LOGIN"PANGGIL MEGHAN! Mengapa dia telat?!" Suara bariton Ralph menggelegar memecah keheningan koridor istana pagi-pagi sekali. Kemarahan sang Raja yang meledak-ledak membuat para pelayan di paviliun utama gemetar ketakutan, buru-buru menundukkan kepala sedalam mungkin. Tak lama kemudian, Meghan datang dengan langkah yang sengaja diperlambat. Penampilannya tampak terburu-buru. Rambut emasnya hanya disanggul asal, dan ia bahkan belum sempat mengoleskan pewarna kelopak bunga di bibirnya yang kini tampak pucat alami. Ralph yang berdiri di ambang pintu kamar Elanor langsung menghujamkan tatapan elangnya yang tajam dan menusuk. "Kau terlambat, Meghan. Mulai hari ini kau adalah pelayan pribadi Ratu, dan kau sudah membuat kesalahan di hari pertama." Meghan berhenti tepat beberapa langkah di depan Ralph. Ia menatap balik mata pria itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Meghan tahu betul, kemarahan berapi-api Ralph pagi ini sama sekali bukan karena masalah waktu atau karena Elanor
"Aku tidak—" "Ya, kau tidak suka aku dengan wanita lain." "Itu tidak benar!" "Itu benar." Ralph memperhatikan Meghan yang hari ini tumben sekali menggelung rambutnya. Tengkuknya yang putih, yang kini terukir jelas nama Ralph di atas kulitnya, terlihat dengan begitu gamblang di bawah temaram cahaya lilin. "Bahkan sekarang kau mulai bangga dengan adanya namaku di tengkukmu." Meghan tersentak. Sadar akan arah pandangan pria itu, ia segera menarik tusuk konde kayunya dengan kasar hingga rambut emasnya tergerai lebat, menutupi kembali tanda kepemilikan yang tertulis di sana. "Aku hanya merasa panas!" sentak Meghan, dadanya naik turun menahan malu dan kesal. "Ya. Hatimu panas." "Udara! Udaranya panas." Ralph menyeringai, melangkah maju satu kali lagi untuk mengunci pergerakan Meghan di antara tubuh tegapnya dan pinggiran meja kerja. "Teruslah berkelit agar aku semakin yakin kau tidak ingin membagiku." "Dan kau tahu apa bagian terbaiknya, Meghan?" Ralph maju sela
"Mengapa diam saja, Meghan?" Ralph kembali memecah keheningan, nadanya terdengar begitu menuntut. "Ambil teko itu dan tuangkan teh untuk Ratuku. Tabib bilang ramuan herbalnya harus diminum selagi hangat."Meghan menarik napas pendek yang terasa menyiksa dadanya. Dengan membuang jauh-jauh harga dirinya, ia melangkah mendekati meja perak, mengangkat teko keramik yang terasa berat di tangannya yang gemetar, lalu berjalan ke sisi ranjang Elanor.Saat Meghan menuangkan cairan pekat itu ke dalam cangkir, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Ralph perlahan duduk di tepi ranjang, tepat di sisi Elanor. Gestur pria itu begitu protektif, sesuatu yang belum pernah Meghan lihat sebelumnya."Minumlah," ucap Ralph lembut pada Elanor, nadanya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan nada dingin yang biasa ia gunakan pada Meghan. "Kau harus menjaga kesehatanmu dan calon penerusku."Elanor menerima cangkir tersebut dari nampan yang disodorkan Meghan tanpa sedikit pun menatap m
Dunia seolah runtuh seketika di bawah kaki Meghan. Wajahnya mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya. Ada rasa sedih yang teramat dalam, sebuah kehancuran yang tak kasat mata namun terasa begitu meremukkan dadanya hingga ia sulit bernapas.Jadi ... malam itu Ralph benar-benar pergi ke kamar Elanor? Pria itu benar-benar tidur dan menyentuh ratunya? Rasa muak, cemburu yang enggan ia akui, dan rasa terasing bercampur aduk menjadi satu, membuat Meghan merasa sekecil debu di istana ini. Tiga bulan diabaikan seperti orang asing, dan sekarang ia harus menyaksikan pria itu berbahagia atas anak dari wanita lain.Meghan membalikkan badannya dengan langkah lesu, berniat kembali mengurung diri di kamarnya yang dingin. Namun, baru dua langkah ia mengayunkan kaki, langkahnya mendadak terkunci.Di ujung koridor yang ramai oleh pelayan yang lalu lalang, sosok tegap itu berdiri. Ralph ada di sana, mengenakan jubah kebesaran beludru hitam dengan sulaman benang emas yang megah. Pria itu tamp
"Itu tidak mungkin!" cetus Meghan, suaranya naik satu oktav dengan napas yang memburu.Ralph menyeringai, tidak terpengaruh sama sekali oleh penolakan keras itu. Ia justru menikmati kilat perlawanan di mata Meghan yang tampak kontras dengan tubuh ringkihnya yang terluka. "Benarkah?" tanya pria itu retoris, nadanya rendah meremehkan.Meghan beringsut menjauh di atas ranjang hingga punggungnya membentur dinding kayu paviliun, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari tiran di hadapannya. Ketakutan dan amarah bergolak menjadi satu di dalam dadanya."Bahkan setelah apa yang Paduka lakukan kepada selir yang lain, aku ingin meminta kebebasanku!" tuntut Meghan nekat. Pikirannya masih dipenuhi bayangan mengerikan tentang Beatrice.Ralph menaikkan sebelah alisnya, seringai di bibirnya berubah menjadi senyuman dingin yang sarat akan teka-teki. "Oh ya? Selirku hanya kau, Meghan. Dan apa yang sudah kulakukan padamu?""Aku tidak peduli lagi!" jerit Meghan, menutup telinganya, enggan mende
Meghan berteriak, suaranya pecah di tengah dinginnya hutan selatan yang sunyi."Harusnya kau biarkan aku diterkam serigala! Apa bedanya kembali ke istana dengan mati di sini? Kau pun nantinya akan memenggal leherku sama seperti Beatrice!"Ralph menghela napas kasar, gumpalan uap tebal keluar dari sela bibirnya seiring dengan sepasang mata elangnya yang memicing tidak suka. Tuduhan Meghan mendarat telak, memicu kilat amarah yang tertahan di wajah tampannya."Tutup mulut lancangmu atau kau kutelanjangi di sini!" ancam Ralph dengan nada rendah yang teramat berbahaya. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.Ketakutan kembali menyergap Meghan. Melihat monster itu mendekat, ia buru-buru memutar tubuh, mencoba kabur dengan sisa tenaga yang ia miliki. Namun, langkah kakinya yang gemetar di atas salju tebal bukanlah tandingan bagi kecepatan sang tiran. Hanya dalam dua langkah lebar, Ralph berhasil menggapai pinggang Meghan.Dengan satu sentakan bertenaga, pria itu memanggul







