LOGINSatu minggu berlalu seperti siklus yang menyiksa bagi Jena. Hari jadi pernikahan mereka yang kelima jatuh pada hari Sabtu ini. Berhari-hari sebelumnya, Jena telah menepis segala gengsinya. Ia memohon, bahkan hampir mengemis di depan Arkan agar suaminya itu mengosongkan waktu satu hari saja di akhir pekan. Tanpa pesta mewah, tanpa kolega bisnis. Hanya mereka berdua. Namun, kenyataan justru menamparnya.
Jena duduk sendirian di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Semuanya sengaja ia pesan. Di ujung meja, sebuah lilin aroma terapi telah meleleh hampir habis. Jam dinding berdenting, menunjukkan pukul sebelas malam. Ponsel Jena bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Arkan masuk. [Aku harus terbang ke Surabaya malam ini. Negosiasi lahan pabrik baru mendadak dimajukan besok pagi. Jangan menungguku.] Netra Jena memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, menetes di atas gaun malam beludru merah yang sengaja ia kenakan untuk memikat suaminya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa lelah, penolakan yang terus-menerus, dan kehampaan batinnya tumpah menjadi tangisan yang menyayat hati dalam kesunyian rumah mewah itu. Ia menangis semalaman. Menangis hingga matanya sembap dan kepalanya berdenyut menyakitkan, sampai ia tertidur karena kelelahan di sofa ruang tengah. Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai kaca, menyinari wajah Jena yang pucat dengan gurat sisa air mata yang mengering di pipinya. Saat Jena perlahan membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Sebuah selimut tebal berbahan lembut telah tersampir rapi di atas badannya. Jena bergerak duduk dengan kening berkerut. Tepat di samping meja sofa, segelas teh krisan hangat yang mengepulkan uap tipis dan sebotol kecil minyak esensial pereda sakit kepala telah tertata rapi. "Anda sudah bangun, Nyonya?" Jena menoleh cepat. Elang sedang berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu sudah mengenakan pakaian dinasnya. Kemeja abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya. Sorot mata yang biasanya tajam dan waspada, kini meredup, memancarkan garis khawatir yang sangat halus namun tulus. "Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan ini, Elang?" tanya Jena cepat. Suaranya serak akibat menangis semalaman. Ia mencoba memasang wajah ketus, enggan memperlihatkan kerapuhannya pada sang bodyguard. Elang tidak mundur. Ia melangkah mendekat dengan tenang, lalu membungkuk sedikit untuk meletakkan nampan kecil berisi bubur ayam hangat di meja. "Saya mendengar Anda menangis semalaman, Nyonya," ucap Elang. Suara baritonnya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan ketegasan yang biasa ia tunjukkan. "Sebagai bodyguard, tugas saya adalah memastikan Anda aman. Dan malam tadi ... Anda sedang tidak aman dari rasa sakit Anda sendiri." Jena tertegun. Kalimat Elang menghantam ulu hatinya. Di saat suaminya sendiri abai pada kehancuran mentalnya, pria asing yang berstatus sebagai pekerjanya ini justru menjadi satu-satunya orang yang menyadari kehancurannya. "Saya sengaja membuatkan teh krisan untuk meredakan bengkak di mata Anda, dan bubur ini ... mohon dimakan sedikit. Anda butuh energi," lanjut Elang, nadanya penuh perhatian yang begitu tulus hingga membuat benteng pertahanan Jena yang dingin perlahan terkikis. Jena memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca karena perlakuan lembut itu. "Kau terlalu mencampuri urusan pribadiku, Elang." "Maaf jika saya lancang," Elang mundur satu langkah, kembali menegakkan tubuhnya dengan wibawa yang penuh. "Tapi melihat Anda memperlakukan para pelayan dengan begitu baik, bahkan menyumbangkan sebagian besar harta Anda ke panti asuhan tanpa pernah mencari publikasi, saya tahu Anda adalah wanita yang berhati mulia. Anda tidak pantas ditinggalkan dalam kondisi seperti ini." Mendengar pujian tulus itu, dada Jena berdesir hebat. Adrenalinnya terpacu bukan karena rasa takut, melainkan karena getaran aneh yang semakin kuat merayap di hatinya. Pria ini ... tidak hanya melihat fisiknya, tapi benar-benar mengenali jiwanya. Perlahan Jena mulai merasa nyaman dengan cara Elang memperlakukannya. Dua hari berikutnya, Arkan mendadak mengabarkan bahwa ia akan pulang ke rumah sebentar sebelum menghadiri gala dinner bisnis pada malam hari. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Jena. Hasrat wanitanya bergejolak, ego yang terluka membuatnya ingin membalas dendam sekaligus menguji apakah suaminya masih memiliki rasa cemburu. Saat mobil Arkan memasuki pelataran, Jena sengaja berjalan ke arah taman samping, tempat di mana Elang sedang berdiri mengawasinya. Jena mengenakan gaun putih yang sedikit longgar. Ketika ia melihat mobil Arkan berhenti dan suaminya turun, Jena sengaja melangkah mendekati Elang. Sangat dekat, hingga jarak di antara mereka tersisa beberapa senti saja. "Elang, tolong bantu aku membetulkan posisi tali pengikat di bagian belakang gaunku. Sepertinya longgar," ucap Jena setengah berbisik, namun matanya melirik ke arah Arkan yang sedang berjalan menuju pintu utama. Elang sempat tertegun. Ia tahu ini adalah siasat Jena untuk memicu reaksi Arkan. Sebagai pria yang sudah menikah, Elang paham betul bahaya dari permainan ini. Namun, ketika matanya menangkap sosok Arkan yang berjalan dengan angkuh tanpa memandang ke arah mereka sedikit pun, bahkan melirik pun tidak, hati Elang mendadak diselimuti rasa geram yang aneh. Bagaimana bisa seorang pria mengabaikan wanita seindah dan selembut Jena. Elang menelan ludah. Mengabaikan semua protokol profesionalitasnya, tangan besarnya yang hangat perlahan terangkat. Jemarinya menyentuh untaian tali gaun di punggung mulus Jena. Gesekan kulit mereka di tempat terbuka itu mengirimkan sensasi panas yang membakar seketika. Jantung Jena bergedik liar. Rencana awalnya yang ingin memanaskan situasi demi Arkan mendadak mengabur. Sentuhan jari Elang di punggungnya terasa begitu berhati-hati, sangat protektif. Jena terengah pelan, menatap lurus ke dalam mata Elang yang kini menggelap, menatapnya dengan intensitas yang memabukkan. Alih-alih terpengaruh oleh Arkan, Jena justru tenggelam semakin dalam pada pesona bodyguardnya sendiri. "Sudah selesai, Nyonya," bisik Elang serak, menahan napasnya saat aroma tubuh Jena kembali mengacaukan logikanya. Di kejauhan, pintu rumah tertutup. Arkan masuk tanpa menoleh sama sekali. Rencana Jena gagal total untuk suaminya, namun berhasil sepenuhnya untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan hatinya sendiri.Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas
Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum
Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p
Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per
Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos







