Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / tidak akan membiarkan

Share

tidak akan membiarkan

Author: Perfect Wife
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-06 23:02:05

Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.

Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sekarang, Giliranku!    will you marry me?

    Matahari pagi musim gugur membiaskan cahaya keemasan yang hangat melalui celah jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Suasana yang biasanya diselimuti ketegangan kini berganti menjadi kedamaian murni. Setelah badai besar yang menimpa mereka, mulai dari skandal manipulasi perusahaan, keracunan di pesta, hingga aksi penyanderaan dan ledakan gedung tua oleh Mona, semua ancaman itu kini telah resmi berakhir secara mutlak.Di dalam ruangan yang tenang itu, Arlo berdiri di dekat jendela, memperhatikan Hazel yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas travel kecil. Wajah Hazel yang sebelumnya pucat kini telah kembali memancarkan rona segar dan sehat. Tatapan matanya yang dulu kerap kali diselimuti ketakutan dan luka, kini tampak jernih, tenang, dan dipenuhi binar kehidupan yang utuh.Arlo menghembuskan napas pelan, merasakan getaran hangat yang meluap di dalam dadanya. Pria itu menyadari bahwa inilah saatnya. Seluruh musuh telah tereliminasi, keadilan untuk Love Co

  • Sekarang, Giliranku!    selamat

    Lampu indikator LED merah pada rakitan peledak di sudut plafon berkedip makin cepat, diiringi bunyi bip ritmis yang bagaikan detak jarum jam kematian. Suara jeritan histeris Mona yang menggema penuh kegilaan seketika menghentikan aliran darah siapa pun yang berada di dalam gedung tua tersebut.Atmosfer di dalam ruangan berdebu itu berubah menjadi medan kepanikan yang teramat mencekam."Semua keluar! Evakuasi sekarang juga!" teriak komandan polisi dengan suara menggelegar, langsung memicu pergerakan cepat para personel aparat untuk menyelamatkan diri dan mengamankan area.Arlo tak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memedulikan rasa pening yang menusuk di belakang kepalanya akibat hantaman sebelumnya, Arlo langsung merengkuh Hazel ke dalam dekapan tegapnya. Ia melindunginya dengan seluruh bobot tubuhnya sendiri, menarik gadis itu agar terus bergerak maju menyusuri lorong keluar."Arlo... bagaimana dengan yang lain?!" jerit Hazel dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal di teng

  • Sekarang, Giliranku!    rencana cadangan

    Gelak tawa histeris Mona yang menggema di setiap sudut gedung tua itu mendadak terhenti secara tiba-tiba. Suara tawanya seolah tercekik di tenggorokan, menyisakan keheningan mencekam saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak bergema konstan dari arah pintu besi utama yang setengah terbuka.Cahaya lampu sorot berdaya tinggi menembus kegelapan ruangan, disusul suara bariton yang tegas dan berwibawa melintasi udara dingin."Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian!"Mona membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam ketidakpercayaan yang amat sangat. Dari balik pijar cahaya putih yang menyilaukan, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap dan bersenjata api melangkah masuk dengan siaga. Namun, bukan keberadaan barisan aparat itu yang membuat napas Mona terhenti seketika, melainkan sosok wanita yang berjalan di tengah pengawalan ketat tersebut.Tiba-tiba Hazel muncul bersama dengan Damian dan Yaya juga polisi.Hazel berdiri tegak di sana. Meskipun wajahnya masih menyi

  • Sekarang, Giliranku!    tidak akan membiarkan

    Malam kian larut, menyisakan udara dingin yang merayap masuk lewat celah-celah dinding beton yang retak. Di dalam gedung tua terbengkalai itu, keheningan terasa begitu menyiksa, hanya diselingi oleh helaan napas berat Arlo dan detak jarum jam fiktif yang seolah menghitung mundur batas sucinya nyawa Hazel.Lampu bohlam tunggal di atas kepala Arlo bergoyang pelan, membiaskan bayangan-bayangan licik yang menari di wajah Mona. Moncong pistol perak yang menempel dingin di pelipis Arlo tak sedikit pun bergetar. Di jemari lentik wanita itu, terkandung sebuah ancaman mematikan yang sanggup meremukkan seluruh dunia Arlo hanya dengan satu tekanan kecil pada pelatuk.Arlo memejamkan mata sejenak, mengatupkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang keras. Pikiran Arlo berputar hebat, bekerja ekstra keras mencari jalan keluar dari kubangan maut ini."Bodoh! Kenapa aku begitu gegabah?!" umpat Arlo merutuki dirinya sendiri di dalam hati.Rasa penyesalan yang membakar dada menyerangnya tanpa

  • Sekarang, Giliranku!    Ancaman sang mantan

    Rasa sakit yang menusuk tajam di belakang kepala menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Arlo. Sensasi pening yang amat hebat memutar balikkan dunianya, disusul rasa lengket dari darah kering yang menempel di sela-sela rambutnya. Dinding tengkoraknya seolah dihantam palu secara berkala, menciptakan denyutan nyeri yang membakar hingga ke pangkal leher.Arlo mengerang pelan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kepalanya yang berat, namun niat itu tertahan seketika. Gesekan kasar tali tambang tebal yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya di belakang sandaran kursi kayu membuat kulitnya tergores perih. Kedua kakinya pun terikat kuat pada kaki-kaki kursi, mengunci seluruh pergerakan tubuh tegapnya tanpa sisa.Dengan susah payah, Arlo memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk terbuka.Pandangannya membayang ganda sebelum perlahan-lahan fokus pada sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau apak dan penuh debu, tampak seperti gedung tua

  • Sekarang, Giliranku!    punya firasat

    Lampu gantung di koridor rumah sakit berpendar redup, membiaskan cahaya kekuningan yang terasa kian dingin seiring bergeraknya jarum jam. Waktu terus bergulir membelah malam, namun suasana di dalam kamar perawatan VIP itu justru terasa makin mencekam oleh hening yang menggantung.Hazel duduk bersandar di atas ranjang medisnya. Pakaian pasien yang dipakainya terasa kebesaran, membungkus tubuhnya yang masih rentan setelah baru saja melewati masa kritis akibat racun yang menyerang sistem sarafnya. Infus di punggung tangannya sesekali berdenyut pelan, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan gejolak yang berkecamuk di dalam dadanya.Ponsel pintar di atas nakas terus menampakkan layar gelap. Tak ada notifikasi, tak ada panggulan masuk, tak ada satu pun pesan singkat yang terkirim dari nomor Arlo.Hazel mulai cemas Arlo kenapa-kenapa karena sampai sekarang belum ada kabar dan perasaan Hazel juga tidak enak."Kenapa belum ada kabar juga, ya?" bisik Hazel lirih. Suaranya s

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status