MasukKaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.
Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering. Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya. "Siapa dia…?" bisik seorang dayang. "Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar. Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia menahan perih di sela tulang rusuknya, memaksa dagunya tetap terangkat. Rombongan berhenti di depan pintu besar balairung. Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan megah dengan pilar emas berukir naga. Obor di dinding berkedip-kedip, memantulkan cahaya kuning keemasan. Di ujung ruangan, di atas singgasana tinggi, duduk seorang pria dengan jubah hitam berhiaskan bordir naga emas. Kaisar Tian Yanzhou. Sorot matanya tajam, penuh wibawa. "Komandan," suaranya dalam dan bergema, "apa yang kau bawa ke hadapanku malam ini?" Komandan berlutut. "Yang Mulia, kami menemukan seorang wanita jatuh dari langit. Ledakan energinya mengguncang hutan timur. Kami membawanya ke sini agar Yang Mulia yang memutuskan nasibnya." Kaisar berdiri perlahan, menuruni tangga singgasana, mendekati sosok perempuan yang berdiri di tengah balairung. Seluruh ruangan seakan menahan napas menyaksikan langkah demi langkah itu. Xuyue mengangkat wajahnya. Cahaya obor menyapu debu yang menutupi kulitnya, menyingkap kecantikan yang membuat semua orang terperangah. Wajahnya pucat, namun garis halus di pipinya, mata yang bening setenang dan sedingin kolam bulan, dan bibir yang melengkung samar membuat seluruh ruangan terdiam. Kaisar berhenti di hadapannya, jaraknya hanya sehelai napas. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, matanya melebar. "Seindah ini…" gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Para pejabat saling pandang, terkejut melihat Kaisar yang biasanya dingin kini kehilangan ketenangan. Xuyue menunduk sedikit. "Yang Mulia Kaisar. Aku… hanya seorang pengembara yang tersesat." 'Apa ini…? Mengapa aku merasa seolah seluruh dunia merunduk di hadapannya?' pikir Kaisar. "Siapa namamu?" tanyanya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. Xuyue menimbang setiap kemungkinan sebelum menjawab. "Xuyue. Hanya itu yang bisa kuberikan malam ini." Kaisar mengangguk pelan, seakan menerima nama itu sebagai sesuatu yang berharga meski tidak lengkap. Balairung menunggu keputusan yang akan ia ambil. Seorang pejabat tua melangkah maju, jubahnya berdesir. "Yang Mulia, wanita ini bukan orang biasa. Hamba mohon agar ia dibawa ke penjara istana untuk diinterogasi lebih dulu." Seorang jenderal muda menyela, suaranya tajam. "Penjara? Kau ingin menaruh bom hidup di ruang bawah tanah? Jika ia meledak lagi, separuh istana akan rata." Permaisuri, duduk dengan punggung lurus dan mata yang tajam, memiringkan kepalanya. "Yang Mulia, apapun kecantikannya, ini tetap ancaman. Kita sudah terlalu sering diserang dari luar." Kaisar tidak segera menjawab. Ia menatap Xuyue seperti menatap teka-teki yang menolak dipahami, lalu melangkah lebih dekat lagi, hingga suara marmer memantulkan langkahnya. "Xuyue," ucapnya, "katakan satu hal saja. Apakah kau berniat melukai istanaku malam ini?" Xuyue mengangkat wajah perlahan, seolah menengadah ke bulan. "Tidak." Kata itu meluncur ringan namun tegas, membuat ruangan bergeser dari curiga menjadi bingung. Permaisuri mengepal halus, kuku-kukunya berdesakan pada telapak tangan. 'Jawaban sedikit, dampaknya banyak,' batin Xuyue. 'Biarkan mereka menimbang, bukan memaksa.' Kaisar kembali naik satu langkah. "Komandan, jelaskan lagi apa yang kalian lihat di hutan." "Yang Mulia, setelah retakan muncul, energi liar menyapu hutan. Kami menemukan wanita ini berdiri di pusat kawah, tanpa melancarkan serangan. Rantai spiritual retak sebelum menyentuh kulitnya. Namun ia tidak menyerang. Ia mengizinkan kami membawanya ke sini." "Ia tidak menyerang," gumam Kaisar, lebih kepada dirinya sendiri. Jenderal muda kembali angkat suara. "Yang Mulia, tidak menyerang bukan berarti tidak berbahaya. Kekuatan yang mampu menolak rantai spiritual tanpa gerak harus diperlakukan sebagai ancaman tingkat tinggi." Permaisuri menautkan alis. "Dan kecantikannya memberi kita alasan untuk lupa akan ancaman itu? Pikirkan istana. Pikirkan rakyat." Xuyue menoleh sedikit pada Permaisuri. "Aku tidak meminta belas kasihan," ujarnya tenang. "Jika aku adalah ancaman, pedangmu sudah akan mengetahui rasanya bersentuhan dengan tulangku." Ruangan kembali hening. Kalimat itu bukan tantangan, bukan rayuan, tetapi garis fakta yang dingin: ia tidak memohon, ia tidak gentar. Kaisar menoleh pada kepala pelayan yang berdiri di bayang-bayang pilar, lelaki tua dengan mata yang terlalu tenang. "Apa pendapatmu?" Leluhur Tian Zhenxu, yang dirahasiakan banyak orang sebagai kepala pelayan, menunduk sedikit. "Yang Mulia, dunia menguji kita dengan dua hal: apa yang kita lihat, dan apa yang kita sangka kita lihat. Hamba melihat seorang perempuan yang berdiri di tengah badai, tidak lari, tidak menyerang. Hamba sangka, jika hamba memenjarakan badai, hamba akan kehabisan langit lebih dulu." Beberapa pejabat mengerutkan kening, tidak memahami metafora itu. Permaisuri menghela napas kecil, jengkel pada kebiasaan Leluhur menjawab seperti kabut. "Jika aku membiarkanmu pergi malam ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Kaisar. "Berjalan ke tempat di mana aku bisa melihat langit, dan menunggu apakah dunia ini memilih menolakku atau menampungku." "Bagaimana jika kami menanyakan asal-usulmu?" jenderal muda melangkah maju. "Kau tidak akan puas dengan jawaban apapun yang keluar dari mulutku. Kalian akan memilih jawaban yang paling kalian takutkan." Bisik-bisik menyebar. Di balik semua itu, ada kekaguman kecil karena keberanian yang tidak berlebihan, namun menembus. Kaisar menautkan tangan di belakang punggung, berjalan mengitari Xuyue dengan jarak terukur. Di kepalanya, pertimbangan bergantian: penjara akan memprovokasi, pengusiran akan memancing, pengabaian akan melemahkan wibawa. Permaisuri bersuara lagi, lebih lembut namun jelas. "Yang Mulia, hamba mohon. Jika ingin menahannya, tahanlah di paviliun penjagaan di luar istana utama. Jangan ia dibawa dekat sayap kerajaan." Kaisar menatapnya cukup lama, lalu menatap Xuyue. Untuk pertama kalinya sejak retakan memecah langit malam, senyum tipis menyinggung sudut bibirnya. Senyum yang tidak menunjukkan kelemahan, melainkan keputusan. "Xuyue," ucapnya, "kau tidak akan pergi dari sini malam ini. Kau akan di bawah perlindungan langsungku." Permaisuri setengah berdiri. "Yang Mulia…" Kaisar mengangkat telapak tangan, memotong kata-kata itu. "Mulai malam ini, kau akan kubawa ke istana. Kau akan tinggal di paviliun selatan, di bawah penjagaan pilihan. Siapa pun yang menyentuhmu tanpa izinku, akan kubunuh dengan tanganku sendiri." Balairung meledak oleh kejut yang tertahan. Permaisuri menatap Kaisar dengan mata yang berkilau marah, namun menahan kata-kata seperti menahan petir di ujung lidah. Xuyue menunduk dalam. "Aku mengerti." 'Langkah pertama selesai,' batinnya. 'Di bawah mata naga, kabut memilih tinggal. Kini, lihat siapa yang akan mencoba memaksa kabut menjadi badai.' Dayang utama mendekat, membawa selendang sutra bersih, menawarkannya dengan hormat. Xuyue menerimanya, mengusap debu dari pipinya. Sorot mata para pejabat melembut seketika, bukan karena iba, melainkan karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan: ia tampak seperti api yang memilih menjadi lilin, bukan obor. "Yang Mulia, setidaknya tetapkan batas," kata jenderal muda. "Jika perempuan ini mencoba melarikan diri, pasukan kami harus berhak menangkap kembali." "Jika ia melarikan diri dari paviliun selatan tanpa izin, anggap itu pengkhianatan. Tapi jika ada yang menyentuhnya tanpa perintahku, anggap itu bunuh diri." Permaisuri bangkit sepenuhnya. "Yang Mulia, kebijakan seketat itu akan menimbulkan kebencian. Istana bukan rumah satu orang." Kaisar menatap seluruh balairung. "Istana adalah rumah keputusan. Dan malam ini, keputusan telah dibuat." Leluhur Tian Zhenxu melangkah maju. "Yang Mulia, paviliun selatan harus diperkuat dengan formasi tenang. Bukan formasi kurung. Tenang menenangkan, kurung memancing." "Lakukan," ucap Kaisar. Permaisuri memutar cincin di jarinya, menatap Xuyue dengan tatapan yang bisa mengiris sutra. Xuyue mengembalikan tatapan itu, bening, tidak bermusuhan, namun juga tidak meminta belas kasihan. 'Musuh pertama bukan pedang,' pikirnya. 'Musuh pertama adalah mata.' Komandan memberi aba-aba. Dayang utama dan dua penjaga pilihan melangkah mengantar Xuyue. Ia mengikuti, gaunnya menggesek marmer. Di pintu balairung, Xuyue berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, hanya mengangkat wajah, seolah menimbang langit di balik langit-langit istana. 'Aku ada di dalam mulut naga. Jika aku memilih menjadi api, ia akan batuk. Jika aku memilih menjadi embun, ia akan lupa bahwa aku ada. Malam ini, aku akan menjadi embun.' Pintu balairung menutup perlahan di belakangnya, menutup satu babak dan membuka babak yang lain. Namun tak seorang pun di balairung itu tahu, bahwa keputusan Kaisar malam itu baru saja menyalakan sumbu yang, cepat atau lambat, akan meledakkan seluruh istana dari dalam.Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.
Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk
Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra."Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya."Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang em
Kaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering.Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya."Siapa dia…?" bisik seorang dayang."Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar.Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia men
Darah di bibir Xuyue terasa asin. Itu satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.Langit malam di Alam Kaisar Langit biasanya tenang, dihiasi ribuan bintang yang berkilau seperti permata. Namun malam itu, ketenangan hancur.Suara retakan menggema di angkasa, seolah ada tangan raksasa yang merobek tabir semesta. Cahaya ungu keperakan menyembur keluar, membelah langit menjadi dua.Burung spiritual berjatuhan, binatang buas meraung ketakutan, dan para kultivator yang bermeditasi di seluruh penjuru alam terbangun dengan wajah pucat.Di kuil-kuil tua, lonceng kuno yang sudah ratusan tahun bisu tiba-tiba berdentang sendiri, seolah alam semesta ikut merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana biasa.Celah dimensi melebar, berputar seperti pusaran neraka. Petir tanpa suara menyambar, menghantam udara dengan kekuatan yang membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar hebat.Di tengah pusaran itu, tubuh seorang perempuan melayang tak berdaya. Rambut hitam panjangnya berkibar liar, gaun pu







