Share

Bab 2

Author: Susan
Saat aku kembali ke rumah Keluarga Susanto, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Sampai saat itu, ponselku masih belum menerima pesan apa pun.

Rumah Keluarga Susanto terlihat terang benderang, dan aku bisa mendengar tawa dan suara riang dari dalamnya.

Aku tidak bertanya apa pun pada mereka.

Jika bukan karena pelayan yang membuka pintu, aku mungkin akan berdiri di depan gerbang sendirian selamanya.

"Bagaimana kau bisa jadi sejelek ini? Bajumu kotor banget."

Itu kalimat pertama yang terontar dari mulut Tiara saat melihatku.

Ibu juga tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Rio, kenapa kau jadi kurus sekali?"

Bagaimana mungkin hanya dalam waktu lima tahun, aku berubah dari seorang tuan muda yang berbadan tegap menjadi sosok yang beratnya bahkan tidak sampai empat puluh kilogram?

Sorot mata ayah juga menunjukkan sedikit rasa iba, dia segera menyuruh pelayan memasakkan sesuatu untukku.

"Sebenarnya tadi kami mau menjemputmu, tapi Ardi tiba-tiba merasa nggak enak badan, jadi kami ...."

Aku tahu ini adalah cara unik mereka untuk berdamai.

Mereka bisa terang-terangan mengabaikan dan meremehkanku di depan Ardi tanpa khawatir apakah aku sakit hati atau tidak.

Namun setiap kali setelah melakukan itu, mereka akan memberiku “kebaikan” agar aku melupakan rasa sakit itu untuk sementara waktu.

Jika itu dulu, aku pasti akan sangat gembira.

Namun sekarang, aku sudah tidak peduli lagi.

Tepat ketika aku hendak mengatakan sesuatu, Tiara sudah menyela.

"Alah, ini pasti cuma taktik, berpura-pura menjadi korban dan nggak mau makan? Dia cuma ingin kalian merasa kasihan, supaya dia punya alasan bisa tinggal di sini!"

Ibu mendengus pada Tiara, lalu menoleh menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang dan lembut.

"Lagipula, kita juga belum menemukan orang tua kandungmu, jadi kau tinggal di sini saja mulai sekarang. Kau masih bisa memanggilku Ibu seperti dulu, dan aku akan tetap menganggapmu sebagai anakku!"

"Nggak apa-apa, Tante Rani. Aku sudah sangat berterima kasih karena Tante bersedia menampungku di sini!"

Sapaan formal itu seketika menghancurkan hubungan di antara mereka sebelumnya, menciptakan jurang yang sangat dalam.

Ibuku tak bisa menahan diri lagi, air mata seketika mengalir di wajahnya.

Aku bukan lagi anak manja dan sombong yang pernah dikenalnya.

Bahkan jika aku mengeluh kepadanya, atau menggerutu karena pengabaian mereka selama bertahun-tahun, itu masih jauh lebih baik daripada penampilanku yang lemah dan menyedihkan ini.

Tubuh Ardi gemetar tak terkendali saat melihatku, seolah-olah dia telah melihat sesuatu yang menakutkan.

Setelah sekian lama, Ardi akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengulurkan tangannya kepadaku.

"Rio, ayo kita bersalaman dan berdamai!"

Aku berdiri di sana, tertegun.

Tetapi aku merasa tidak pernah bertengkar dengannya, jadi kenapa kami harus berdamai?

Lima tahun yang lalu, aku adalah mahasiswa tahun pertama.

Seperti biasanya, setiap kali memasuki lingkungan baru, aku akan menyatakan kepemilikanku atas Mona Hermansyah.

Mona adalah tunanganku. Aku sangat mencintainya. Sebagai putra sulung Keluarga Susanto, aku terbiasa bersikap arogan dan mendominasi, jadi wajar saja aku merasa tidak tahan dengan para lelaki yang berada di sekeliling Mona yang memandang dengan niat tertentu.

Ardi adalah salah satunya.

Meskipun Ardi tumbuh besar di panti asuhan, tetapi entah mengapa, dia selalu berhasil menarik perhatian Mona yang biasanya dingin dan acuh tak acuh.

Bahkan kakakku yang selalu berada di pihakku pun mulai berbalik melawan.

Aku pernah menemuinya sekali.

Namun setelah itu, Ardi mulai mengalami berbagai macam perundungan di kampus.

Semua orang mengatakan bahwa aku tidak bisa mentolerir keberadaannya.

Hingga menjelang akhir semester, Ardi akhirnya tidak tahan lagi dan melompat dari atap gedung kampus.

Meskipun dia berhasil diselamatkan dan tidak terluka, namun dia meninggalkan sebuah surat wasiat.

Dalam surat itu dipenuhi dengan tuduhan terhadapku!

Tidak ada seorang pun yang memercayaiku.

Mona juga memutuskan hubungan denganku.

Saat itu, aku berpikir kalau itu adalah hasil terburuk yang mungkin bisa terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 10

    "Lagipula, semua orang di rumah sakit jiwa itu adalah rencananya. Sebentar lagi, Ibu juga akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa! Dia akan membayar sepuluh kali lipat atas semua penderitaan yang kau alami dulu!""Mulai sekarang, Ibu hanya punya satu putra, yaitu kamu!""Tolong maafkan Ibu untuk terakhir kalinya, ya?" Ibu menatapku dengan sungguh-sungguh, air mata menggenang di pelupuk matanya.Aku tidak berbicara.Bohong kalau mengatakan hatiku sama sekali tidak tersentuh.Namun, aku sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang.Kerusakan yang dia sebabkan padaku tidak bisa terhapus."Bu, ini terakhir kalinya aku memanggilmu Ibu. Setelah aku keluar dari rumah sakit, apa aku boleh pergi berkeliling dunia sendirian?"Meskipun dokter tidak mengatakan berapa lama lagi aku akan hidup, namun aku tahu mungkin tidak akan hidup lebih lama.Setelah orang tuaku bercerai, ayah memberiku sebagian besar saham perusahaan.Sebagian kecil diberikan kepada Tiara.Sedangkan untuk Ardi, ibu memaksanya masuk ke

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 9

    Aku menggeleng."Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang."Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.Tepat ketika Tiara hendak mengatakan sesuatu lagi, ponselnya tiba-tiba berdering."Rio, aku tiba-tiba ada urusan. Nanti malam aku akan membawakan makanan dari restoran favoritmu."Aku hanya mengangguk dan tidak menahannya.Aku juga tidak memberitahunya bahwa aku tahu pesan itu berasal dari Ardi.Tiara yang mengatakan akan datang malam itu, tidak muncul sama sekali.Sebaliknya, Mona yang biasanya paling menghindariku justru datang."Aku sudah membatalkan pertunanganku dengan Ardi!"Dia terlihat sangat lelah. Wanita yang biasanya selalu menjaga penampilan kini tampak kusut dan pucat.Mona menggenggam tanganku."Rio, sekarang aku baru sadar kalau aku mencintaimu. Dulu aku hanya tidak mau mengakuinya. Aku tidak ingin menikahimu hanya karena perjodohan keluarga, jadi aku selalu bersikap dingin padamu.""Aku salah. Maafkan aku sekali ini, ya? Kita bisa menikah kapan saja kalau kau

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 8

    "Bagaimana kau bisa tega melakukan ini pada Rio?" Ibu menampar ayah, tetapi ayah tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.Semua pertanyaan itu mengarah pada satu jawaban.Ardi adalah anak haram ayah."Cerai! Aku ingin bercerai!""Apa kau tahu bagaimana Rio hidup selama lima tahun ini? Pasti Ardi yang mencelakainya!""Ardi yang pembawa sial! Nggak, operasi ini nggak boleh dilanjutkan!" Ibu terus menggedor pintu ruang operasi."Hentikan! Kalian semua berhenti!""Kenapa anakku harus mendonorkan ginjalnya kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya?" Ibu menangis, akal sehatnya perlahan kehilangan kendali.Detik berikutnya, ayah memukul bagian belakang leher ibu hingga pingsan.Tiara menyaksikan semua itu dengan tatapan linglung."Ayah, apakah yang Ibu katakan itu benar? Kau berbohong pada kami semua?" Mona yang sejak awal tidak mengucapkan sepatah kata pun, mendadak juga pucat pasi.Dia teringat sorot mataku saat menatapnya ketika memungut laporan pemeriksaan kemarin.Tenang, tanpa

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 7

    Aku sama sekali tidak heran kalau tak seorang pun datang menjengukku.Bahkan ibu yang dulu selalu mengaku menyayangiku, tak terlihat sepanjang hari.Hingga sesaat sebelum aku dibawa ke ruang operasi, ibu tiba-tiba bergegas menghampiriku."Jangan, kita batalkan saja operasinya! Anakku tersayang!" Ibu menangis tersedu-sedu, dia mengusir semua staf medis yang mencoba mendekat."Tante Rani?" Aku memanggil dengan penuh kebingungan.Namun setelah mendengar panggilan itu, emosi ibu seperti bendungan yang jebol."Jangan panggil aku Tante! Aku ini ibumu, ibu kandungmu! Kau itu anak yang kukandung selama sepuluh bulan!" Aku menatap wajahnya yang begitu familiar. Di matanya, aku melihat bayanganku sendiri, wajah yang sangat mirip dengannya.Sebuah dugaan mulai terbentuk di benakku."Ardi sebenarnya anak adopsi, kau lah anak kandung kami. Ayahmu menyuruh kami memalsukan tes DNA karena katanya perundunganmu di kampus bisa memengaruhi bisnis keluarga!""Maafkan Ibu ... Ibu nggak melindungimu deng

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 6

    Aku terkekeh pelan.Awalnya, aku benar-benar mengira Keluarga Susanto menerimaku kembali karena masih memedulikan hubungan kami di masa lalu.Jadi, ternyata yang mereka inginkan hanyalah ginjalku?Entah mengapa, ibu tampak sedikit merasa bersalah."Rio, kau tahu, Ibu selalu menganggapmu sebagai anak sendiri. Kalau kau menolak, tidak ada yang bisa memaksamu!"Tiara langsung berteriak setelah mendengar itu."Ibu, sadarlah! Siapa anak Ibu sekarang? Tanpa ginjal, Ardi akan mati!"Mata ibu memerah, seperti induk serigala yang melindungi anaknya."Aku tahu siapa anakku yang sebenarnya. Tidak perlu kau ingatkan!"Tiara langsung terdiam.Ayah juga menundukkan pandangannya, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibu langsung membungkamnya hanya dengan sebuah tatapan.Saat ini, ibu menatapku penuh harap, seolah-olah jika aku menolak, dia tetap akan melindungiku seperti dulu.Aku hanya mengangguk patuh."Tidak apa-apa, Tante Rani. Aku bersedia."Satu ginj

  • Selamat Tinggal Dunia Terkutuk!   Bab 5

    "Kak, tenang dulu!" Ardi segera menyela.Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba begitu marah. Mengapa aku tidak boleh memakai pakaian bekas orang lain?Selama lima tahun di rumah sakit jiwa, jangankan pakaian bekas orang lain, bahkan pakaian orang mati pun pernah kupakai.Lagipula, bukankah semua hal yang terjadi padaku di rumah sakit jiwa sudah atas seizin mereka?Mengapa mereka justru bertindak seolah-olah bersimpati padaku sekarang?Ardi tampak seperti telah melakukan kesalahan, matanya memerah."Maaf, aku ... hanya bermaksud baik." Tiara yang berada di sampingnya akhirnya panik dan langsung menoleh ke arahku."Kenapa kau kembali ke sini? Ini semua salahmu! Setiap kali Ardi nggak bahagia, itu pasti karena kau!" Semua orang berusaha menenangkan Ardi, lalu berbalik menghujatku.Sama seperti yang berulang kali terjadi lima tahun lalu.Aku tidak pernah mengerti apa kesalahanku, mengapa aku harus menghadapi tuduhan semua orang.Sekarang aku sudah mengerti.Ini bukan soal benar atau salah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status