LOGINPendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.
Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara. Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan. Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka. Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk reputasi lawan tanpa menodai tangannya sendiri. "Seorang wanita asing yang bahkan tidak mengerti tata cara melipat lengan baju..." tutur Lian Qixue dengan nada mendayu yang sarat bisa. "Aku sungguh penasaran melihat bagaimana ia bersikap di hadapan para pembesar esok pagi. Medan pergaulan istana kerap mematahkan leher mereka yang pongah jauh lebih cepat daripada ayunan kapak." Di sampingnya, Selir Mo Yanyu mengibaskan gaun merah terangnya dengan gusar. Matanya yang bulat menyipit tajam, memancarkan kedengkian yang tak berusaha ia sembunyikan. "Dayang-dayang di koridor barat tidak henti-hentinya memuji kulit pucatnya seolah ia bidadari turun ke bumi," dengus Mo Yanyu seraya memainkan kipas sutranya. "Akan kupastikan besok fajar, desas-desus tentang siluman pemikat darah mulai bergulir dari dapur istana hingga pos pengawal terluar." Selir Zhao Ruilan yang berbalut busana hijau pupus segera menyandarkan tubuhnya ke depan. Wajahnya yang lembut memancarkan kehangatan seorang kakak yang bijaksana, sebuah topeng sempurna yang telah menjatuhkan banyak lawan sebelum mereka menyadari adanya belati di balik punggungnya. "Kalian tidak boleh terlalu berprasangka buruk," ucap Ruilan, suaranya mengalun bagai embun pagi. "Mungkin adik baru kita hanya tersesat dan membutuhkan uluran tangan untuk memandunya memahami aturan di sini. Aku dengan senang hati akan menjadi tempatnya bersandar." Keenam selir lainnya melirik serempak, paham betul bahwa tawaran persahabatan dari Zhao Ruilan adalah awal dari jeratan maut yang paling mematikan. Selir Han Feixia mendengus kasar. Mengenakan gaun ungu gelap, wanita bertubuh jenjang itu menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. "Menjilat sebelum menerkam? Cara yang terlalu bertele-tele. Aku tidak butuh drama persaudaraan palsu. Jika Kaisar menutup mata atas tindakannya, pedang klan Han yang akan memaksanya merangkak keluar dari gerbang kota." Dari ujung barisan, Yu Shuangli yang mengenakan jubah putih polos tanpa ornamen permata melipat tangannya di dada. Tatapannya dingin, mencerminkan arogansi seorang cendekiawan istana yang memandang rendah siapa pun yang tidak menguasai kitab-kitab strategi kuno. "Kecantikan ragawi hanyalah ilusi mata yang memudar dalam hitungan musim," tukas Yu Shuangli datar. "Mari kita buktikan bersama, apakah wanita dari celah dimensi itu memiliki kecerdasan untuk membaca racun di balik cawan tehnya, atau ia hanya seekor merak bodoh berbulu indah." Jin Meiqin memilin ujung rambut ikalnya dengan gerakan manja, gaun sutra emasnya memantulkan kilau lentera. "Sangat tidak adil melihat perhatian Yang Mulia direbut begitu mudah oleh seseorang yang baru jatuh semalam. Mengapa pesona bertahun-tahun yang kita rawat kalah hanya oleh alasan ia datang dari langit?" Permaisuri Luo Meiyan mengangkat cangkir porselennya, menyesap teh melati tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Matanya yang dingin menyapu keenam selir di hadapannya secara bergantian. "Setiap kekhawatiran kalian memiliki dasar," ucap sang Permaisuri, suaranya tenang namun sarat wibawa yang menekan ruangan. "Namun mematahkan ancaman tidak selalu harus menggunakan kekuatan kasar yang memercikkan darah. Sebatang jarum perak yang ditusukkan di saat yang tepat sanggup merusak meridian tanpa meninggalkan jejak luka luar." Keenam selir menundukkan kepala mereka serempak. Percikan api cemburu kini menyatu menjadi kobaran niat jahat yang terkunci rapi di balik senyuman patuh mereka. Keesokan paginya, sinar matahari menyiram taman Paviliun Selatan. Pelayan-pelayan istana hilir mudik menata perabot baru, mengganti tirai jendela dan menyeduh teh bunga persik. Namun di balik kesibukan itu, keheningan tegang menyelimuti seluruh ruangan. Jamuan makan pagi bersama para selir akan segera dimulai di aula samping. Xuyue duduk di depan meja rias kayu jati. Rambut hitamnya disisir halus oleh Lan Mei, dayang pribadinya, lalu disemat jepit giok putih sederhana. Wajahnya yang tenang memantul di cermin perunggu. ’Mereka telah menyiapkan sangkar duri,’ batin Xuyue seraya merapikan ujung lengan bajunya. ’Namun seekor ular tidak akan pernah bisa menggigit jika mangsanya tidak pernah memberinya ruang untuk mendekat.’ Aula samping istana telah ditata dengan meja perjamuan panjang. Berbagai hidangan berenergi spiritual tersaji di atas piring perak, mulai dari sarang burung walet hingga sup jamur salju. Keenam selir telah menempati kursi masing-masing, memamerkan keanggunan busana mereka seraya saling melempar pandang penuh arti. Saat langkah kaki Xuyue melintasi ambang pintu aula, seluruh dengung percakapan padam seketika. Denting sendok perak yang menyentuh porselen lenyap tanpa sisa. Xuyue melangkah masuk dengan gaun putih bersih yang jatuh menjuntai di lantai. Gerakannya begitu halus, mengalir tanpa cela dan memancarkan ketenangan mutlak yang langsung mendominasi atmosfer ruangan. Lian Qixue menjadi yang pertama memecah kesunyian. Ia menepuk bantal kursi sutra di samping kanannya seraya tersenyum ramah. "Adik Xuyue, kemarilah dan duduk di sisiku. Sebagai orang baru, kau tentu membutuhkan bimbingan mengenai tata krama jamuan istana agar tidak membuat kesalahan fatal." Mo Yanyu menutup sebagian wajahnya dengan kipas seraya melayangkan tatapan mencemooh. "Benar sekali. Paras yang terlalu memikat kerap mengundang nasib buruk. Semoga saja kemalangan itu tidak menular ke dalam aula perjamuan kita pagi ini." Zhao Ruilan segera memotong dengan suara lembut yang penuh simpati semu. "Jangan mendengarkan gurauan mereka, Adik. Duduklah di sampingku. Aku memahami betapa canggungnya berada di tempat asing. Aku akan menjagamu." Han Feixia meletakkan cangkir tehnya dengan keras ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang tajam. "Menjaga pendatang asing? Konyol sekali. Aku hanya ingin melihat berapa hari kau sanggup bertahan sebelum menyerah dan menangis memohon dipulangkan." Yu Shuangli menatap lurus dari ujung meja, suaranya dingin tanpa emosi. "Kecantikan mungkin sanggup memikat pandangan pria sesaat. Namun hanya akal budi yang mampu mempertahankan posisi seorang wanita di istana ini. Kuharap kau memiliki keduanya." Jin Meiqin menimpali dengan tawa manja yang sumbang. "Sungguh beruntung menjadi dirimu. Tanpa perlu bersusah payah merawat pesona klan, seluruh istana sudah bertekuk lutut di bawah namamu." Xuyue menghentikan langkahnya sejenak. Ia memandang kursi di dekat Lian Qixue, lalu melirik tempat duduk di samping Zhao Ruilan. Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah tenang menuju sebuah kursi kayu cendana kosong tepat di bagian tengah meja panjang. Ia duduk tegak di posisi netral, tempat di mana ia bisa mengawasi setiap pergerakan dan ekspresi keenam selir tanpa memihak kubu mana pun. "Hamba sangat menghargai perhatian para Kakak Selir," tutur Xuyue, nada suaranya mengalun tenang dan jernih membelah ketegangan aula. "Hamba memang pendatang baru dan akan mempelajari seluruh tata krama yang berlaku. Namun kalian tidak perlu merasa cemas, hamba tidak memiliki niat untuk merebut apa pun yang telah menjadi hak kalian." Jawaban yang terlontar begitu lugas dan tenang itu seketika membungkam ruangan. Para selir saling melirik dengan rasa tidak nyaman yang merayap di dada mereka. Mereka menyadari bahwa ketenangan wanita di hadapan mereka bukanlah bentuk kenaifan, melainkan benteng pertahanan yang teramat kokoh. Sepanjang jamuan berlangsung, berbagai sindiran terselubung terus dilancarkan. Lian Qixue menguji ketelitian etika makannya, Mo Yanyu menyebarkan pancingan desas-desus kotor, Zhao Ruilan melontarkan pertanyaan menjebak berkedok kepedulian, Han Feixia melayangkan tatapan membunuh, Yu Shuangli mengutip aturan hierarki istana dan Jin Meiqin memamerkan perhiasannya dengan nada meremehkan. Namun Xuyue hanya menyunggingkan senyum tipis yang tak terbaca. Ia tidak terpancing oleh setiap ejekan, tidak menanggapi jebakan kata-kata dan menyantap hidangannya dengan keanggunan alami yang membuat tata krama bangsawan para selir terlihat kaku. Ketika jamuan akhirnya usai dan para selir melangkah keluar dengan raut wajah masam yang gagal disembunyikan di balik senyum palsu, Xuyue bangkit berdiri secara perlahan. Ia berdiri tegak di tengah aula yang mulai lengang, menatap ke arah pintu keluar seraya menyunggingkan senyum tipis. Itu adalah senyuman seorang master catur yang telah membaca seluruh langkah musuhnya jauh sebelum bidak pertama digerakkan di atas papan.Malam itu taman dipenuhi asap tipis, uap dari lentera bercampur bau hangus yang menempel pada batu.Xuyue berdiri di tepi kolam, menggenggam tongkat, kalung Kaisar di lehernya mengingatkan tanggung jawab, potongan pita di tangannya menuntut jawaban.'Ada yang memancing dari dalam,' pikirnya. 'Bukan hanya membakar bukti, mereka ingin memancing reaksi.'Kaisar muncul, wajahnya mengeras. "Apa yang terjadi?""Seseorang mencoba menghancurkan bukti. Seorang pelayan menyelamatkan kotak bertanda stiker lingkar bercabang. Ruilan diketahui mengunjungi kolektor itu semalam.""Tangkap siapa saja yang pergi dari sana malam ini," perintah Kaisar. "Dan cari Ruilan, jangan hancurkan dia tanpa bukti, tapi kurung sampai kita tahu kebenaran."'Kaisar memilih langkah hati-hati,' batin Xuyue. Ia menelusuri pita di tangannya, merasakan jejak resin yang biasa dipakai melapisi barang sebelum dikirim. 'Ada bengkel yang meracik tanda ini.'Penggeledahan terkoordinasi dimulai. Tim Xuyue menemukan sisa tali terp
Penyelidikan ke pelabuhan barat baru dimulai ketika pagi menarik Xuyue kembali ke istana, namun beban malam sebelumnya belum juga lepas dari pundaknya.Di lehernya, kalung Kaisar bergetar samar setiap kali Jiwa Ketiadaan menyentuh nada-nada asing, pengingat, bukan pelindung mutlak.'Kepercayaan itu rapuh,' batinnya. 'Di istana ini, sebuah senyum bisa menjadi belati yang dibungkus pita.' Pikirannya tertambat pada satu nama yang paling tak ia duga, Zhao Ruilan, sahabat yang menutupi pisau dengan tepian tangan.Ruilan muncul di ambang pintu seperti biasa, anggun, mata yang selalu tampak prihatin. "Xuyue, kau terlihat lelah. Mari minum teh sebelum kau pergi."'Ia selalu tahu kapan menampakkan kebaikan,' pikir Xuyue. Ia menerima undangan bukan karena lengah, tapi karena strategi, saksi yang diawasi juga butuh jeda agar tidak jadi pusat kecurigaan. "Baik. Sebentar saja."Mereka duduk menghadap taman kecil. Ruilan menuangkan teh. "Kau melakukan pekerjaan luar biasa kemarin. Mengejutkan betap
Malam menyelimuti istana dengan kain hitam yang rapat. Angin membawa bau asin yang samar, jejak pelabuhan masih bergaung di udara.Xuyue berdiri di ambang paviliun, tangan bersandar pada tongkat tersembunyi, merasakan Jiwa Ketiadaan berdenyut menunggu isyarat. Di taman, bayangan bergerak dengan pola, dengan jarak yang diukur.'Mereka tak lagi mengincar sekadar panji,' bisiknya dalam hati. 'Mereka mencari celah yang kutup semalam, atau mencari yang baru.'Dua sosok melesat dalam sunyi di sudut taman, membawa benda berukir lingkar bercabang. Satu sosok lebih tegap, topengnya dihiasi garis merah seperti noda darah kering.Di aula, Kaisar menerima laporan terakhir, tangannya mengepal di gagang tombak. "Tingkatkan ronda di sisi selatan," perintahnya. "Jangan biarkan barang apa pun lewat tanpa pemeriksaan."Xuyue meninggalkan aula diam-diam. Di dekat kolam, sebuah bayangan meloncat dari atap, menaruh panji kecil ke sebuah pilar.Xuyue menutup jarak, bukan dengan lari, tapi dengan gerak yang
Pagi itu istana bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya, seolah setiap orang menahan napas agar tidak mengusik benang-benang halus yang baru saja dirapikan.Xuyue berjalan melewati koridor, tongkat ketiadaan tersembunyi di balik lengan, merasakan setiap sapuan angin seperti pesan kecil yang lewat.Pasar sudah diperiksa kembali, pengait yang terpasang dibawa, cakram-cakram yang sudah mati dihancurkan.Namun ada sesuatu yang lain, suatu dorongan dari dalam Kaisar, sebuah urgensi yang mengendap di antara kata-katanya belakangan ini.Di aula utama, lentera-lentera diletakkan lebih rapat, memberi bayangan yang rapi.Kaisar menunggu dengan wajah yang tak berubah. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam, diikat pita tipis yang berwarna gelap hampir seperti tinta.Ketika Xuyue melangkah masuk, Kaisar berdiri, menatapnya lama dengan mata yang menyiratkan ribuan percakapan yang belum diucapkan.Di sudut ruangan, Leluhur duduk tanpa memandang, namun jemari
Cahaya hijau itu menetes perlahan dari celah kecil di langit-langit, lalu menjalar seperti tinta yang dicelup ke air.Gumpalan halus merayap menuruni udara dan menyentuh ujung rak bambu, getarannya menular, membuat serat kayu bergetar seolah ada nyawa kecil yang berjalan di antara daun.Yuan Xia menjerit, suaranya terbelah menjadi nada panik yang membuat dua komandan melesat ke depan, tetapi Xuyue mengangkat tongkat satu kali, isyarat kecil yang menahan langkah mereka.'Tenang,' batinnya. 'Semuanya bergerak sesuai rencana kecilku, namun tidak semestinya ada cahaya itu.'"Yang Mulia!" teriak salah satu komandan. "Apa itu?"Xuyue menjawab tanpa mengalihkan matanya dari pintu kecil yang terbuka. "Jangan serang dulu. Kita belum tahu apa yang keluar." Suaranya datar, dipenuhi otoritas yang tidak memaksa namun membuat ruang memilih menurutnya.Ia merasakan jejaring halus yang baru terbentuk di atas kepala, simpul-simpul kecil yang menyentuh benang-benang lain di langit-langit.'Mereka menco
Pagi merayap lewat kisi-kisi jendela, mengangkat bau lembut dari batu yang basah dan kelopak plum yang jatuh. Taman telah dipulihkan, lentera diganti, jejak retakan menghilang menjadi garis tipis yang tidak menuntut perhatian.Namun udara tetap memegang sisa malam seperti memori yang enggan dilupakan. Xuyue duduk di aula kecil yang menghadap kolam teratai, jemarinya menyentuh tepi meja teh tanpa minum.'Jangan tinggalkan garis yang bisa diikuti,' batinnya. "Diam harus tetap diam."Langkah tenang terdengar dari koridor. Kaisar memasuki paviliun tanpa rombongan, hanya satu komandan berjaga di luar. Wajahnya jernih dan tegang sekaligus. Ia menatap Xuyue dan berhenti di tepi tikar."Keadaan taman sudah dipulihkan," katanya pelan."Panji disimpan di gudang inti. Simpul-simpul yang kau tanam tak terlihat oleh pengawal." Ia menarik napas tipis. "Namun ada satu hal. Dayang baru dari paviliun barat mencoba keluar sebelum fajar.""Yuan Xia," jawab Xuyue tanpa ragu.Kaisar mengangguk. "Ia ketaku







