Share

Dexton Alaric

Author: AstrieAnggita
last update publish date: 2026-05-13 19:22:00

Di dalam taksi online, sistem masih bertanya-tanya dengan heran.

[Selina, kau menghabiskan hampir 1 miliar hanya untuk membantu ibu muda itu?]

[Walaupun uangmu banyak, tapi kalau terus menghambur-hamburkannya seperti ini, cepat atau lambat bakal habis juga.]

Selina bersandar santai di kursi belakang, kakinya disilangkan. 'Bukan cuma buat nolongin saja. Kalau niatnya cuma menolong, buat apa aku beli dua rumah lainnya?'

[Eh? Lalu apa alasanmu? Jangan bilang cuma buat kasih pelajaran tetangga licik itu?]

Selina menggeleng pelan. 'Buat apa buang-buang waktu? Kalau mau memberi pelajaran, tinggal lapor polisi atas dasar pemerasan, beres.'

Sistem terdiam. [...Lalu?]

Selina menyeringai kecil. 'Ada alasan yang lebih menarik.'

Ia mecondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Seolah-olah membisikkan sesuatu ke telinga sistem.

'Kemarin aku beli gosip Ero cuma 10 poin. Tapi, gosip rumah itu harganya 100 poin. Kenapa begitu?'

Sistem langsung kaku. [...]

[Itu... Aku tidak tahu. Sudah diatur dari sananya.]

Selina mengangkat alis, sudut bibirnya tertarik ke atas. 'Itu karena gosipnya lebih berguna. Kau belum menyadarinya?'

Di hadapannya, interface sistem tampak melayang, menampilkan peta digital yang hanya bisa diakses olehnya.

'Tempat ini akan terkena proyek pelebaran jalan tol.'

Sistem tertegun. [!!!]

Sistem berusaha mencerna informasi yang baru saja diungkapkan Selina.

[Jadi... Kau membeli rumah-rumah itu karena...]

Selina menyeringai. 'Karena nilainya akan naik berkali-kali lipat.'

Ia mengetuk layar di hadapannya, memperbesar peta digital yang menampilkan rencana pembangunan tol baru di kota ini.

Garis proyek itu melewati area tempatnya tadi membeli rumah.

'Begitu proyek ini diumumkan secara resmi, 2-3 tahun kedepan, harga tanah di sekitar sini bakal melonjak drastis. Rumah yang tadinya hanya 150-200 juta bisa naik jadi miliaran.'

Sistem langsung menghitung cepat. [Jadi kau bukan hanya sekadar menolong, tapi juga investasi?]

Selina menguap. 'Tentu saja. Aku memang baik hati, tapi bukan orang bodoh. Kenapa cuma bantu satu orang kalau bisa sekalian bantu diri sendiri?'

Ia bersandar lebih dalam ke kursi, merasa nyaman dengan kursi mobil yang ditumpanginya.

Sistem akhirnya mengerti maksudnya. [Kau curang sekali.]

Selina hanya tertawa pelan. 'Namanya juga bisnis.'

Taksi online yang ditumpanginya terus melaju, meninggalkan area pemukiman padat penduduk itu.

*****

Di depan gedung pencakar langit Imperium Corp., Selina melepas hoodie-nya dengan santai.

Kini, kemeja putih yang rapi dan rok span hitamnya terlihat lebih jelas. Rambutnya ia cepol malas, menciptakan tampilan sederhana tapi cukup profesional.

Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah map, sekadar properti agar terlihat meyakinkan.

Dengan percaya diri, ia melangkah masuk ke dalam lobi.

[Selina, kau benar-benar ingin masuk begitu saja tanpa rencana?]

[Kau bahkan tidak tahu dimana Dexton berada.]

'Aku memang tidak mencari Dexton,' ucap Selina malas. Wajahnya menoleh kesana-sini.

[Lalu...?]

'Diamlah.'

[...]

Setelah sedikit mengamati suasana, ia menemukan sekumpulan karyawati yang sedang duduk santai di kafe dalam gedung.

Ada yang menyeruput kopi, ada yang tertawa sambil melihat layar ponsel, dan-lebih menarik lagi-ada yang sedang bergosip dengan ekspresi penuh antusiasme.

Selina memasang wajah tak peduli, lalu berjalan santai ke arah barista. "Kopi hitam satu, tanpa gula."

Sambil menunggu pesanan, telinganya mulai menangkap percakapan yang menarik.

"Astaga, kalian lihat kan tadi pagi? Pak Dexton jalan bareng cewek baru lagi!"

"Iya, aku tahu cewek itu siapa, artis baru kan?"

"Tapi, kalau Pak Dexton, tidak aneh lagi. Bukannya sering dia ketahuan jalan dengan cewek yang berbeda."

"Katanya dia terkenal dingin? Kenapa banyak ceweknya?" Suara asing tiba tiba mengagetkan mereka.

"Eeh? Kau ini...?" Para karyawati bingung melihat orang yang baru bergabung.

Selina tersenyum, membagikan kacang atom yang baru saja dibelinya kepada para karyawati.

"Aku karyawan baru, magang disini. Lanjutkan, lanjutkan."

"Kalau dingin, bukannya susah didekati?" lanjutnya lagi dengan wajah kepo.

Para karyawati masih saling pandang, ragu dengan kehadiran Selina yang tiba-tiba.

Namun, saat mereka melihat kacang yang ditawarkan, ekspresi curiga mereka sedikit mencair.

"Ah, kalau soal itu... Memang Pak Dexton terkenal dingin," kata salah satu karyawati, mengambil segenggam kacang.

"Tapi, justru itu yang bikin dia makin menarik. Cewek-cewek seperti merasa tertantang buat meluluhkan dia."

"Serius?" Selina memasang ekspresi tak percaya, padahal dalam hati ia sangat tertarik.

"Iya! Gimana ya, meskipun dia kelihatan cuek dan galak, tapi katanya kalau udah pacaran, dia bisa romantis banget!"

"Lagian dia tajir, ganteng, dan bos besar. Siapa sih yang nggak mau?" sahut karyawati lain, ikut mengambil kacang dari tangan Selina.

"Masalahnya, dia juga terkenal sering gonta-ganti pasangan," tambah yang lain, sambil cekikikan.

"Baru beberapa minggu sama yang ini, tahu-tahu besok udah ada yang baru lagi!"

"Serius?"

"Banget! Kau pasti kaget kalau tahu jumlah mantannya."

Selina berpura-pura mengangguk paham, tapi dalam hati sudah mulai merasa malas.

Ia meraih kopinya, menyeruput sedikit, lalu beringsut mundur dari para karyawati itu, menuju arah keluar.

[Loh, misi belum selesai, kenapa sudah mau pulang?]

'Kau tidak dengar tadi? Dexton itu pria brengsek yang suka gonta-ganti pasangan. Siapa yang tahu dia punya penyakit kelamin atau tidak?'

Selina bergidik membayangkan kemungkinan terburuk.

'99 kehidupan yang kujalani, paling malas berurusan dengan pria model begitu.'

'Walaupun cuma sebagai target misi, tetap saja. Aku punya standar kebersihan, baik fisik maupun moral.'

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik menuju pintu keluar.

"Lebih baik pulang ke kosan, lalu rebahan."

Sistem mendadak panik. Tidak bisa! Tidak boleh dibiarkan!

Ding!

[Gosip eksklusif: "Rahasia kehidupan pribadi sang CEO ternama." Hanya 500 poin saja. Bisa dihutang!]

'Tidak tertarik.' Selina menguap malas.

[Diskon 50%! Hanya 250 poin saja!]

Selina tetap berjalan santai, tidak tertarik sama sekali.

[Baiklah, diskon spesial! Hanya 100 poin! Tidak kukenakan bunga!]

Selina menguap. 'Mau 10 poin juga aku nggak mau. Nggak tertarik dengan kehidupan cowok redflag kayak gitu.'

[...]

[Sistem menawarkan GRATIS! Ambil saja! GRATIS 100% TANPA POIN!]

Langkah Selina terhenti. Satu alisnya terangkat. 'Katakan.'

[Di balik skandal percintaannya yang bertebaran, ternyata Dexton masih virgin. Tidak pernah berciuman, bahkan tidak pernah bergandengan tangan dengan lawan jenisnya!]

Selina memiringkan kepala, ekspresinya penuh skeptisisme. 'Kau tidak bercanda, kan?'

[Tidak. 100% valid. Data terpercaya. Sumber terverifikasi.]

Selina terdiam sejenak. Ia melirik ke arah karyawati yang tadi masih asyik membahas 'skandal' Dexton dengan semangat.

Ia kembali fokus pada sistem dalam pikirannya. 'Jadi, semua gosip itu...?'

[Gosip itu memang sengaja dibuat oleh Dexton. Mau tahu lebih lengkapnya? Hanya 500 poin!]

"..."

Kenapa ujung-ujungnya harus bayar juga?! Sial.

Selina mendengus. 'Lupakan. Kalau begitu, kita langsung temui Dexton saja. Di mana dia sekarang?'

Ding!

[Dexton terdeteksi sedang berada di kafe langganannya. Menikmati sore sambil mengerjakan berkas laporannya.]

CEO besar, bukannya sibuk di kantor malah santai di kafe? Selina hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tapi, itu justru lebih baik, lebih mudah untuknya.

Tanpa ragu, ia berbalik arah dan melangkah malas keluar gedung.

*****

Begitu Selina mendorong pintu kafe, lonceng kecil di atasnya berdenting pelan.

Suasana di dalam terasa tenang, hanya ada satu-dua pengunjung yang duduk menikmati kopi mereka, sibuk dengan layar ponsel atau laptop masing-masing.

Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya.

Di meja pojok, seorang pria tampan maksimal memakai kacamata duduk dengan tenang, jemarinya bergerak lincah di atas dokumen yang tertata rapi.

Kemeja hitamnya terlihat pas di tubuh, lengan tergulung hingga siku, memperlihatkan otot yang tersembunyi di baliknya.

Ekspresinya serius, sorot matanya tajam meski fokus pada pekerjaan di depannya.

Dexton Alaric P.

Di sampingnya, seorang pria berdiri tegak dengan postur formal, sesekali membisikkan sesuatu ke telinga bosnya—asistennya, mungkin.

Yang lebih mencolok adalah kehadiran para bodyguard yang tersebar di setiap sudut kafe.

Selina menarik kursi dan duduk tepat di sebelah meja Dexton. Ia menguap lebar di sela-sela kegiatannya.

Para bodyguard melihat tampilannya yang terlalu santai tidak mencurigai apapun.

Dexton masih fokus pada dokumen di tangannya, tidak menunjukkan tanda-tanda peduli dengan kehadiran Selina.

[Sekarang kau sudah duduk di depan Dexton, apa rencanamu?]

'Belum tahu,' jawabnya malas di dalam pikiran. 'Ada ide tidak?'

Tanpa Selina sadari, gerakan tangan Dexton terhenti. Pena di jarinya membeku di atas kertas.

Ia mendengar sesuatu.

Tatapannya naik perlahan, matanya mengunci pada Selina. Ekspresi dinginnya tetap terjaga, tetapi ada kilatan ketertarikan yang samar di dalamnya.

Gadis ini...

Siapa yang sedang dia ajak bicara?

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selina dan Sistem Gosip   Adrian Wijaya

    Pagi itu, di kamar kosnya yang sempit, Selina duduk santai di lantai dengan kaki selonjoran, menikmati makanan yang baru dibelinya.Dengan gerakan malas, ia mengambil satu gorengan, lalu mengunyah perlahan. Tak lupa segelas teh hangat juga ada di sebelahnya. Sambil menikmati makanan, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan nada santai, ia bertanya pada Sistem, 'Ngomong-ngomong, kemarin kau bilang aku masuk ke dunia novel. Novel apa?'Sistem terdiam sejenak, seperti sedang mengumpulkan ingatannya.[Ah... apakah aku lupa memberitahu?]Selina: "..."Kenapa dia mendapatkan sistem yang oon, tidak seperti di cerita wattpad lainnya. Selina menghela napas. 'Cepat katakan sekarang, sebelum aku pergi menemui Dexton untuk misi harian.'Kalau bukan demi mendapatkan akses gosip eksklusif milik sistem, Selina tidak akan mau repot-repot menemui pria dingin itu. Mending rebahan di kosan, peluk guling, dan scroll berita gosip terkini. Sistem akhirnya bereaksi. [Baiklah! Mari kita mulai... Hmm, dari

  • Selina dan Sistem Gosip   Kiw Kiw

    Selina duduk di meja sebelah Dexton, menopang dagu sambil menatap layar interface sistem yang melayang di hadapannya.'Kita butuh nomor WhatsApp Dexton. Bagaimana cara memintanya tanpa terlihat aneh?'Selina menghela napas, melirik sekilas ke arah pria itu. Dexton tampak fokus pada berkas-berkas di tangannya, ekspresinya tenang dan nyaris tak terbaca, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya.[Bagaimana kalau kau pura-pura jadi agen minuman herbal?]Selina nyaris tersedak minumannya. 'Serius? Memangnya masih ada yang mau beli minuman herbal?'[Hei, jangan remehkan minuman herbal! Siapa tahu dia tertarik menjaga kesehatannya.]Selina memutar bola mata. 'Kalau aku pura-pura menumpahkan minuman ke bajunya? Bagaimana? Bisa jadi alasan buat tukar kontak.'[Trik itu sudah basi sejak tahun 2000-an.]Selina mendengus, lalu kembali melirik Dexton. Jari pria itu masih sibuk membolak-balik kertas, tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian Selina—sejak tadi, gerakan Dexton sedikit melam

  • Selina dan Sistem Gosip   Dexton Alaric

    Di dalam taksi online, sistem masih bertanya-tanya dengan heran.[Selina, kau menghabiskan hampir 1 miliar hanya untuk membantu ibu muda itu?][Walaupun uangmu banyak, tapi kalau terus menghambur-hamburkannya seperti ini, cepat atau lambat bakal habis juga.]Selina bersandar santai di kursi belakang, kakinya disilangkan. 'Bukan cuma buat nolongin saja. Kalau niatnya cuma menolong, buat apa aku beli dua rumah lainnya?'[Eh? Lalu apa alasanmu? Jangan bilang cuma buat kasih pelajaran tetangga licik itu?]Selina menggeleng pelan. 'Buat apa buang-buang waktu? Kalau mau memberi pelajaran, tinggal lapor polisi atas dasar pemerasan, beres.'Sistem terdiam. [...Lalu?]Selina menyeringai kecil. 'Ada alasan yang lebih menarik.'Ia mecondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Seolah-olah membisikkan sesuatu ke telinga sistem. 'Kemarin aku beli gosip Ero cuma 10 poin. Tapi, gosip rumah itu harganya 100 poin. Kenapa begitu?'Sistem langsung kaku. [...][Itu... Aku tidak tahu. Sudah diatur dari sananya.

  • Selina dan Sistem Gosip   Rumah yang Dijual

    Pagi harinya—tidak—siang harinya, akhirnya tokoh utama kita bangun juga.Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, matanya masih setengah tertutup. Begitu menyalakan lampu dan menatap cermin, kesadarannya langsung meningkat."Kiw kiw, aku ternyata cantik juga," gumamnya sambil menatap refleksi dirinya dengan puas. "Lihat ini, body goals, kulit putih, mata belo, rambut bersinar... Dan semua ini disia-siakan oleh Ero si bayi tiga bulan?"Ia mendecak kesal, lalu merapikan rambutnya dengan gaya dramatis. "Memang buta tuh pulu-pulu."Ding![Misi hari ini: Dapatkan nomor WhatsApp Dexton Alaric P.]'Siapa? Siapa itu Dexton?' Selina mengernyitkan dahi dengan malas.[Dexton adalah target dari misi sampinganmu. CEO nomor satu, pria dingin, dominan, misterius dan... luar biasa tampan.]Selina menguap. 'Oh, yang harus di-stalker itu?'[Benar.]'Baiklah, ayo kesana.'[Eh, tidak pakai skill hackermu saja?]'Tidak usah, malas.'Sistem: [...]Siang itu, Selina akhirnya menyere

  • Selina dan Sistem Gosip   Misi ke-100

    Tasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang. Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil menyelesaikan misi ke-100, dia akan kembali ke kehidupan pertamanya. Masalahnya? Zero tidak ingat seperti apa kehidupan pertamanya. Kenapa dia memulai perjalanan ini? Kenapa dia bersikeras ingin kembali? Apakah ada seseorang yang menunggunya di sana? Entahlah. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan misi terakhirnya. Namun setelah 99 kehidupan yang melelahkan, Zero sudah tidak lagi bersemangat. Apa salahnya kalau dia tidur saja? Apa salahnya kalau kali ini... dia membiarkan segalanya berjalan tanpa campur tangan? Sayangnya, dunia ke-100 tidak memberinya kemewahan untuk beristirahat. Karena kali ini, dia diberikan Sistem Gosip yang terus-menerus menggodanya dengan informasi yang terlal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status