Share

Topeng yang Retak

Author: El khiyori
last update publish date: 2026-07-18 08:35:50

Satu minggu berlalu seperti siklus yang menyiksa bagi Jena. Hari jadi pernikahan mereka yang kelima jatuh pada hari Sabtu ini. Berhari-hari sebelumnya, Jena telah menepis segala gengsinya. Ia memohon, bahkan hampir mengemis di depan Arkan agar suaminya itu mengosongkan waktu satu hari saja di akhir pekan. Tanpa pesta mewah, tanpa kolega bisnis. Hanya mereka berdua. Namun, kenyataan justru menamparnya.

Jena duduk sendirian di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Semuanya sengaja ia pesan. Di ujung meja, sebuah lilin aroma terapi telah meleleh hampir habis. Jam dinding berdenting, menunjukkan pukul sebelas malam.

Ponsel Jena bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Arkan masuk.

[Aku harus terbang ke Surabaya malam ini. Negosiasi lahan pabrik baru mendadak dimajukan besok pagi. Jangan menungguku.]

Netra Jena memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, menetes di atas gaun malam beludru merah yang sengaja ia kenakan untuk memikat suaminya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa lelah, penolakan yang terus-menerus, dan kehampaan batinnya tumpah menjadi tangisan yang menyayat hati dalam kesunyian rumah mewah itu.

Ia menangis semalaman. Menangis hingga matanya sembap dan kepalanya berdenyut menyakitkan, sampai ia tertidur karena kelelahan di sofa ruang tengah.

Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai kaca, menyinari wajah Jena yang pucat dengan gurat sisa air mata yang mengering di pipinya.

Saat Jena perlahan membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Sebuah selimut tebal berbahan lembut telah tersampir rapi di atas badannya.

Jena bergerak duduk dengan kening berkerut. Tepat di samping meja sofa, segelas teh krisan hangat yang mengepulkan uap tipis dan sebotol kecil minyak esensial pereda sakit kepala telah tertata rapi.

"Anda sudah bangun, Nyonya?"

Jena menoleh cepat. Elang sedang berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu sudah mengenakan pakaian dinasnya. Kemeja abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya. Sorot mata yang biasanya tajam dan waspada, kini meredup, memancarkan garis khawatir yang sangat halus namun tulus.

"Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan ini, Elang?" tanya Jena cepat. Suaranya serak akibat menangis semalaman. Ia mencoba memasang wajah ketus, enggan memperlihatkan kerapuhannya pada sang bodyguard.

Elang tidak mundur. Ia melangkah mendekat dengan tenang, lalu membungkuk sedikit untuk meletakkan nampan kecil berisi bubur ayam hangat di meja.

"Saya mendengar Anda menangis semalaman, Nyonya," ucap Elang. Suara baritonnya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan ketegasan yang biasa ia tunjukkan. "Sebagai bodyguard, tugas saya adalah memastikan Anda aman. Dan malam tadi ... Anda sedang tidak aman dari rasa sakit Anda sendiri."

Jena tertegun. Kalimat Elang menghantam ulu hatinya. Di saat suaminya sendiri abai pada kehancuran mentalnya, pria asing yang berstatus sebagai pekerjanya ini justru menjadi satu-satunya orang yang menyadari kehancurannya.

"Saya sengaja membuatkan teh krisan untuk meredakan bengkak di mata Anda, dan bubur ini ... mohon dimakan sedikit. Anda butuh energi," lanjut Elang, nadanya penuh perhatian yang begitu tulus hingga membuat benteng pertahanan Jena yang dingin perlahan terkikis.

Jena memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca karena perlakuan lembut itu. "Kau terlalu mencampuri urusan pribadiku, Elang."

"Maaf jika saya lancang," Elang mundur satu langkah, kembali menegakkan tubuhnya dengan wibawa yang penuh. "Tapi melihat Anda memperlakukan para pelayan dengan begitu baik, bahkan menyumbangkan sebagian besar harta Anda ke panti asuhan tanpa pernah mencari publikasi, saya tahu Anda adalah wanita yang berhati mulia. Anda tidak pantas ditinggalkan dalam kondisi seperti ini."

Mendengar pujian tulus itu, dada Jena berdesir hebat. Adrenalinnya terpacu bukan karena rasa takut, melainkan karena getaran aneh yang semakin kuat merayap di hatinya. Pria ini ... tidak hanya melihat fisiknya, tapi benar-benar mengenali jiwanya.

Perlahan Jena mulai merasa nyaman dengan cara Elang memperlakukannya.

Dua hari berikutnya, Arkan mendadak mengabarkan bahwa ia akan pulang ke rumah sebentar sebelum menghadiri gala dinner bisnis pada malam hari. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Jena. Hasrat wanitanya bergejolak, ego yang terluka membuatnya ingin membalas dendam sekaligus menguji apakah suaminya masih memiliki rasa cemburu.

Saat mobil Arkan memasuki pelataran, Jena sengaja berjalan ke arah taman samping, tempat di mana Elang sedang berdiri mengawasinya.

Jena mengenakan gaun putih yang sedikit longgar. Ketika ia melihat mobil Arkan berhenti dan suaminya turun, Jena sengaja melangkah mendekati Elang. Sangat dekat, hingga jarak di antara mereka tersisa beberapa senti saja.

"Elang, tolong bantu aku membetulkan posisi tali pengikat di bagian belakang gaunku. Sepertinya longgar," ucap Jena setengah berbisik, namun matanya melirik ke arah Arkan yang sedang berjalan menuju pintu utama.

Elang sempat tertegun. Ia tahu ini adalah siasat Jena untuk memicu reaksi Arkan. Sebagai pria yang sudah menikah, Elang paham betul bahaya dari permainan ini. Namun, ketika matanya menangkap sosok Arkan yang berjalan dengan angkuh tanpa memandang ke arah mereka sedikit pun, bahkan melirik pun tidak, hati Elang mendadak diselimuti rasa geram yang aneh.

Bagaimana bisa seorang pria mengabaikan wanita seindah dan selembut Jena.

Elang menelan ludah. Mengabaikan semua protokol profesionalitasnya, tangan besarnya yang hangat perlahan terangkat. Jemarinya menyentuh untaian tali gaun di punggung mulus Jena. Gesekan kulit mereka di tempat terbuka itu mengirimkan sensasi panas yang membakar seketika.

Jantung Jena bergedik liar. Rencana awalnya yang ingin memanaskan situasi demi Arkan mendadak mengabur. Sentuhan jari Elang di punggungnya terasa begitu berhati-hati, sangat protektif.

Jena terengah pelan, menatap lurus ke dalam mata Elang yang kini menggelap, menatapnya dengan intensitas yang memabukkan.

Alih-alih terpengaruh oleh Arkan, Jena justru tenggelam semakin dalam pada pesona bodyguardnya sendiri.

"Sudah selesai, Nyonya," bisik Elang serak, menahan napasnya saat aroma tubuh Jena kembali mengacaukan logikanya.

Di kejauhan, pintu rumah tertutup. Arkan masuk tanpa menoleh sama sekali. Rencana Jena gagal total untuk suaminya, namun berhasil sepenuhnya untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan hatinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Gaun Terbuka dan Sensasi Rahasia

    Malam itu, ballroom Hotel Grand Hyatt dipenuhi oleh kilauan lampu kristal dan deretan pengusaha kelas atas. Jena melangkah masuk berdampingan dengan Arkan. Jena mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat yang tampak begitu elegan dan mewah dari depan. Namun, gaun itu memiliki potongan backless yang sangat berani di bagian belakang. Bagian itu mengekspose seluruh punggung mulus Jena hingga tepat di atas pinggul. Di belakang mereka, berjalan suara langkah yang menyusul. Itu adalah Elang. Ia tampak berdiri tegap dengan setelan tuxedo hitam. Penampilannya malam itu begitu tampan, tegas, dan memancarkan wibawa. Namun, sorot matanya yang tajam dan teliti, malam ini justru hanya berfokus pada satu hal, yaitu kulit punggung Jena yang terekspose sempurna. Setiap kali Jena bergerak, kulit punggung yang pernah ia ciumi dan ia belai itu, terus saja memprovokasi akal sehat Elang. Tanpa seorangpun tahu, di balik sikap tegas dan profesionalnya, sebenarnya dada Elang tengah bergemuruh hebat karena

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Jejak yang Tertinggal

    Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai gorden yang tersingkap sedikit, menerpa seprai sutra abu-abu yang kini tampak kusut.Jena terbangun dengan sensasi hangat yang masih menyelimuti punggungnya. Lengan kekar Elang masih melingkar posesif di pinggangnya, mendekap tubuh polos Jena merapat ke dadanya yang bidang. Detak jantung pria itu terasa teratur, berdetak tenang tepat di punggung Jena.Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Jena terbangun tanpa rasa hampa yang mencekik.Jena berbalik perlahan di dalam dekapan itu, berusaha tidak membangunkan pria yang sedang tertidur di sampingnya. Di bawah remang cahaya pagi, wajah Elang tampak begitu tenang. Garis rahang yang biasanya mengeras kini tampak melunak. Memperlihatkan sisi lain dari sang bodyguard yang selama ini selalu bersikap dingin dan kaku.Jena mengulurkan jemari lentiknya, mengusap pelan bekas luka tipis di rahang Elang.Namun, tepat saat jemari Jena menyentuh kulitnya, mata Elang terbuka seketika

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Melebur Dalam Dosa Indah

    Sisa-sisa kewarasan yang mereka pertahankan selama ini menguap bersama kehangatan yang menjalar dari tautan bibir mereka. Elang tidak lagi melepaskan cengkeramannya. Dengan satu gerakan lambat namun penuh kuasa, ia menyusupkan lengan kekarnya di bawah tubuh Jena, lalu mengangkat wanita itu ke dalam dekapannya. Jena tidak menolak. Ia justru menyembunyikan wajahnya yang basah di ceruk leher Elang, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang terasa memabukkan. Elang melangkah tegas menaiki tangga menuju kamar utama yang luas. Kamar yang selama lima tahun ini menjadi saksi bisu dinginnya pernikahan Jena. Pada akhirnya malam ini akan menjadi saksi runtuhnya sebuah kesetiaan. Saat tubuh Jena perlahan menyentuh kasur berseprai sutra abu-abu, keheningan kamar mewah itu mendadak terasa begitu hangat. Elang ikut merangkak naik, memposisikan tubuh kekarnya di atas tubuh Jena tanpa memberikan beban sepenuhnya. Pria itu menatap Jena dengan tatapan yang begitu pekat. Di bawah temaram lampu t

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Puncak Kerapuhan

    Malam itu, hujan lebat mengguyur ibu kota, seolah mewakili badai yang sedang mengamuk di dalam dada Jena. Arkan kembali pergi tanpa pamit setelah hanya berada di rumah selama tiga puluh menit untuk berganti pakaian. Pria itu bahkan tidak melirik hidangan meja makan yang mulai mendingin atau menyadari mata Jena yang membengkak.Jena berdiri di ruang tengah yang gelap, menatap kosong ke luar jendela kaca besar. Petir menyambar sesekali, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Pertahanannya selama lima tahun ini benar-benar telah runtuh. Ia merasa tidak lebih dari sekadar pajangan mati di rumah megah ini.Air mata kembali menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya mulai bergetar hebat saat isak tangis yang tertahan akhirnya lolos dari tenggorokannya. Rasanya sesak, teramat sesak hingga ia kesulitan bernapas.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat dari arah koridor. Itu adalah Elang.Pria itu seharusnya sudah kembali ke paviliunnya, namun rasa

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Topeng yang Retak

    Satu minggu berlalu seperti siklus yang menyiksa bagi Jena. Hari jadi pernikahan mereka yang kelima jatuh pada hari Sabtu ini. Berhari-hari sebelumnya, Jena telah menepis segala gengsinya. Ia memohon, bahkan hampir mengemis di depan Arkan agar suaminya itu mengosongkan waktu satu hari saja di akhir pekan. Tanpa pesta mewah, tanpa kolega bisnis. Hanya mereka berdua. Namun, kenyataan justru menamparnya.Jena duduk sendirian di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Semuanya sengaja ia pesan. Di ujung meja, sebuah lilin aroma terapi telah meleleh hampir habis. Jam dinding berdenting, menunjukkan pukul sebelas malam.Ponsel Jena bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Arkan masuk.[Aku harus terbang ke Surabaya malam ini. Negosiasi lahan pabrik baru mendadak dimajukan besok pagi. Jangan menungguku.]Netra Jena memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, menetes di atas gaun malam beludru merah yang sengaja ia kenakan untuk memikat suaminya. Tubuhnya berge

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Aroma Maskulin yang Memabukkan

    Sensasi itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang merambat cepat ke seluruh syaraf mereka. Jena tersentak karena terkejut oleh hangatnya suhu tubuh Elang. Sentakan itu membuat gelas di tangan mereka terguncang. Air dingin di dalamnya memercik keluar cukup keras, membasahi jemari keduanya dan menetes jatuh mengenai bagian atas dada Jena yang terekspos."Ah .... " Jena memekik pelan sambil refleks melangkah mundur, namun tumitnya membentur kaki meja di belakangnya. Keseimbangannya goyah.Melihat bahaya yang mengancam keselamatan orang yang dilindunginya, insting bodyguard Elang langsung bekerja. Tanpa berpikir panjang, Elang meletakkan gelas dengan cepat di meja, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk menahan lengan Jena agar tidak terjatuh.Telapak tangan Elang yang hangat mencengkeram lembut namun kokoh tepat di lengan atas Jena yang polos tanpa penutup.Jena menahan napasnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Jena bisa merasakan hembusan napas Elang yang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status