LOGINSelina duduk di meja sebelah Dexton, menopang dagu sambil menatap layar interface sistem yang melayang di hadapannya.
'Kita butuh nomor W******p Dexton. Bagaimana cara memintanya tanpa terlihat aneh?' Selina menghela napas, melirik sekilas ke arah pria itu. Dexton tampak fokus pada berkas-berkas di tangannya, ekspresinya tenang dan nyaris tak terbaca, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya. [Bagaimana kalau kau pura-pura jadi agen minuman herbal?] Selina nyaris tersedak minumannya. 'Serius? Memangnya masih ada yang mau beli minuman herbal?' [Hei, jangan remehkan minuman herbal! Siapa tahu dia tertarik menjaga kesehatannya.] Selina memutar bola mata. 'Kalau aku pura-pura menumpahkan minuman ke bajunya? Bagaimana? Bisa jadi alasan buat tukar kontak.' [Trik itu sudah basi sejak tahun 2000-an.] Selina mendengus, lalu kembali melirik Dexton. Jari pria itu masih sibuk membolak-balik kertas, tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian Selina—sejak tadi, gerakan Dexton sedikit melambat. Seolah sedang diam-diam memperhatikan sesuatu. Selina tidak menyadari, gadis itu masih asyik berbicara dengan sistem. [Bagaimana kalau kau berpura-pura jadi jurnalis? Katakan saja kau sedang melakukan wawancara tentang dunia bisnis.] 'Dexton bukan tipe yang suka diwawancara, karyawati tadi yang bilang. Nanti malah diusir.' [Atau... kau bisa bilang ingin menawarkan asuransi jiwa?] Selina hampir menjitak layar sistem di hadapannya. 'Aku mau nomor WA-nya, bukan ditampar pakai dokumen asuransi!' 'Sudahlah, pakai cara jitu dariku saja!' Tanpa pikir panjang, Selina berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser dengan bunyi berdecit, membuat para bodyguard langsung siaga. Dengan langkah santai dan penuh percaya diri, ia menghampiri meja Dexton, seperti seorang model yang melangkah di atas runway. "Tunggu—!" Asisten Dexton refleks bergerak, tangannya terulur hendak mencegah Selina. Namun, dengan gerakan gesit namun elegan, Selina menghindari cengkeramannya tanpa usaha berarti. Asisten itu hanya bisa melongo melihat tangannya yang kosong. Sesampainya di depan Dexton, Selina menatap pria itu dengan penuh percaya diri. "Kiw kiw." Dexton menghentikan gerakan tangannya, mengangkat satu alis, menatap gadis muda di hadapannya tanpa ekspresi. "Kamu ganteng banget. Boleh minta nomor WA-nya?" Selina berkata lagi. Suasana di kafe mendadak hening. Asisten Dexton terbatuk pelan, tampak berusaha menahan ekspresi terkejutnya. Para bodyguard yang tadinya siaga kini justru saling berpandangan, seolah memastikan apakah mereka tidak salah dengar. Sementara itu, Dexton hanya diam, jemarinya mengetuk meja dengan ritme pelan, tatapannya masih setenang lautan tanpa gelombang. Selina tetap tersenyum santai, menunggu jawaban. [Ini yang kau bilang cara jitu?!] [Kiw kiw?! Ganteng banget?!] Wajah Selina sedikit memerah. 'Diamlah! Kau mau misi kita selesai atau tidak?' [Kalau caramu begitu, mana mungkin Dexton mau memberi nomor—] " +628xxxx." Suara dingin tanpa emosi menghentikan perdebatan dua entitas dengan eksistensi berbeda. Sistem: [...] Selina: "..." Selina terpaku. Bahkan sistem ikut terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dexton menyesap kopinya dengan tenang, seolah baru saja memberikan hal sepele, bukan nomor pribadinya. Ding! [Misi sukses! Mendapatkan nomor WA CEO Dexton. Reward: 200 poin!] [Misi harian terbuka! • Mengirim pesan ke Dexton: 5 poin. • Bertatap muka dengan Dexton: 10 poin. • Memegang tangan Dexton: 20 poin. • Memeluk Dexton: 50 poin. • Mencium Dexton: 150 poin. • xx Dexton: 200 poin. • oo Dexton: 250 poin. • xo-] 'Diam! Diam! Diam! Kenapa misinya semakin ngaco saja?! Katanya cuma men-stalker? Kenapa ada xx dan oo dan xoxo?!' Selina berteriak dalam hati. Wajahnya kini merah padam. Dexton, yang baru saja menyesap kopi, tiba-tiba tersedak pelan. Meski begitu ekspresinya tetap datar, ia menerima sapu tangan dari asistennya dengan gerakan tenang. Sementara itu, Selina masih sibuk menatap layar sistem dengan ekspresi frustrasi. "Apa lagi?" suara Dexton tiba-tiba memecah lamunannya, membuat Selina sedikit tersentak. "Eh? Oh, tidak. Terima kasih, ganteng. Nomormu aku simpan," jawabnya santai, menyembunyikan keterkejutannya dengan senyum manis. Namun, matanya tak sengaja melirik berkas yang tadi dibaca Dexton. ‘Ada yang janggal…’ Selina bergumam dalam hati. Di kehidupan ke-9, ia pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan besar. Pekerjaan yang menuntutnya hampir 24 jam penuh. Untung saja, saat itu misinya hanya berlangsung lima tahun sebelum pindah ke dunia berikutnya. Ding! [Gosip eksklusif: "Skandal Internal di Suatu Perusahaan!" Hanya 10 poin saja! Murah meriah! Tidak ada tempat lain yang lebih murah dari sistem!] "…" Selina hanya bisa diam. Benar kan, pasti ada sesuatu. "Masih mau melihat berkas orang?" suara Dexton kembali terdengar. Selina mendongak, mendapati pria itu menatapnya dengan sorot mata tajam. Kacamatanya kini telah dilepas, sementara kedua tangannya bersidekap. "Bagaimana kalau duduk dulu?" ujarnya santai, mengangkat dagu sedikit, memberi isyarat agar Selina duduk di kursi depannya. Belum sempat Selina membuka mulut untuk menolak, pria itu menambahkan, "Aku tidak menerima penolakan." Selina cemberut. Brengsek! Mentang-mentang sudah kasih nomor WA, sekarang main perintah seenaknya? Tapi sudahlah, hitung-hitung sebagai bentuk terima kasih. Dengan malas, ia akhirnya duduk di depan Dexton. Selina melirik ke sekitar dengan santai, sesekali ia menguap. Namun, pikirannya tetap tertuju pada sistem. 'Beli! Aku sedang bad mood, pria ini main perintah seenaknya. Kita lihat ada gosip apa di perusahaannya!' Ding! [Gosip Terbuka! "Skandal di Balik Perusahaan Pemasok Terbesar! Sang Istri Resmi Pemilik, Tapi Istri Muda yang Berkuasa!"] Eh, menarik juga. Drama istri tua vs istri muda? 'Jelaskan lebih lanjut!' [Salah satu perusahaan pemasok dalam proyek Dexton adalah Primavista Industries. Perusahaan ini dibangun dari nol oleh sepasang suami istri.] [Namun, setelah mencapai kesuksesan, sang suami diam-diam menikahi wanita lain dan memberinya posisi strategis di perusahaan.] Selina mendengus, memutar bola matanya. 'Cih, lelaki... Waktu masih nol bilangnya berjuang bersama. Begitu sudah kaya, malah cari istri muda.' [Betul!] Sistem langsung setuju. Lelaki seperti itu memang pantas ditendang. [Masalahnya, istri muda ini sama sekali tidak paham bisnis! Bukannya membantu, dia justru memperburuk keadaan dengan keputusan-keputusan ngawurnya.] [Para staf kewalahan, bahkan beberapa direktur mulai mengundurkan diri karena tidak tahan dengan kelakuannya.] Selina tertawa kecil dalam hati. Kalau sudah begini, salah siapa? "Ada sesuatu yang menarik?" suara Dexton kembali terdengar, nada bicaranya datar, terkesan tidak peduli. Selina mengedip beberapa kali, lalu tersenyum. "Tidak ada, hanya kebetulan saja." Dexton menatapnya tajam, lalu menyesap kopi dengan gerakan tenang. "Kalau begitu, kenapa wajahmu terlihat seperti baru menemukan harta karun?" Selina terkekeh kecil, berusaha tetap santai. "Ahahaha, itu karena kau ganteng sekali, aku seperti menemukan harta karun." Asisten Dexton terbatuk pelan, hampir tersedak udara. Apa-apaan ini? Selina menyandarkan dagu di tangannya, tersenyum menggoda. "Boleh... kupegang tangannya?" Asisten Dexton hampir terlompat dari tempatnya. Baru kenal sudah mau pegang-pegang?! Dexton menatap Selina lama, lalu— Ia tertawa. Sangat kecil. Hampir tak terdengar. Hanya mereka yang ada di dekatnya yang menyadarinya. Asisten: "…" Selina: "…" Sistem: […] Asisten Dexton menatap bosnya dengan ekspresi horor. Sejak kapan pria dingin ini bisa tertawa?! Pada akhirnya, Selina gagal memegang tangan Dexton. Pria itu sudah menghilang dari tempatnya. Begitu juga dengan asistennya dan para bodyguard. Gadis itu menyandarkan kepalanya di meja yang kini kosong. Tidak ada lagi pria tampan, tidak ada lagi kesempatan menambah poin. "Yasudahlah," gumamnya, mengangkat bahu tanpa peduli. "Ayo pulang, rebahan." Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di kepalanya. 'Sistem, berapa poinku sekarang?' Ding! [Poin: 130] Selina terdiam. 'Ah, sedikit sekali! Tahu gitu tadi aku paksa pegang tangannya saja!' Sistem: […] Jujur, tadi memang seharusnya Selina memaksa memegang tangan Dexton saja. Kalau perlu paksa xxoo sekalian. **** Di dalam mobil, Dexton kembali tertawa kecil. Evan, yang duduk di kursi depan, melirik bosnya melalui kaca spion dengan ekspresi penuh tanda tanya. Hari ini sudah dua kali pria dingin itu tertawa. "Bos, Anda tidak apa-apa?" tanyanya hati-hati. Raut wajah Dexton langsung kembali dingin seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Periksa Primavista Industries. Pastikan apakah benar manajemennya sudah berganti," perintah Dexton dengan suara tenang, namun penuh ketegasan. Evan sempat ragu. Perusahaan itu sudah berkali-kali bekerja sama dengan mereka tanpa masalah berarti. Mengapa bos tiba-tiba ingin menyelidikinya? Namun, dia tidak berani bertanya lebih jauh. Dengan sigap, dia mengangguk. "Baik, Bos. Saya akan menghubungi tim sekarang." *****Pagi itu, di kamar kosnya yang sempit, Selina duduk santai di lantai dengan kaki selonjoran, menikmati makanan yang baru dibelinya.Dengan gerakan malas, ia mengambil satu gorengan, lalu mengunyah perlahan. Tak lupa segelas teh hangat juga ada di sebelahnya. Sambil menikmati makanan, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan nada santai, ia bertanya pada Sistem, 'Ngomong-ngomong, kemarin kau bilang aku masuk ke dunia novel. Novel apa?'Sistem terdiam sejenak, seperti sedang mengumpulkan ingatannya.[Ah... apakah aku lupa memberitahu?]Selina: "..."Kenapa dia mendapatkan sistem yang oon, tidak seperti di cerita wattpad lainnya. Selina menghela napas. 'Cepat katakan sekarang, sebelum aku pergi menemui Dexton untuk misi harian.'Kalau bukan demi mendapatkan akses gosip eksklusif milik sistem, Selina tidak akan mau repot-repot menemui pria dingin itu. Mending rebahan di kosan, peluk guling, dan scroll berita gosip terkini. Sistem akhirnya bereaksi. [Baiklah! Mari kita mulai... Hmm, dari
Selina duduk di meja sebelah Dexton, menopang dagu sambil menatap layar interface sistem yang melayang di hadapannya.'Kita butuh nomor WhatsApp Dexton. Bagaimana cara memintanya tanpa terlihat aneh?'Selina menghela napas, melirik sekilas ke arah pria itu. Dexton tampak fokus pada berkas-berkas di tangannya, ekspresinya tenang dan nyaris tak terbaca, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya.[Bagaimana kalau kau pura-pura jadi agen minuman herbal?]Selina nyaris tersedak minumannya. 'Serius? Memangnya masih ada yang mau beli minuman herbal?'[Hei, jangan remehkan minuman herbal! Siapa tahu dia tertarik menjaga kesehatannya.]Selina memutar bola mata. 'Kalau aku pura-pura menumpahkan minuman ke bajunya? Bagaimana? Bisa jadi alasan buat tukar kontak.'[Trik itu sudah basi sejak tahun 2000-an.]Selina mendengus, lalu kembali melirik Dexton. Jari pria itu masih sibuk membolak-balik kertas, tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian Selina—sejak tadi, gerakan Dexton sedikit melam
Di dalam taksi online, sistem masih bertanya-tanya dengan heran.[Selina, kau menghabiskan hampir 1 miliar hanya untuk membantu ibu muda itu?][Walaupun uangmu banyak, tapi kalau terus menghambur-hamburkannya seperti ini, cepat atau lambat bakal habis juga.]Selina bersandar santai di kursi belakang, kakinya disilangkan. 'Bukan cuma buat nolongin saja. Kalau niatnya cuma menolong, buat apa aku beli dua rumah lainnya?'[Eh? Lalu apa alasanmu? Jangan bilang cuma buat kasih pelajaran tetangga licik itu?]Selina menggeleng pelan. 'Buat apa buang-buang waktu? Kalau mau memberi pelajaran, tinggal lapor polisi atas dasar pemerasan, beres.'Sistem terdiam. [...Lalu?]Selina menyeringai kecil. 'Ada alasan yang lebih menarik.'Ia mecondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Seolah-olah membisikkan sesuatu ke telinga sistem. 'Kemarin aku beli gosip Ero cuma 10 poin. Tapi, gosip rumah itu harganya 100 poin. Kenapa begitu?'Sistem langsung kaku. [...][Itu... Aku tidak tahu. Sudah diatur dari sananya.
Pagi harinya—tidak—siang harinya, akhirnya tokoh utama kita bangun juga.Dengan langkah gontai, ia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, matanya masih setengah tertutup. Begitu menyalakan lampu dan menatap cermin, kesadarannya langsung meningkat."Kiw kiw, aku ternyata cantik juga," gumamnya sambil menatap refleksi dirinya dengan puas. "Lihat ini, body goals, kulit putih, mata belo, rambut bersinar... Dan semua ini disia-siakan oleh Ero si bayi tiga bulan?"Ia mendecak kesal, lalu merapikan rambutnya dengan gaya dramatis. "Memang buta tuh pulu-pulu."Ding![Misi hari ini: Dapatkan nomor WhatsApp Dexton Alaric P.]'Siapa? Siapa itu Dexton?' Selina mengernyitkan dahi dengan malas.[Dexton adalah target dari misi sampinganmu. CEO nomor satu, pria dingin, dominan, misterius dan... luar biasa tampan.]Selina menguap. 'Oh, yang harus di-stalker itu?'[Benar.]'Baiklah, ayo kesana.'[Eh, tidak pakai skill hackermu saja?]'Tidak usah, malas.'Sistem: [...]Siang itu, Selina akhirnya menyere
Tasker kode Zero telah hidup dalam 99 dunia berbeda—dunia modern, kerajaan, prasejarah, kiamat, bahkan peradaban antar bintang. Gadis itu telah menjalankan berbagai misi, mengubah takdir, dan memainkan peran yang tak terhitung jumlahnya. Dan ini adalah misinya yang terakhir. Jika dia berhasil menyelesaikan misi ke-100, dia akan kembali ke kehidupan pertamanya. Masalahnya? Zero tidak ingat seperti apa kehidupan pertamanya. Kenapa dia memulai perjalanan ini? Kenapa dia bersikeras ingin kembali? Apakah ada seseorang yang menunggunya di sana? Entahlah. Yang ia tahu, ia harus menyelesaikan misi terakhirnya. Namun setelah 99 kehidupan yang melelahkan, Zero sudah tidak lagi bersemangat. Apa salahnya kalau dia tidur saja? Apa salahnya kalau kali ini... dia membiarkan segalanya berjalan tanpa campur tangan? Sayangnya, dunia ke-100 tidak memberinya kemewahan untuk beristirahat. Karena kali ini, dia diberikan Sistem Gosip yang terus-menerus menggodanya dengan informasi yang terlal







