Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / rencana jahat lain

Share

rencana jahat lain

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-09-06 15:12:44

Sore itu, kediaman keluarga John diselimuti atmosfer yang amat mencekam. Langkah kaki yang dihentakkan secara kasar bergema di sepanjang koridor rumah megah tersebut, disusul oleh suara isak tangis yang tertahan namun penuh dengan nada histeris.

Luna berlari masuk ke dalam rumah dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya. Pakaian mewahnya yang tadi pagi ia kenakan dengan penuh rasa percaya diri kini tampak kusut, sepadan dengan raut wajahnya yang pucat dan hancur.

Rasa malu dari ruang rapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Di acara

    Malam pelelangan amal di Ballroom Utama Hotel Grand Royale berlangsung dengan kemewahan yang memukau. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit yang tinggi, membiaskan cahaya keemasan yang memantul pada gaun-gaun malam bertabur payet dan setelan jas mewah para konglomerat serta pejabat papan atas kota. Alunan musik biola yang elegan mengalir tipis di antara dengung percakapan santai para elit politik dan bisnis.Di sudut barat ballroom, berdiri Hazel dengan penampilan yang luar biasa memikat. Ia mengenakan gaun malam haute couture berpotongan simpel namun sangat anggun warna krem sampanye, memperlihatkan jenjang lehernya yang halus. Rambutnya berwarna ash brown panjang hingga pinggang terurai alami dengan gelombang lembut di bagian bawahnya. Riasan wajahnya bergaya dewy berkilau, menegaskan ketegasan manik matanya yang jernih namun dingin.Di sampingnya, Axel berdiri tegap mengenakan tuksedo hitam. Pria itu terus berada di dekat Hazel, berusaha keras bertindak sebaga

  • Sekarang, Giliranku!    partner baru

    Keheningan yang mencekam merayapi meja di sudut coffee shop tersebut. Asap tipis dari cangkir kopi yang mendingin seolah membeku di udara, menyemai ketegangan ekstrem antara dua insan yang duduk berhadapan. Arlo menatap Luna dengan pandangan yang tak lagi sekadar dingin, melainkan sarat akan penilaian mendalam terhadap monster berwujud manusia yang kini berada di depannya.Gila. Wanita di hadapannya ini benar-benar sudah tidak memiliki akal sehat maupun nurani.Namun, di balik gejolak amarahnya yang membumbung tinggi, otak Arlo yang tajam dan analitis berputar keras. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang terbiasa bertaruh di papan catur bisnis kelas tinggi; ia tahu kapan harus menyerang frontal dan kapan harus bersikap kompromistis demi mengamankan aset paling berharganya. Dan dalam situasi ini, aset berharga itu adalah keselamatan Hazel. Menolak mentah-mentah ancaman dari seorang psikopat yang tidak takut pada hukuman pidana hanya akan membahayakan nyawa Hazel di area yang tak tera

  • Sekarang, Giliranku!    Mengajak kerja sama

    Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden kamar Luna, membiaskan cahaya keemasan yang kontras dengan kegelapan yang bersarang di dalam benaknya. Setelah malam yang dipenuhi histeria dan puing-puing barang yang hancur, pagi ini Luna bangkit dengan aura yang sama sekali berbeda. Wajahnya yang kemarin sembab kini terpoles riasan tebal yang rapi, menyembunyikan sembap di mata serta kepahitan di balik senyum manis yang dipaksakan.Keesokan harinya, Luna mulai menjalankan rencana sang mama. Hari sudah menunjukkkan jam masuk kerja. Secara status, Luna memang harusnya pergi ke kantor untuk menyelesaikan masa magangnya. Tapi insiden memalukan kemarin, saat Hazel membeberkan bukti kecurangannya di depan John dan perwakilan Bound&SE membuat Luna enggan dan enggan menunjukkan batang hidungnya lagi di sana. Rasa malunya terlalu besar untuk berhadapan dengan tatapan meremehkan dari para karyawan.Lagi pula, Luna sudah tidak peduli lagi dengan urusan magang formalitas itu. Ia memilih menye

  • Sekarang, Giliranku!    Rencana baru

    Kamar tidur Luna yang biasanya megah dan tertata rapi kini bagaikan area terdampak gempa bumi. Pecahan botol parfum kristal berharga jutaan rupiah berserakan di atas lantai marmer, sementara bantal, selimut, dan cermin hias kecil terlempar tak beraturan di sudut ruangan."Kenapa, Ma?! Kenapa selalu gagal?!"Jeritan melengking Luna bergema memantul di dinding kamar. Napasnya memburu, matanya memerah penuh garis-garis darah dengan sisa maskara yang luntur membasahi pipinya yang sembab. Kuna mengamuk lagi di dalam kamarnya, meremas seprai sutra dengan jemari yang gemetaran oleh amarah dan rasa tidak terima yang meremukkan dadanya.Kabar dari Siska, penjahit sewaan mereka di butik yang kini telah diangkut ke kantor polisi, baru saja sampai ke telinga Rona sepuluh menit yang lalu. Sabotase yang mereka rancang dengan begitu terburu-buru murni mentah total, bahkan sebelum gaun mahal itu tersentuh noda sedikit pun.Luna sangat kesal karena rencananya selalu digagalkan oleh siapa pun. Setiap

  • Sekarang, Giliranku!    akhirnya semua selesai

    Pertanyaan Axel menggantung di udara bagaikan vonis yang menyakitkan. "Jadi... kamu lebih memilih mereka daripada aku, Hazel?"Suara pria itu bergetar, memancarkan perpaduan antara keputusasaan, cemburu yang membakar, dan sisa-sisa ego pria yang terluka. Matanya yang memerah menatap Hazel, berharap ada sedikit saja celah keraguan atau rasa bersalah di raut wajah wanita yang dulu sangat memujanya itu.Namun, Hazel tidak berkedip. Manik mata ash brown-nya yang pekat justru memancarkan kebekuan yang teramat nyata, sesejuk es di puncak gunung.Hazel menghembuskan napas pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gestur yang teramat anggun dan penuh kendali. Ia menatap Axel tanpa kemarahan yang meletup-letup, murni sebuah ketegasan dingin dari seseorang yang sudah selesai dengan masa lalunya."Aku tidak memilih siapa-siapa, Axel," sahut Hazel, suarasa tenang namun setiap kata yang terucap menusuk bagaikan jarum halus. "Aku hanya bertindak rasional sebagai seseorang yang tahu cara

  • Sekarang, Giliranku!    Damian vs Axel

    Keheningan yang tegang menggantung erat di udara. Suasana hangat di area belakang butik seketika sirna, tergantikan oleh gesekan emosi yang tajam. Axel masih berdiri dengan dada yang naik turun meluapkan kerapuhannya, menatap Hazel dengan pendar harapan yang membara di balik matanya.Damian, yang sejak tadi menyandarkan tubuhnya dengan anggun di tepi meja potong kain, memiringkan kepalanya sedikit. Manik matanya yang tajam menatap Axel dari ujung rambut hingga ujung sepatu kulit mewahnya. Pria maestro mode itu tidak memperlihatkan kecemasan sama sekali; ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan penilaian.Damian yang baru pertama kali melihat sosok Axel di depan matanya secara langsung pun bertanya siapakah dia."Hazel..." ujar Damian dengan intonasi suara yang begitu santai, mengibaskan jemarinya yang terawat ke udara seraya menunjuk Axel. "Siapa pria berisik yang mendadak membuat kegaduhan di tempat indahmu ini?"Mendengar pertanyaan bernada meremehkan itu, rahang Axel

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status