Share

Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!
Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!
Author: Susan

Bab 1

Author: Susan
"Rio, apa kau kambuh lagi sampai mengamuk? Sudah selarut ini masih belum pulang. Apa kau sengaja membuat kami khawatir?"

Suara kakakku, Tiara, terdengar menegur dari telepon.

Lima tahun kemudian, Keluarga Susanto akhirnya mengatur kepulanganku dari rumah sakit.

Karena hari ini adalah ulang tahun Ardi, jadi dia mengatakan bersedia memberiku kesempatan untuk meminta maaf.

Saat itu, ayahku juga ikut bicara.

"Aku tahu kau masih kesal karena kami mengirimmu ke rumah sakit jiwa, tapi siapa yang menyuruhmu selalu semena-mena menindas Ardi? Kami melakukan ini juga demi kebaikanmu!"

Kakakku juga menimpali.

"Benar. Lagipula sekarang kami sudah mengeluarkanmu, kan? Apa lagi yang kau inginkan?"

Mereka terus mengomel tanpa henti. Setelah setengah jam, barulah mereka selesai memarahiku dan mulai menanyakan keberadaanku.

"Di mana kau sekarang? Kami akan mengirim mobil untuk menjemputmu! Kali ini bersikaplah baik, jangan seenaknya lagi!"

Aku menelan ludah dengan susah payah. Suaraku serak saat menjawab,

"Di ... rumah sakit jiwa."

Memang benar.

Aku terus menunggu di sini dari siang hingga malam, tanpa bergerak sedikit pun.

Orang di ujung telepon itu terdiam cukup lama. Lalu tiba-tiba ia bertanya dengan nada yang lebih keras,

"Apa kau nggak bisa pulang sendiri dari rumah sakit jiwa? Memangnya harus dijemput? Kau masih ingat jalan pulang ke rumah, kan?"

"Siapa yang kau coba bodohi dengan sandiwara ini? Kau masih menyimpan dendam pada kami, ya? Aku tahu kau belum belajar dari kesalahanmu. Seharusnya kami dulu tidak mengeluarkanmu!"

Namun mereka sepertinya lupa, bahwa sejak awal merekalah yang menyuruhku diam menunggu di sana.

"Ma ... maaf, Om Rudi, Kak Tiara. Aku tidak sengaja."

Aku refleks langsung meminta maaf.

Pihak seberang tertegun.

Mungkin terkejut dengan kepatuhanku, atau mungkin heran dengan caraku memanggil mereka.

Lima tahun yang lalu, kami adalah keluarga yang sangat dekat. Jika bukan karena tes DNA itu, aku tak akan pernah membayangkan bahwa aku, yang wajahnya sangat mirip dengan orang tuaku, ternyata bukan putra kandung mereka.

"Sudahlah!"

Orang itu sepertinya kehilangan kesabaran.

"Akan kusuruh kakakmu menjemput!"

Aku terus duduk dengan tenang, membiarkan angin dingin dan rasa lapar menerjangku.

"Pak, taksi?"

Sebuah taksi berhenti di depanku.

Aku menggeleng.

"Sedang menunggu jemputan."

Taksi di depan gerbang berlalu satu demi satu.

Sudah lewat pukul sepuluh malam, hampir tiba waktu tutup rumah sakit jiwa, tetapi masih belum ada tanda-tanda kemunculan Keluarga Susanto.

Tidak ada satu pun pesan di ponselku.

Petugas keamanan tidak tega melihatku.

"Kau sudah menunggu seharian! Kenapa mereka belum datang juga? Aku sudah mau pulang. Di sini sangat terpencil, bahaya sendirian malam-malam begini!"

Aku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.

Lima tahun sudah kutunggu, masa masih peduli satu hari lagi?

Petugas keamanan menghela napas, dia kemudian memberiku air dan roti. Melihat betapa berbahayanya jika aku sendirian di malam hari, maka dia memutuskan tetap tinggal untuk menemaniku.

"Terima kasih, Pak!"

Aku memakan roti itu dengan patuh.

Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami selama lima tahun terakhir.

Pada akhirnya, aku tetap tidak dijemput mobil Keluarga Susanto. Aku kemudian diantarkan pulang oleh petugas keamanan tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 10

    "Lagipula, semua orang di rumah sakit jiwa itu adalah rencananya. Sebentar lagi, Ibu juga akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa! Dia akan membayar sepuluh kali lipat atas semua penderitaan yang kau alami dulu!""Mulai sekarang, Ibu hanya punya satu putra, yaitu kamu!""Tolong maafkan Ibu untuk terakhir kalinya, ya?" Ibu menatapku dengan sungguh-sungguh, air mata menggenang di pelupuk matanya.Aku tidak berbicara.Bohong kalau mengatakan hatiku sama sekali tidak tersentuh.Namun, aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang.Kerusakan yang dia sebabkan padaku tidak bisa terhapus."Bu, ini terakhir kalinya aku memanggilmu Ibu. Setelah aku keluar dari rumah sakit, apa aku boleh pergi berkeliling dunia sendirian?"Meskipun dokter tidak mengatakan berapa lama lagi aku akan hidup, namun aku tahu mungkin tidak akan hidup lebih lama.Setelah orang tuaku bercerai, ayah memberiku sebagian besar saham perusahaan.Sebagian kecil diberikan kepada Tiara.Sedangkan untuk Ardi, ibu memaksanya masuk ke

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 9

    Aku menggeleng."Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang."Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.Tepat ketika Tiara hendak mengatakan sesuatu lagi, ponselnya tiba-tiba berdering."Rio, aku tiba-tiba ada urusan. Nanti malam aku akan membawakan makanan dari restoran favoritmu."Aku hanya mengangguk dan tidak menahannya.Aku juga tidak memberitahunya bahwa aku tahu pesan itu berasal dari Ardi.Tiara yang mengatakan akan datang malam itu, tidak muncul sama sekali.Sebaliknya, Mona yang biasanya paling menghindariku justru datang."Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Ardi!"Dia terlihat sangat lelah. Wanita yang biasanya selalu menjaga penampilan kini tampak kusut dan pucat.Mona menggenggam tanganku."Rio, sekarang aku baru sadar kalau aku mencintaimu. Dulu aku hanya tidak mau mengakuinya. Aku tidak ingin menikahimu hanya karena perjodohan keluarga, jadi aku selalu bersikap dingin padamu.""Aku salah. Maafkan aku sekali ini, ya? Kita bisa menikah kapan saja kalau kau

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 8

    "Bagaimana kau bisa tega melakukan ini pada Rio?" Ibu menampar ayah, tetapi ayah tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.Semua pertanyaan itu mengarah pada satu jawaban.Ardi adalah anak haram ayah."Cerai! Aku ingin bercerai!""Apa kau tahu bagaimana Rio hidup selama lima tahun ini? Pasti Ardi yang mencelakainya!""Ardi yang pembawa sial! Nggak, operasi ini nggak boleh dilanjutkan!" Ibu terus menggedor pintu ruang operasi."Hentikan! Kalian semua berhenti!""Kenapa anakku harus mendonorkan ginjalnya kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya?" Ibu menangis, akal sehatnya perlahan kehilangan kendali.Detik berikutnya, ayah memukul bagian belakang leher ibu hingga pingsan.Tiara menyaksikan semua itu dengan tatapan linglung."Ayah, apakah yang Ibu katakan itu benar? Kau berbohong pada kami semua?" Mona yang sejak awal tidak mengucapkan sepatah kata pun, mendadak juga pucat pasi.Dia teringat sorot mataku saat menatapnya ketika memungut laporan pemeriksaan kemarin.Tenang, tanpa

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 7

    Aku sama sekali tidak heran kalau tak seorang pun datang menjengukku.Bahkan ibu yang dulu selalu mengaku menyayangiku, tak terlihat sepanjang hari.Hingga sesaat sebelum aku dibawa ke ruang operasi, ibu tiba-tiba bergegas menghampiriku."Jangan, kita batalkan saja operasinya! Anakku tersayang!" Ibu menangis tersedu-sedu, dia mengusir semua staf medis yang mencoba mendekat."Tante Rani?" Aku memanggil dengan penuh kebingungan.Namun setelah mendengar panggilan itu, emosi ibu seperti bendungan yang jebol."Jangan panggil aku Tante! Aku ini ibumu, ibu kandungmu! Kau itu anak yang kukandung selama sepuluh bulan!" Aku menatap wajahnya yang begitu familiar. Di matanya, aku melihat bayanganku sendiri, wajah yang sangat mirip dengannya.Sebuah dugaan mulai terbentuk di benakku."Ardi sebenarnya anak adopsi, kau lah anak kandung kami. Ayahmu menyuruh kami memalsukan tes DNA karena katanya perundunganmu di kampus bisa memengaruhi bisnis keluarga!""Maafkan Ibu ... Ibu nggak melindungimu deng

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 6

    Aku terkekeh pelan.Awalnya, aku benar-benar mengira Keluarga Susanto menerimaku kembali karena masih memedulikan hubungan kami di masa lalu.Jadi, ternyata yang mereka inginkan hanyalah ginjalku?Entah mengapa, ibu tampak sedikit merasa bersalah."Rio, kau tahu, Ibu selalu menganggapmu sebagai anak sendiri. Kalau kau menolak, tidak ada yang bisa memaksamu!"Tiara langsung berteriak setelah mendengar itu."Ibu, sadarlah! Siapa anak Ibu sekarang? Tanpa ginjal, Ardi akan mati!"Mata ibu memerah, seperti induk serigala yang melindungi anaknya."Aku tahu siapa anakku yang sebenarnya. Tidak perlu kau ingatkan!"Tiara langsung terdiam.Ayah juga menundukkan pandangannya, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibu langsung membungkamnya hanya dengan sebuah tatapan.Saat ini, ibu menatapku penuh harap, seolah-olah jika aku menolak, dia tetap akan melindungiku seperti dulu.Aku hanya mengangguk patuh."Tidak apa-apa, Tante Rani. Aku bersedia."Satu ginj

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 5

    "Kak, tenang dulu!" Ardi segera menyela.Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba begitu marah. Mengapa aku tidak boleh memakai pakaian bekas orang lain?Selama lima tahun di rumah sakit jiwa, jangankan pakaian bekas orang lain, bahkan pakaian orang mati pun pernah kupakai.Lagipula, bukankah semua hal yang terjadi padaku di rumah sakit jiwa sudah atas seizin mereka?Mengapa mereka justru bertindak seolah-olah bersimpati padaku sekarang?Ardi tampak seperti telah melakukan kesalahan, matanya memerah."Maaf, aku ... hanya bermaksud baik." Tiara yang berada di sampingnya akhirnya panik dan langsung menoleh ke arahku."Kenapa kau kembali ke sini? Ini semua salahmu! Setiap kali Ardi nggak bahagia, itu pasti karena kau!" Semua orang berusaha menenangkan Ardi, lalu berbalik menghujatku.Sama seperti yang berulang kali terjadi lima tahun lalu.Aku tidak pernah mengerti apa kesalahanku, mengapa aku harus menghadapi tuduhan semua orang.Sekarang aku sudah mengerti.Ini bukan soal benar atau salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status