تسجيل الدخولHallo assalamualaikum. Deche minta maaf karena tidak bisa up setiap hari. Terima kasih karena masih mengikuti kisah Sari dan Yoko.
Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai
Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, tandanya Sari keluar dari kamar mandi. Yoko menoleh ke arah kamar mandi, ia sudah penasaran dengan penampilan Sari dengan pakaian rumah dan tidak menggunakan kerudung.Ketika Sari menampakkan dirinya, Yoko terkejut melihat penampilan Sari. Sari menggunakan setelan piama lengan panjang dan memakai hijab instan. Yoko menghela napas kecewa dengan penampilan Sari. “Sayang, kenapa hijabnya nggak dibuka?” tanya Yoko.“Nanti saja dibukanya kalau mau tidur,” jawab Sari.“Ya sudah, kalau maunya begitu. Sini tidur di sini.” Yoko menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.“Nggak, ah. Saya duduk di sofa saja.” Sari berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa. Lagi-lagi Yoko menghela napas karena kecewa pada Sari.“Sayang, apa nggak pegel duduk terus?” Yoko memperhatikan Sari yang hendak memainkan telepon seluler. Sari diam tidak menjawab pertanyaan Yoko. Sebenarnya punggungnya merasa pegal, ia ingin berbaring tubuhnya, tapi ia nggak be
Pertanyaan Sari membuat Yoko sedikit terkejut. Ia menoleh ke Sari. Wanita itu sudah menggunakan mukenah, tangannya memegang sajadah. Melihat penampilan Sari menyadarkannya kalau ia juga belum solat dzuhur.Yoko beranjak dari tempatnya berdiri. Ia mencari petunjuk arah kiblat yang biasa ada kamar hotel. Di langit-langit kamar ada stiker berbentuk tanda panah yang bertuliskan kiblat. “Kiblat nya ke arah sana.” Yoko menunjuk ke arah pintu.“Saya solat dulu, Pak. Sebentar lagi dzuhur habis.” Sari menggelar sajadah menghadap ke kiblat lalu memulai solat. Yoko memperhatikan Sari yang sedang solat. Wanita itu berada di dalam kamar berdua dengan pria yang bukan suaminya, tetapi ia masih ingat kepada Tuhan-nya. Yoko melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.Beberapa menit kemudian ketika Sari masih solat, terdengar dering telepon dari dalam tas Sari. Sari cepat-cepat menyelesaikan solatnya, ia takut suara dering teleponnya mengganggu Yoko yang sedang solat dzuhur. Setelah mengucapkan salam Sa
Yoko dan Sari berjalan menuju ke lobi hotel. Ketika masuk ke lobi, Sari takjub melihat lobi hotel. Suasananya yang tenang dan interiornya yang mewah. Baru kali ini Sari menginjakan kaki di hotel bintang lima. Bahkan Taufik belum pernah mengajaknya menginap di hotel.Sari berjalan mengikuti Yoko menuju ke tempat reservasi. Seorang perempuan muda berwajah cantik menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang merekah. Ia adalah pegawai hotel bagian reservasi. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa perempuan itu dengan ramah.“Saya sudah pesan kamar atas nama Yoko Ardian,” ujar Yoko.“Sebentar, Pak. Kami cek dulu.” Perempuan itu menunduk, ia seperti sedang mengetik. Sambil menunggu perempuan muda mencari nama Yoko, Sari mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobi hotel. Ada beberapa orang yang sedang duduk di lobi, ada juga yang sedang berlalu lalang keluar masuk lobi. Sari berharap ia tidak bertemu dengan orang yang ia kenal.“Lagi lihat apa, Sayang?” Sebuah kecupan mendarat di p
Yoko selesai membayar makanan, Sari cepat-cepat memalingkan wajahnya agar tidak terlihat sedang memperhatikan Yoko. “Ayo, Sayang. Kita pulang.” Yoko merangkul pinggang Sari. Sari seperti tersengat listrik ketika tangan Yoko menyentuh pinggangnya. Belum pernah ada laki-laki yang menyentuh pinggangnya, bahkan suaminya belum pernah merangkul pinggangnya.Keterkejutan Sari dirasakan oleh Yoko. “Kenapa, Sayang?” tanya Yoko dengan lembut.Sari menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa,” jawab Sari.Yoko berbisik ke telinga Sari. “Bu Sari tenang saja. Serahkan semuanya kepada saya.” Setelah itu Yoko mengecup pipi Sari. Sari kembali seperti disengat listrik. Ia menoleh ke Yoko dengan mata melotot.“Kenapa, Sayang?” Yoko menanggapinya dengan lembut.“Di sini banyak orang, Pak!” bisik Sari.“Nggak apa-apa, Namanya juga orang pacaran.” Yoko merubah posisi tangannya, ia merangkul pundak Sari. Mereka berjalan ke mobil. Sepanjang langkah menuju mobil, Sari mencium wangi parfum Yoko karena posisi mere







