FAZER LOGINSemburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.
Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda. Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung. Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra. "Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya. "Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?" Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar. Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang emas bercorak naga langit membalut sosoknya yang tinggi kokoh. Sorot matanya yang dingin dan tajam menyapu seisi ruangan, memancarkan dominasi mutlak yang memaksa seluruh hadirin menekuk lutut dan menempelkan dahi ke lantai marmer yang dingin. "Bangkitlah," titah sang Kaisar singkat, suaranya berat dan bergema rata di setiap pilar aula. Tepat di belakang langkah sang penguasa, sesosok wanita bergaun putih polos melangkah pelan. Rambut hitam legamnya terurai bebas hingga pinggang, membingkai wajah pucat yang memancarkan kecantikan murni tanpa cela. Nihara Xuyue melangkah begitu ringan tanpa menimbulkan desau gesekan kain di lantai, menciptakan ilusi seolah ia menapak di atas permukaan air tenang. Para pejabat yang bangkit berdiri serempak menahan napas. Di sayap kanan aula, keenam selir mematung dengan tatapan mata yang berkilat tajam. Permaisuri Luo Meiyan yang duduk tegak di kursi kehormatan menyipitkan mata, rahangnya mengetat kaku saat aroma kehadiran wanita asing itu merayapi indra penciumannya. Kaisar berhenti di depan undakan singgasana batu giok, lalu membalikkan badan menghadap seluruh pembesar kekaisaran. "Malam tadi, langit perbatasan terbelah dan seorang wanita terhempas dari celah dimensi," ucap Kaisar, nada bicaranya membelah keheningan dengan wibawa yang tak terbantahkan. "Ia selamat dari amukan energi kosmik dan kini berdiri di hadapan kalian. Namanya adalah Nihara Xuyue." Balairung bergetar oleh kegemparan yang tak tertahankan. Desas-desus kembali menyapu barisan para bangsawan. "Wanita dari luar alam?" "Apakah ia penjelmaan dewi atau malapetaka pembawa sial?" Kaisar mengangkat telapak tangan kanannya, seketika membungkam seluruh suara di ruangan itu. "Mulai fajar ini, aku menetapkan Nihara Xuyue sebagai Selir Ketujuh di Istanaku." Dekrit lisan itu menghantam aula bagaikan halilintar di siang bolong. Para pejabat senior terperanjat mundur setengah tapak, para dayang buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan dan keenam selir yang duduk di barisan kehormatan serentak berdiri dengan wajah sepucat kain kafan. "Selir Ketujuh...?" bisik Selir Lian Qixue, suaranya bergetar menahan gejolak di dada. "Yang Mulia! Keputusan ini adalah penghinaan berat bagi martabat kami!" seru Selir Han Feixia, kedua matanya memerah dan napasnya memburu dipicu amarah yang menyengat. Permaisuri Luo Meiyan bangkit perlahan dari kursinya. Gaun sutra merah emasnya berdesir tajam saat ia menuruni satu undakan. "Yang Mulia," suara Permaisuri mengalun dingin bagaikan mata pedang yang baru diasah, "apakah Yang Mulia rela menodai kemurnian darah istana dengan tindakan gegabah ini? Seorang wanita tanpa silsilah klan yang jelas dan tanpa asal-usul keluarga bangsawan, tiba-tiba diangkat menduduki tahta selir? Di mana letak penghargaan Yang Mulia atas pengabdian dan darah klan kami yang telah menopang tahta ini selama bertahun-tahun?" Kaisar menatap Permaisuri dengan sepasang mata elang yang menggelap. "Titahku mutlak. Tidak ada seorang pun di bawah langit ini yang berhak membantahnya." Xuyue sedikit merundukkan kepalanya, menyembunyikan lengkungan tipis di bibirnya yang ranum. ’Selir Ketujuh... sebuah tabir pelindung yang sempurna untuk menutupi keberadaanku. Dari balik dinding harem ini, aku bisa membedah setiap formasi segel kekaisaran tanpa memancing kecurigaan musuh-musuh dari alam asalku.’ Suasana aula masih dicekam oleh ketegangan yang meremukkan. Para menteri yang biasa lihai bersilat lidah kini memilih menunduk dalam-dalam, menghindari percikan api yang tengah membakar hubungan antara Kaisar dan Permaisuri. Xuyue tetap berdiri mematung di tengah aula. Sikap tubuhnya yang tegak tanpa getaran ketakutan sedikit pun menjadikannya pusat gravitasi yang tak terelakkan. ’Bangunan megah berhiaskan emas murni ini ternyata begitu rapuh,’ batin Xuyue dingin. ’Bukan fondasi batunya yang lemah, melainkan hati para penghuninya yang mudah terbakar oleh rasa dengki.’ Selir Han Feixia kembali menghentakkan kakinya ke lantai batu, meluapkan racun kata-katanya. "Apakah pengorbanan klan kami di medan perang tidak lebih berharga daripada seraut wajah molek seorang pengembara tak jelas?" Lian Qixue menyeka sudut matanya dengan saputangan sutra, melayangkan tatapan getir yang penuh kepura-puraan. "Kami mengorbankan masa muda demi kehormatan kekaisaran, namun dalam satu malam, seorang wanita liar merampas seluruh pandangan Yang Mulia." Xuyue memalingkan wajahnya menatap jajaran selir tersebut dengan mata yang begitu jernih. "Hamba tidak pernah memohon jabatan ini kepada siapa pun," tuturnya lembut dan merdu, namun sarat akan ketegasan yang tak goyah. "Hamba hanya menjalankan titah penguasa mutlak negeri ini." Ketenteraman nada bicara itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang membungkam para selir. Beberapa tetua menteri diam-diam melirik dengan rasa takjub, menyadari bahwa wanita asing ini memiliki ketahanan mental yang melampaui para bangsawan istana. Permaisuri Luo Meiyan mencengkeram kain lengan bajunya hingga buku-buku jarinya memutih. ’Ketenangannya bukan sekadar kepolosan,’ pikir sang Permaisuri dengan tatapan menusuk. ’Ia tidak berkedip di bawah tatapan seluruh istana. Benih duri ini harus segera dicabut sebelum akarnya merusak tahta.’ Kaisar kembali menduduki singgasana gioknya, lalu suaranya menggelegar menutup perdebatan. "Mulai detik ini, Paviliun Selatan resmi menjadi kediaman Selir Ketujuh. Seluruh perlakuan dan keamanannya setara dengan para permaisuri terdahulu. Siapa pun yang berani mengusik ketenangannya tanpa titah dariku, bersiaplah menyambut algojo kekaisaran." Para pejabat segera merapatkan kedua tangan dan membungkuk hingga batas pinggang, menandai berakhirnya jamuan fajar. Para selir terpaksa menundukkan kepala meski raut wajah mereka mengeras oleh kebencian yang mendidih. Xuyue membungkuk anggun memberi penghormatan terakhir. "Hamba menerima titah agung Yang Mulia." Ketika balairung resmi dibubarkan, gelombang kepanikan dan intrik langsung menyebar liar di sepanjang koridor luar istana. Para menteri berbisik di balik tirai kereta kuda mereka, para kasim berlarian membawa kabar ke kediaman pejabat dan para dayang tak henti-hentinya memperbincangkan Selir Ketujuh saat membersihkan taman. Di sebuah lorong terpencil di balik paviliun utama, keenam selir berkumpul dengan napas memburu. Han Feixia menghantamkan telapak tangannya ke dinding kayu berukir. "Aku bersumpah tidak akan membiarkan wanita rendahan itu bernapas lega di istana ini!" "Kita tidak boleh bertindak gegabah," sela Lian Qixue dengan senyum licik yang kembali terpasang. "Kaisar sedang melindunginya secara langsung. Kita butuh jeratan yang membuatnya jatuh oleh tangannya sendiri." Di tengah percakapan yang memanas itu, Permaisuri Luo Meiyan melangkah masuk ke tengah lingkaran mereka. Wajahnya telah kembali tenang bagaikan permukaan danau beku, namun sorot matanya berkilat mematikan. "Tenangkan diri kalian," bisik sang Permaisuri dengan nada rendah yang menusuk sanubari. "Kecantikan hanyalah bunga musiman yang cepat layu. Ia belum memahami bahwa di istana ini, senyuman palsu jauh lebih beracun daripada bisa ular. Biarkan ia menikmati harinya sejenak, karena akulah yang akan memastikan kejatuhannya hingga ke dasar jurang." Sementara itu, di Paviliun Selatan yang terpencil, suasana terasa sunyi dan tenang. Xuyue duduk di depan meja rias kayu cendana, menatap bayangan dirinya di cermin perunggu bundar. Jemari lentiknya menyentuh permukaan dingin logam tersebut seraya merasakan denyut segel di dalam meridiannya yang perlahan mulai stabil. ’Mereka telah menyusun jebakan dan racun kata-kata,’ gumam Xuyue dalam keheningan jiwanya. ’Namun mereka lupa bahwa seekor naga yang menyamar menjadi kelinci tetaplah naga. Saat waktunya tiba, merekalah yang akan tersedak oleh racun mereka sendiri.’ Ia memejamkan mata perlahan, membiarkan angin senja membelai helai rambutnya sementara badai intrik istana mulai berputar di luar dinding paviliunnya.Malam itu taman dipenuhi asap tipis, uap dari lentera bercampur bau hangus yang menempel pada batu.Xuyue berdiri di tepi kolam, menggenggam tongkat, kalung Kaisar di lehernya mengingatkan tanggung jawab, potongan pita di tangannya menuntut jawaban.'Ada yang memancing dari dalam,' pikirnya. 'Bukan hanya membakar bukti, mereka ingin memancing reaksi.'Kaisar muncul, wajahnya mengeras. "Apa yang terjadi?""Seseorang mencoba menghancurkan bukti. Seorang pelayan menyelamatkan kotak bertanda stiker lingkar bercabang. Ruilan diketahui mengunjungi kolektor itu semalam.""Tangkap siapa saja yang pergi dari sana malam ini," perintah Kaisar. "Dan cari Ruilan, jangan hancurkan dia tanpa bukti, tapi kurung sampai kita tahu kebenaran."'Kaisar memilih langkah hati-hati,' batin Xuyue. Ia menelusuri pita di tangannya, merasakan jejak resin yang biasa dipakai melapisi barang sebelum dikirim. 'Ada bengkel yang meracik tanda ini.'Penggeledahan terkoordinasi dimulai. Tim Xuyue menemukan sisa tali terp
Penyelidikan ke pelabuhan barat baru dimulai ketika pagi menarik Xuyue kembali ke istana, namun beban malam sebelumnya belum juga lepas dari pundaknya.Di lehernya, kalung Kaisar bergetar samar setiap kali Jiwa Ketiadaan menyentuh nada-nada asing, pengingat, bukan pelindung mutlak.'Kepercayaan itu rapuh,' batinnya. 'Di istana ini, sebuah senyum bisa menjadi belati yang dibungkus pita.' Pikirannya tertambat pada satu nama yang paling tak ia duga, Zhao Ruilan, sahabat yang menutupi pisau dengan tepian tangan.Ruilan muncul di ambang pintu seperti biasa, anggun, mata yang selalu tampak prihatin. "Xuyue, kau terlihat lelah. Mari minum teh sebelum kau pergi."'Ia selalu tahu kapan menampakkan kebaikan,' pikir Xuyue. Ia menerima undangan bukan karena lengah, tapi karena strategi, saksi yang diawasi juga butuh jeda agar tidak jadi pusat kecurigaan. "Baik. Sebentar saja."Mereka duduk menghadap taman kecil. Ruilan menuangkan teh. "Kau melakukan pekerjaan luar biasa kemarin. Mengejutkan betap
Malam menyelimuti istana dengan kain hitam yang rapat. Angin membawa bau asin yang samar, jejak pelabuhan masih bergaung di udara.Xuyue berdiri di ambang paviliun, tangan bersandar pada tongkat tersembunyi, merasakan Jiwa Ketiadaan berdenyut menunggu isyarat. Di taman, bayangan bergerak dengan pola, dengan jarak yang diukur.'Mereka tak lagi mengincar sekadar panji,' bisiknya dalam hati. 'Mereka mencari celah yang kutup semalam, atau mencari yang baru.'Dua sosok melesat dalam sunyi di sudut taman, membawa benda berukir lingkar bercabang. Satu sosok lebih tegap, topengnya dihiasi garis merah seperti noda darah kering.Di aula, Kaisar menerima laporan terakhir, tangannya mengepal di gagang tombak. "Tingkatkan ronda di sisi selatan," perintahnya. "Jangan biarkan barang apa pun lewat tanpa pemeriksaan."Xuyue meninggalkan aula diam-diam. Di dekat kolam, sebuah bayangan meloncat dari atap, menaruh panji kecil ke sebuah pilar.Xuyue menutup jarak, bukan dengan lari, tapi dengan gerak yang
Pagi itu istana bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya, seolah setiap orang menahan napas agar tidak mengusik benang-benang halus yang baru saja dirapikan.Xuyue berjalan melewati koridor, tongkat ketiadaan tersembunyi di balik lengan, merasakan setiap sapuan angin seperti pesan kecil yang lewat.Pasar sudah diperiksa kembali, pengait yang terpasang dibawa, cakram-cakram yang sudah mati dihancurkan.Namun ada sesuatu yang lain, suatu dorongan dari dalam Kaisar, sebuah urgensi yang mengendap di antara kata-katanya belakangan ini.Di aula utama, lentera-lentera diletakkan lebih rapat, memberi bayangan yang rapi.Kaisar menunggu dengan wajah yang tak berubah. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam, diikat pita tipis yang berwarna gelap hampir seperti tinta.Ketika Xuyue melangkah masuk, Kaisar berdiri, menatapnya lama dengan mata yang menyiratkan ribuan percakapan yang belum diucapkan.Di sudut ruangan, Leluhur duduk tanpa memandang, namun jemari
Cahaya hijau itu menetes perlahan dari celah kecil di langit-langit, lalu menjalar seperti tinta yang dicelup ke air.Gumpalan halus merayap menuruni udara dan menyentuh ujung rak bambu, getarannya menular, membuat serat kayu bergetar seolah ada nyawa kecil yang berjalan di antara daun.Yuan Xia menjerit, suaranya terbelah menjadi nada panik yang membuat dua komandan melesat ke depan, tetapi Xuyue mengangkat tongkat satu kali, isyarat kecil yang menahan langkah mereka.'Tenang,' batinnya. 'Semuanya bergerak sesuai rencana kecilku, namun tidak semestinya ada cahaya itu.'"Yang Mulia!" teriak salah satu komandan. "Apa itu?"Xuyue menjawab tanpa mengalihkan matanya dari pintu kecil yang terbuka. "Jangan serang dulu. Kita belum tahu apa yang keluar." Suaranya datar, dipenuhi otoritas yang tidak memaksa namun membuat ruang memilih menurutnya.Ia merasakan jejaring halus yang baru terbentuk di atas kepala, simpul-simpul kecil yang menyentuh benang-benang lain di langit-langit.'Mereka menco
Pagi merayap lewat kisi-kisi jendela, mengangkat bau lembut dari batu yang basah dan kelopak plum yang jatuh. Taman telah dipulihkan, lentera diganti, jejak retakan menghilang menjadi garis tipis yang tidak menuntut perhatian.Namun udara tetap memegang sisa malam seperti memori yang enggan dilupakan. Xuyue duduk di aula kecil yang menghadap kolam teratai, jemarinya menyentuh tepi meja teh tanpa minum.'Jangan tinggalkan garis yang bisa diikuti,' batinnya. "Diam harus tetap diam."Langkah tenang terdengar dari koridor. Kaisar memasuki paviliun tanpa rombongan, hanya satu komandan berjaga di luar. Wajahnya jernih dan tegang sekaligus. Ia menatap Xuyue dan berhenti di tepi tikar."Keadaan taman sudah dipulihkan," katanya pelan."Panji disimpan di gudang inti. Simpul-simpul yang kau tanam tak terlihat oleh pengawal." Ia menarik napas tipis. "Namun ada satu hal. Dayang baru dari paviliun barat mencoba keluar sebelum fajar.""Yuan Xia," jawab Xuyue tanpa ragu.Kaisar mengangguk. "Ia ketaku







