LOGINDua bulan pasca-penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat, konsolidasi kekuatan internal mencapai puncaknya. Salju di sekitar benteng mulai mencair, membuka akses jalan utama menuju Wilayah Selatan dan Barat. Di bawah arahan Ratu Meghan, jalur logistik baru tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga memperkuat pos-pos pemeriksaan militer di seluruh perbatasan.Namun, kedamaian di permukaan itu pecah saat Fajar pertama musim semi tiba.Bapa Anselm memasuki Aula Kerja Kerajaan dengan langkah tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu hitam tanpa ukiran yang dikirimkan oleh kurir anonim dari pelabuhan perbatasan Wilayah Timur. Jalur laut yang selama ini dianggap paling aman dan netral."Paduka, Ratu Meghan," panggil Bapa Anselm, suaranya mengandung nada kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Kotak ini tiba bersama stempel segel milik Konsul Dagang Wilayah Timur. Namun operatesi pemeriksaan di perbatasan menemukan noda darah yang mengering di bawah alasnya."
Penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat dari garis perbatasan di Pegunungan Utara membawa keheningan yang serasa asing bagi Benteng Celah Hitam. Asap dari perkemahan militer di seberang jurang perlahan meluruh, menyisakan hamparan salju putih yang tak lagi ternoda oleh derap sepatu paku para prajurit.Di balai utama benteng, Ralph berdiri melipat tangan di depan perapian batu yang menyala membara. Suara kayu terbakar dan desis angin luar yang menghantam dinding tebal menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan. Meski ancaman perang terbuka berhasil ditangkis tanpa perlu meneteskan darah di perbatasan, ekspresi di wajah Sang Raja tetap menyiratkan kewaspadaan yang tak sedikit pun memudar.Meghan melangkah mendekat, membiarkan jubah wol tebalnya terurai sedikit saat ia berdiri di samping Ralph. Di dalam pelukan inang pengasuh di ruang dalam yang hangat, Ashton sedang terlelap, jauh dari ketegangan politik yang baru saja mengancam masa depannya."Kau tampak tidak sepuas yang kuba
Tiga minggu berikutnya berlalu dalam kesibukan yang dingin dan terukur di seluruh penjuru benteng. Musim dingin menyelimuti ibu kota dengan lapisan es tebal, membekukan kolam-kolam batu dan melapisi benteng granit dengan warna putih yang pucat. Namun di dalam Ruang Strategi Istana Agung, pergerakan justru berlangsung hangat dan intens.Ralph tidak membuang waktu. Sebagai penguasa yang dibesarkan di medan perang, ia tahu betul bahwa ancaman dari Kerajaan Barat di balik Pegunungan Utara bukanlah gertakan belaka. Tiga divisi infantri yang disiagakan di perbatasan adalah kekuatan tempur nyata yang sanggup menembus celah-celah gunung jika jalur pertahanan tidak diperkuat sebelum es mencair."Panglima Gomund telah menempatkan empat ratus prajurit pemanah di Benteng Celah Hitam," ujar Lord Silas, menunjuk maket kayu yang menggambarkan garis perbatasan utara di atas meja besar. "Namun masalah utamanya bukan pada jumlah prajurit kita, Paduka. Masalahnya ada pada legalitas traktat tersebut di
Pembersihan Pasca-Pemberontakan dan konsolidasi kekuasaan tidak berjalan dalam semalam. Meski Elanor dan Lord Vane telah dijatuhi hukuman pengkhianatan tingkat tinggi, dampak kekacauan politik yang mereka tinggalkan merembet ke tatanan birokrasi dan militer.Dua minggu setelah peristiwa di Menara Utara, Aula Barat dipenuhi oleh tumpukan naskah penyitaan aset. Ralph duduk di meja kerja utamanya, didampingi Lord Silas dan Bapa Anselm. Mereka tidak lagi membahas legitimasi, melainkan restrukturisasi Dewan Kabinet yang kehilangan hampir separuh anggotanya akibat pembersihan pengikut Vane."Tujuh fraksi bangsawan dari Wilayah Selatan mengajukan penundaan pembayaran pajak musim dingin, Paduka," ujar Lord Silas seraya menyodorkan perkamen berstempel lilin hijau. "Mereka beralasan bahwa penangkapan Lord Vane mengganggu jalur perdagangan gandum mereka."Ralph mengambil perkamen tersebut, membacanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja. "Vance menggunakan dana pajak Selatan untuk m
Udara di atas jurang terasa membeku. Dalam hitungan detik yang memotong napas, Ralph melemparkan separuh tubuhnya melewati celah benteng yang runtuh. Jemari besarnya mencengkeram tebalnya selimut kain beludru Ashton yang melayang. Hanya beberapa inci sebelum bayi itu sepenuhnya tersedot oleh gravitasi kehampaan!Dengan sisa kekuatan di lengan kanannya, Ralph menahan bobot tubuhnya sendiri yang tergantung di tepi dinding batu yang licin oleh salju. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram tepian batu kasar sambil memeluk erat Ashton ke dadanya. Suara tangis Ashton kecil yang memecah dinginnya malam menjadi bukti bahwa bayi itu masih bernapas di dalam dekapannya."Aku menangkapmu ... aku memegangmu, Nak," bisik Ralph, suara bass-nya serak, terengah-engah melawan deru angin yang meraung dari dasar jurang.Di atas pelataran benteng, situasi pecah menjadi kegelapan yang buas.Melihat pembunuh bayaran itu melepaskan Ashton, Meghan tidak lagi bertindak sebagai seorang wanita yang membutu
Salju pertama yang turun mulai membasahi pelataran batu puncak benteng Menara Utara. Angin pegunungan berembus kencang, mengibarkan mantel bertudung milik wanita yang berdiri tepat di tepi jurang curam. Di bawah sana, batu-batu karang yang tajam membisu dalam kegelapan jutaan meter ke bawah. Siap menelan siapa pun yang terjatuh tanpa ampun.Ashton kecil menangis kencang dalam dekapan pembunuh bayaran bertopeng, suara tangisannya melengking menembus deru angin dan kepulan asap yang masih membumbung dari kamar di bawah."Princess Genevieve," bisik Ralph, suara Sang Raja bergetar hebat. Pedang di tangannya terangkat kaku, bukan karena ragu memotong leher musuhnya, melainkan karena keriapan ketakutan yang mengunci persendiannya. "Kau ... kau seharusnya mati di Benteng Barat saat tragedi kudeta dua belas tahun lalu."Wanita itu Genevieve, putri tertua dari garis keturunan raja terdahulu yang dianggap telah tewas terbakar bersama seluruh kubu pemberontak. Iaerkekeh pelan. Ia menyibak r
Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum
Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.
Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t
Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen







