LOGIN
Suara tepuk tangan menggema memenuhi ballroom hotel berbintang lima. Lampu kristal berkilauan di langit-langit ruangan, memantulkan cahaya ke arah gaun-gaun mewah para tamu yang berasal dari kalangan pengusaha, pejabat, hingga selebritas.
Saat ini semua mata tertuju pada satu pasangan yang sedang berdiri di atas panggung. "Selamat atas pencapaian luar biasa dari PT. Arta Gumilang, di bawah kepemimpinan Tuan Arkan Wijaya!" Suara MC terdengar menggelegar memenuhi ruangan. Sesaat kemudian tepuk tangan dari para tamu undangan terdengar bergemuruh. Arkan hanya menanggapinya dengan mengangguk tipis. Wajahnya tetap tampan meski ekspresinya tampak dingin, dan nyaris tanpa ekspresi. Setelan jas hitam yang melekat sempurna semakin mempertegas kharismanya sebagai seorang presiden direktur yang dijuluki Raja Bisnis di negara ini, sedangkan di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun putih gading. Dialah Jena, istrinya. Wanita itu begitu tampak cantik dan anggun. Senyumnya manis sempurna, hingga semua orang mengira hidupnya juga sesempurna itu. "Jena benar-benar beruntung ya," ucap salah satu tamu undangan yang kebetulan dulunya adalah salah satu penggemar Arkan. "Iya benar ... Dia sangat cantik, muda dan suaminya kaya raya. Sungguh beruntung. Mereka pasangan paling sempurna." Jena mendengar semua pujian itu, dan ia hanya tersenyum. Senyum manis dan hangat yang sudah bertahun-tahun ia latih. Tak ada seorang pun yang tahu kalau setiap malam ia tidur sendirian di kamarnya yang luas dan mewah. Tak ada yang tahu juga, bahwa pria di sampingnya saat ini bahkan jarang menatap matanya, apalagi menyentuhnya. Meski begitu, Jena tetap berusaha tegar. Ia masih berharap kalau suatu hari nanti Arkan bisa kembali manis seperti saat ia belum diangkat menjadi seorang presdir oleh ayahnya. Lima tahun pernikahan yang dengan sengaja menunda keberadaan seorang anak, sungguh cukup menyiksa batin Jena. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan peraturan yang diterapkan oleh sang suami. Acara malam itu selesai hampir pukul sebelas. Tak lama setelahnya, mobil Rolls Royce hitam melaju membelah jalanan ibu kota. Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Jena melirik suaminya yang saat ini sedang membaca laporan keuangan di layar tab. Ekspresinya tampak datar seolah pesta tadi tidak pernah terjadi. "Mas .... " panggil Jena kemudian. "Hm?" sahut Arkan tanpa menoleh. "Tadi Mama menelepon." Mendengar itu Arkan masih tak mengangkat kepala. "Mas .... " "Hm ... lanjutkan ceritamu Jen! aku mendengarnya." "Minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kita." Jena benar-benar melanjutkan kalimatnya. "Lalu?" tanya Arkan yang perhatiannya masih terus tertuju ke arah yang sama. "Kita akan merayakannya seperti apa?" "Jangan bahas soal seperti itu dulu. Aku sibuk .... " Hanya itu yang Arkan katakan. Tak ada kalimat lainnya, apalagi senyuman. Sadar akan hal itu, Jena menggigit bibirnya pelan. Lima tahun menjadi istri Arkan, tetapi setiap percakapan mereka terasa seperti rapat perusahaan yang tak memiliki titik temu. Sesampainya di rumah mewah mereka, Arkan langsung berjalan menuju ke ruang kerja. Jangankan menunggu Jena untuk berjalan di sampingnya, pria itu hanya berkata tanpa menoleh. "Aku masih ada meeting online dengan investor Singapura." "Tapi ini sudah malam Mas!" seru Jena yang berjalan tertatih di belakang Arkan. Wanita itu sedikit kesulitan mengimbangi langkah suaminya yang lebar, apalagi ia sedang menggunakan high heels. "Kau tahu sendiri kalau pekerjaanku tidak mengenal waktu. Tidurlah! jangan menggangguku. Aku sibuk." Selanjutnya, pintu ruang kerja tertutup. Brak. Jena berdiri mematung. Jika sudah seperti itu, tak ada yang bisa Jena lakukan, karena kalau sampai ia nekat mengetuk pintu, Arkan akan marah besar. Jena menghela nafas panjang. Kedua matanya menatap nanar ke sekeliling. Rumah seluas ribuan meter persegi itu sungguh terasa lebih dingin daripada makam. Tak ingin merasa lebih sedih, Jena memilih pergi dari sana. Sampai pukul satu dini hari. Jena masih belum bisa tidur. Ia berjalan tanpa alas kaki menuju ke balkon kamar. Angin malam menerpa rambut panjangnya. Matanya memandangi kolam renang yang diterangi lampu-lampu taman. Tempat itu tampak cantik, tenang, namun kosong. Sama seperti hatinya. "Seandainya saja .... " Kalimat itu tak pernah selesai, karena ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Uang, jelas ia memilikinya. Jumlahnya pun sangat banyak. Tak terasa berkurang meski setiap bulan Jena menyalurkan bantuan ke beberapa panti asuhan. Perhiasan, ia juga memiliki itu. Bahkan ada lemari khusus untuk menyimpan koleksi benda berharga itu. Mobil pun lebih banyak daripada yang mampu ia kendarai, tetapi ... tak satu pun bisa menggantikan pelukan seorang suami, tak satu pun mampu mengusir sepi di hatinya. Malam itu, untuk kesekian kali air mata jatuh begitu saja dari kedua sudut mata Jena. Ia tak sekedar meneteskan air mata, tapi menangis tergugu. Meluapkan rasa sepi yang semakin hari semakin menggerogoti hatinya. Keesokan paginya .... Prang! Suara benda pecah membuat seluruh pelayan berlari menuju ruang makan. "Maaf Nyonya!" Seorang pelayan gemetar setelah tanpa sengaja menjatuhkan cangkir porselen. "Tidak apa-apa." Jena justru membantu memungut pecahannya. Melihat itu, para pelayan saling berpandangan. Nyonya mereka memang terlalu baik. Bahkan lebih sering tersenyum kepada pelayan daripada kepada suaminya sendiri. Saat itulah Arkan turun dari lantai dua. Semua pelayan langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan." "Pagi .... " Tatapan Arkan langsung menuju Jena. Setelah duduk berhadapan barulah Arkan angkat bicara. "Aku kembali mendapatkan proyek besar, ini memicu perselisihan di kalangan pebisnis. Jadi ... mulai hari ini, jangan keluar rumah sendirian." Jena mengernyit. "Kenapa begitu?" "Karena ada ancaman. Beberapa hari lalu, tanpa kau sadari, ada orang yang mencoba mengikuti mobilmu." Jena terdiam. "Aku sudah menyiapkan seseorang," lanjut Arkan. "Seseorang?" Jena masih tak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya. "Ya ... bodyguard pribadi." Jena langsung menggeleng. "Aku tidak membutuhkannya." "Kau membutuhkannya." Nada suara Arkan tetap datar. "Tapi yang kubutuhkan adalah kau ... Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku janji tidak akan mengganggumu." "Jangan konyol, keputusan ini sudah final." Belum sempat Jena membalas, kepala pelayan masuk dengan tergesa. "Tuan ... orang yang Anda minta sudah datang." Mendengar itu Arkan meletakkan cangkir kopinya. "Suruh masuk!" titahnya. Tak lama kemudian, suara langkah kaki berat menggema memasuki ruang utama. Semua pelayan tanpa sadar menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang dipenuhi bekas luka tipis. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, sementara sorot matanya tajam dan sulit ditebak. Ada sesuatu yang dingin sekaligus berbahaya dalam setiap langkahnya. Ia berhenti tepat beberapa meter di depan Arkan. "Permisi Tuan, saya ... Elang Dirgantara." Suara pria itu rendah dan tenang. "Hmm ... mulai hari ini, kau bertanggung jawab atas keselamatan Istriku, Nyonya Jena." Untuk pertama kalinya, tatapan Elang beralih kepada wanita yang akan ia lindungi. "Ini gila," ucap Jena tiba-tiba sambil tersenyum sinis. "Kau mengirim seorang pria ke sisiku? bagaimana kalau aku selingkuh dengannya?" tanya Jena tanpa basa-basi di depan wajah Arkan. Sebenarnya itu adalah sebuah bentuk penolakan. "Jaga bicaramu Jen," tegur Arkan dengan sorot mata tajam. "Kalau kau berani melakukannya ... kau akan tahu akibatnya." Pada akhirnya Jena memilih diam dan lagi-lagi pria bernama Elang Dirgantara itu menatapnya. Disaat itulah Jena merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasa seseorang benar-benar melihat dirinya. Bukan sebagai istri seorang presiden direktur atau sebagai pajangan sempurna di sisi pria kaya raya, melainkan sebagai seorang wanita. Entah mengapa, jantung Jena berdetak sedikit lebih cepat. Sementara Elang segera mengalihkan pandangannya, berusaha mengingat satu aturan yang selalu ia pegang selama bertahun-tahun menjadi seorang bodyguard. 'Jangan pernah melibatkan perasaan kepada orang yang kau lindungi.' Namun, Elang belum tahu kalau tugas kali ini akan menjadi misi paling berbahaya dalam hidupnya. Bukan karena musuh yang mengincar nyawa Nyonya muda di hadapannya, tapi karena musuh yang perlahan tumbuh di dalam hatinya sendiri.Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas
Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum
Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p
Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per
Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos







