Beranda / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 3. Selir Ke-7

Share

Bab 3. Selir Ke-7

Penulis: Ershita
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 15:41:13

Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.

Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.

Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.

Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra.

"Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya.

"Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"

Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.

Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang emas bercorak naga langit membalut sosoknya yang tinggi kokoh.

Sorot matanya yang dingin dan tajam menyapu seisi ruangan, memancarkan dominasi mutlak yang memaksa seluruh hadirin menekuk lutut dan menempelkan dahi ke lantai marmer yang dingin.

"Bangkitlah," titah sang Kaisar singkat, suaranya berat dan bergema rata di setiap pilar aula.

Tepat di belakang langkah sang penguasa, sesosok wanita bergaun putih polos melangkah pelan.

Rambut hitam legamnya terurai bebas hingga pinggang, membingkai wajah pucat yang memancarkan kecantikan murni tanpa cela.

Nihara Xuyue melangkah begitu ringan tanpa menimbulkan desau gesekan kain di lantai, menciptakan ilusi seolah ia menapak di atas permukaan air tenang.

Para pejabat yang bangkit berdiri serempak menahan napas. Di sayap kanan aula, keenam selir mematung dengan tatapan mata yang berkilat tajam.

Permaisuri Luo Meiyan yang duduk tegak di kursi kehormatan menyipitkan mata, rahangnya mengetat kaku saat aroma kehadiran wanita asing itu merayapi indra penciumannya.

Kaisar berhenti di depan undakan singgasana batu giok, lalu membalikkan badan menghadap seluruh pembesar kekaisaran.

"Malam tadi, langit perbatasan terbelah dan seorang wanita terhempas dari celah dimensi," ucap Kaisar, nada bicaranya membelah keheningan dengan wibawa yang tak terbantahkan.

"Ia selamat dari amukan energi kosmik dan kini berdiri di hadapan kalian. Namanya adalah Nihara Xuyue."

Balairung bergetar oleh kegemparan yang tak tertahankan. Desas-desus kembali menyapu barisan para bangsawan.

"Wanita dari luar alam?"

"Apakah ia penjelmaan dewi atau malapetaka pembawa sial?"

Kaisar mengangkat telapak tangan kanannya, seketika membungkam seluruh suara di ruangan itu.

"Mulai fajar ini, aku menetapkan Nihara Xuyue sebagai Selir Ketujuh di Istanaku."

Dekrit lisan itu menghantam aula bagaikan halilintar di siang bolong.

Para pejabat senior terperanjat mundur setengah tapak, para dayang buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan dan keenam selir yang duduk di barisan kehormatan serentak berdiri dengan wajah sepucat kain kafan.

"Selir Ketujuh...?" bisik Selir Lian Qixue, suaranya bergetar menahan gejolak di dada.

"Yang Mulia! Keputusan ini adalah penghinaan berat bagi martabat kami!" seru Selir Han Feixia, kedua matanya memerah dan napasnya memburu dipicu amarah yang menyengat.

Permaisuri Luo Meiyan bangkit perlahan dari kursinya. Gaun sutra merah emasnya berdesir tajam saat ia menuruni satu undakan.

"Yang Mulia," suara Permaisuri mengalun dingin bagaikan mata pedang yang baru diasah, "apakah Yang Mulia rela menodai kemurnian darah istana dengan tindakan gegabah ini? Seorang wanita tanpa silsilah klan yang jelas dan tanpa asal-usul keluarga bangsawan, tiba-tiba diangkat menduduki tahta selir? Di mana letak penghargaan Yang Mulia atas pengabdian dan darah klan kami yang telah menopang tahta ini selama bertahun-tahun?"

Kaisar menatap Permaisuri dengan sepasang mata elang yang menggelap.

"Titahku mutlak. Tidak ada seorang pun di bawah langit ini yang berhak membantahnya."

Xuyue sedikit merundukkan kepalanya, menyembunyikan lengkungan tipis di bibirnya yang ranum.

’Selir Ketujuh... sebuah tabir pelindung yang sempurna untuk menutupi keberadaanku. Dari balik dinding harem ini, aku bisa membedah setiap formasi segel kekaisaran tanpa memancing kecurigaan musuh-musuh dari alam asalku.’

Suasana aula masih dicekam oleh ketegangan yang meremukkan. Para menteri yang biasa lihai bersilat lidah kini memilih menunduk dalam-dalam, menghindari percikan api yang tengah membakar hubungan antara Kaisar dan Permaisuri.

Xuyue tetap berdiri mematung di tengah aula. Sikap tubuhnya yang tegak tanpa getaran ketakutan sedikit pun menjadikannya pusat gravitasi yang tak terelakkan.

’Bangunan megah berhiaskan emas murni ini ternyata begitu rapuh,’ batin Xuyue dingin. ’Bukan fondasi batunya yang lemah, melainkan hati para penghuninya yang mudah terbakar oleh rasa dengki.’

Selir Han Feixia kembali menghentakkan kakinya ke lantai batu, meluapkan racun kata-katanya. "Apakah pengorbanan klan kami di medan perang tidak lebih berharga daripada seraut wajah molek seorang pengembara tak jelas?"

Lian Qixue menyeka sudut matanya dengan saputangan sutra, melayangkan tatapan getir yang penuh kepura-puraan. "Kami mengorbankan masa muda demi kehormatan kekaisaran, namun dalam satu malam, seorang wanita liar merampas seluruh pandangan Yang Mulia."

Xuyue memalingkan wajahnya menatap jajaran selir tersebut dengan mata yang begitu jernih. "Hamba tidak pernah memohon jabatan ini kepada siapa pun," tuturnya lembut dan merdu, namun sarat akan ketegasan yang tak goyah. "Hamba hanya menjalankan titah penguasa mutlak negeri ini."

Ketenteraman nada bicara itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang membungkam para selir.

Beberapa tetua menteri diam-diam melirik dengan rasa takjub, menyadari bahwa wanita asing ini memiliki ketahanan mental yang melampaui para bangsawan istana.

Permaisuri Luo Meiyan mencengkeram kain lengan bajunya hingga buku-buku jarinya memutih.

’Ketenangannya bukan sekadar kepolosan,’ pikir sang Permaisuri dengan tatapan menusuk. ’Ia tidak berkedip di bawah tatapan seluruh istana. Benih duri ini harus segera dicabut sebelum akarnya merusak tahta.’

Kaisar kembali menduduki singgasana gioknya, lalu suaranya menggelegar menutup perdebatan.

"Mulai detik ini, Paviliun Selatan resmi menjadi kediaman Selir Ketujuh. Seluruh perlakuan dan keamanannya setara dengan para permaisuri terdahulu. Siapa pun yang berani mengusik ketenangannya tanpa titah dariku, bersiaplah menyambut algojo kekaisaran."

Para pejabat segera merapatkan kedua tangan dan membungkuk hingga batas pinggang, menandai berakhirnya jamuan fajar.

Para selir terpaksa menundukkan kepala meski raut wajah mereka mengeras oleh kebencian yang mendidih.

Xuyue membungkuk anggun memberi penghormatan terakhir. "Hamba menerima titah agung Yang Mulia."

Ketika balairung resmi dibubarkan, gelombang kepanikan dan intrik langsung menyebar liar di sepanjang koridor luar istana.

Para menteri berbisik di balik tirai kereta kuda mereka, para kasim berlarian membawa kabar ke kediaman pejabat dan para dayang tak henti-hentinya memperbincangkan Selir Ketujuh saat membersihkan taman.

Di sebuah lorong terpencil di balik paviliun utama, keenam selir berkumpul dengan napas memburu. Han Feixia menghantamkan telapak tangannya ke dinding kayu berukir.

"Aku bersumpah tidak akan membiarkan wanita rendahan itu bernapas lega di istana ini!"

"Kita tidak boleh bertindak gegabah," sela Lian Qixue dengan senyum licik yang kembali terpasang. "Kaisar sedang melindunginya secara langsung. Kita butuh jeratan yang membuatnya jatuh oleh tangannya sendiri."

Di tengah percakapan yang memanas itu, Permaisuri Luo Meiyan melangkah masuk ke tengah lingkaran mereka.

Wajahnya telah kembali tenang bagaikan permukaan danau beku, namun sorot matanya berkilat mematikan.

"Tenangkan diri kalian," bisik sang Permaisuri dengan nada rendah yang menusuk sanubari. "Kecantikan hanyalah bunga musiman yang cepat layu. Ia belum memahami bahwa di istana ini, senyuman palsu jauh lebih beracun daripada bisa ular. Biarkan ia menikmati harinya sejenak, karena akulah yang akan memastikan kejatuhannya hingga ke dasar jurang."

Sementara itu, di Paviliun Selatan yang terpencil, suasana terasa sunyi dan tenang.

Xuyue duduk di depan meja rias kayu cendana, menatap bayangan dirinya di cermin perunggu bundar.

Jemari lentiknya menyentuh permukaan dingin logam tersebut seraya merasakan denyut segel di dalam meridiannya yang perlahan mulai stabil.

’Mereka telah menyusun jebakan dan racun kata-kata,’ gumam Xuyue dalam keheningan jiwanya. ’Namun mereka lupa bahwa seekor naga yang menyamar menjadi kelinci tetaplah naga. Saat waktunya tiba, merekalah yang akan tersedak oleh racun mereka sendiri.’

Ia memejamkan mata perlahan, membiarkan angin senja membelai helai rambutnya sementara badai intrik istana mulai berputar di luar dinding paviliunnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Ke-7   Bab 5. Senyum yang Menggoda

    Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.

  • Selir Ke-7   Bab 4. Api Cemburu

    Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk

  • Selir Ke-7   Bab 3. Selir Ke-7

    Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra."Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya."Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang em

  • Selir Ke-7   Bab 2. Wajah yang Mengguncang

    Kaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering.Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya."Siapa dia…?" bisik seorang dayang."Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar.Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia men

  • Selir Ke-7   Bab 1. Celah Dimensi

    Darah di bibir Xuyue terasa asin. Itu satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.Langit malam di Alam Kaisar Langit biasanya tenang, dihiasi ribuan bintang yang berkilau seperti permata. Namun malam itu, ketenangan hancur.Suara retakan menggema di angkasa, seolah ada tangan raksasa yang merobek tabir semesta. Cahaya ungu keperakan menyembur keluar, membelah langit menjadi dua.Burung spiritual berjatuhan, binatang buas meraung ketakutan, dan para kultivator yang bermeditasi di seluruh penjuru alam terbangun dengan wajah pucat.Di kuil-kuil tua, lonceng kuno yang sudah ratusan tahun bisu tiba-tiba berdentang sendiri, seolah alam semesta ikut merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana biasa.Celah dimensi melebar, berputar seperti pusaran neraka. Petir tanpa suara menyambar, menghantam udara dengan kekuatan yang membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar hebat.Di tengah pusaran itu, tubuh seorang perempuan melayang tak berdaya. Rambut hitam panjangnya berkibar liar, gaun pu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status