LOGINMalam semakin melarut di Istana Agung. Angin utara yang bertiup dari puncak pegunungan membawa serpihan es halus yang menempel di selasar batu luar. Di dalam Ruang Balai Utama, perapian batu berukuran besar masih membara tebal, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin abad ke-13 yang menusuk tulang.Bapa Anselm melangkah masuk dengan mengapit sebuah kotak kayu jati tua yang dilapisi besi tempa. Di belakangnya, dua juru tulis muda membawa pundi-pundi kulit berisi dokumen sensus wilayah terbaru yang baru saja diselesaikan oleh para pengawas tanah (bailiff)."Paduka Raja, Ratu Meghan," Bapa Anselm membungkuk hormat sebelum meletakkan perkamen sensus di atas meja oak. "Ini adalah catatan lengkap mengenai jumlah populasi serf, pengrajin, serta alokasi lahan pertanian di seluruh lima distrik utama pasca-pemulihan musim dingin."Meghan mengambil naskah terbesar, membuka lipatan kulit lembu yang wangi minyak cengkeh itu di bawah temaram cahaya lilin. Matanya dengan cepat memindai
Di Ruang Kerja Utama, Meghan duduk di depan tumpukan peta batas lahan bersama Lord Silas. Di hadapan mereka, dua orang perwakilan dari serikat pemotong kayu (woodcutters guild) berdiri canggung dengan tangan kasar yang terlipat di depan dada."Kalian meminta penambahan kuota tebang di kawasan Hutan Barat," ujar Meghan, suarasa tenang namun penuh penekanan. Matanya menatap berkas laporan kuota tahunan. "Namun laporan dari pengawas hutan menyebutkan bahwa penebangan di sektor tiga telah melebihi batas yang diizinkan dalam Piagam 1293."salah satu perwakilan serikat membungkuk pelan. "Ratu Meghan, permintaan kayu oak tebal dari galangan kapal di Selat Selatan meningkat dua kali lipat musim ini. Jika kami tidak menambah kuota tebang, galangan kapal akan kekurangan bahan baku.""Permintaan pasar tidak serta-merta menggugurkan hukum konservasi wilayah diraja," sela Meghan tanpa getaran sedikit pun. "Jika kalian menebak habis sektor tiga sekarang, dalam lima tahun mendatang Hutan Barat
Keesokan harinya, sebelum fajar sepenuhnya menyingsing di ufuk timur, kabut tebal menyelimuti dinding-dinding granit Istana Agung. Salju tipis mengendap di atas bahu baju zirah para prajurit yang berjaga di sepanjang selasar benteng.Sesuai janji, Ralph membawa Ashton ke pelataran pertahanan luar di Menara Barat. Di sana, empat puluh prajurit pemanah yang mengenakan jubah wol tebal berlogo naga tengah bersiap di balik celah tembok benteng. Di hadapan mereka, jajaran busur silang dan busur tegap tertata rapi di atas peti kayu oak."Di benteng seluas ini, Ashton," ujar Ralph, suaranya dalam dan tenang di tengah tiupan angin dingin, "prajurit pemanah adalah mata dan garis pertahanan pertamamu. Seorang penguasa harus paham berapa lama waktu yang dibutuhkan prajuritnya untuk mengisi ulang anak panah dalam kondisi jemari yang membeku."Ashton memperhatikan seorang pemanah veteran yang tengah melumasi tali busur silang dengan lemak sapi. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis
Memasuki akhir tahun, konsolidasi wilayah tidak lagi sebatas mengamankan perbatasan, melainkan memperkuat jalur komunikasi antar-kastil penopang. Di wilayah perbukitan barat, akses jalan menuju Benteng Batu Hitam kerap terhalang oleh erosi salju dan serangan penyamun lokal yang memanfaatkan celah hutan tebal.Di Ruang Arsip Istana, Ralph memeriksa peta topografi bersama Panglima Gomund. Cahaya lilin memantulkan binar pada baju zirah tempa yang masih melekat di bahu Sang Raja."Penyamun di Hutan Barat bukan tentara terorganisir," ujar Gomund seraya menunjuk titik persimpangan di peta. "Mereka adalah sisa-sisa petani liar dan desertir perang yang menolak membayar pajak tanah. Mereka menyerang kereta pasokan yang tidak dikawal ketat.""Bukan masalah besar, tapi merusak reputasi keamanan yang baru kita bangun," pangkas Ralph dingin. "Gomund, kirim dua unit kavaleri ringan untuk patroli rutin setiap tiga hari. Jika ada penyamun yang tertangkap, jangan dipenjara di ibu kota. Hukum lan
Lonceng Katedral Agung berdentang tujuh kali, gaungnya memecah kesunyian fajar musim dingin. Asap tipis membumbung dari cerobong-cerobong batu di sepanjang pemukiman di bawah benteng, menandakan aktivitas pagi warga kota yang mulai menggeliat di bawah naungan kedamaian yang stabil.Di dalam Balai Penilaian Feodal Istana Agung, meja oak raksasa dipenuhi oleh gulungan perkamen berkulit lembu, timbangan perak untuk keping uang emas florin, serta stempel-stempel wilayah dari seluruh kadipaten bawahan. Hari ini adalah Michaelmas Assessment, hari di mana seluruh vassal, lord, dan kepala guild (serikat pengrajin dan pedagang) berkumpul untuk menyerahkan kewajiban pajak tanah, upeti tahunan, serta memperbarui sumpah feodal (fealty) di hadapan takhta.Ralph duduk di atas kursi kayu berukir naga, mengenakan jubah beludru tebal bersulam benang perak dan baju zirah rantai (hauberk) tebal di bagian dada. Di sisinya, Meghan tampil anggun dalam gaun wol tebal berwarna hijau zamrud, mahkota tiara
Pangeran Ashton yang kini menginjak usia sembilan tahun duduk di samping meja oak besar di Ruang Studi Diraja. Di hadapannya terbentang naskah perkamen kulit lembu yang ditulis dengan tinta empedu. Ia sedang mempelajari daftar kewajiban upeti dan pajak tanah (tithe) dari para penguasa lahan (landlord) di perbatasan."Ashton," panggil Meghan seraya meletakkan segel lilin merah di atas meja. "Jika seorang baron di wilayah barat menolak mengirimkan kavaleri berkuda saat panggilan perang dibunyikan, apa langkah hukum feodal yang harus kau ambil?"Ashton mendongak. Matanya yang berwarna kelabu menatap ibunya tanpa ragu. "Sesuai Piagam Diraja tahun 1292, hak atas tanah (fiefdom) miliknya dicabut. Tanah itu kembali menjadi milik Mahkota, dan ia bisa dijatuhi hukuman pengasingan atas tindakan pembangkangan (felony)."Ralph, yang sedang memeriksa mata pedang besi tempa milik garda depan di dekat perapian besar, mengangguk setuju."Bagus," ujar Ralph dengan suara beratnya. "Di era ini, t
Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.
Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t
Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen
“Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal







