مشاركة

Puncak Kerapuhan

مؤلف: El khiyori
last update تاريخ النشر: 2026-07-18 08:48:31

Malam itu, hujan lebat mengguyur ibu kota, seolah mewakili badai yang sedang mengamuk di dalam dada Jena. Arkan kembali pergi tanpa pamit setelah hanya berada di rumah selama tiga puluh menit untuk berganti pakaian. Pria itu bahkan tidak melirik hidangan meja makan yang mulai mendingin atau menyadari mata Jena yang membengkak.

Jena berdiri di ruang tengah yang gelap, menatap kosong ke luar jendela kaca besar. Petir menyambar sesekali, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Pertahanannya selama lima tahun ini benar-benar telah runtuh. Ia merasa tidak lebih dari sekadar pajangan mati di rumah megah ini.

Air mata kembali menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya mulai bergetar hebat saat isak tangis yang tertahan akhirnya lolos dari tenggorokannya. Rasanya sesak, teramat sesak hingga ia kesulitan bernapas.

Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat dari arah koridor. Itu adalah Elang.

Pria itu seharusnya sudah kembali ke paviliunnya, namun rasa cemas yang tak beralasan membuatnya memilih untuk tetap berjaga di ruang tengah. Dan di sanalah ia melihatnya, sang nyonya yang selalu berusaha bersikap angkuh dan dingin, kini sedang meringkuk di dekat sofa, menangis tergugu dengan kedua tangan memeluk lututnya sendiri.

Melihat pemandangan tragis itu, sesuatu di dalam dada Elang berdenyut nyeri. Rasa kemanusiaannya, atau mungkin ego kelaki-lakiannya yang ingin melindungi, memberontak hebat. Ia melupakan statusnya sebagai bodyguard, melupakan fakta bahwa wanita ini adalah istri dari atasannya, dan melupakan cincin pernikahan yang tersemat di jarinya sendiri. Yang ia tahu, wanita lembut di hadapannya ini sedang sekarat karena kesepian.

Elang melangkah mendekat tanpa suara. Ia berlutut di atas karpet tebal tepat di hadapan Jena.

"Nyonya .... " panggil Elang, suaranya begitu rendah dan bergetar karena menahan emosi yang bergolak.

Jena mendongak dengan wajah yang kacau. Air mata menyamarkan pandangannya, namun ia tahu siapa pria di hadapannya. "Pergi, Elang ... tinggalkan aku sendiri. Jangan lihat aku seperti ini," bisik Jena di sela isak tangisnya.

Alih-alih pergi, Elang justru mengulurkan tangannya yang besar dan hangat. Jemari kokohnya perlahan menyentuh pipi Jena, menghapus air mata yang terus mengalir deras. Sentuhan itu begitu lembut, begitu kontras dengan tubuh kekarnya yang sekeras karang.

"Saya tidak bisa meninggalkan Anda dalam keadaan hancur seperti ini, Jena," ucap Elang serak. Untuk pertama kalinya, ia memanggil nama wanita itu tanpa embel-embel formalitas.

Sentuhan hangat di pipinya dan panggilan nama itu memutus sisa kendali diri Jena. Jiwanya yang haus akan kasih sayang mendambakan sesuatu yang lebih. Tanpa pikir panjang, Jena mencengkeram erat kemeja abu-abu Elang, menarik pria itu mendekat seolah Elang adalah satu-satunya tali penyelamat di tengah badai hidupnya.

Jarak di antara mereka terkikis habis. Napas mereka bertabrakan, beraroma kepedihan dan gairah terlarang yang pekat.

Sorot mata pria itu menggelap, menatap lurus ke dalam manik mata Jena yang basah. Di bawah temaram kilatan petir, Elang melihat keputusasaan yang teramat dalam pada diri Jena, sesuatu yang memicu insting kelelakiannya untuk memberi dan menyembuhkan. Rasa bersalah pada istrinya di kejauhan sempat terlintas, namun lenyap seketika tertimbun oleh rasa iba dan ga irah yang naik ke ubun-ubun.

Elang menundukkan kepalanya, dan detik berikutnya, bibir mereka bertemu.

Itu adalah ciuman yang menyakitkan namun teramat dalam. Sentuhan pertama mereka terasa seperti benturan dua jiwa yang sama-sama kesepian dan terabaikan. Elang melu mat bibir ranum Jena dengan perlahan namun penuh penekanan, menyalurkan seluruh rasa simpati, kekaguman, dan ga irah tertahan yang selama ini ia kunci rapat di balik wibawanya.

Jena melenguh pelan di sela ciuman mereka. Air matanya mengalir ke sudut bibir, memberikan rasa asin yang semakin menegaskan kepedihan di balik ciuman terlarang itu. Tangan Jena merayap naik ke tengkuk Elang, meremas rambut lebat pria itu, menuntut sentuhan yang lebih dalam seolah ingin menenggelamkan seluruh rasa sakitnya ke dalam dekapan hangat sang bodyguard.

Napas Elang memberat. Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi lebih intens dan menuntut. Lidahnya menyusup masuk, menjelajahi rongga mulut Jena dengan gairah dewasa yang pekat, membuat bulu kuduk Jena meremang dan perutnya menggelenyar hebat. Elang merengkuh pinggang ramping Jena, menarik tubuh sintal itu agar menempel sempurna pada dadanya yang bidang.

Di tengah ruang tengah yang gelap dan dingin, tubuh mereka berdua terasa begitu panas bergolak. Adrenalin membakar kesadaran mereka, mengaburkan garis batas suci pernikahan masing-masing. Mereka saling melumat, saling menghisap, mencoba saling menyembuhkan luka batin lewat tautan bibir yang penuh hasrat terlarang.

Ciuman itu terasa begitu menyentuh perasaan karena di dalamnya tidak hanya ada ga irah, melainkan ada rasa saling membutuhkan yang teramat dalam. Elang memuja kelembutan hati Jena yang selama ini disia-siakan, sementara Jena memuja perlindungan dan kehangatan nyata yang diberikan oleh Elang.

Ketika pasokan udara mereka mulai menipis, Elang perlahan menarik bibirnya. Namun, ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahi mereka saling menempel, napas mereka memburu dan saling memburu di udara malam yang dingin.

Tangan Elang masih mendekap erat pinggang Jena, sementara matanya yang sekelam malam menatap Jena dengan tatapan posesif yang penuh akan rasa bersalah sekaligus damba yang teramat kuat.

"Ini salah El .... " bisik Jena lirih, bibirnya yang membengkak akibat lumatan intens tadi bergetar, namun jemarinya masih mencengkeram erat bahu kekar Elang.

Elang memejamkan matanya erat, merasakan detak jantung Jena yang berpacu liar selaras dengan miliknya. "Aku tahu, tapi malam ini ... aku tidak peduli lagi dengan apa yang benar."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 59

    Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 58

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 57

    Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 56

    Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 55

    Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 54

    Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status