Home / Romansa / Selina dan Sistem Gosip / Rumah yang Dijual

Share

Rumah yang Dijual

Author: AstrieAnggita
last update publish date: 2026-05-13 19:20:19

Pagi harinya—tidak—siang harinya, akhirnya tokoh utama kita bangun juga.

Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, matanya masih setengah tertutup.

Begitu menyalakan lampu dan menatap cermin, kesadarannya langsung meningkat.

"Kiw kiw, aku ternyata cantik juga," gumamnya sambil menatap refleksi dirinya dengan puas.

"Lihat ini, body goals, kulit putih, mata belo, rambut bersinar... Dan semua ini disia-siakan oleh Ero si bayi tiga bulan?"

Ia mendecak kesal, lalu merapikan rambutnya dengan gaya dramatis. "Memang buta tuh pulu-pulu."

Ding!

[Misi hari ini: Dapatkan nomor W******p Dexton Alaric P.]

'Siapa? Siapa itu Dexton?' Selina mengernyitkan dahi dengan malas.

[Dexton adalah target dari misi sampinganmu. CEO nomor satu, pria dingin, dominan, misterius dan... luar biasa tampan.]

Selina menguap. 'Oh, yang harus di-stalker itu?'

[Benar.]

'Baiklah, ayo kesana.'

[Eh, tidak pakai skill hackermu saja?]

'Tidak usah, malas.'

Sistem: [...]

Siang itu, Selina akhirnya menyeret tubuhnya keluar dari kamar kosannya yang sempit. Dengan malas, ia memasukkan ponsel ke dalam saku hoodie dan melangkah keluar.

Belum selesai tangannya memesan taksi online, perhatian Selina teralihkan oleh dua orang yang berbicara tak jauh dari tempatnya berdiri.

Seorang wanita muda tengah menggendong anak balita, wajahnya dipenuhi kelelahan dan frustasi.

Sementara lawan bicaranya adalah pria paruh baya, mengenakan kemeja dan celana panjang, dengan ekspresi canggung seolah ingin segera mengakhiri percakapan.

"Kenapa tidak jadi? Padahal saya sudah menyiapkan semua berkas penjualan rumah. Tinggal tanda tangan saja," suara wanita itu terdengar putus asa.

Pria itu menghela napas panjang, seakan berat hati. "Maafkan saya, Bu. Tapi... sudahlah. Cari saja pembeli lain. Atau kalau boleh saran saya, lebih baik rumahnya jangan dijual saja."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik pergi. Wanita muda itu hanya bisa memandangi punggungnya menjauh, tangannya erat memeluk anaknya yang mulai gelisah.

Air mata menggenang di matanya. "Kenapa selalu begini... Tiap kali ada pembeli, selalu batal," gumamnya putus asa.

Selina yang awalnya hanya sekadar melihat, kini merasa matanya menyipit.

Rasa penasarannya memuncak, seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

Ding!

[Gosip eksklusif: "Rahasia di balik rumah yang tak bisa dijual!" Dijamin akurat! Hanya untuk hari ini, diskon spesial 50%! Harga asli 100 poin, sekarang hanya 50 poin! Flash sale dimulai dalam 10 menit!]

'...'

'Hutang dulu, bisa?' Selina bernegosiasi.

Ding!

[Permintaan hutang poin terdeteksi.]

[Verifikasi dalam proses...]

[...]

[Tidak bisa. Poin di bawah 50 tidak dapat melakukan transaksi hutang. Silakan cari cara mendapatkan poin terlebih dahulu.]

Selina mendengus. 'Sistem, kau pelit sekali, tahu tidak?'

[Tentu saja. Aku bukan yayasan amal.]

Ia melirik wanita muda yang masih berdiri dengan wajah putus asa. Sesuatu di dalam dirinya terasa gatal, ingin tahu lebih banyak.

Selina menghela napas. 'Ayolah, anggap saja bonus pengguna baru. Kan setelah ini aku juga langsung melunasinya.'

Ding!

[Sedang mempertimbangkan...]

[...]

[Selamat! Kau mendapatkan pinjaman darurat sebesar 50 poin. Ingat, bunga keterlambatan akan diberlakukan jika tidak segera dilunasi.]

Selina mendengus. 'Sistem, kau ini lebih mirip rentenir daripada asisten.'

[Tentu saja. Aku harus memastikan pengguna tidak seenaknya memanfaatkanku.]

Tanpa membuang waktu, Selina langsung memilih opsi Beli Gosip di antarmuka sistem.

Ding!

[Gosip berhasil dibeli! Berikut informasinya:]

[Rumah wanita itu memang bisa dijual, tetapi tetangganya yang licik tidak mengizinkan siapa pun membelinya.]

[Jika ada calon pembeli, mereka diancam akses jalannya akan ditutup. Rumah wanita itu berada di pojok, dengan satu-satunya jalan masuk melewati tanah milik tetangga yang licik.]

Selina mengangkat alis. 'Memangnya dia tidak bisa lapor ke Pak RT atau RW? Apa dia sudah tahu kalau tetangganya yang menghalangi?'

[Sebenarnya, dia belum sadar sepenuhnya. Yang dia tahu, setiap pembeli selalu tiba-tiba membatalkan kesepakatan tanpa alasan jelas.]

'Jadi? Dia masih berpikir ini cuma kebetulan?'

[Tepat sekali.]

Selina mendecak. 'Dasar naif.'

[Sebentar. Ada tambahan gosip untukmu.]

Ding!

[Tetangga licik itu sebenarnya sudah menawarkan untuk membeli rumahnya, tapi dengan harga jauh di bawah pasaran.]

[Diam-diam, RT dan RW mendukung tetangga itu. Mereka mendapat imbalan agar membiarkan rencana ini berjalan mulus.]

Selina mendengus. 'Tentu saja. Dunia ini memang penuh orang rakus.'

[Tidak hanya itu. Wanita ini butuh uang segera untuk biaya pengobatan anaknya. Suaminya sudah meninggal, satu-satunya warisan yang ia punya hanyalah rumah ini.]

[Dia ingin menjualnya, lalu pulang ke kampung halaman agar bisa merawat anaknya dengan lebih tenang.]

Selina menoleh ke arah wanita muda itu, yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat merapikan gendongan anaknya, seolah sedang menahan tangis.

Selina mendecak pelan. "Wah, mereka benar-benar jahat. Menekan seorang ibu tunggal seperti ini."

Bola matanya berputar, ide mulai bermunculan di kepalanya.

Selina melangkah perlahan, berniat menghampiri wanita itu. Namun, sebelum sempat membuka mulut, seseorang lebih dulu mendekat.

Seorang ibu-ibu dengan daster bermotif bunga, sandal jepit khas, dan ekspresi kepo menghampiri wanita muda itu dengan tangan bersedekap.

"Laras, aku kan sudah bilang. Jual saja rumahmu itu ke Pak Dito. Dia sudah mau beli, loh. Daripada susah-susah lagi," ucapnya dengan nada menekan.

Wanita muda bernama Laras menggigit bibirnya, suaranya terdengar putus asa. "Tapi, Bu… Pak Dito cuma mau beli seharga 80 juta. Padahal harga rumah ini setidaknya 150 juta."

Selina mengangkat alis, menarik sudut bibirnya.

Gadis usia 19tahun itu melangkah dengan santai, tangan dimasukkan ke dalam saku jaketnya.

Wajahnya tetap malas seperti biasa, tapi matanya menatap lurus ke arah wanita muda itu.

"Aku beli 300 juta," ucapnya datar.

Laras, wanita muda itu, tertegun. "A-apa?"

Selina mengangkat alis, seolah malas mengulang. "Rumahmu. Aku beli dengan harga 300 juta. Sekarang juga."

Ibu-ibu daster di sebelah Laras langsung membelalak. "Eh, eh! Masa langsung beli begitu aja? Tidak ditawar dulu?"

Selina hanya menguap malas. "Aku ngantuk. Nggak ada waktu untuk basa basi."

Laras masih belum percaya, tapi sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara keras dari arah gang masuk.

"APA?! SIAPA YANG BERANI MEMBELI?!"

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah merah padam melangkah cepat ke arah mereka. Napasnya memburu, seolah baru saja mendengar kabar paling buruk dalam hidupnya.

Pak Dito.

"Rumah ini sudah saya tawar duluan!" bentaknya, menunjuk tajam ke arah Laras. "Mana bisa seenaknya dijual ke orang lain?!"

Selina menoleh pelan ke arahnya, tatapannya tetap datar. "Oh? Memangnya Bapak sudah bayar?"

Pak Dito mendengus. "Belum, tapi—"

"Kalau belum bayar, berarti belum jadi pembeli," potong Selina dengan santai.

Laras langsung gelagapan. "Pak Dito... Anda hanya menawar 80 juta, tapi Mbak ini menawar 300 juta... Saya butuh uangnya segera."

Pak Dito mendelik. "Jangan bodoh! Dia pasti menipumu!"

Selina terkekeh, memasukkan tangan ke dalam saku. "Kalau saya menipu, kenapa saya siap membayar sekarang juga?" Ia mengeluarkan ponselnya. "Transfer sekarang atau cash?"

Pak Dito semakin marah. "Kau pikir bisa main beli rumah di sini semudah itu? Saya ini sudah lama tinggal di sini! Semua orang juga tahu kalau saya yang paling berhak beli rumah ini!"

Selina hanya menghela napas. "Loh, yang jual kan bukan Bapak. Jadi kenapa Bapak yang mengamuk?"

Ibu-ibu di sekitar mulai berbisik-bisik, sementara Laras menatap Pak Dito dengan ragu.

Pak Dito menggertakkan giginya, wajahnya semakin merah. "Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan!"

Selina menyeringai tipis. "Oh? Coba beritahu saya?"

Pak Dito mendengus marah, tangannya berkacak pinggang. "Terserah kalau kau mau membeli! Tapi saya pastikan, kau tidak akan punya akses jalan ke sana!"

Kerumunan yang semakin ramai mulai berbisik-bisik. Beberapa ibu-ibu terlihat menggeleng-gelengkan kepala, sementara yang lain justru tampak penasaran dengan arah pembicaraan ini.

Selina melirik sekeliling, matanya menilai cepat situasi.

Lalu, dengan suara yang cukup keras agar semua mendengar, ia bertanya, "Yang rumahnya di depan rumah Pak Dito ini, siapa?"

Dua orang pria paruh baya saling menoleh, kening mereka berkerut bingung.

"Saya," jawab salah satunya ragu.

"Dan saya," timpal yang lain.

Selina tersenyum. "Saya beli juga rumah kalian. 300 juta."

Suasana langsung hening.

Pak Dito tersentak, matanya membelalak. "A-apa?!"

Dua pemilik rumah itu terperangah, saling bertatapan seolah ingin memastikan mereka tidak salah dengar.

"Loh, beneran, Mbak?" salah satu dari mereka bertanya, suaranya masih tak percaya.

Selina mengangguk santai. "Bayar sekarang, cash atau transfer, terserah kalian."

Pak Dito tampak seperti hendak pingsan. "Gila! Gila kau! Mana ada yang beli rumah segampang ini?!"

Selina mengangkat bahu. "Ya kalau Bapak tidak bisa, jangan samakan dengan saya."

Kerumunan mulai berisik, beberapa orang mulai menghitung-hitung dalam hati, sadar bahwa ada sesuatu yang aneh.

Rumah kecil di kampung ini, kenapa ada yang mau membeli dengan harga setinggi itu?

Namun, tak sedikit yang mencemooh Pak Dito. "Rasakan, sekarang kena batunya sendiri," gumam seseorang di antara kerumunan.

"Tadi dia mengancam tidak memberi akses jalan, sekarang akses jalan ke rumahnya malah dibeli oleh Mbak ini."

Pak Dito, yang tadinya merasa berkuasa, kini justru terlihat panik. "Tidak bisa! Tidak bisa begitu!" serunya, suaranya bergetar antara marah dan takut.

Selina hanya menatapnya dengan tenang. "Lucu juga, ya. Tadi Bapak bilang saya tidak akan punya akses jalan, sekarang justru Bapak yang akan terkepung. Gimana rasanya, Pak?" tanyanya dengan nada datar.

Ia tersenyum. Tapi, senyumnya pada Pak Dito bagai senyuman iblis neraka.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selina dan Sistem Gosip   Adrian Wijaya

    Pagi itu, di kamar kosnya yang sempit, Selina duduk santai di lantai dengan kaki selonjoran, menikmati makanan yang baru dibelinya.Dengan gerakan malas, ia mengambil satu gorengan, lalu mengunyah perlahan. Tak lupa segelas teh hangat juga ada di sebelahnya. Sambil menikmati makanan, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan nada santai, ia bertanya pada Sistem, 'Ngomong-ngomong, kemarin kau bilang aku masuk ke dunia novel. Novel apa?'Sistem terdiam sejenak, seperti sedang mengumpulkan ingatannya.[Ah... apakah aku lupa memberitahu?]Selina: "..."Kenapa dia mendapatkan sistem yang oon, tidak seperti di cerita wattpad lainnya. Selina menghela napas. 'Cepat katakan sekarang, sebelum aku pergi menemui Dexton untuk misi harian.'Kalau bukan demi mendapatkan akses gosip eksklusif milik sistem, Selina tidak akan mau repot-repot menemui pria dingin itu. Mending rebahan di kosan, peluk guling, dan scroll berita gosip terkini. Sistem akhirnya bereaksi. [Baiklah! Mari kita mulai... Hmm, dari

  • Selina dan Sistem Gosip   Kiw Kiw

    Selina duduk di meja sebelah Dexton, menopang dagu sambil menatap layar interface sistem yang melayang di hadapannya.'Kita butuh nomor WhatsApp Dexton. Bagaimana cara memintanya tanpa terlihat aneh?'Selina menghela napas, melirik sekilas ke arah pria itu. Dexton tampak fokus pada berkas-berkas di tangannya, ekspresinya tenang dan nyaris tak terbaca, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya.[Bagaimana kalau kau pura-pura jadi agen minuman herbal?]Selina nyaris tersedak minumannya. 'Serius? Memangnya masih ada yang mau beli minuman herbal?'[Hei, jangan remehkan minuman herbal! Siapa tahu dia tertarik menjaga kesehatannya.]Selina memutar bola mata. 'Kalau aku pura-pura menumpahkan minuman ke bajunya? Bagaimana? Bisa jadi alasan buat tukar kontak.'[Trik itu sudah basi sejak tahun 2000-an.]Selina mendengus, lalu kembali melirik Dexton. Jari pria itu masih sibuk membolak-balik kertas, tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian Selina—sejak tadi, gerakan Dexton sedikit melam

  • Selina dan Sistem Gosip   Dexton Alaric

    Di dalam taksi online, sistem masih bertanya-tanya dengan heran.[Selina, kau menghabiskan hampir 1 miliar hanya untuk membantu ibu muda itu?][Walaupun uangmu banyak, tapi kalau terus menghambur-hamburkannya seperti ini, cepat atau lambat bakal habis juga.]Selina bersandar santai di kursi belakang, kakinya disilangkan. 'Bukan cuma buat nolongin saja. Kalau niatnya cuma menolong, buat apa aku beli dua rumah lainnya?'[Eh? Lalu apa alasanmu? Jangan bilang cuma buat kasih pelajaran tetangga licik itu?]Selina menggeleng pelan. 'Buat apa buang-buang waktu? Kalau mau memberi pelajaran, tinggal lapor polisi atas dasar pemerasan, beres.'Sistem terdiam. [...Lalu?]Selina menyeringai kecil. 'Ada alasan yang lebih menarik.'Ia mecondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Seolah-olah membisikkan sesuatu ke telinga sistem. 'Kemarin aku beli gosip Ero cuma 10 poin. Tapi, gosip rumah itu harganya 100 poin. Kenapa begitu?'Sistem langsung kaku. [...][Itu... Aku tidak tahu. Sudah diatur dari sananya.

  • Selina dan Sistem Gosip   Rumah yang Dijual

    Pagi harinya—tidak—siang harinya, akhirnya tokoh utama kita bangun juga.Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, matanya masih setengah tertutup. Begitu menyalakan lampu dan menatap cermin, kesadarannya langsung meningkat."Kiw kiw, aku ternyata cantik juga," gumamnya sambil menatap refleksi dirinya dengan puas. "Lihat ini, body goals, kulit putih, mata belo, rambut bersinar... Dan semua ini disia-siakan oleh Ero si bayi tiga bulan?"Ia mendecak kesal, lalu merapikan rambutnya dengan gaya dramatis. "Memang buta tuh pulu-pulu."Ding![Misi hari ini: Dapatkan nomor WhatsApp Dexton Alaric P.]'Siapa? Siapa itu Dexton?' Selina mengernyitkan dahi dengan malas.[Dexton adalah target dari misi sampinganmu. CEO nomor satu, pria dingin, dominan, misterius dan... luar biasa tampan.]Selina menguap. 'Oh, yang harus di-stalker itu?'[Benar.]'Baiklah, ayo kesana.'[Eh, tidak pakai skill hackermu saja?]'Tidak usah, malas.'Sistem: [...]Siang itu, Selina akhirnya menyere

  • Selina dan Sistem Gosip   Misi ke-100

    Tasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang. Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil menyelesaikan misi ke-100, dia akan kembali ke kehidupan pertamanya. Masalahnya? Zero tidak ingat seperti apa kehidupan pertamanya. Kenapa dia memulai perjalanan ini? Kenapa dia bersikeras ingin kembali? Apakah ada seseorang yang menunggunya di sana? Entahlah. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan misi terakhirnya. Namun setelah 99 kehidupan yang melelahkan, Zero sudah tidak lagi bersemangat. Apa salahnya kalau dia tidur saja? Apa salahnya kalau kali ini... dia membiarkan segalanya berjalan tanpa campur tangan? Sayangnya, dunia ke-100 tidak memberinya kemewahan untuk beristirahat. Karena kali ini, dia diberikan Sistem Gosip yang terus-menerus menggodanya dengan informasi yang terlal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status