تسجيل الدخولElang mengepalkan kedua tangannya di belakang punggung. Buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lengan bawahnya menegang hebat hingga menembus kain jasnya. Naluri pertahanannya menjerit, memaksanya untuk melangkah maju, menarik Arkan menjauh dari Jena, dan menghancurkan pria itu dengan tangannya sendiri. Tetapi Elang membeku di tempatnya. Bukan hanya karena status profesionalnya sebagai pengawal yang disewa, melainkan karena dinding es yang dibangun Jena sejak semalam. Tatapan dingin dan penolakan Jena padanya pagi tadi masih membakar ingatan Elang. Jika ia bertindak nekat sekarang, Jena mungkin akan makin percaya pada fitnah Nadia, bahwa semua tindakan protektifnya hanyalah bagian dari sandiwara pengawalan yang terencana. Siksaan itu berlipat ganda. Elang terbakar oleh rasa cemburu melihat Arkan menyentuh Jena, namun ia kehilangan hak untuk bertindak karena kepercayaan wanitanya sedang berada di titik terendah. Sedangkan di depan sana, Arkan meraih tangan Jena, menggenggam pergel
Langkah kaki Arkan bergema berat di atas karpet tebal perpustakaan. Sepatu kulit mewahnya menapak dengan tekanan yang mengintimidasi, seolah setiap langkahnya ingin menegaskan kembali siapa pemilik tunggal atas bangunan, aset, dan wanita yang berdiri di dalam ruangan tersebut. "Menjauhlah dari istriku, Elang .... " desis Arkan. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang selama ini ia tekan di balik aura kebangsawanannya. Elang tidak menunjukkan kepanikan. Dalam gerakan terukur yang sangat halus, ia menarik perlahan pergelangan tangannya dari cengkeraman Jena. Dengan cukup satu langkah, Elang menggeser posisi tubuh bidangnya setengah meter ke depan, menutupi tubuh Jena sepenuhnya dari jangkauan pandang Arkan. "Tuan Arkan," panggil Elang. Nada suaranya datar, dingin, dan tertata rapi sesuai standar pengawalan tingkat tinggi. "Nyonya Jena sedang dalam kondisi emosional yang kurang stabil setelah meninjau arsip yayasan. Saya hanya memastikan beliau tidak kehilangan keseimbangan." "Cuk
Pukul sepuluh pagi. Gerimis tipis kembali turun mengolesi jendela-jendela besar perpustakaan pribadi di lantai tiga kediaman Wijaya.Ruangan itu luas, berdinding kayu jati tua dengan ribuan koleksi buku milik almarhum ayah Jena. Bau kertas tua dan aroma kayu lapuk memenuhi udara. Di sinilah Jena biasa bersembunyi sewaktu kecil, dan di sini pula almarhum ayahnya dulu mengajarkan arti kejujuran dan ketulusan.Jena berdiri di dekat rak buku tinggi, meraba punggung buku-buku kulit tua dengan jemarinya.Di belakangnya, berjarak tepat tiga langkah sesuai prosedur pengawalan, Elang berdiri tegap. Langkah kaki Elang begitu halus, hampir tanpa suara di atas karpet tebal.Suasana di perpustakaan itu begitu hening, hanya terisi oleh suara rintik hujan yang menghantam kaca luar. Ketegangan yang menggantung di antara mereka semakin menebal dari menit ke menit."Nyonya Jena," Elang memecah keheningan dengan suara bariton yang teramat pelan.Jena tidak membalikkan badan. Tangannya berhenti pada sebu
Malam bergerak sangat lambat, seakan waktu sengaja melipat dirinya untuk memanjangkan siksaan di kediaman Wijaya. Kabut tebal yang turun dari lereng perbukitan merayap pelan menembus celah-celah pilar marmer, membungkus rumah megah itu dalam selimut dingin yang mencekik.Di dalam kamar utama, Jena duduk bersandar di kepala ranjang. Kedua lututnya ditekuk merapat ke dada. Layar ponselnya yang redup masih menampilkan gambar membeku dari video singkat yang dikirimkan Nadia, sosok Elang yang sedang berdansa anggun, mendekap wanita lain dengan tatapan protektif.Setiap kali bayangan itu terlintas, dada Jena terasa dihantam sembilu.“Kau pikir kau spesial untuk Elang?” suara Nadia bergema lagi, kali ini lebih keras, memutarbalikkan seluruh ingatan manis yang sempat terbangun. “Dia dilatih untuk membuat setiap klien merasa terlindungi dan dicintai. Itu hanya teknik pengawalan!”Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes basah ke atas lututnya. Jena merasa bodoh. Di tengah kehancura
Pertemuan diplomasi bisnis di hotel bintang lima siang itu berlangsung dalam ketegangan yang tertahan. Arkan mencoba memamerkan legitimasinya di hadapan para investor, sementara Jena bertindak penuh ketenangan, menolak memberikan pernyataan apa pun yang dapat memuluskan pengalihan aset yayasannya. Di sudut ruangan, Elang berdiri bagai patung baja, mengawasi setiap sudut, setiap pergerakan tangan, dan setiap kemungkinan ancaman dengan ketelitian yang nyaris sempurna. Namun, bahaya terbesar tidak datang dari ruang rapat mewah itu. Di sebuah apartemen tersembunyi di sudut kota, Nadia menatap layar laptop yang dipenuhi baris kode yang bergerak cepat. Meski berstatus tahanan luar di bawah pengawasan khusus dan perizinan bersyarat yang diatur Elang, kemampuan Nadia sebagai mantan agen taktis papan atas tidak bisa diremehkan. Dengan kesabaran luar biasa dan memanfaatkan backdoor lama pada protokol komunikasi agensi yang belum sempat diperbarui, Nadia berhasil menembus enkripsi keamanan pr
Malam kian melarut di kediaman Wijaya. Suara derasnya hujan yang menghantam atap kaca ruang tengah menciptakan melodi monoton yang semakin mempertegas keheningan di dalam rumah. Di lantai dua, Arkan berdiri di dalam ruang kerjanya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan pendar lampu jalan dan kilatan petir menyinari separuh wajahnya. Di jemarinya, gelas kristal berisi bourbon sudah dingin, es batu di dalamnya telah mencair sepenuhnya. Arkan mengepalkan tangannya saat memikirkan pemandangan beberapa jam lalu. Bayangan Jena yang menyandarkan wajahnya di telapak tangan Elang, kelembutan yang terpancar dari mata istrinya. “Kebebasanku .... " kata-kata Jena bergema di kepalanya. Arkan tersenyum dingin, menyapu pinggiran gelasnya dengan ibu jari. "Kau ingin bebas, Jena? Tapi kau lupa ... aku yang memegang kendali atas sangkarmu." Ia mengecap minumannya sedikit, merasakan rasa pahit yang membakar tenggorokannya. Otaknya yang dingin dan penuh perhitungan mulai menyusu







