Beranda / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 4. Api Cemburu

Share

Bab 4. Api Cemburu

Penulis: Ershita
last update Tanggal publikasi: 2026-09-03 09:49:18

Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.

Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.

Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.

Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.

Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.

Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk reputasi lawan tanpa menodai tangannya sendiri.

"Seorang wanita asing yang bahkan tidak mengerti tata cara melipat lengan baju..." tutur Lian Qixue dengan nada mendayu yang sarat bisa. "Aku sungguh penasaran melihat bagaimana ia bersikap di hadapan para pembesar esok pagi. Medan pergaulan istana kerap mematahkan leher mereka yang pongah jauh lebih cepat daripada ayunan kapak."

Di sampingnya, Selir Mo Yanyu mengibaskan gaun merah terangnya dengan gusar. Matanya yang bulat menyipit tajam, memancarkan kedengkian yang tak berusaha ia sembunyikan.

"Dayang-dayang di koridor barat tidak henti-hentinya memuji kulit pucatnya seolah ia bidadari turun ke bumi," dengus Mo Yanyu seraya memainkan kipas sutranya. "Akan kupastikan besok fajar, desas-desus tentang siluman pemikat darah mulai bergulir dari dapur istana hingga pos pengawal terluar."

Selir Zhao Ruilan yang berbalut busana hijau pupus segera menyandarkan tubuhnya ke depan.

Wajahnya yang lembut memancarkan kehangatan seorang kakak yang bijaksana, sebuah topeng sempurna yang telah menjatuhkan banyak lawan sebelum mereka menyadari adanya belati di balik punggungnya.

"Kalian tidak boleh terlalu berprasangka buruk," ucap Ruilan, suaranya mengalun bagai embun pagi. "Mungkin adik baru kita hanya tersesat dan membutuhkan uluran tangan untuk memandunya memahami aturan di sini. Aku dengan senang hati akan menjadi tempatnya bersandar."

Keenam selir lainnya melirik serempak, paham betul bahwa tawaran persahabatan dari Zhao Ruilan adalah awal dari jeratan maut yang paling mematikan.

Selir Han Feixia mendengus kasar. Mengenakan gaun ungu gelap, wanita bertubuh jenjang itu menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.

"Menjilat sebelum menerkam? Cara yang terlalu bertele-tele. Aku tidak butuh drama persaudaraan palsu. Jika Kaisar menutup mata atas tindakannya, pedang klan Han yang akan memaksanya merangkak keluar dari gerbang kota."

Dari ujung barisan, Yu Shuangli yang mengenakan jubah putih polos tanpa ornamen permata melipat tangannya di dada.

Tatapannya dingin, mencerminkan arogansi seorang cendekiawan istana yang memandang rendah siapa pun yang tidak menguasai kitab-kitab strategi kuno.

"Kecantikan ragawi hanyalah ilusi mata yang memudar dalam hitungan musim," tukas Yu Shuangli datar. "Mari kita buktikan bersama, apakah wanita dari celah dimensi itu memiliki kecerdasan untuk membaca racun di balik cawan tehnya, atau ia hanya seekor merak bodoh berbulu indah."

Jin Meiqin memilin ujung rambut ikalnya dengan gerakan manja, gaun sutra emasnya memantulkan kilau lentera. "Sangat tidak adil melihat perhatian Yang Mulia direbut begitu mudah oleh seseorang yang baru jatuh semalam. Mengapa pesona bertahun-tahun yang kita rawat kalah hanya oleh alasan ia datang dari langit?"

Permaisuri Luo Meiyan mengangkat cangkir porselennya, menyesap teh melati tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Matanya yang dingin menyapu keenam selir di hadapannya secara bergantian.

"Setiap kekhawatiran kalian memiliki dasar," ucap sang Permaisuri, suaranya tenang namun sarat wibawa yang menekan ruangan. "Namun mematahkan ancaman tidak selalu harus menggunakan kekuatan kasar yang memercikkan darah. Sebatang jarum perak yang ditusukkan di saat yang tepat sanggup merusak meridian tanpa meninggalkan jejak luka luar."

Keenam selir menundukkan kepala mereka serempak. Percikan api cemburu kini menyatu menjadi kobaran niat jahat yang terkunci rapi di balik senyuman patuh mereka.

Keesokan paginya, sinar matahari menyiram taman Paviliun Selatan. Pelayan-pelayan istana hilir mudik menata perabot baru, mengganti tirai jendela dan menyeduh teh bunga persik.

Namun di balik kesibukan itu, keheningan tegang menyelimuti seluruh ruangan. Jamuan makan pagi bersama para selir akan segera dimulai di aula samping.

Xuyue duduk di depan meja rias kayu jati. Rambut hitamnya disisir halus oleh Lan Mei, dayang pribadinya, lalu disemat jepit giok putih sederhana. Wajahnya yang tenang memantul di cermin perunggu.

’Mereka telah menyiapkan sangkar duri,’ batin Xuyue seraya merapikan ujung lengan bajunya. ’Namun seekor ular tidak akan pernah bisa menggigit jika mangsanya tidak pernah memberinya ruang untuk mendekat.’

Aula samping istana telah ditata dengan meja perjamuan panjang. Berbagai hidangan berenergi spiritual tersaji di atas piring perak, mulai dari sarang burung walet hingga sup jamur salju.

Keenam selir telah menempati kursi masing-masing, memamerkan keanggunan busana mereka seraya saling melempar pandang penuh arti.

Saat langkah kaki Xuyue melintasi ambang pintu aula, seluruh dengung percakapan padam seketika. Denting sendok perak yang menyentuh porselen lenyap tanpa sisa.

Xuyue melangkah masuk dengan gaun putih bersih yang jatuh menjuntai di lantai.

Gerakannya begitu halus, mengalir tanpa cela dan memancarkan ketenangan mutlak yang langsung mendominasi atmosfer ruangan.

Lian Qixue menjadi yang pertama memecah kesunyian. Ia menepuk bantal kursi sutra di samping kanannya seraya tersenyum ramah. "Adik Xuyue, kemarilah dan duduk di sisiku. Sebagai orang baru, kau tentu membutuhkan bimbingan mengenai tata krama jamuan istana agar tidak membuat kesalahan fatal."

Mo Yanyu menutup sebagian wajahnya dengan kipas seraya melayangkan tatapan mencemooh. "Benar sekali. Paras yang terlalu memikat kerap mengundang nasib buruk. Semoga saja kemalangan itu tidak menular ke dalam aula perjamuan kita pagi ini."

Zhao Ruilan segera memotong dengan suara lembut yang penuh simpati semu. "Jangan mendengarkan gurauan mereka, Adik. Duduklah di sampingku. Aku memahami betapa canggungnya berada di tempat asing. Aku akan menjagamu."

Han Feixia meletakkan cangkir tehnya dengan keras ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang tajam. "Menjaga pendatang asing? Konyol sekali. Aku hanya ingin melihat berapa hari kau sanggup bertahan sebelum menyerah dan menangis memohon dipulangkan."

Yu Shuangli menatap lurus dari ujung meja, suaranya dingin tanpa emosi. "Kecantikan mungkin sanggup memikat pandangan pria sesaat. Namun hanya akal budi yang mampu mempertahankan posisi seorang wanita di istana ini. Kuharap kau memiliki keduanya."

Jin Meiqin menimpali dengan tawa manja yang sumbang. "Sungguh beruntung menjadi dirimu. Tanpa perlu bersusah payah merawat pesona klan, seluruh istana sudah bertekuk lutut di bawah namamu."

Xuyue menghentikan langkahnya sejenak. Ia memandang kursi di dekat Lian Qixue, lalu melirik tempat duduk di samping Zhao Ruilan. Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah tenang menuju sebuah kursi kayu cendana kosong tepat di bagian tengah meja panjang.

Ia duduk tegak di posisi netral, tempat di mana ia bisa mengawasi setiap pergerakan dan ekspresi keenam selir tanpa memihak kubu mana pun.

"Hamba sangat menghargai perhatian para Kakak Selir," tutur Xuyue, nada suaranya mengalun tenang dan jernih membelah ketegangan aula. "Hamba memang pendatang baru dan akan mempelajari seluruh tata krama yang berlaku. Namun kalian tidak perlu merasa cemas, hamba tidak memiliki niat untuk merebut apa pun yang telah menjadi hak kalian."

Jawaban yang terlontar begitu lugas dan tenang itu seketika membungkam ruangan. Para selir saling melirik dengan rasa tidak nyaman yang merayap di dada mereka.

Mereka menyadari bahwa ketenangan wanita di hadapan mereka bukanlah bentuk kenaifan, melainkan benteng pertahanan yang teramat kokoh.

Sepanjang jamuan berlangsung, berbagai sindiran terselubung terus dilancarkan. Lian Qixue menguji ketelitian etika makannya, Mo Yanyu menyebarkan pancingan desas-desus kotor, Zhao Ruilan melontarkan pertanyaan menjebak berkedok kepedulian, Han Feixia melayangkan tatapan membunuh, Yu Shuangli mengutip aturan hierarki istana dan Jin Meiqin memamerkan perhiasannya dengan nada meremehkan.

Namun Xuyue hanya menyunggingkan senyum tipis yang tak terbaca.

Ia tidak terpancing oleh setiap ejekan, tidak menanggapi jebakan kata-kata dan menyantap hidangannya dengan keanggunan alami yang membuat tata krama bangsawan para selir terlihat kaku.

Ketika jamuan akhirnya usai dan para selir melangkah keluar dengan raut wajah masam yang gagal disembunyikan di balik senyum palsu, Xuyue bangkit berdiri secara perlahan.

Ia berdiri tegak di tengah aula yang mulai lengang, menatap ke arah pintu keluar seraya menyunggingkan senyum tipis.

Itu adalah senyuman seorang master catur yang telah membaca seluruh langkah musuhnya jauh sebelum bidak pertama digerakkan di atas papan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Ke-7   Bab 5. Senyum yang Menggoda

    Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.

  • Selir Ke-7   Bab 4. Api Cemburu

    Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk

  • Selir Ke-7   Bab 3. Selir Ke-7

    Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra."Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya."Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang em

  • Selir Ke-7   Bab 2. Wajah yang Mengguncang

    Kaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering.Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya."Siapa dia…?" bisik seorang dayang."Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar.Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia men

  • Selir Ke-7   Bab 1. Celah Dimensi

    Darah di bibir Xuyue terasa asin. Itu satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.Langit malam di Alam Kaisar Langit biasanya tenang, dihiasi ribuan bintang yang berkilau seperti permata. Namun malam itu, ketenangan hancur.Suara retakan menggema di angkasa, seolah ada tangan raksasa yang merobek tabir semesta. Cahaya ungu keperakan menyembur keluar, membelah langit menjadi dua.Burung spiritual berjatuhan, binatang buas meraung ketakutan, dan para kultivator yang bermeditasi di seluruh penjuru alam terbangun dengan wajah pucat.Di kuil-kuil tua, lonceng kuno yang sudah ratusan tahun bisu tiba-tiba berdentang sendiri, seolah alam semesta ikut merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana biasa.Celah dimensi melebar, berputar seperti pusaran neraka. Petir tanpa suara menyambar, menghantam udara dengan kekuatan yang membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar hebat.Di tengah pusaran itu, tubuh seorang perempuan melayang tak berdaya. Rambut hitam panjangnya berkibar liar, gaun pu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status