Beranda / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 5. Senyum yang Menggoda

Share

Bab 5. Senyum yang Menggoda

Penulis: Ershita
last update Tanggal publikasi: 2026-09-03 09:51:19

Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.

Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.

Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.

Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.

Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.

Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.

Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.

"Kau datang," sambut sang Kaisar, suaranya berat dan bergema di dinding aula.

Xuyue merundukkan tubuh sedikit seraya menyunggingkan senyum tipis. "Yang Mulia menitahkan panggilan, bagaimana mungkin hamba berani mengabaikannya?"

Kaisar menatap wajah elok itu lekat-lekat, menelusuri rahasia yang tersembunyi di balik ketenangannya.

"Sejak kau menginjakkan kaki di istana ini, tidak ada satu sudut pun yang tenang. Para selir resah, Permaisuri murka dan para menteri di balairung mulai sibuk menebar spekulasi liar. Apakah kau sama sekali tidak merasa takut?"

Xuyue melangkah maju dua tapak, mempersempit jarak hingga aroma harum tubuhnya yang menyegarkan menyapu indra penciuman sang penguasa.

Ia mendongak menatap langsung ke dalam manik mata sang kaisar. Senyum di bibirnya berubah lebih berani dan sarat godaan.

"Takut? Untuk apa hamba harus takut? Bukankah hamba hanyalah seorang wanita lemah yang kebetulan menarik perhatian Yang Mulia?"

Dahi Kaisar berkerut samar, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Seorang wanita biasa tidak akan sanggup membuat seluruh istana gelisah hanya dengan seutas senyuman."

Xuyue mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan yang memikat. "Kalau begitu, mungkin bukan hamba yang luar biasa, melainkan Yang Mulia sendiri yang terlalu rapuh dan mudah tergoda."

Udara di aula mendadak senyap. Para kasim di balik pintu menahan napas, tidak pernah menduga ada wanita yang berani melontarkan kata-kata sedemikian berani di hadapan sang penguasa tertinggi.

Kaisar bangkit berdiri, melangkah mendekat hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Kau benar-benar berbeda, Xuyue."

Xuyue menyambut tatapan itu tanpa gentar sedikit pun, senyum manisnya merekah sempurna. "Berbeda itu menyenangkan, bukan?"

Kaisar terkekeh rendah, rasa kagum berkobar di matanya. "Berbahaya, namun sangat menarik."

"Jika demikian, biarkan hamba terus menjadi bahaya terindah yang tak ingin Yang Mulia lepaskan," bisik Xuyue dengan binar mata yang memikat.

Di dalam keheningan batinnya, Xuyue terus menghitung setiap detak napas sang kaisar.

’Mendekatinya memang berisiko membuka segel kekuatanku. Namun hanya melalui jalur darah kekaisaran inilah aku bisa mencapai formasi Inti Semesta di ruang bawah tanah istana.’

Sore harinya, pemandangan di taman barat istana semakin memantik kobaran api cemburu di kalangan penghuni harem.

Ratusan bunga peony bermekaran merah merekah, kelopaknya berguguran tertiup angin senja dan menutupi jalan setapak berbatu giok putih.

Xuyue melangkah anggun berdampingan dengan Kaisar Tian Yanzhou, gaun putihnya berkilau lembut diterpa semburat cahaya jingga.

Dari balik kisi-kisi Paviliun Anggrek di seberang danau, keenam selir menyaksikan kebersamaan itu dengan rahang terkatup rapat.

Lian Qixue meremas saputangan sutranya hingga kusut. "Belum genap sepekan, ia sudah berani melangkah sejajar di sisi Kaisar seolah dialah penguasa istana dalam."

Mo Yanyu menggertakkan giginya menahan geram. "Kecantikan palsu itu tidak akan bertahan lama. Malam ini desas-desus tentang kutukan darah yang ia bawa akan menyebar ke seluruh pasar ibu kota."

Han Feixia mengepalkan tinjunya erat-erat. "Aku muak melihat tingkah manjanya. Jika Kaisar terus memanjakannya, pedangku sendiri yang akan menyeretnya turun!"

Yu Shuangli hanya melipat tangan seraya melayangkan tatapan mencemooh. "Daya pikat rupa akan pudar seiring waktu. Mari kita lihat seberapa lama ia sanggup bertahan dalam permainan pikiran para bangsawan."

Jin Meiqin menggigit bibirnya dengan rasa iri yang meluap. "Bagaimana mungkin wajah sepucat itu sanggup merebut seluruh perhatian yang bertahun-tahun kita perjuangkan?"

Hanya Zhao Ruilan yang tetap mempertahankan senyuman manisnya, meski di balik matanya tersembunyi kalkulasi yang dingin.

"Biarkan ia terbang tinggi menyentuh langit. Saat sayapnya patah nanti, kehancurannya akan jauh lebih memuaskan untuk disaksikan."

Di bawah naungan pohon persik berbunga lebat, Kaisar menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Xuyue.

"Katakan padaku," ucap sang Kaisar dengan nada ingin tahu, "mengapa kau selalu menyunggingkan senyuman, bahkan ketika kau tahu seluruh mata di istana ini menghunus belati ke arah punggungmu?"

Xuyue mengulurkan jemarinya, menangkap sehelai kelopak bunga persik yang melayang di udara. "Karena sebuah senyuman adalah senjata yang paling sempurna, Yang Mulia. Sebilah pedang tajam bisa dipatahkan dan racun keras bisa dinetralkan, namun senyuman tenang sanggup meruntuhkan kewaspadaan jiwa tanpa menimbulkan suara."

Kaisar terpaku menatap kedalaman mata wanita itu, lalu menghela tawa pelan. "Kau benar-benar berbahaya."

Xuyue menoleh seraya memiringkan kepalanya sedikit. "Apakah Yang Mulia merasa takut pada hamba?"

Kaisar maju selangkah, menipiskan jarak di antara mereka. "Takut? Tidak. Aku justru semakin berhasrat untuk menaklukkanmu seutuhnya."

Xuyue melangkah mundur setengah tapak dengan gerakan menggoda yang anggun. "Kalau begitu, kejarlah hamba, Yang Mulia. Bukankah permata yang paling berharga adalah yang paling sukar untuk digenggam?"

Kaisar menghela napas panjang seraya tersenyum pasrah. "Kau sungguh tahu cara membuat akal sehatku berantakan."

Di kejauhan, Permaisuri Luo Meiyan yang berdiri mengamati di balik balkon menatap pemandangan itu dengan mata menyala murka. Kipas giok di genggamannya berderak retak di bawah cengkeraman jemarinya.

Malam pun turun membungkus istana dengan selimut kegelapan. Lentera-lentera minyak bergoyang pelan ditiup hembusan angin malam yang dingin.

Xuyue berjalan seorang diri melintasi jembatan batu menuju kediamannya di Paviliun Selatan.

Ia berhenti di tepi kolam teratai yang airnya jernih memantulkan cahaya rembulan bundar.

Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air, merasakan pusaran angin sejuk yang menyapu pipinya.

’Semua orang di tempat ini memakai topeng,’ batin Xuyue tenang. ’Namun topeng yang paling berbahaya adalah yang tampak paling ramah.’

Suara desau kain sutra terdengar dari balik rimbunnya rumpun bambu. Selir Zhao Ruilan melangkah keluar seraya membawa sebuah kendi porselen putih kecil dan dua cawan giok di atas nampan kayu.

"Adik Xuyue," sapa Ruilan dengan suara merdu penuh kehangatan persaudaraan. "Malam yang begitu sunyi dan dingin ini sungguh sayang jika dihabiskan seorang diri. Aku membawakan arak sari persik hangat untuk menemanimu berbincang."

Xuyue membalikkan badannya perlahan, menyambut kedatangan selir ketiga itu dengan tatapan jernih tanpa kecurigaan yang tampak. "Hamba terbiasa dengan kesunyian malam, Kakak Selir. Namun hamba tentu tidak akan menolak niat baik seorang saudari."

Ruilan duduk di bangku batu tepi kolam lalu menuangkan arak bening yang harum ke dalam dua cawan. "Para selir lain di istana ini memiliki sifat yang keras dan mudah tersulut dengki. Mereka tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk menjatuhkanmu. Namun aku berbeda, Adik. Aku tulus ingin menjadi kawan terdekatmu dan melindungimu dari intrik kotor mereka."

Xuyue menerima cawan giok itu, mengamati riak cairan arak seraya menyunggingkan senyuman manis. "Sahabat sejati di tengah tempat asing ini adalah anugerah yang sangat berharga. Hamba dengan senang hati menerimanya."

Ruilan menyesap araknya seraya menatap Xuyue dengan sorot mata penuh selidik. "Ketenanganmu sungguh luar biasa, Adik. Seolah ancaman Permaisuri dan selir lain hanyalah debu yang lewat."

Xuyue menyesap araknya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu membasahi kerongkongannya. "Jika hamba memperlihatkan rasa takut, bukankah itu hanya akan memberi makan kepuasan bagi mereka yang membenci hamba?"

Ruilan tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu bagai lonceng angin. "Pikiran yang sangat bijak. Aku sungguh berharap kau bisa bertahan sangat lama di tempat ini."

Xuyue mengangguk santun seraya tersenyum lembut. Namun di balik keheningan jiwanya, ia berbisik dingin.

’Topeng kebaikanmu terlalu manis untuk menjadi nyata, Zhao Ruilan. Namun mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu terjerat dalam kepura-puraan ini.’

Jauh di balik bayangan dahan pohon beringin tua di tepi kolam, sesosok pria tua berjubah pelayan sederhana memperhatikan pertemuan kedua wanita itu dalam diam.

Leluhur Tian Zhenxu mengelus janggut putihnya seraya menyunggingkan senyuman penuh arti.

"Memasang perangkap di hadapan penguasa kehampaan..." bisik sang leluhur sangat lirih ke udara malam. "Gadis dari Alam Atas itu benar-benar monster yang sedang menikmati permainannya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Ke-7   Bab 5. Senyum yang Menggoda

    Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.

  • Selir Ke-7   Bab 4. Api Cemburu

    Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk

  • Selir Ke-7   Bab 3. Selir Ke-7

    Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra."Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya."Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang em

  • Selir Ke-7   Bab 2. Wajah yang Mengguncang

    Kaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering.Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya."Siapa dia…?" bisik seorang dayang."Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar.Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia men

  • Selir Ke-7   Bab 1. Celah Dimensi

    Darah di bibir Xuyue terasa asin. Itu satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.Langit malam di Alam Kaisar Langit biasanya tenang, dihiasi ribuan bintang yang berkilau seperti permata. Namun malam itu, ketenangan hancur.Suara retakan menggema di angkasa, seolah ada tangan raksasa yang merobek tabir semesta. Cahaya ungu keperakan menyembur keluar, membelah langit menjadi dua.Burung spiritual berjatuhan, binatang buas meraung ketakutan, dan para kultivator yang bermeditasi di seluruh penjuru alam terbangun dengan wajah pucat.Di kuil-kuil tua, lonceng kuno yang sudah ratusan tahun bisu tiba-tiba berdentang sendiri, seolah alam semesta ikut merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana biasa.Celah dimensi melebar, berputar seperti pusaran neraka. Petir tanpa suara menyambar, menghantam udara dengan kekuatan yang membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar hebat.Di tengah pusaran itu, tubuh seorang perempuan melayang tak berdaya. Rambut hitam panjangnya berkibar liar, gaun pu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status