로그인Malam itu, hujan lebat mengguyur ibu kota, seolah mewakili badai yang sedang mengamuk di dalam dada Jena. Arkan kembali pergi tanpa pamit setelah hanya berada di rumah selama tiga puluh menit untuk berganti pakaian. Pria itu bahkan tidak melirik hidangan meja makan yang mulai mendingin atau menyadari mata Jena yang membengkak.
Jena berdiri di ruang tengah yang gelap, menatap kosong ke luar jendela kaca besar. Petir menyambar sesekali, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Pertahanannya selama lima tahun ini benar-benar telah runtuh. Ia merasa tidak lebih dari sekadar pajangan mati di rumah megah ini. Air mata kembali menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya mulai bergetar hebat saat isak tangis yang tertahan akhirnya lolos dari tenggorokannya. Rasanya sesak, teramat sesak hingga ia kesulitan bernapas. Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat dari arah koridor. Itu adalah Elang. Pria itu seharusnya sudah kembali ke paviliunnya, namun rasa cemas yang tak beralasan membuatnya memilih untuk tetap berjaga di ruang tengah. Dan di sanalah ia melihatnya, sang nyonya yang selalu berusaha bersikap angkuh dan dingin, kini sedang meringkuk di dekat sofa, menangis tergugu dengan kedua tangan memeluk lututnya sendiri. Melihat pemandangan tragis itu, sesuatu di dalam dada Elang berdenyut nyeri. Rasa kemanusiaannya, atau mungkin ego kelaki-lakiannya yang ingin melindungi, memberontak hebat. Ia melupakan statusnya sebagai bodyguard, melupakan fakta bahwa wanita ini adalah istri dari atasannya, dan melupakan cincin pernikahan yang tersemat di jarinya sendiri. Yang ia tahu, wanita lembut di hadapannya ini sedang sekarat karena kesepian. Elang melangkah mendekat tanpa suara. Ia berlutut di atas karpet tebal tepat di hadapan Jena. "Nyonya .... " panggil Elang, suaranya begitu rendah dan bergetar karena menahan emosi yang bergolak. Jena mendongak dengan wajah yang kacau. Air mata menyamarkan pandangannya, namun ia tahu siapa pria di hadapannya. "Pergi, Elang ... tinggalkan aku sendiri. Jangan lihat aku seperti ini," bisik Jena di sela isak tangisnya. Alih-alih pergi, Elang justru mengulurkan tangannya yang besar dan hangat. Jemari kokohnya perlahan menyentuh pipi Jena, menghapus air mata yang terus mengalir deras. Sentuhan itu begitu lembut, begitu kontras dengan tubuh kekarnya yang sekeras karang. "Saya tidak bisa meninggalkan Anda dalam keadaan hancur seperti ini, Jena," ucap Elang serak. Untuk pertama kalinya, ia memanggil nama wanita itu tanpa embel-embel formalitas. Sentuhan hangat di pipinya dan panggilan nama itu memutus sisa kendali diri Jena. Jiwanya yang haus akan kasih sayang mendambakan sesuatu yang lebih. Tanpa pikir panjang, Jena mencengkeram erat kemeja abu-abu Elang, menarik pria itu mendekat seolah Elang adalah satu-satunya tali penyelamat di tengah badai hidupnya. Jarak di antara mereka terkikis habis. Napas mereka bertabrakan, beraroma kepedihan dan gairah terlarang yang pekat. Sorot mata pria itu menggelap, menatap lurus ke dalam manik mata Jena yang basah. Di bawah temaram kilatan petir, Elang melihat keputusasaan yang teramat dalam pada diri Jena, sesuatu yang memicu insting kelelakiannya untuk memberi dan menyembuhkan. Rasa bersalah pada istrinya di kejauhan sempat terlintas, namun lenyap seketika tertimbun oleh rasa iba dan ga irah yang naik ke ubun-ubun. Elang menundukkan kepalanya, dan detik berikutnya, bibir mereka bertemu. Itu adalah ciuman yang menyakitkan namun teramat dalam. Sentuhan pertama mereka terasa seperti benturan dua jiwa yang sama-sama kesepian dan terabaikan. Elang melu mat bibir ranum Jena dengan perlahan namun penuh penekanan, menyalurkan seluruh rasa simpati, kekaguman, dan ga irah tertahan yang selama ini ia kunci rapat di balik wibawanya. Jena melenguh pelan di sela ciuman mereka. Air matanya mengalir ke sudut bibir, memberikan rasa asin yang semakin menegaskan kepedihan di balik ciuman terlarang itu. Tangan Jena merayap naik ke tengkuk Elang, meremas rambut lebat pria itu, menuntut sentuhan yang lebih dalam seolah ingin menenggelamkan seluruh rasa sakitnya ke dalam dekapan hangat sang bodyguard. Napas Elang memberat. Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi lebih intens dan menuntut. Lidahnya menyusup masuk, menjelajahi rongga mulut Jena dengan gairah dewasa yang pekat, membuat bulu kuduk Jena meremang dan perutnya menggelenyar hebat. Elang merengkuh pinggang ramping Jena, menarik tubuh sintal itu agar menempel sempurna pada dadanya yang bidang. Di tengah ruang tengah yang gelap dan dingin, tubuh mereka berdua terasa begitu panas bergolak. Adrenalin membakar kesadaran mereka, mengaburkan garis batas suci pernikahan masing-masing. Mereka saling melumat, saling menghisap, mencoba saling menyembuhkan luka batin lewat tautan bibir yang penuh hasrat terlarang. Ciuman itu terasa begitu menyentuh perasaan karena di dalamnya tidak hanya ada ga irah, melainkan ada rasa saling membutuhkan yang teramat dalam. Elang memuja kelembutan hati Jena yang selama ini disia-siakan, sementara Jena memuja perlindungan dan kehangatan nyata yang diberikan oleh Elang. Ketika pasokan udara mereka mulai menipis, Elang perlahan menarik bibirnya. Namun, ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahi mereka saling menempel, napas mereka memburu dan saling memburu di udara malam yang dingin. Tangan Elang masih mendekap erat pinggang Jena, sementara matanya yang sekelam malam menatap Jena dengan tatapan posesif yang penuh akan rasa bersalah sekaligus damba yang teramat kuat. "Ini salah El .... " bisik Jena lirih, bibirnya yang membengkak akibat lumatan intens tadi bergetar, namun jemarinya masih mencengkeram erat bahu kekar Elang. Elang memejamkan matanya erat, merasakan detak jantung Jena yang berpacu liar selaras dengan miliknya. "Aku tahu, tapi malam ini ... aku tidak peduli lagi dengan apa yang benar."Malam itu, ballroom Hotel Grand Hyatt dipenuhi oleh kilauan lampu kristal dan deretan pengusaha kelas atas. Jena melangkah masuk berdampingan dengan Arkan. Jena mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat yang tampak begitu elegan dan mewah dari depan. Namun, gaun itu memiliki potongan backless yang sangat berani di bagian belakang. Bagian itu mengekspose seluruh punggung mulus Jena hingga tepat di atas pinggul. Di belakang mereka, berjalan suara langkah yang menyusul. Itu adalah Elang. Ia tampak berdiri tegap dengan setelan tuxedo hitam. Penampilannya malam itu begitu tampan, tegas, dan memancarkan wibawa. Namun, sorot matanya yang tajam dan teliti, malam ini justru hanya berfokus pada satu hal, yaitu kulit punggung Jena yang terekspose sempurna. Setiap kali Jena bergerak, kulit punggung yang pernah ia ciumi dan ia belai itu, terus saja memprovokasi akal sehat Elang. Tanpa seorangpun tahu, di balik sikap tegas dan profesionalnya, sebenarnya dada Elang tengah bergemuruh hebat karena
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai gorden yang tersingkap sedikit, menerpa seprai sutra abu-abu yang kini tampak kusut.Jena terbangun dengan sensasi hangat yang masih menyelimuti punggungnya. Lengan kekar Elang masih melingkar posesif di pinggangnya, mendekap tubuh polos Jena merapat ke dadanya yang bidang. Detak jantung pria itu terasa teratur, berdetak tenang tepat di punggung Jena.Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Jena terbangun tanpa rasa hampa yang mencekik.Jena berbalik perlahan di dalam dekapan itu, berusaha tidak membangunkan pria yang sedang tertidur di sampingnya. Di bawah remang cahaya pagi, wajah Elang tampak begitu tenang. Garis rahang yang biasanya mengeras kini tampak melunak. Memperlihatkan sisi lain dari sang bodyguard yang selama ini selalu bersikap dingin dan kaku.Jena mengulurkan jemari lentiknya, mengusap pelan bekas luka tipis di rahang Elang.Namun, tepat saat jemari Jena menyentuh kulitnya, mata Elang terbuka seketika
Sisa-sisa kewarasan yang mereka pertahankan selama ini menguap bersama kehangatan yang menjalar dari tautan bibir mereka. Elang tidak lagi melepaskan cengkeramannya. Dengan satu gerakan lambat namun penuh kuasa, ia menyusupkan lengan kekarnya di bawah tubuh Jena, lalu mengangkat wanita itu ke dalam dekapannya. Jena tidak menolak. Ia justru menyembunyikan wajahnya yang basah di ceruk leher Elang, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang terasa memabukkan. Elang melangkah tegas menaiki tangga menuju kamar utama yang luas. Kamar yang selama lima tahun ini menjadi saksi bisu dinginnya pernikahan Jena. Pada akhirnya malam ini akan menjadi saksi runtuhnya sebuah kesetiaan. Saat tubuh Jena perlahan menyentuh kasur berseprai sutra abu-abu, keheningan kamar mewah itu mendadak terasa begitu hangat. Elang ikut merangkak naik, memposisikan tubuh kekarnya di atas tubuh Jena tanpa memberikan beban sepenuhnya. Pria itu menatap Jena dengan tatapan yang begitu pekat. Di bawah temaram lampu t
Malam itu, hujan lebat mengguyur ibu kota, seolah mewakili badai yang sedang mengamuk di dalam dada Jena. Arkan kembali pergi tanpa pamit setelah hanya berada di rumah selama tiga puluh menit untuk berganti pakaian. Pria itu bahkan tidak melirik hidangan meja makan yang mulai mendingin atau menyadari mata Jena yang membengkak.Jena berdiri di ruang tengah yang gelap, menatap kosong ke luar jendela kaca besar. Petir menyambar sesekali, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Pertahanannya selama lima tahun ini benar-benar telah runtuh. Ia merasa tidak lebih dari sekadar pajangan mati di rumah megah ini.Air mata kembali menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya mulai bergetar hebat saat isak tangis yang tertahan akhirnya lolos dari tenggorokannya. Rasanya sesak, teramat sesak hingga ia kesulitan bernapas.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat dari arah koridor. Itu adalah Elang.Pria itu seharusnya sudah kembali ke paviliunnya, namun rasa
Satu minggu berlalu seperti siklus yang menyiksa bagi Jena. Hari jadi pernikahan mereka yang kelima jatuh pada hari Sabtu ini. Berhari-hari sebelumnya, Jena telah menepis segala gengsinya. Ia memohon, bahkan hampir mengemis di depan Arkan agar suaminya itu mengosongkan waktu satu hari saja di akhir pekan. Tanpa pesta mewah, tanpa kolega bisnis. Hanya mereka berdua. Namun, kenyataan justru menamparnya.Jena duduk sendirian di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Semuanya sengaja ia pesan. Di ujung meja, sebuah lilin aroma terapi telah meleleh hampir habis. Jam dinding berdenting, menunjukkan pukul sebelas malam.Ponsel Jena bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Arkan masuk.[Aku harus terbang ke Surabaya malam ini. Negosiasi lahan pabrik baru mendadak dimajukan besok pagi. Jangan menungguku.]Netra Jena memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, menetes di atas gaun malam beludru merah yang sengaja ia kenakan untuk memikat suaminya. Tubuhnya berge
Sensasi itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang merambat cepat ke seluruh syaraf mereka. Jena tersentak karena terkejut oleh hangatnya suhu tubuh Elang. Sentakan itu membuat gelas di tangan mereka terguncang. Air dingin di dalamnya memercik keluar cukup keras, membasahi jemari keduanya dan menetes jatuh mengenai bagian atas dada Jena yang terekspos."Ah .... " Jena memekik pelan sambil refleks melangkah mundur, namun tumitnya membentur kaki meja di belakangnya. Keseimbangannya goyah.Melihat bahaya yang mengancam keselamatan orang yang dilindunginya, insting bodyguard Elang langsung bekerja. Tanpa berpikir panjang, Elang meletakkan gelas dengan cepat di meja, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk menahan lengan Jena agar tidak terjatuh.Telapak tangan Elang yang hangat mencengkeram lembut namun kokoh tepat di lengan atas Jena yang polos tanpa penutup.Jena menahan napasnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Jena bisa merasakan hembusan napas Elang yang me







