaki di gedung kantor tempat ia berkarya.Rambut ash brown panjang milik Hazel terurai alami menyentuh pinggangnya, bergerak gemulai seiring langkah kakinya yang penuh keyakinan. Riasan wajahnya tampak dewy berkilau khas dirinya, memancarkan aura kesegaran dan kedamaian murni tanpa ada lagi jejak kepedihan yang dulu membelenggu.Saat Hazel melangkah memasuki ruangan divisi desain, suasana kantor yang tadinya bising oleh ketikan kibor dan diskusi pekerjaan mendadak henin
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







